MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 67


__ADS_3

 Sarah sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP pilihan Axel, tempat yang sangat nyaman dan tenang untuk proses pemulihannya.


"Mas, tolong ambilkan minum," pinta Sarah menunjuk sebuah botol air mineral di atas meja.


 Bayi bayi mereka masih di bersihkan untuk di lakukan beberapa catatan kesehatannya lebih dulu.


 Axel membantu Sarah minum, dengan penuh kasih sayang.


"Makasih, Mas. Oh ya, Momy, Dady, Papa dan Mama udah di kasih tau?" tanya Sarah lagi.


 Axel mengangguk. "Sudah, sayang. Sebentar lagi mungkin sampai."


 Sarah kembali membaringkan tubuhnya ke atas kasur empuk ruangan itu, karena tubuhnya benar benar terasa lelah.


"Sayang, tadi ... Mas ketemu Jeni di depan." Axel bercerita jujur.


 Kening Sarah berkerut. "Jeni? Ngapain dia di sini, Mas?"


 "Nggak tahu, tapi kayanya dia bilang tadi dia bantu nenek nenek yang di serang preman di pasar. Dan di bawa kerumah sakit ini, Tapi karna Jeni nggak bawa uang buat bayar rumah sakitnya ya jadi Mas bantu bayarin tadi. Kamu nggak marah kan, sayang?"


 Sarah mengulas senyum dan menggeleng. "Nggak kok, Mas. Makasih ya sudah mau terbuka sama aku."


 Axel mengangguk dan membawa Sarah ke dalam pelukannya.


 Tak lama, pintu ruangan terdengar di ketuk. Di susul masuknya para kakek dan nenek dengan wajah wajah berseri.


"Sarah, gimana kondisi kamu, Nak?" Kata Axel kamu lahiran normal ya? Ya ampun sayang, kamu hebat sekali." Sonia memeluk menantunya itu dan menciuminya berkali-kali.


"Sarah, honey? Yang mana yang sakit? Apa perlu Momy panggilkan tukang urut langganan Momy buat urut kamu, sayang?" cecar nyonya Ellen tak mau ketinggalan.


 Sarah tersenyum dan menggeleng. "Nggak, Mom Sarah nggak papa kok."


 Kedua nenek itu memeluk Sarah hangat, sedangkan para kakek menunggu gilirannya dengan bercengkrama dengan Axel tentang bagaimana awalnya Sarah bisa lahiran normal. Padahal biasanya ibu dengan bayi kembar lebih dari dua pasti akan memilih atau di sarankan untuk operasi.

__ADS_1


"Itulah hebatnya istriku, Pa. Yang tak akan ku temukan di perempuan lain. Saya bersyukur sekali bisa di pertemuan dengan Sarah, dia wanita yang kuat dan hebat. Dan saya benar benar mencintainya." Axel menjawab dengan yakin, matanya menatap Sarah dengan penuh cinta.


 Tuan Bryan menepuk pundak Axel, dan memeluknya singkat.


 "Terima kasih, sudah mencintai putriku begitu dalam setelah ini tolong tetap cintai dia seperti ini walau mungkin nanti dia akan berbeda. Entah fisik ataupun sikapnya."


 Axel mengangguk, dan Andrew bergantian memeluk putranya. "Papa bangga sekali padamu, Nak."


Tak lama, pintu ruangan kembali di ketuk. Di susul masuknya tiga orang suster yang mendorong tiga box bayi dengan bayi bayi sarah di dalamnya.


"Welcome, triplets." Nyonya Ellen menyambut para cucunya yang masih terlelap di dalam boxnya.


 Dua bayi menggunakan bedong berwarna biru, sedangkan satunya menggunakan bedong warna pink pastel. Jadi sudah bisa di pastikan kan, jenis kelaminnya?. Xixi


"Subhanallah, kita dapat dua jagoan dan satu princess, Kak." Sonia bersorak girang seperti anak kecil yang baru di belikan mainan kesukaannya.


 Tuan Bryan mendekat dan memindai wajah cucu cucunya, yang begitu tampan dan juga cantik.


"Hei, tidak bisa begitu, Dad. Aku juga mau cucu laki laki, akan aku ajari mereka karate supaya bisa menjadi jagoan seperti ku." Nyonya Ellen menyingkap lengan bajunya dan memperlihatkan otot yang selalu tertutup baju sebelumnya.


 Tuan Bryan menelan ludah, dan membuang muka ke arah lain.


Semua tertawa melihat tingkah sepasang suami istri itu, namun tawa itu langsung surut begitu salah satu bayi laki laki Sarah menangis keras.


