MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 154.


__ADS_3

"Belasan tahun lalu, tepatnya saat kau masih berusia lima tahun. Ayahmu di bu *nuh oleh orang yang tak bertanggung jawab, lalu melempar kesalahannya pada pamanmu yang saat itu datang berkunjung membawa banyak mainan untukmu. Mungkin kau tak ingat, namun Ed adalah paman yang selalu kau rindukan dulu saat kau kecil. Kembali lagi ke kisah tadi, pagi itu saat ibu tengah sibuk membuat sarapan di dapur kau bermain dengan ayahmu di ruang keluarga, tak berapa lama terdengar suara keributan ibu yang terkejut langsung mengintip dari balik pilar dan di saat yang bersamaan teringat seorang pria mengayunkan pedangnya ke arah kalian, dan dengan sigap ayahmu memelukmu dalam dekapannya membiarkan punggung dan leher belakangnya menjadi sasaran pedang itu ...."


 Bu Hannah berhenti sejenak, menarik nafas dalam demi menguatkan dirinya kala sakit menyiksa batinnya sebab membuka luka lama yang tak pernah dia ceritakan pada siapapun.


"Saat itu ... saat itu dengan gagahnya Ed masuk ke rumah, berteriak marah pada orang itu dan mengacungkan sebilah kayu yang dia dapatkan dari halaman rumah kita ke hadapan pria itu. Tapi dengan liciknya pria itu malah menjatuhkan pedangnya dan mengangkat tangan Sseolah menyerah, namun rupanya saat Ed mengambil pedang itu untuk mengancam pria itu polisi datang entah siapa yang memanggil."


 Bu Hannah tergugu, ingatan menyakitkan yang benar benar mengguncang jiwanya membuatnya tak sanggup untuk meneruskan ceritanya.


 Rahman yang tak tega melihat air mata ibunya gegas bangkit dan memeluknya.


"Tenanglah, Bu. Maaf kalau Rahman memaksa ibu menceritakan ini semua, pastinya ini sangat menyiksa ibu. Ingatan itu pasti membuat ibu tidak nyaman bukan?" bisik Rahman di sela pelukannya.


 Bu Hannah mengangguk pilu, beberapa saat Rahman membiarkan ibunya menangis sesuka hatinya melepaskan beban yang selama ini di tanggungnya seorang diri. Setelah cukup lega, barulah Bu Hannah memutuskan melanjutkan kembali ceritanya pada Rahman.


"Tidak, Bu jika itu hanya akan membuat ibu kembali menangis lebih baik tidak usah di ceritakan." Rahman mencoba mengerti akan kegundahan ibunya.


 Tapi Bu Hannah menggeleng. "Kau berhak tahu, Nak. Dan setelah ini kau bisa menentukan langkah apa yang akan kau ambil untuk masa depanmu."


"Baiklah, tapi ibu bisa berhenti kapan saja jika mulai merasa tidak nyaman ya. Rahman akan coba mencari jawaban lainnya dari uncle Ed."


Edwin yang merasa namanya di sebut hanya melirik sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya pada layar ponselnya di depannya.

__ADS_1


"Maaf, aku sibuk," ucapnya datar.


 Bu Hannah tertawa mendengarnya, namun Rahman yang tak senang langsung mencebik dan membuang muka.


"Dasar pelit," gumam Rahman kesal.


"Baiklah, ibu lanjutkan." Bu Hannah menengahi dua orang itu dan memulai kembali kisah lama yang masih jelas terpatri dalam ingatannya itu.


 Rahman kembali memfokuskan diri pada sang ibu, mengabaikan pamannya di sana yang bertingkah seolah tak ada orang di dekatnya, dengan santainya berbaring dengan mengangkat satu kakinya ke atas kakinya yang lain.


"Setelah polisi datang, mereka melihat Ed memegang pedang itu dan dengan lihainya pria itu bersandiwara seolah Ed lah yang melakukan semuanya dan dia adalah saksi matanya. Saat itu kau menangis keras sembari mengguncang tubuh ayahmu, saat ibu ingin pergi ke tempat kejadian dan menceritakannya g sebenarnya ternyata di belakang ibu sudah menunggu orang lainnya yang mengancam ibu dengan sebilah pisau, hingga sampai pamanmu di bawa oleh polisi ibu di sekap di dalam gudang rumah dan mereka pun ternyata turut membawamu serta, juga ... tubuh ayahmu yang sudah menjadi jenazah," sambung Bu Hannah lagi, beliau berhenti lagi untuk menarik nafas.


