MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 190.


__ADS_3

 Seluruh tubuh Axel serasa bergetar, tak dapat dia bayangkan bagaimana perasaan ayahnya saat kejadian itu menimpanya. Bahkan saat ini terlihat jelas kalau wajah Andrew menampakkan ketakutan yang tak begitu kentara namun nyata adanya.


 Sonia memeluk tubuh sang suami dari samping, menyandarkan kepalanya di antara ceruk leher Andrew sembari mengusap usap punggungnya memberikan kekuatan.


"Setelah itu, dia kembali menutup mata Papa. Mengangkat Papa di pundaknya dan mengembalikan Papa ke dalam kamar, bahkan Papa masih sangat ingat golok yang mengacung di dinding sebelum posisi lemari di kamar itu kembali ke posisinya semula. Ancaman itu, bahkan masih membuat Papa takut, hingga sekarang." Andrew mengakhiri sejenak ceritanya, dadanya terasa sesak dengan mata yang terasa hangat perlahan.


"Lalu, apa yang terjadi setelah itu, Pa?" tanya Axel yang tak sabar untuk segera tahu lanjutan ceritanya.


 Andrew mendesah panjang,sedang Sonia menarik diri dari pelukan suaminya.


"Papamu tidak berhasil mendapatkan apa yang di inginkan oleh Kak Bryan. Dan kemudian Kak Bryan marah besar, dia mengerahkan anak buah ayahnya untuk menyerang rumah kakek dan nenekmu dan membantai mereka hingga tewas. Lalu menjarah semua hartanya untuk selanjutnya mereka akui sebagai milik mereka," sahut Sonia mewakili suaminya yang kini sudah tampak sangat terpukul karena teringat lagi akan kenangan buruk tersebut.


  Axel terhenyak, masih belum bisa mempercayai bagaimana mungkin bocah dua belas tahun bisa melakukan semua itu hanya demi harta?.


"Tapi ... bagaimana mungkin?" gumam Axel heran.


 Sonia mengulas senyum tipis. "Sudah Mama duga, kau tak akan mudah percaya semua ini, Nak. Tapi sayangnya, inilah kenyataannya. Kenyataan yang membuat kami selalu berada dalam ketakutan bertahun-tahun lamanya. Bahkan hingga kami rela meninggalkan mu di panti asuhan itu agar kau tak ikut menanggung semua kerugian akibat ambisi Kak Bryan yang terlalu berbahaya."


"Tapi, jika memang itu benar? Bagaimana bisa Dady dulu menerimaku menjadi menantunya, Ma? Bukankah harusnya dia menolak karna tahu aku putra kalian? Lagi pula selama pernikahan Axel dan Sarah, beliau bahkan tidak pernah menunjukkan sisi buruknya sama sekali. Jadi ... wajar bukan kalau Axel masih belum bisa percaya sepenuhnya pada cerita ini. Terlalu mengerikan ku rasa," gumam Axel menyampaikan maksudnya.


 Sonia menunduk, hingga akhirnya jawaban di ambil alih oleh Andrew.


"Itulah hal yang kau tak tahu, Nak. Sebenarnya ... semua ini sudah masuk ke dalam rencananya, memasukkan ku dalam keluarganya agar kau dan para keturunan mu nanti yang akan diaa gunakan untuk meneruskan bisnis gelapnya. Semua ini ... bahkan secara terang terangan dia katakan di hadapan Papa dan juga Mama waktu itu."


 Axel menelan ludah dengan susah payah, semua kenyataan yang dia terima hari ini begitu mengejutkan dan terkesan di luar nalar. Tapi ... apa mungkin ke dua orang tuanya itu berbohong? Untuk apa? Tak akan ada gunanya bagi mereka berbohong bukan?.


"Lalu, bagaimana dengan Sarah? Dia adalah putri kandungnya Dady Bryan. Orang yang Papa katakan sebagai orang yang sudah membantai kakek dan nenek. Tapi ... kenapa bisa Papa dan Mama begitu sayang padanya? Bukankah harusnya kalian menyimpan dendam juga padanya sebagai keturunan dari orang yang sudah merenggut semuanya dengan keji?" tutur Axel berusaha bicara sesopan mungkin.


