
"Paman ke sini lagi?" seru Asiyah girang sambil berlari mendekati pria duafa yang kemarin makan bakso dengannya itu.
. Asiyah berlari kecil mendekati pria yang tengah mengumpulkan botol plastik dan barang yang bisa di jualnya itu, senyumnya mengembang menatap lembut pada Asiyah.
"Kan Neng yang semalam minta Paman ke sini lagi, mana gitu botol botolnya?" kekehnya ramah, tangannya menadahkan tangannya seperti anak kecil meminta uang pada ibunya.
Asiyah tergelak. "Oh iya, sebentar ya Paman ada kok itu botolnya udah Asy kumpulan."
Pria itu mengangguk dan membiarkan Asiyah kembali masuk ke dalam pondok untuk mengambil sampah botol yang dia janjikan. Matanya tampak nanar menatap punggung gadis yang ceria itu.
"Harusnya kamu tidak terlibat masalah ini, anak manis. Kamu terlalu polos untuk di korbankan," desahnya lirih, hingga hanya dia yang bisa mendengar.
Asiyah kembali dengan wajah riang, menenteng sekarung besar botol plastik berbagai ukuran yang semalam dia kumpulan.
"Ini, Paman. Ternyata lebih banyak jumlahnya karena acara pernikahan Gus Musa dan Mbak Jen kemarin. Jadi lumayan deh dapatnya," ucap Asiyah sambil meletakan karung berisi botol itu ke dekat kaki pria duafa.
Pria itu tersenyum senang sambil mengusap pelan sudut matanya yang berair.
"Loh, Paman kok nangis? Kurang ya, paman? Nanti Asy cariin lagi kalau kurang." Asiyah tampak panik.
Tapi pria itu cepat menggoyangkan tangannya dan tersenyum.
"Eh, nggak kok. Ini cukup, cukup sekali malah, selama mulung ini yang terbanyak yang pernah paman dapat, ya ... walaupun ini kamu yang mulung sih sebenarnya."
Mereka tertawa bersama, tampak sangat akrab seperti layaknya paman dan keponakannya.
"Oh ya, Paman." Asiyah mengulurkan tangannya pada pria duafa yang kini menatapnya bingung.
"Ya?"
"Dari pertama ketemu kita sampe lupa kenalan, padahal sudah beberapa kali ketemu juga. Aku Asiyah paman, nama paman siapa terus tinggalnya dimana?"
Pria itu tersenyum dan menjabat tangan Asiyah.
"Nama Paman Rahman, paman tinggalnya nggak tentu kadang di emperan toko, kadang juga di bawah kolong jembatan. Ya ... asal nggak kehujanan dan kebasahan aja sih," kekehnya miris.
Senyum Asiyah surut, dan berganti raut sesal di wajah polosnya.
"Eh, kok malah jadi sedih sih?" tanya Rahman bingung.
Asiyah menggeleng dan memilih duduk di tepi jalan yang berdekatan dengan tempat sampah depan pesantren.
__ADS_1
"Asiyah kenapa?" tanya Rahman lembut.
Asiyah masih menggeleng.
"Nggak papa kok, Paman."
Rahman terkekeh. "Kamu kasihan sama saya? Nggak usah, saya sudah biasa kok."
Rahman membuka karung yang tadi di bawa Asiyah dan tersenyum lebar saat melihat isinya.
"Orang tua paman kemana?" tanya Asiyah lagi .
"Sudah meninggal, paman hanya sendiri di dunia ini sekarang." Rahman tersenyum santai, seolah tanpa beban tapi dalam hatinya siapa yang tahu apa yang di rasakan pemuda itu.
Hening sejenak merajai mereka, menatap lalu lalang kendaraan yang lewat di hadapan. Dengan kesibukan dan dunia mereka masing-masing.
"Paman?" panggil Asiyah memecah keheningan.
"Ya?" sahut Rahman, masih sama lembutnya seperti biasanya.
"Asy juga tidak punya orang tua, ah maksudnya ada, tapi ... bahkan sejak lahir Asy tidak pernah bertemu mereka," bener Asiyah miris.
Rahman tampak tak terkejut, dia hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil membuang pandangannya ke arah jalanan di depannya.
"Apa, Paman?" Asiyah menatap bingung pada Rahman.
Rahman terkesiap. "Ah, ma- maksud paman, apa orang tua kamu masih hidup?"
Asiyah ber oh ria. "Entahlah, tapi beberapa Minggu lalu ada seseorang yang datang dan bilang kalau orang tuaku masih hidup. Hanya saja dia tidak memberi tahu siapa mereka, hanya meminta ku bertanya pada seseorang yang katanya tahu siapa orang tuaku. Jujur saya, Asy agak bingung paman."
Rahman menunduk, menarik nafas dalam dan membenahi letak peci usang di kepalanya.