"Owaaa ... Ooowaaaaa ...."


 Nyonya Ellen lekas mendekat ke box cucunya itu.


"Ooh, pengeran tampan Oma. Apa kau lapar sayang? Apa kau mau asi?" tanya Nyonya Ellen seakan bayi itu mengerrti apa yang dia ucapkan.


 Tapi seolah paham, bayi tampan yang adalah bayi yang pertama kali di lahirkan Sarah itu mulai memutar wajahnya dan membuka mulutnya lebar lebar.


 Nyonya Ellen tersenyum, dan dengan perlahan mengambil bayi mungil itu dari boxnya.

__ADS_1


"Ayo, sayang. Kamu harus mulai belajar menyusui." Nyonya Ellen membantu Sarah memangku bayinya, juga mengajari cara menyusui bayinya yang baik dan benar.


 Sarah tersenyum senang, matanya mendadak menghangat saat ada makhluk mungil yang kini dengan semangat menyedot Asi dari tubuhnya untuk kelangsungan hidupnya sendiri itu. Mata bayi itu terpejam, sambil sesekali tersenyum sendiri. Sarah yang gemas tak tahan dan menciumi pipi bayinya, hingga dia menggeliat dan menangis karena merasa tak nyaman.


"Hei, jagoan. Apa Mami mengganggumu? Ooh, maafkan Mami, ayo sini menyusu lagi sayang." Sarah membenahi tubuh bayinya dan kembali memberinya asi.


 Baru saja bayi itu menyusu dengan kuatnya, satu bayi lelaki lagi menangis. Sepertinya dia juga mulai lapar. Dialah bayi kedua yang di lahirkan Sarah, dan yang perempuan adalah yang terakhir dan yang tubuhnya paling mungil ketimbang dua kakak laki lakinya.


 Sonia mengambil bayi yang menangis itu dan menimangnya perlahan, namun bukannya berhenti bayinya malah semakin menangis keras karna sudah sangat kehausan.


"Duh, gimana ini. Yang satu belum selesai menyusu yang satu lagi udah nggak sabar. Apa langsung susui dua duanya ya, Sarah?" tanya Sonia meminta pendapat yang lainnya.


 Axel mendekat ke arah istrinya dan melihat bayi pertama yang masih semangat menyusu pada ibunya. Seolah tak ingin berbagi dengan kedua saudaranya.


"Gimana caranya menyusui dua duanya, Ma?" tanya Sarah bingung.


 "Sebentar Papa panggilkan susternya supaya di bantu." Andrew melangkah lebar menuju pintu dan menghilang di baliknya untuk mencari suster.


 Tak lama kemudian Andrew kembali di ikuti suster di belakangnya, suster itu mengambil bayi kedua Sarah yang masih menangis dan meminta sebuah bantal lagi untuk di letakkan di sisi sebelah kanan Sarah, karna PD sebelum kanannya masih kosong. Perlahan suster itu meletakkan bayinya ke sana dengan posisi menyilang dari bayi pertama sambil menjelaskan pada keluarga yang lain cara menyusui dua bayi sekaligus.


 Setelah bayi keduanya menyusu dengan tenang, suster itu minta diri untuk kembali bertugas.


"Duh, gemasnya anak anak Papi." Axel mencolek colek pipi bayi bayinya yang masih asik menyusu itu. Tak lama tampak bayi pertama sudah melepaskan PD Sarah dan terlelap.


 Nyonya Ellen mengambilnya dan meletakkannya kembali ke dalam boxnya. Cepat cepat Andrew mendekati boxnya dan mencuri kesempatan untuk mencium cucunya.


"Hei, apa kau sudah pastikan dirimu bersih? Bayi itu rentan, awas saja sampai cucuku sakit karna kau cium ya." Tuan Bryan mulai menunjukkan sikap posesif pada cucu cucunya.


 Andrew bersungut-sungut. "Sebelum kemari tadi aku bahkan sempat mandi dan menyemprotkan desinfektan di badanku, Kak. Jangan khawatir, tidak mungkin aku ingin membuat cucuku sendiri sakit."


 Andrew beralih pada bayi perempuan Sarah yang sejak tadi hanya diam dan tak kunjung menangis, padahal sudah cukup lama sejak dia saudaranya yang lain bangun dan menyusu. Tapi dia masih diam saja.


"Sarah, kenapa bayi perempuanmu sejak tadi diam saja?" tanyanya mulai cemas.

__ADS_1


__ADS_2