MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 82.


__ADS_3

"Apa? Kamu langsung melamarnya, le?" sentak kyai Hasan kaget, saat ini mereka sedang berada di rumah untuk mengambil beberapa keperluan guna di bawa kembali ke rumah sakit.


 Gus Musa mengangguk pelan sambil menundukkan pandangannya ke bawah, tak berani menatap abahnya.


Kyai Hasan mendengus, namun tak tampak riak kemarahan di wajah tuanya hanya seperti tengah berpikir keras saja.


"Tapi ... apa kamu sungguh sungguh ingin membina rumah tangga dengan Jeni, le. Kamu sudah tahu bukan ... masa lalunya?" ucap kyai Hasan mencoba mengingatkan, siapa tahu putranya itu belum tahu siapa Jeni di masa lalunya yang beliau dengar langsung dari istrinya, Umi Nafisah yang pernah bertanya langsung pada Jeni.


 Gus Musa malah mengangguk mantab. "Injih, bah. Saya tahu, dan insyaallah ... saya tidak akan mempermasalahkan itu, biarlah masa lalu itu menjadi pelajaran dan pengalaman hidup untuk ke depannya bagi Mbak Jen dan saya."


 Kyai Hasan tampak manggut-manggut, salut dengan kebijaksanaan dan ketegasan putranya.


"Baiklah, lalu ... bagaimana tanggapan Nak Jeni?" tuturnya memastikan.


 Wajah Gus Musa seketika memerah, teringat beberapa saat yang lalu saat dia melamar Jeni langsung pada dirinya.


*Flashback on*


"Saya ... saya tidak pantas, Gus." Jeni menunduk dalam tak berani menatap Gus Musa, karna hatinya kini sama sekali tak bisa lagi di bohongi. Ada yang beterbangan di perutnya setiap kali dia bersitatap atau berdekatan dengan Gus Musa.


"Tidak ada manusia yang berhak menilai dirinya pantas atau tidak Mbak, semua itu urusan Gusti Allah. Berhentilah untuk terus menilai rendah diri Mbak sendiri, saya mohon ... berikan saya kesempatan untuk bisa menjaga Mbak dan dedek," sela Gus Musa lagi, masih tak putus asa untuk membujuk Jeni.


 Hening, Jeni terdiam menunduk dan belum menjawab satu patah katapun. Tapi setetes air mata yang jatuh ke pangkuannya, menjelaskan semuanya.


Jeni mengangkat wajah setelah terdiam cukup lama dengan di temani suara celotehan si kecilnya yang tak hentinya bersuara.


"Apa Gus Musa tau ... kalau saya ... mantan pelac*?" bisik Jeni.


 Gus Musa menatap Jeni dengan teduh, dan menganggukkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Yah, saya tahu ... dan saya janji tidak akan pernah mempermasalahkan itu, Mbak Jen yang sekarang adalah yang sekarang, bukan lagi Mbak Jen yang hidup di masa lalu. Jadi ... biarkan Mbak Jen di masa ini menjadi tanggung jawab saya."


 Jeni masih menggeleng dengan tak yakin, satu tangannya yang memegang anaknya mulai mengendur dan dengan cekatan Gus Musa mengambil anak itu dari pangkuan Jeni.


"Saya kotor, Gus. Saya janda, dan saya sebatang kara, saya miskin, saya tidak punya apapun dan saya bahkan tidak punya pengalaman atau ilmu agama yang memadai. Lalu di mana kelebihan saya yang membuat saya bisa percaya diri untuk menerima Gus Musa?" sergah Jeni frustasi.


 Walau dia tahu kalau bibir dan hatinya tidak sinkron sama sekali saat bicara demikian. Yah, Jeni pun sebenarnya mengharapkan Gus Musa dalam diamnya.


 Jeni meringis merasai denyut nyeri di lukanya yang masih sangat basah, dengan perlahan dia kembali berbaring untuk sedikit meredam sakitnya. Untungnya bayinya ada di tangan yang tepat, jadi Jeni tak perlu cemas saat kondisi ini menyerangnya.


 Tiba tiba dalam gelap remang pandangannya, Jeni mengerjab saat merasai sebuah tangan mungil menyentuh jemarinya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Dedek," kekeh Jeni sambil hendak bangkit untuk kembali menggendong bayinya yang tengah sibuk menggigiti jaringan Jeni dengan gusinya yang lembut itu.


"Bahkan bayi ini pun ingin Mbak Jen mencoba, saya tidak peduli dengan masa lalu Mbak Jen. Justru itu saya malah bertekad untuk bisa membawa Mbak Jen dan dedek ke jalan yang lebih baik, dalam tanggung jawab yang halal bagi saya." Gus Musa kembali meyakinkan, dia sendiri tidak tahu keberanian dari mana bisa menasehati orang lain yang bahkan belum lama di kenalnya namun sudah bisa mengetuk pintu hatinya.