"Paman pergi dulu ya, mau jual barang bekas ini. Siapa tahu dapat banyak bisa gantian traktir kamu makan bakso, baksonya enak." Rahman bangkit berdiri dan memanggul dua buah karung di pundaknya, satu miliknya dan satu pemberian Asiyah.
"Tunggu, Paman." Asiyah ikut bangkit berdiri.
Rahman berbalik. "Ada apa?"
"Kenapa paman tidak tinggal di pondok ini saja? Dari pada paman tinggal di emperan toko atau kolong jembatan."
Rahman kembali tersenyum lembut, pria dengan warna kulit sawo matang karna terpapar sinar matahari terus menerus itu tak menjawab.
__ADS_1
"Paman?" desak Asiyah.
"Paman tidak pantas, As. Paman kotor ... lagi pula, paman tidak punya uang untuk mendaftar ke pondok itu." Rahman menyahut apa adanya.
Dahi Asiyah tampak berkerut.
"Kenapa harus bilang tidak pantas, bahkan Asy masuk ke sini tanpa membawa pakaian selain yang menempel di badan, semua yang Asy punya sekarang karna Asy ikut bekerja di ndalem'. Mengabdi sekaligus bekerja untuk beberapa lembar gaji," papar Asiyah menjelaskan.
Rahman tampak tertarik.
"Oh ya? Apa masih ada lowongan untuk paman bisa ikut bekerja?" tanyanya bersemangat.
" Asy belum tahu, tapi Asy janji akan tanya." Asiyah mengacungkan kelingking kecilnya ke depan.
Rahman mengangguk senang.
"Baiklah, kabari paman kalau ada yang memerlukan tenaga paman di sana, insyaallah paman mau. Benar kata kamu, nggak enak juga sebenarnya tidur di emperan toko atau kolong jembatan," gelak Rahman sebelum kembali melangkah pergi.
****
Malamnya, saat Jeni dan Gus Musa sudah pulang Asiyah sengaja menunggu di halaman depan sebelum Jeni masuk ke dalam rumah ndalem' yang sekarang juga menjadi tempat tinggalnya.
"Mbak Jen," panggil Asiyah saat Jeni baru saja turun sambil menggendong baby Abbas.
"Iya, As?" Jeni mendekat.
Asiyah mengambil alih Abbas dari gendongan Jeni dan memberi kode Jeni agar mengikutinya. Jeni yang paham maksud Asiyah langsung mengangguk dan berbalik sebentar menatap suaminya yang menunggu di sebelah mobil.
"Mas, Jeni ngobrol sama Asiyah dulu boleh?" tanyanya lembut.
Gus Musa mengangguk.
"Boleh, silahkan. Tapi nanti masuknya jalan terlalu larut ya," pesannya sebelum beranjak masuk ke dalam rumah, meninggalkan Jeni dan Asiyah di halaman.
"Ada apa, As? Kok kayaknya penting sekali?" tanya Jeni setelah memastikan suaminya sudah masuk ke dalam rumah.
Asiyah mengajak Jeni menuju ke asrama dan masuk ke dalam kamarnya.
"Jadi begini, Mbak. Ada seorang paman yang pekerjaan hari harinya memulung sampah di depan pondok. Hari ini Asy bertemu sama dia dan kasih botol dan kardus bekas sisa acara Mbak Jen kemarin, dan waktu itu kami sempet cerita cerita Mbak, dan intinya dia tanya apa di ndalem' masih butuh tenaga buat bantu bantu? Soalnya paman itu nggak punya saudara dan tempat tinggal, dia bilang selama ini tinggal di emperan toko atau nggak kolong jembatan. Asy kasihan Mbak, kalau boleh Mbak mintalah Gus Musa buat kasih pekerjaan buat paman itu. Orangnya baik kok, Mbak." Asiyah berusaha membujuk Jeni.
Jeni tampak mendengar dengan seksama cerita Asiyah, kepalanya ikut manggut-manggut seakan mengerti situasinya.
__ADS_1
"Baiklah, nanti coba Mbak tanya sama Mas Musa ya, As. Ya sudah, sekarang kamu istirahat gih, besok kalau sudah ada jawabannya Mbak kasih tahu kamu. Soalnya kan bukan cuma Mas Musa yang harus tahu, tapi perlu persetujuan Abah dan Umi juga," pungkasnya halus.
Asiyah mengangguk paham, kini tinggal menunggu jawaban dari ndalem'. Dalam hatinya Asiyah berharap semoga masih ada tempat bagi Rahman untuk bisa tinggal di pondok, entah kenapa Asiyah selalu merasa nyaman dan tenang setiap di dekat Rahman, seperti perasaan rindu yang akhirnya terbalaskan sejak pertemuan pertama mereka.