MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 36.


__ADS_3

Hari ini jadwal Sarah untuk memulai perawatan di sebuah salon dan spa ternama langganan ibunya. Dia berangkat bersama Nyonya Ellen dan tentu saja Sonia yang sejak pagi sudah heboh sendiri membangunkannya bahkan menyeretnya ke kamar mandi.


"Sarah masih ngantuk, Mom." Sarah menutup mulutnya sembari menguap.


"Sarah sayang, sebentar lagi kan kamu bakalan kembali menyandang status istri. Jadi mulai biasakan untuk bangun pagi sebelum suami kamu nanti bangun ya," sahut Nyonya Ellen sambil menyandarkan kepala Sarah ke dadanya.


"Haish, nggak perlu seperti itu lah, Kak. Axel itu bangunnya sebelum subuh, ke masjid ... nanti pulang pas matahari baru terbit. Kalo Sarah di suruh bangun sebelum dia ya kasihan Sarah dong. Kann perempuan juga ada jatah liburnya, Kak. Nggak wajib lah yang gitu-gitu ah," tolak Sonia.


Sarah tersenyum senang, begitu juga Nyonya Ellen. Sepertinya mereka memang di takdirkan untuk bersama walau niat awalnya hanyalah untuk balas dendam. Namun apa salahnya bukan? kalau begini jalannya namanya sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.


Sesampainya di tempat yang di tuju mereka segera masuk dan langsung mendapatkan pelayanan VIP karna Nyonya Ellen adalah langganan tetap salon tersebut sejak lama.


  Setelah beberapa jam memulai treatment, Sarah merasa sangat relax dan tubuhnya sangat segar. Sampai rasanya tidak mau berhenti.


"Nah, Nona Sarah. Apa mau sekalian meni pedi? Kebetulan sedang ada diskon promo khusus pelanggan VIP," tawar salah satu karyawan salon yang sejak tadi menemani Sarah dan kedua ibu nya itu.


"Yaya, boleh saja. Iya kan, Kak? tolong buat kuku calon pengantin kami ini secantik mungkin ya," sela Sonia tertawa.


Mereka pun di arahkan ke sebuah ruangan khusus meni pedi, dan di minta duduk di kursi yang empuk dan nyaman sembari menunggu petugas meni pedi menyiapkan alat-alatnya.


"Semua perawatan di sini biasanya selalu memuaskan, Momy yakin kamu juga bakalan puas sama hasilnya nanti, Nak." Nyonya Ellen menoleh pada Sarah yang tengah menunggu dengan berdebar.


Pasalnya selama ini Sarah lebih sering menolak jika di ajak ke salon dan lebih memilih di rumah.


"Maaf, Nyonya. Tapi petugas yang biasa melayani Nyonya hari ini sedang sakit. Apa Nyonya berkenan jika digantikan karyawan lain?" tanya salah satu karyawati yang sudah mengenal Nyonya Ellen itu.


"Apa kamu bisa menjamin kalau pekerjaannya termasuk hasilnya akan sama dengan yang biasa melayani saya?" tanya Nyonya Ellen sedikit kecewa.


Karyawati itu mengangguk. "Iya, Nyonya. Semua petugas yang bekerja di sini selalu kamu latih dengan baik dan ketat untuk bisa memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan."


Sarah tampak mulai cemas, namun Nyonya Ellen justru terlihat penasaran.

__ADS_1


"Baiklah, suruh dia kesini dan tolong awasi karna saya belum bisa percaya begitu saja dengan orang baru."


Karyawati itu mengangguk dan berlalu, tak lama dia kembali lagi dengan seorang petugas yang memakai seragam sama dengannya, seragam khas salon tersebut.


"Jeni?" Sarah bangkit dari posisinya dan duduk tegak dengan wajah tegang.


Jeni sendiri langsung mengangkat wajahnya dan begitu syok mendapati pelanggannya kali ini adalah orang yang sangat ingin dia hindari saat ini.


"Kamu kenala dia, Sayang?" tanya Nyonya Ellen heran.


Sarah mengangguk samar. "Ya, Mom. Dia ...."


Sarah tak melanjutkan kalimatnya, entah mengapa dia tak ingin ibunya tau masalah mereka dan malah akan menjadi keributan di tempat itu.


"Ah, tidak, Mom. Hanya sekedar kenal saja," pungkas Sarah akhirnya.


"Nah, Jen. Cepat kamu kerjakan pekerjaan kamu dengan baik ya. Ingat! Jangan ceroboh dan jangan kecewakan pelanggan jika tidak mau di pecat!" ancam karyawati yang bersama Jeni pelan namun penuh penekanan.


Sedang Nyonya Ellen dan Sonia, sudah ada dua karyawati lain yang turut duduk di hadapan mereka untuk memulai tugasnya.


