MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 102.


__ADS_3

 Satu minggu sudah berlalu, nyonya Ellen memilih beristirahat di rumahnya sendiri saja. Bersama suaminya, dia merasa lebih aman untuk menjauhkan Sarah dan beberapa orang lainnya dari rahasia yang sekuat tenaga di tutupinya.


 Dan selama itu pula, Nyonya Ellen selalu merangkai berbagai alasan agar Sarah tak mempunyai kesempatan untuk menjenguknya, jujur saja nyonya Ellen masih trauma dan takut terlebih pada Asiyah, gadis itu menjadi satu satunya yang akan begitu di hindarinya ke depannya.


"Sayang, sudahlah kenapa kau selalu menyiksa diri dengan mogok makan begini. Nanti lama lama kau akan sakit betulan, Sayang. Tolonglah jangan membuatku cemas," protes Tuan Bryan kala memasuki kamar mereka dan melihat sebuah nampan berisi makanan yang tampak lezat dan mengundang selera itu di biarkan saja bahkan tak tersentuh sedikit pun.


"Biarkan saja, aku belum lapar, Dad." Nyonya Ellen menyahut tanpa menoleh.


Tatapannya masih fokus menatap rinai hujan yang turun di luar rumahnya, rintiknya sesekali megenai jendela kaca yang ada di hadapannya.


 Tangan Nyonya Ellen terulur, menyentuh permukaan kaca yang terasa dingin dan meresapi dinginnya yang terasa menentramkan.


"Kenapa kau terlalu takut, Mom? Bahkan mereka tidak mendesak mu sedemikian rupa. Mereka hanya mengira kalau kau mungkin tahu, bukankah mereka tidak punya bukti?" ucap Tuan Bryan sambil duduk di sisi istrinya dan membawakan sebuah piring makan untuk Nyonya Ellen.


"Aku hanya takut dengan konsekuensinya nanti untuk mereka, Dad. Harusnya kau bisa memahami ini dengan lebih baik," desah nyonya Ellen sambil menolak suapan dari Tuan Bryan.


 Tuan Bryan menarik nafas dalam, lalu dengan pasrah terpaksa kembali meletakkan piring yang isinya masih utuh itu ke atas nakas.


"Yah, aku tahu itu, Mom. Tapi bukan berarti kau harus begini, di sini hanya ada kita, kau dan aku bersikaplah seperti biasanya. Percayalah tak akan ada yang berani mendesak atau mengingatkan mu tentang hal itu," tukas Tuan Bryan sambil memegang pipi istrinya lembut.


 Nyonya Ellen menatap dalam mata suaminya yang sejak dulu selalu sabar mendampingi dan menjaganya sebaik mungkin itu. Tatapan itu masih sama, tulus dengan cinta yang tak berubah sejak pertama mereka saling mengikat janji untuk bersama selamanya.


"Baiklah, aku percaya padamu, Dad."


 Tuan Bryan akhirnya bisa menarik nafas lega, setelah satu Minggu lamanya berusaha meyakinkan sang istri. Akhirnya pada hari ini istrinya mau juga mendengar apa perkataannya.


 Tuan Bryan membawa nyonya Ellen dalam dekapannya, dan momen itu berakhir dengan makan malam bersama yang romantis dalam satu piring berdua.


****


 Di kediaman Sarah.


"Apa maksud kamu menanyakan itu pada Momy, Aish? Memangnya kenapa tiba tiba?" tanya Sarah menginterogasi Aisyah, setelah pengakuannya tentang kenapa Nyonya Ellen bisa jatuh pingsan saat bersamanya.


"Ada orang yang mengatakan hal itu pada saya, Bu. Saya sangat ingin bertemu orang tua kandung saya, makanya saya nekat bertanya langsung pada Nyonya Ellen, saya nggak tahu kalau akhirnya akan seperti itu kemarin," jelas Aisyah membela diri.

__ADS_1


 Axel menepuk pelan pundak istrinya, meminta Sarah untuk bisa mengontrol emosinya. Karna kini wajah cantik perempuan beranak tiga itu tampak merah padam.


"Tunggu, apa kamu bilang? Seseorang? Siapa dia?" lanjut Sarah penasaran.


 Tapi sayangnya, Aisyah malah menggeleng.


"Saya tidak tahu, Bu. Orang itu memakai penutup di wajahnya yang kelihatan cuma matanya saja," sahut Aisyah apa adanya.


 Sarah berdecak.


"Lalu apa yang dia katakan sama kamu?"


