MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 180.


__ADS_3

Lelaki yang berdiri di sebelah Juli itu menurunkan kado yang ukurannya lumayan besar , hingga sebelumnya sampai menutupi wajahnya. Setelah kado berada di bawah, wajah sayu itu kembali bertatap mata dengan Asy.


"Ya Allah, Mas Al? Ini kamu?" tanya Asy sembari menutup mulutnya tak percaya.


 Lelaki bertubuh kurus dengan garis wajah cekung itu mengangguk pelan, sebelum akhirnya menunduk dalam menyembunyikan wajahnya dari tatapan Asy.


 Juli berdecak, dia tampak tak suka melihat Asy memperhatikan Alam mulai dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan seksama.


"Ck, biasa aja kali lihatinnya, segitunya banget sih."


 Juli merangsek maju, menyalami Rahman dengan ramah namun melewati Asy begitu saja padahal Asy sudah mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya.


"Maaf, kita nggak selevel." Juli berbisik mengejek di dekat asy, lalu setelahnya berlalu menuju ke pelaminan sebelah.


 Asy tercengang, hingga tak sadar saat Alam sudah berada di depannya kalau saja pria yang kini tampak kurus tak terawat itu tak sengaja batuk di hadapannya dengan tangan terulur hendak menjabat tangan Asy.


"Uhuk, uhuk."


"Ah, Mas. Kamu nggak papa?" tanya Asy tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya.


 Alam tersenyum sungkan dan menggeleng.


 "Saya nggak papa, selamat ya buat pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Doa tulus meluncur dari bibir Alam yang tampak kering dan pucat.


" Terima kasih , Mas doa yang sama buat Mas juga ya," sahut Rahman mewakili Asy yang masih tampak terpana.


 Alam mengangguk, lalu berjalan menyusul Juli yang sudah memanggilnya sejak tadi dengan wajah kesal.


"Lama banget sih, Mas. Ngapain lama lama di sana, jangan bilang kalau kamu ...."


"Sudah, nggak usah bicara yang aneh aneh. Cepat salaman dan kita turun, malu di lihatin orang dari tadi ," bisik Alam cepat.

__ADS_1


 Juli berdecak, namun dia akhirnya menuruti perkataan Alam dan melangkah kembali menuju ke pelaminan di mana pasangan ke dua yaitu Aish dan Satrio duduk bersanding.


"Selamat ya atas pernikahannya, kadonya sudah kami kasih di sebelah ya." Juli mengulurkan tangan pada Satrio, dan di sambut dengan ramah oleh Satrio yang memang tidak mengenal Juli.


 Namun saat juli bergeser ke tempat Aish, tampak olehnya wanita yang merupakan saudara kembar' Asy itu menatapnya dengan tatapan tak suka.


 Juli mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan Aish, karna merasa dia tak punya masalah apapun dengan Aish. Namun Aish yang sebelumnya sudah melihat apa yang di lakukan Juli pada Asy langsung tak tinggal diam, dia menyeringai menepis tangan Juli dan mendekatkan bibir merahnya ke telinga juli.


"Maaf, saya tidak mau bersentuhan dengan kuman. Kita tidak selevel."


 Tubuh Juli seketika menegang, dengan wajah memerah marah dia menatap balik Aish dengan matanya yang menyorot tajam.


 Aish menarik diri kembali ke belakang, dengan seringai puas di wajahnya yang cantik dan elok rupawan. Berbanding terbalik dengan Juli yang berdandan terlalu mentereng hingga terkesan sangat menor, apalagi di tambah tubuhnya yang melebar dan bergelambir setelah masa kehamilan.


 Menjadikannya terllihat bagaikan bumi dan langit jika di bandingkan Asy dan Aish yang hari ini di dandani bak ratu.


 Namun sayangnya, kepongahan Juli sudah menutupi semua itu. Menjadikannya begitu percaya diri hendak menyaingi saudari kembar itu. Hanya dengan bermodalkan statusnya yang kini sudah berubah menjadi istri Alam. Padahal baik Asy maupun Aish tak ada yang mengundang mereka datang ke pesta itu. Semuanya murni keinginan Juli sendiri untuk datang hanya demi hasratnya ingin pamer karna sudah menjadi istri Alam.


 Gegas Alam mendorong tubuh tambun juli, walau tampaknya Juli masih belum rela meninggalkan panggung itu tanpa menyelesaikan tujuannya. Yaitu membuat Asy iri akan dirinya yang sudah menjadi istri dari mantan suaminya.