"Kerjakan sebaik mungkin ya, saya nggak mau kuku saya jadi jelek di acara pernikahan saya nanti." Sarah sengaja mencondongkan tubuhnya ke arah Jeni dan menatap Jeni dengan sinis.


Jeni terbelalak mendengar kalau Sarah sudah akan menikah lagi, namun dia tidak mengatakan apapun karna saat ini sedang di awasi karyawati seniornya di belakang.


Jeni mengambil peralatan dan mulai membersihkan kuku kaki Sarah, Sarah bersandar di sandaran dan malah mengangkat kakinya ke atas hingga menyentuh wajah Jeni. Membuatnya mendelik tak suka.


"Jangan di sana, kau menyakiti kakiku, apa kau sudah mengerti pekerjaan mu?" hardik Sarah karna merasakan kalau Jeni memotong kukunya terlalu dalam.


Jeni memutar bola matanya malas, dan mengambil lagi kaki Sarah dengan tatapan jijik seakan kaki itu mempunyai banyak kotoran padahal nyatanya kaki Sarah sangatlah putih bersih, berbeda dengan kaki Jeni yang kusam namun di sembunyikannya di balik kaos kaki panjang yang dia kenakan.


"Hei, apa ini? katanya dia sudah mengerti pekerjaannya tapi kenapa kaki putriku jadi sakit di kerjakan olehnya?" sergah Nyonya Ellen tak suka dan melayangkan protes pada sang senior.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Dia Karyawati baru, biar saya yang mengajarinya dulu."  Senior itu mendekati Jeni dan mencubit pinggangnya dari belakang sampai yang merasakannya hanya Jeni seorang.


Sembari meringis menahan sakit Jeni memperhatikan apa yang di sampaikan oleh senior killer tersebut yang tak kunjung melepaskan cubitannya sampai selesai menjelaskan.


"Kau paham? ingat konsekuensinya kalau sampai pelanggan kembali protes!" desisnya tepat di samping telinga Jeni.


Cubitan itu terlepas dan senior itu kembali ke tempatnya mengawasi. Jeni menarik nafas lega, dan melirik Sarah yang kini menatapnya dengan tatapan mengejek.


'itu belum seberapa dengan sakit yang sudah kau torehkan di hatiku, gundik! Lihat saja ke depannya akan semakin banyak kesakitan yang akan kau terima.' Sarah tersenyum miring sambil menatap Jeni yang kini mulai mengerjakan kukunya lagi.


Di sampingnya tampak Nyonya Ellen dan Sonia mulai terlelap karna rasa nyaman dan kesempatan itu tak di sia-siakan Sarah untuk bisa kembali mengintimidasi Jeni.


"Hei, apa yang membuatmu malah bekerja di sini? Bukankah katamu kau akan menikah dengan si Bima yang kaya raya itu hm? Apa dia sudah miskin sekarang sampai kau harus bekerja juga?" kekeh Sarah lirih sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Jeni lagi.


Mata Jeni melotot nyalang, dia sudah cukup malu dengan bertemu Sarah dalam keadaan sekarang. Dan kini sepertinya Sarah kembali menguji kesabarannya dengan memanasinya.


"Apa maumu?" geram Jeni.


"Hei, santai saja. Jangan menatapku seperti itu, kau tau. Aku kan cuma ingin tau kenapa kau ada di sini, ummm maksud ku bekerja di ... sini."


"Tidak ada urusannya denganmu, urus saja hidupmu sendiri."


"Ah, aku ingat. Apa lele tua yang tempo hari bersamamu itu tidak membayarmu dengan harga yang pantas? Yah, wajar sih. Kau kan ... sudah bekas," tawa Sarah meledak saking senangnya bisa mengerjai Jeni.


Tapi walau begitu, tampak Nyonya Ellen dan Sonia sama sekali tak terganggu karena sudah terlelap pulas.


Wajah Jeni memerah, ingin sekali dia membalas dan mencakar wajah Sarah yang sudah berani menghinanya. Andai saja dia tak butuh pekerjaan itu untuk menyambung hidupnya pastilah Jeni sudah membuat Sarah berlutut di kakinya, setidaknya begitulah yang ada di pikiran Jeni sekarang.


"Ah ya." Sarah berhenti tertawa dan membuka tasnya, mengeluarkan sebuah undangan berwarna keemasan dan di berikannya pada Jeni.


"Jangan lupa datang ya, aku pastikan kau akan membawa pulang makanan yang cukup nanti dari pesta ku."

__ADS_1


Jeni menerima undangan itu, Dann serta merta matanya melotot membaca nama yang tertera di sana sebagai mempelai.


__ADS_2