
Acara berlangsung meriah, pengantin sudah berpindah ke panggung pelaminan megah yang penuh pernak pernik cantik dan lampu hias yang semakin menambah kesan elegan.
Beberapa teman dan keluarga pun menyempatkan untuk berfoto dengan pengantin. Terlebih keluarga besar mereka yang bahkan sampai berebut hanya untuk berpose dengan pengantin.
"Kamu haus?" tanya Axel menatap Sarah lembut.
Wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu tampak tersipu malu di tatap demikian oleh Axel.
"Ma, sepertinya Sarah lelah. Mungkin kami bisa istirahat sejenak," pinta Axel pada Sonia yang langsung tanggap dan membawakan segelas air mineral untuk menantunya itu.
"Duduklah, Nak. Istirahat sebentar ya, setelah ini kalian bisa masuk untuk berganti kostum. Saat itu bisa sekalian makan siang," ucap Sonia lembut sembari membantu Sarah untuk minum menggunakan sedotan.
"Terima kasih, Aunt ... emmm Mama," tukas Sarah yang belum terbiasa memanggil Sonia dengan sebutan Mama itu.
Sonia tersenyum. "Santai saja, tidak perlu memaksakan jika belum terbiasa."
Sarah mengangguk malu, dan kembali menunduk melihat ramainya tamu yang datang ke acara mereka.
Beberapa tamu tampak naik ke atas panggung untuk bersalaman dan mengucapkan selamat untuk pengantin.
"Mbak Sarah," panggil seseorang yang suaranya begitu masih melekat di telinga Sarah.
Seketika dia berbalik dan melotot ketika melihat Jeni berdiri di sebelahnya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya.
"Jeni? bagaimana kamu ...."
"Bang Adam, ah maksudnya Bang Axel yang ngasih undangan untuk aku. Selamat ya atas pernikahannya, Mbak. Semoga sakinah, mawadah warahmah sampai ke Jannah ya, Mbak. Maaf kalau dulu aku pernah jadi orang ketiga di pernikahan Mbak sebelumnya," cicit Jeni dengan tangan masih mengambang di udara karna belum di sambut oleh Sarah.
Sarah kebingungan, dia menatap Axel di sebelahnya seakan meminta pendapat. Axel tersenyum dan mengangguk, setelahnya Sarah menggamit tangan Jeni, membuatnya tersentak dengan mata melebar.
"Mbak?" Jeni menatap jabatan tangan Sarah dengan tak percaya.
"Terima kasih sudah datang, semoga kamu pun bahagia dengan apa yang sudah kamu ambil dari hidupku," bisik Sarah tepat di sebelah telinga Jeni.
Tanpa terdengar oleh Axel dan yang lain tentunya. Sarah mundur, dan tersenyum menyeringai kepada Jeni yang kini tampak salah tingkah. Jeni segera menyalami Axel singkat dan turun dari panggung dengan terburu-buru.
__ADS_1
Sarah tersenyum miring. "Lasmi!"
Lasmi yang sejak tadi siap sedia di belakang kursi pelaminan langsung maju ke samping Sarah begitu mendengar namanya di panggil.
"Saya, Mbak."
"Lakukan yang saya perintahkan tadi," titah Sarah yang langsung di pahami oleh Lasmi.
"Baik, Mbak." Lasmi turun dari panggung lewat bagian belakang dan langsung mengerjakan apa-apa yang di perintahkan Sarah padanya.
(Selengkapnya tentang kisah Lasmi akan di bahas di part selanjutnya)
Axel menatap Sarah heran, namun dia enggan bertanya sekarang. Masih banyak waktu untuk berbagi cerita pikirnya. Jadi Axel hanya duduk tenang sembari menyambut setiap uluran tangan tamu yang berdatangan.
*
"Mbak! Tunggu!" panggil Lasmi sambil berlari cepat menghadang Jeni yang keluar dari lokasi pesta.
Di tangannya tertenteng dua kantong yang tampak penuh sesak dengan berbagai macam makanan.
Lasmi mengangguk dan memberikan kantong yang dia bawa pada Jeni.
"Apa ini?" tanya Jeni heran sambil berusaha memindai isi dari kantong tersebut.
"Itu titipan dari Mbak Sarah, pesannya kutepati janjiku padamu."
Jeni masih terbengong heran, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di sampaikan Lasmi.
"Tapi, itu apa maksud ...."
