MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 85.


__ADS_3

*Teruntuk, Mbak Sarah ....


"Mbak, surat ini sengaja aku tulis karna sesuatu telah sampai padaku dan mengatakan kalau ibu dari Mbak Sarah tahu dimana orang tuaku. Maaf, mungkin ini mengejutkan dan aneh untuk Mbak Sarah, tapi aku nggak punya pilihan lain, Mbak. Cuma Mbak, satu satunya harapan supaya aku bisa ketemu orang tuaku lagi, aku merindukan mereka Mbak.


  Pria yang tidak ku kenal itu bilang, kalau Mbak Sarah pasti akan bisa mambantuku untuk bertemu orang tua dan saudari kembar ku yang katanya juga hilang. Betapa aku kaget sekali mendengar berita ini, Mbak. Sungguh, aku tidak bohong, kalau Mbak ingin tahu lebih detail mungkin Mbak bisa tanya ibu Mbak untuk jelasnya. Dan jika nanti sudah ada titik terangnya, tolong temui aku di pondok pesantren kyai Hasan, Mbak.


Sekali lagi, aku harap Mbak bisa bantu aku untuk bertemu orang tuaku. Mbak pasti tahu rasanya jauh dari orang tua, maka dari itu, bantuanmu sangat aku harapkan, Mbak.


Bila tiba waktunya nanti, carilah gadis bernama Asiyah di pondok pesantren kyai Hasan. Aku akan menunggu, Mbak. Sampai kapan pun, semoga aku bisa kembali bertemu orang tua dan saudari kembarku.


Terima kasih sudah berkenan membaca suratku,


Tertanda, Asiyah."


Mata Sarah membulat sempurna membaca tulisan demi tulisan rapi yang terpampang di kertas itu, benaknya mulai menerka siapa orang yang di maksud gadis yang menulis surat ini.


Ingatan Sarah berputar, memutar kembali memori saat pamannya yaitu Edwin datang berkunjung saat dia masih di rawat di rumah sakit waktu itu. Sara sempat mendengar kalau pamannya itu meminta Tuan Bryan untuk memberitahunya dimana Tuan Bryan menyembunyikan ke dua anak kembarnya.


"Momy, Momy pasti tau sesuatu," desis Sarah segera beranjak dari atas kasur dan membuka kunci pintunya.


Namun baru saja hendak melangkah keluar, terlihat Axel suaminya sudah berdiri di depan pintu dengan Ayuna dalam gendongannya.


"Sayang," panggil Axel.


"Loh, Mas Ax udah pulang? Kok aku nggak denger suara mobilnya? Terus ini Ayuna kenapa?" cecar Sarah pula.


Axel mencium pipi lembut putri kecilnya yang masih pulas itu.


"Sengaja Mas bawa ke sini, tadi baby sitternya jatuh di kamar mandi gara gara liat kecoa. Di bawah ribut ngusir kecoa jadi ya dari pada Ayuna kebangun mendingan Mas bawa ke sini. Oh iya, itu tadi kayaknya si Aisyah tangannya luka entah kenapa, coba kamu cek dulu sayang." Axel melangkah masuk ke dalam kamar untuk meletakka bayinya.

__ADS_1


Sarah mengangguk dan mengurungkan niatnya untuk menemui ibunya lebih dulu. Berjalan cepat menuruni tangga, sayup mulai terdengar suara gaduh dari kamar para baby sitter anak anaknya.


"Ada apa ini?" tanya Sarah setelah masuk ke kamar mereka dan mendapati para baby sitter itu tengah berada di atas ranjangnya masing-masing dengan duo jagoan di gendongannya.


"I- itu, kecoanya banyak banget, Bu. Geli," sahut Susan sambil menunjuk ke lemari baju berbahan kayu yang ada di sudut ruangan, tempat mereka meletakkan pakaian mereka menjadi satu di lemari besar itu.


"Di kamar mandi juga ada, Bu. Tadi Aisyah sampe kepeleset gara gara kaget," timpal Mia sambil menunjuk ke pintu kamar mandi yang tampak terbuka.


Sarah geleng geleng kepala sambil melangkah mendekati kamar mandi dan melongok untuk memindai dalamnya. Tampak seekor kecoa berukuran jumbo tengah nongkrong dengan santainya di atas keramik bak mandi.


Sarah mendengus, perlahan dia buka sandal di pakainya dan masuk ke kamar mandi dengan sandal jepit yang khusus untuk masuk ke kamar mandi, dan ....


Pllaaakkkkk!