 Dengan sigap Rahman mengambilkan teh yang mulai dingin di atas nakas dan memberikannya pada Bu Hannah, dengan menahan rasa mual karna bayangan darah di benaknya masih sangat jelas.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu, Bu? Siapa yang membebaskan ibu dari gudang itu?"


 Bu Hannah menarik nafas panjang sekali lagi dan meneruskan ceritanya.


"Ibu tidak tahu, beberapa saat setelah semua itu. Pintu gudang yang semula terkunci itu mendadak bisa di buka dari dalam, ibu langsung menelpon semua keluarga kita menceritakan apa yang baru saja terjadi. Semua bergerak cepat mencarimu dan juga jenazah ayahmu yang ternyata sudah di kuburkan oleh pihak rumah sakit, mereka mengaku kalau pihak keluarga sudah memasrahkan semua pada rumah sakit untuk mengurus pemakaman ayahmu. Sedangkan pamanmu, Ed sudah langsung di bawa oleh pihak kepolisian karna di anggap sebagai pelaku tunggal pembunuhan itu. Padahal ... padahal waktu itu istrinya, Amelie baru saja melahirkan, dan ... dan anak anak mereka di culik oleh komplotan orang yang membunuh ayahmu."


"Semenjak peristiwa itu, ibu dan juga kamu di bawa oleh anak buah Ed ke rumah Amelie. Amelie yang merasa sangat terpukul dengan kejadian itu sampai depresi dan mulai sering berbicara sendiri. Namun rupanya masih ada yang mengincar nyawa kita saat itu, untungnya walau dia di penjara Ed masih bisa mengawasi kita lewat anak buahnya. Dan anak buahnya juga yang membawa kita ke rumah ini, tempat yang di anggap Ed lebih aman ketimbang rumah Amelie yang terlalu kecil dan terbuka."

__ADS_1


 Bu Hannah mengakhiri kisahnya dengan menatap sendu wajah Rahman.


"Syukurlah, hingga detik ini kau tumbuh menjadi anak yang baik dan soleh seperti yang di harapkan almarhum ayahmu dulu. Pasti saat ini beliau tengah berbahagia karna terus kau kirimkan doa. Dan apa kau tahu, anakku?" tanya Bu Hannah sambil mengusap wajah putranya.


"Apa, Bu?" Rahman menyentuh tangan keriput ibunya dengan lembut, merasai setiap kasih sayang yang berlimpah dari tangan itu untuknya.


"Wajahmu, benar benar cerminan wajah ayahmu. Dengan begitu, rindu ibu padanya bisa sedikit terobati." Bu Hannah mengulas senyum dengan mata tampak berkaca kaca.


"Kenapa ibu tidak menceritakan ini sejak dulu, kenapa ibu malah menyimpannya sendiri dan membiarkan aku membenci uncle Ed, Bu?"


Bu Hannah menjawab dengan gelengan. "Tidak bisa, Nak. Saat itu kau masih terlalu kecil untuk tahu, dan kondisinya pun tidak memungkinkan untuk kita, bisa saja ada orang yang mendengar dan menyerahkanmu pada penjahat itu, karna tahu yang sesungguhnya. Nyawamu tidak aman, Nak."


 Rahman mengangguk paham. "lalu, sebenarnya siapa penjahat itu, Bu?"


 Bu Hannah melempar tatapan pada Ed, Ed bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan mendekat ke arah ranjang Rahman.


"Apa kau sempat melihat orang yang menculikmu semalam?" tanyanya.


 Namun Rahman menggeleng, karna dia memang tak sempat meljhat wajahnya kecuali bayangan tubuh bagian belakangnya dan tato berbentuk hati di leher bagian belakangnya.


 Ed mengotak atik ponselnya sebentar lalu menunjukkan layarnya pada Rahman.

__ADS_1


"Dia orangnya, apa kau sudah ingat?"


__ADS_2