 Jeni menoleh dan menatap Gus Musa dalam, mencari keraguan atau pun setitik ke bohongan di matanya. Namun sayangnya tidak ada.


"Apa Mbak Jen mau menerima pinangan saya?" ulang Gus Musa.


 Dengan mata berkaca-kaca, akhirnya Jeni mengangguk walau sangat samar.


"Insyaallah, saya bersedia, Gus."


*Flashback off*


"Subhanallah, dia bahkan masih bisa jujur padamu, walau tahu efeknya mungkin saja dia akan di benci atau di tinggalkan. Tak ada kebohongan dari pada jawabannya," seru kyai Hasan setelah mendengar cerita Gus Musa tentang bagaimana Jeni menerima lamarannya.


 Gus Musa mengangguk takjub, sama seperti ekspresi abahnya.

__ADS_1


"Iya, bah. Saya sendiri tidak menyangka Mbak Jen bisa dengan gamblang tanpa keraguan sedikit pun membeberkan langsung tentang dirinya di hadapan saya. Jika wanita lain, saya pikir pasti akan menutupi aibnya rapat rapat, namun Mbak Jen malah mengatakannya dengan jujur, seakan itu bukanlah beban baginya, namun sebuah bagian dari kisah hidupnya.


 Kyai Hasan tersenyum puas sambil mengusap jenggot tipis yang tumbuh di dagunya.


"Baiklah, insyaallah Abah akan merestui jika kamu ingin segera menikahi nak Jeni. Namun pesan Abah, selalu ingat kondratmu dan dia yang bersatu tidak dalam kondisi sempurna, jangan pernah sakiti hatinya dengan masalah itu, perlakukan dia nanti dengan lembut, hapus traumanya dengan cinta dan jangan paksa dia untuk berubah jika dia tidak merasa nyaman melakukannya. Sayangi dia, lindungi dia, manjakan dia, dan cintai dia tulus karena Gusti Allah, mengerti anakku?" nasehat kyai Hasan meluncur dengan mulus ke telinga Gus Musa dan dengan cepat terserap ke hatinya untuk di simpan dan di jalankan nantinya.


"Insyaallah, Abah. Terima kasih untuk restu Abah."


****


 Hari demi hari berlalu sejak Jeni menerima pinangan dari Gus Musa, proses hukum untuk mengambil kembali hak atas tanah dan kebun milik Nek Minah juga sedang berjalan berkat bantuan dari teman Gus Musa yang bekerja di kepolisian.


 Akhirnya hari yang di tunggu tiba lah, hari ini Jeni sudah di izinkan pulang karena kondisinya sudah stabil dan lukanya juga mulai mengering. Jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan perawatan Jeni di rumah, sekaligus untuk membahas tentang pernikahan Jeni dan Gus Musa yang sudah di bahas saat rapat keluarga di rumah sakit beberapa hari sebelumnya.


 Dengan tak sabar Jeni berjalan pelan menuju kamar asramanya, bayinya saat ini di bawa Umi Nafisah menuju rumahnya bersama Nek Minah yang di minta Gus Musa sementara menginap di pesantren selama proses hukum masih berjalan dalam pencarian pelaku.


"Asiyah!" seru Jeni saat melihat bagian belakang tubuh santriwati yang selama ini sangat di rindukannya, apalagi selama di rumah sakit Asiyah sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya, kata Umi Nafisah dia menjadi lebih sibuk karna Jeni tidak ada, sungguh betapa tak teganya Jeni mendengarnya saat itu, namun keadaan jua lah yang memaksa semuanya berjalan seperti itu.


 Asiyah berbalik badan, dan betapa terkejutnya Jeni saat melihat wajah gadis manis itu sudah bersimbah air mata.


"Mbak Jen," lirihnya sambil berlari menyongsong Jeni dan memeluknya erat dengan bahu yang terguncang hebat.


"Kenapa, As? Maaf kalau Mbak sembuhnya lama, kamu pasti kecapekan gantiin tugas Mbak ya?" tukas Jeni merasa bersalah.


 Namun Asiyah menggeleng cepat di pelukannya dalam kondisi masih menangis.


"Nggak, Mbak. Ini bukan tentang itu, tapi ... tapi ... a- ayah kandung ku masih hidup, Mbak."


 Jeni melepas pelukannya dari Asiyah dan memegang kedua bahu gadis itu erat erat.

__ADS_1


"Kamu serius? Lalu di mana dan siapa dia?"


__ADS_2