"Selain ungkapan kalau orang tua kandung saya masih hidup, dan tentang Nyonya Ellen yang mengetahui tentang keberadaan kedua orang tua kandung saya, tidak ada hal lain yang dia sampaikan. Orang itu langsung pergi setelah mengatakan itu." Aisyah menjelaskan dengan sedikit mengingat ingat, maklum saja kejadian itu sudah berlalu beberapa hari yang lalu, dan baru kali ini Aisyah berani menyampaikan pada Sarah.


 "Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia berbuat seperti itu?" desah Sarah pada dirinya sendiri.


"Mungkin dia punya tujuan tertentu," cetus Axel berpendapat.


 Sarah manggut-manggut.


"Iya, itu pasti Mas. Hanya saja ... tunjuan itu yang kita tidak tahu, bahkan di suratnya tempo hari, Asiyah juga berkata ada seseorang yang mengatakan padanya kalau orang tuanya masih hidup. Dan kasusnya sama, orang itu memintanya bertanya pada Momy. Ini aneh," decak Sarah mulai frustasi.


"Maaf, Bu. Apa barusan ibu bilang kalau ada orang lain yang juga mendapat pesan sama seperti saya?" tanyanya.


 Sarah mengangguk membenarkan.


"Iya, seorang gadis sama seperti mu. Mungkin orang yang menemui kalian itu bisa jadi juga adalah orang yang sama," pungkasnya seraya memijit pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


 "Seperti apa rupa orang yang menemuimu itu, Aish?" tanya Axel pula.


 Aisyah tampak mengingat ingat sejenak.


"Seorang pria, dengan wajah tertutup kain hitam dan tubuh yang tidur terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk. Tingginya mungkin hampir sama dengan Tuan Ax." Asiyah menggumam.


 Axel mendesah berat karna tidak berhasil mengetahui siapa sebenarnya orang itu.

__ADS_1


"Kasus ini rumit, satu satunya orang yang bisa memberi jawaban terang hanya Momy, tapi Momy bahkan seperti menghindar seolah tahu akan semua ini. Jadi semuanya terasa buntu sekarang," decak Axel turut pusing.


"Bu Sarah, Tuan Axel. Selain itu, ada hal lain juga yang ingin saya sampaikan," ucap Aisyah ragu ragu.


 Sarah mengangkat wajahnya, pun Axel yang turut menatap lurus gadis berambut panjang yang kini tampak menunduk itu.


"Ada apa, Aish?" ucap Sarah pelan.


 Aisyah tampak meremas ujung bajunya, mungkin masih sungkan untuk mengatakan.


"Katakan saja tidak apa apa," tukas Axel.


 Aisyah menarik nafas dalam lalu mulai bicara setelah gemuruh di dadanya reda.


"Saya ... maaf saya tidak bisa lagi bekerja di sini, nenek meminta saya untuk pulang."


****


"Huahahh, kerjamu sangat bagus. Sekarang kekuarga itu pasti tengah sangat kacau, tidak sia sia selama ini aku memperhatikan kalian hingga bisa menjebak orang sepertimu yang tak akan di sangka oleh mereka sebagai mata mataku," tawa seorang pria misterius menggema di sebuah ruangan remang.


 Tampak seorang pria lagi di sana yang berdiri sambil mengepalkan tangannya dengan wajah di penuhi amarah.


"Kau licik! Perbuatanmu itu kotor kau tahu?" bentaknya kesal pada sang pria misterius yang wajahnya tak pernah dia tunjukkan itu.


"Terserah apa katamu, yang penting sekarang aku bisa mendapatkan semua informasi yang aku inginkan tanpa harus bersusah payah atau membuat keluarga itu curiga. Aku memang cerdik," pungkas pria misterius memuji dirinya sendiri.


"Sampai kapan aku harus begini?" dengus lawan bicaranya dengan kesal.


 Pria misterius berbalik, namun wajah yang tertutup itu masih saja menyembunyikan wajahnya yang asli.


"Sampai semua ini terbongkar dan sampai nanti apa yang aku inginkan sudah tercapai," sahutnya enteng.


"Tapi kapan? Kau bahkan tidak memberi kepastian? Kau pikir aku senang bekerja untuk pria aneh seperti mu?"


 Pria misterius meletakkan telunjuknya di depan bibir lalu mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah lawan bicaranya kini .

__ADS_1


"Suuutttt, diamlah. Jangan berkata keras padaku dan jangan mengaturku, kau tidak lupa kan? Kalau wanitamu kini ada padaku? Apa kau juga ingin aku bermain main dengannya sebagai ganti dari teriakanmu tadi? Aku tidak suka itu kau tahu?"


"Licik! Ku harap kebusukan mu ini segera terbongkar!"


__ADS_2