 Andrew menarik nafas dalam, begitu pula dengan Sonia yang sempat beradu pandang dengannya sejenak.


"Itu semua karena ... Sarah tidak tahu apa apa tentang ke dua orang tuanya, Nak. Dia di besarkan oleh tangan neneknya yang baik hati dan selalu menentang suami dan anaknya. Dan ... sayangnya saat Sarah mulai memasuki bangku sekolah neneknya meninggal, entah karena apa. Keluarga mereka terkesan menutupi apa penyebab meninggalnya sang nenek yang baik hati itu."


 Tes


 Air mata tampak menetes di wajah Sonia yang tampak pucat, terkenang semua yang terjadi di dalam keluarga mereka. Yang tak hanya dulu, tapi kini pun mereka harus menerima konsekuensinya dari apa yang tidak pernah mereka lakukan.


 "Ke dua mertua mu, mempunyai banyak sekali rahasia yang hanya mereka dan orang orang tertentu saja yang tahu. Rahasia yang mungkin saja mengerikan dan membuat orang orang jadi segan mencari gara gara dengan keluarga mereka. Tapi ... Satu yang harus kau ingat, Nak. Keluarga mereka yang berkuasa tapi mempunyai banyak sekali musuh, tak hanya yang terlihat tapi juga musuh dalam selimut yang bisa saja berasal dari dalam keluarga kalian sendiri nantinya."


 Axel diam, tak lagi bertanya apa apa. Semuanya kini terasa mulai jelas di benaknya. Tentang apa yang dulu terjadi, sebab dan akibat dan kalau dia harus siap jikalau nanti akan mendapati seseorang dari keluarga yang bahkan tak pernah di sangkanya akan berkhianat.


****


Di tempat lain.


"Mas, ini kopinya." Aish menyuguhkan segelas kopi yang masih mengepul di hadapan Satrio yang tengah duduk di teras rumah sembari memegang sebuah buku kecil yang merupakan catatan bahan bahan yang masuk ke restoran kemarin mencocokannya agar tak terjadi kecurangan.


"Ah, ya terima kasih ya, sayang. Tapi ...."


 "Tapi apa, Mas? Ada yang kurang ya?" tanya Aish cemas.


 Terlebih saat melihat wajah Satryo yang seperti sungkan dengan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Hmmm, anu nggak bukan itu ... tapi, kayaknya kamu lupa ya kalau Mas nggak minum kopi, hehe."


Aish menepuk jidatnya pelan. "Astaghfirullah, iya Aish lupa, Mas. Ya sudah, biar Aish ganti ya. Mas mau minum apa? Teh atau susu? Atau dua duanya?" tanya Aish dengan pipi merah merona.


 Satrio tersenyum senyum sendiri, lalu berkata dengan nada menggoda. "Kalau boleh sih ... susunya aja siniin, dek."


Bletaakkkk


"Aaahhh, Mas ah bikin aku malu tahuuu."


 Aish berlalu ke dapur setelah menabok wajah suaminya dengan nampan plastik yang dia bawa untuk menyuguhkan kopi tadi.


 Satrio yang terkejut hanya bisa memegangi pipinya yang terasa panas dan perih karena baru saja di cium nampan dengan tatapan syok.


"Ya ampun, untung cinta. Kalau nggak udah tak hih itu anak."


 Sejurus kemudian terdengar suara dering ponsel dari saku baju Satrio, ponsel yang tempo hari berenang di air bak mandi itu kini sudah kembali bisa di gunakan setelah di bawa berobat ke konter dan lumayan menguras dompet Satrio.


 Sebuah nama yang terpampang di layar ponselnya membaut Satrio sontak menoleh ke arah pintu dapur, setelah memastikan Aish tak akan keluar dari sana dalam waktu dekat Satrio gegas menuju teras dan mengangkat teleponnya.


"Hallo?" Satrio menutup mulutnya dengan tangan, sengaja agar suaranya tak begitu jelas terdengar.