( Padahal sebenarnya ya, buat apa juga sih Asy iri? Memangnya Alam punya apa gitu? = Ini komentar author julid yang baper sendiri sama jalan cerita yang entah dapat inspirasi dari mana)


 Juli masih memperhatikan wajah Aish yang menatapnya dengan tatapan meremehkan saat mereka turun dari pelaminan, hingga membuat kakinya tersandung dan hampir saja jatuh jika saja Alam tak sigap memeganginya.


"Hah, menyebalkan!" geram Juli sambil bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan Alam dengan wajah merah padam.


 "Kamu mau kemana sih?" tegur Alam yang sampai ngos ngosan mengikuti langkah kaki Juli yang demikian cepatnya keluar dari tenda pesta mewah itu.


 Juli berhenti, menghentakkan kakinya ke tanah lalu mengacak rambutnya sendiri dengan frsustasi.


"Aaahhhh, aku kesal!" teriak Juli dengan geram.

__ADS_1


 Alam yang juga kesal tak lagi mempedulikan juli, dan lebih memilih masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.


Blam


 Alam menutup pintu mobil, menyandarkan kepalanya di jok dan mulai memejamkan mata. Membiarkan saja Juli berteriak teriak sesuka hatinya di depan sana dengan sesekali menghentak hentakkan kakinya di tanah terus menerus hingga debu mulai berterbangan mengenainya. Barulah setelah puas dia melangkah cepat menuju ke mobil dan menutup pintunya dengan kasar.


Braakkk


 Alam terlonjak kaget, memegangi dadanya yang mendadak langsung terasa berdenyut sakit.


" Apa sih, Mas? Begitu saja kaget," ucap Juli ketus, bahkan sama sekali tak ada raut wajah khawatir setiap kali Alam kambuh seperti saat dulu pertama kali mereka menikah.


 Semenjak hamil, Juli selalu saja bertingkah sesukanya bahkan tak jarang memerintah seperti seorang nyonya pada bawahannya.


 Setelah beberapa saat , akhirnya debaran di jantung Alam mulai mereda. Dengan menghembuskan nafas panjang Alam akhirnya bisa bebas bernafas lagi.


"Ayo buruan pergi, Mas. Mau nunggu apa lagi?" ketus Juli lagi, dengan mata terfokus pada layar ponsel di tangannya.


 Alam mendesah, sudah kehabisan kata kata untuk menasehati Juli agar tak lagi memperlakukannya bagai pembantu.


"Jangan kaget, Mas. Ini namanya perubahan hormon, bawaan bayi kamu juga ini aku jadi begini. jadi ya, maklumi saja lah ya kalau aku kadang bertingkah aneh sedikit. Yang penting akan anak kita sehat," dalih Juli setiap kali Alam menegur sifatnya yang dia rasa terlalu berlebihan memperlakukannya itu. Tak hanya dia, bahkan ibu dan bapaknya pun terkadang turut menjadi sasaran perilaku tak menyenangkannya juga, dan jujur Alam tak suka itu.


 Alam mengemudikan mobilnya dalam diam, membiarkan Juli sibuk dengan dunianya sendiri. Otaknya sudah buntu merangkai kata untuk menasehati perempuan yang setahun lalu resmi menyandang status sebagai istrinya itu, karena desakan dari ibunya yang merasa berhutang budi pada gadis yatim piatu tersebut. Hingga memaksa Alam untuk menikahinya.


"Mas, aku mau ke sini dong. Anak kamu tiba tiba kepengen ini nih, mumpung kita lagi di kota." tunjuk Juli sembari menunjukkan layar ponselnya pada Alam yang masih fokus menyetir.


 Alam melirik sekilas, lalu mengangguk menyanggupi karna tak ingin adu mulut lagi.


Juli tersenyum senang, dan kembali sibuk dengan ponselnya lagi. Tanpa peduli wajah Alam yang sudah demikian pucat dan lelah karna baru saja tiba dari kampung dan malah langsung di ajak pulang oleh Juli. Bahkan seteguk air pun tak di tawarkan padanya sejak tadi.


 Alam membelokkan mobilnya ke sebuah tempat, dan menghentikan laju kendaraannya di sana. Juli yang mengira sudah sampai di tempat yang ingin dia tuju lekas keluar, namun saat melihat dengan jelas dimana dia berada dia berteriak kaget pada Alam yang kini malah menghidupkan kembali mesin mobilnya.

__ADS_1


"Loh, Mas! Aku kok di tinggal di rumah sakit jiwa?" jerit Juli ketakutan.


__ADS_2