Sarah keluar dari kamar mandi dengan santainya sambil menenteng bangkai kecoa jumbo itu di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Wajahnya di angkat tinggi, seakan baru saja menyelesaikan misi berbahaya.


"Huwaaaaa ...." kompak para baby sitter itu menjerit karna geli dengan kecoa yang di bawa Sarah, padahal Sarah saja santai membacanya dan melemparnya keluar jendela.


"I- iya, Bu." Susan beranjak turun dari atas ranjangnya dengan hati hati, dan setelah menyerahkan Azkara pada Sarah dia gegas menuju dapur untuk mengambil racun serangga seperti perintah Sarah.


Tak lama dia kembali lagi dengan membawa sebuah botol berukuran sedang dengan gambar kecoa juga di botolnya.


"Ini, Bu." Susan menyodorkan botol Sarah.


Sarah mendengus. "Kamu nyuruh saya yang nyemprot? Terus gunanya saya gaji kamu apa dong, masa iya cuma buat gendong triplets doang?"


Susan nyengir dan perlahan menarik botol itu lagi dan berjalan pelan dengan ekspresi takut menuju lemari kayu besar di sudut ruangan untuk menyemprotnya.


"Bu, tangannya si Aisyah luka," ucap Mia mengadu saat sejak tadi temannya yaitu Aisyah hanya diam di sudut ranjang sambil memegangi tangannya yang mulai tampak mengeluarkan darah.

__ADS_1


"Tolong ambilkan kotak obat di ruang tamu," titah Sarah lagi, sambil berjalan mendekat pada Aisyah dan meletakkan Azkara di atas kasur.


"Coba saya lihat," pinta Sarah sambil memegang tangan Aisyah.


Dengan ragu ragu, Aisyah membuka kepalan tangannya dan tampak sebuah luka lecet di telapak tangannya mungkin sebab dia jatuh tadi dan tanpa sengaja menjadikan telapak tangannya sebagai tumpuan hingga lecet.


"Bu, ini kotak obatnya." Mia memberikan kotak obat itu pada Sarah, dan meletakkan baby Adam di sebelah baby Azkara guna membantu Sarah mengobati tangan Aisyah.


"Tolong kamu bersihkan dulu lukanya, nanti saya yang perban," ujar Sarah sambil membuka kotak obat dan mengambil segulung perban juga plaster, sedangkan Mia lekas mengambil kapas dan rivanol untuk mensterilkan luka Aisyah.


Aisyah sempat meringis ketika Sarah mengusap pelan lukanya dengan obat merah sebelum di perban.


"Ah, maaf. Perih ya?" tanya Sarah sambil mengangkat tangan Aisyah dan meniup niup lukanya agar tidak pedih lagi.


"Terima kasih, Bu?" Aisyah menggumam pelan.


Sarah mengangguk. "Ini tanda lahir?" tanya Sarah menunjuk sebuah tahi lalat, atau lebih tepatnya tompel yang ukurannya lumayan besar di dekat lengan bagian atas Aisyah.


Aisyah mengikuti arah tatapan Sarah, dan mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Iya, ini satu satunya tanda yang saya bawa dari perut ibu saya. Seandainya saya bisa melihat bagaimana rupanya, tapi ... sejak kecil saya bahkan sudah tidak punya ibu," jawab Aisyah terdengar begitu getir.


Sarah menatap air mata yang mengalir dari tepi mata Aisyah, dan baru menyadari kalau warna mata Aisyah yang agak kecoklatan mengingatkannya pada seseorang yang terasa familiar. Tapi siapa? Sarah juga belum sempurna mengingatnya.


"Memangnya siapa yang mengurus kamu sejak kecil? Sampai tidak bertemu ibu kamu? Dan ... kalau boleh tahu, orang tua kamu kemana?" tanya Sarah yang sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Aisyah mengusap air matanya dan memaksakan sebuah senyum getir di bibirnya. Mata coklatnya menatap ke sana kemari agar air di baliknya tak tumpah kembali.


"Saya di besarkan oleh nenek, tapi ... nenek itu bilang dia bukan nenek kandung saya. Makanya setelah besar saya memutuskan bekerja supaya tidak lagi menjadi beban nenek. Dan orang tua saya, saya sendiri tidak tahu mereka dimana. Bahkan sejak saya kecil rupa mereka pun saya tidak tahu, kata nenek ada orang yang memberikan saya padanya saat bayi dengan memberikan nenek uang yang banyak sekali, namun setelah itu katanya orang itu tidak pernah muncul lagi."

__ADS_1


"Siapa orang itu?" tanya Sarah masih belum puas, namun gelengan kepala Aisyah memupuskan harapannya untuk tahu.


__ADS_2