(Tugasmu hari ini, datang ke alamat yang sudah ku kirimkan. Dan lakukan seperti biasanya, jangan meninggalkan jejak apalagi bukti)


"Baik, di mengerti."


Klik


 Sambungan telepon terputus, sedetik kemudian Satrio merasakan sebuah tepukan di pundaknya.


****


"Masih belum ada kabar ya, Mbak?" tanya seorang petugas rumah sakit pada Juli, sudah hampir satu minggu ini dia tinggal di sana kendati tak ada tanda tanda Alam akan kembali menjemputnya.


 Terlebih lagi dia tak punya kenalan, dan ponselnya pun tertinggal di mobil sewaktu Alam meninggalkannya waktu itu.


Juli menggeleng lemah sembari menghembuskan nafas lelah, lelah dalam penantian yang tak pasti.


"Saya harus gimana, Mas? Kalau sampai suami saya nggak kunjung datang jemput saya? Saya nggak mau tinggal di sini selamanya, apalagi saya lagi hamil begini, saya nggak mau." Juli mulai menangis.


 Pria muda yang waktu itu menolongnya perlahan duduk di sampingnya, menangkup kepalanya dan menyandarkannya ke dada bidangnya.


 Juli terhenyak kaget, bingung dengan apa yang di lakukan pria tersebut yang beberapa hari ini sejak dia menginap di rumah sakit jiwa tersebut memang tampak sangat baik padanya.


"Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Kalau memang suaminya Mbak nggak mau lagi sama Mbak. Kan masih ada saya," pungkasnya.


 Juli kaget, serta merta di angkatnya kepalanya dari dada bidang si pria perawat yang bahkan hingga hari ini masih belum dia ketahui namanya itu. Karna pria itu selalu menolak memberi tahu setiap dia bertanya.


"Apa maksud Mas bicara begitu? Jangan macam macam ya, saya masih punya suami dan sebentar lagi mau punya anak. Jangan bicara sembarangan begitu ya," tandas Juli lagi dengan wajah tak senang. Padahal dalam hatinya dia deg degan juga, siapa sih yang tidak baper di gombali oleh pria setampan perawat pria itu, wajahnya yang hampir mirip aktor Aliando Syarief itu membuat Juli hampir saja lupa kalau dia sudah punya suami dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak.


Pria perawat itu terkekeh. "Bercanda," guraunya, menerjunkan angan juli yang terbang setinggi langit ke tujuh ke jurang terdalam yang ada di bumi ini.

__ADS_1


 Lemas.


 Bagi Juli merosot ke bawah dengan pandangan nelangsa ke arah bebek bebek yang tengah berenang di tepian telaga yang berada di belakang rumah sakit jiwa tersebut. Bebek bebek yang berkotek seolah menertawai Juli yang baru saja PHP in.


 Setelah hening beberapa helaaan nafas, pria perawat itu kembali buka suara.


"Apa Mbak nggak punya kenalan di sini? Siapa tahu dia bisa bantu cari solusi atas masalah yang sedang Mbak hadapi. Karna jujur saja saya juga bingung harus bantu Mbak bagaimana supaya bisa kembali pulang ke keluarga Mbak," gumamnya sembari melempar tatapan ke arah telaga yang sama dengan yang tengah di lihat Juli.


 Juli mendesah berat, memang benar dia tak bisa terus begini. Berpangku tangan menanti bantuan yang akan mendatanginya, atau sekedar berharap suaminya akan sadar dan kembali menjemputnya di sini. Dia tak bisa, dia harus berusaha agar bisa pulang. Setidaknya agar bisa mendapat penjelasan dari Alam tentang apa alasannya meninggalkan dia begitu saja di rumah sakit jiwa ini.


"Saya ... tidak punya saudara," tukas Juli pelan, sembari mencabuti rumput yang tumbuh di pot bunga di dekatnya.


"Kalau ... teman atau kenalan mungkin?" tanya pria itu lagi.


 Juli menggeleng pelan, karna memang demikianlah adanya. Dia sendiri saja bingung dengan cara apa dia bisa pulang ke kampungnya saat ini, sedang perjalanan menuju ke sana saja hampir memakan waktu hingga 6 jam itupun sangat jarang kendaraan yang dari atau menuju ke sana. Adapun pastilah penuh muatan seperti hasil alam atau hasil kebun yang akan di jual ke kota, tak akan mungkin jika menumpang dengan mereka karna biasanya mobil angkutan seperti itu selalunya tak memperkenankan ada yang menumpang.


"Kalau begitu ... kemarin Mbak nya ke kota ngapain?" tanya pria itu sontak membuat Juli teringat dengan hal yang membuat mereka atau mungkin hanya dirinya terdampar di tempat ini.


"Asy ...," gumam Juli pelan.


"Hah? Apa, Mbak? Maaf saya nggak kedengaran," tanya pria perawat itu sembari sedikit mendekatkan wajahnya ke wajah Juli yang menatap lurus ke arah telaga.


"Saya tahu harus kemana," tukas Juli sembari memutar wajahnya menatap tepat ke mata pria perawat.


 Singkatnya setelah menunggu hingga malam tiba, saat dimana shift kerja pria perawat itu habis dan dia bisa pergi mengantar Juli ke kediaman Asy, berdasarkan alamat yang masih di ingat Juli saat kemarin berkunjung ke acara pesta pernikahannya.


"Ini benar alamatnya, Mbak?" tanya pria itu dengan kening berkerut dalam.


 Juli mengangguk cepat. "Iya, kenapa memangnya?. Masnya nggak tahu tempatnya ya?"


 Pria itu menggeleng samar, namun keningnya masih berkerut dalam seperti kurang yakin dengan alamat yang di beri tahukan juli barusan.


 Gerbang perumahan yang menjulang tinggi itu menambah ketidak yakinan pria itu jika kenalan Juli benar tinggal di sana.


"Tapi, inikan kompleks perumahan orang kaya, Mbak. Mbak yakin nggak salah alamat?" tanyanya lagi sembari memperhatikan penampilan Juli yang saat itu mengenakan pakaian yang dia pakai saat ke pesta pernikahan Asy waktu itu, tapi tidak di dukung dengan dandanan yang sesuai hingga membuatnya malah tampak seperti orang aneh.


"Heh, kamu ngatain saya? Nggak sopan banget kamu ya? Kamu kira mentang mentang saya di tinggalin di depan rumah sakit jiwaa itu terus saya nggak boleh punya kenalan orang dari komplek perumahan ini gitu?" sentak Juli meradang, terlebih saat sadar dirinya tengah di pandang rendah oleh pria tersebut yang sebelumnya sempat membuatnya sedikit baper saat masih di rumah sakit jiwa tadi


 Pria itu tersenyum kecil namun dia sembunyikan di balik telapak tangannya, seolah mengejek Juli.


 Juli yang sudah sangat jengkel tak lagi memperdulikan pria itu, melangkah cepat menuju ke gerbang perumahan tersebut. Entah keberanian dari mana tapi hanya ini satu satunya jalan yang bisa di pikirkan untuk bisa kembali pulang ke kampungnya.


"Eh, Mbak mbak mau kemana? Main nyelonong aja emangnya situ siapa?" seru seseorang yang sepertinya adalah seorang petugas keamanan di komplek tersebut.


. Juli mematung di tempatnya, sedang penjaga berkumis itu berjalan tegap mendekatinya.


"Siapa kamu? Ada keperluan apa ke sini?" tanyanya sangar, membuat nyali Juli sedikit menciut karenanya.


"Ah, saya ... saya ... Emmmmm." Juli tergagap, bingung hendak menjawab apa karna lidahnya mendadak terasa kelu dan otaknya mendadak beku hingga bingung harus berkata apa.


 Penjaga gerbang itu menggerak gerakan kumisnya hingga membuat wajahnya bertambah sangar.

__ADS_1


 Juli menelan ludah dengan susah payah, tapi untungnya di waktu yang bersamaan sebuah mobil melintas di sampingnya.


"Loh, kamu kok ada di sini?"


__ADS_2