Baru saja Jeni hendak bertanya, tapi ternyata Lasmi sudah berlari masuk untuk kembali ke tempatnya dan bersiaga di sana sampai Sarah kembali membutuhkan bantuannya.
"Hah, sebenarnya apa maksudnya? Mbak Sarah ternyata menikah sama Bang Adam. Dan sekarang malah ngasih bingkisan. Padahal tadi auranya kayak mendendam." Jeni bergumam sendiri sambil membuka dua kantong yang kini ada di tangannya, terasa berat sampai tangannya pegal.
Jadi Jeni meletakkan kantong itu di tanah dan mulai melihat isinya, tak peduli walau kini banyak orang yang hendak masuk ke pesta menatap aneh padanya.
__ADS_1
Sreekk
Sreekk
Jeni membuka bagian demi bagian kantong dan mendapati banyak sekali bahan makanan dan makanan lezat lainnya di sana.
"Ini ... ini banyak sekali, serius ini buat aku?" tanya Jeni pada dirinya sendiri.
Matanya berbinar melihat semua barang yang ada di kantong tersebut. Dan tanpa sadar air matanya menetes, dia sangat senang karena akhirnya bisa membawakan makanan yang layak untuk kedua orang tuanya yang menunggu di rumah. Karna semenjak putus hubungan dengan si pria buncit, Jeni belum mendapatkan pekerjaan lagi dan hanya hidup dengan mengirit sisa uang yang ada.
"Ternya aku salah menilai kamu dan memperlakukan kamu dulu, Mbak. Sekarang aku malu sekali sama kamu, orang yang aku rusak rumah tangganya ternyata adalah orang yang begitu peduli sama aku dan keluarga ku. Terima kasih, Mbak. Semoga pernikahanmu dan Bang Adam berjalan mulus, tanpa adanya orang ketiga seperti aku ... dia orang baik, Mbak. Biarlah hanya aku yang di hukum atas semua kesalahanku dulu," Isak Jeni seorang diri.
Lalu lalang orang semakin banyak yang keheranan menatapnya, namun Jeni tak peduli. Segera setelah mengeluarkan semua isi hatinya walau tak berani bicara langsung di depan sarah, Jeni beranjak pulang dengan membawa kedua kantong besar itu di kedua tangannya.
Sedang Lasmi yang sudah kembali berada di balik kursi pelaminan Sarah dan Axel mengintip sedikit sambil mengacungkan jempolnya pada Sarah. Dan mereka pun tersenyum penuh arti.
*
"Abah, Emak. Jeni pulang bawa makanan." Jeni berseru di depan rumahnya dan langsung di sambut oleh emaknya yang kini sudah mulai tampak sehat.
"Alhamdulillah, makanan dari mana, Jen?" tanya emak sambil menyambut uluran tangan Jeni yang sekarang selalu mencium tangannya jika hendak pergi atau pulang dari berpergian.
"Dari Mbak Sarah, Mak." Jeni menyahut sambil membantu emak membawa kantong itu masuk ke rumah.
"Ya Allah, banyak sekali barangnya. Ini juga bahkan ada makanan dan kue-kue. Ya Allah, baiknya Nak Sarah itu. Kemarin juga dia ada ngasih sembako buat emak sama Abah waktu kamu nggak pulang itu, Jen. Dan berkat pemberian itu juga Abah sama Emak masih bisa makan," papar Emak memberi tahu Jeni.
Sebelumnya memang emak sudah cerita kalau di beri sembako namun dia tidak mengatakan kalau nama pemberinya adalah Sarah.
"Apa yang ngasih ini orang yang sama ya, Jen? Atau cuma namanya aja yang sama. Tapi nggak tau kenapa kok emak mikirnya ini orang yang sama ya, duh beruntungnya orang tuannya punya anak sebaik Nak Sarah ini." Emak terus mengoceh membicarakan tentang Sarah sambil mengeluarkan barang yang ada di dalam kantong dengan hati senang.
"Ya Allah, barang-barang darimana, Mak?" seru Abah Abdul yang baru saja bergabung, dan emak mulai bercerita apa saja yang tadi di katakannya pada Abah dengan wajah berbinar gembira.
Jeni menatap tawa orang tuanya dengan miris.
"Ya Allah, sepertinya aku memang sudah sangat berdosa sama Mbak Sarah. Apa ini teguran dari- Mu, Ya Allah? "
__ADS_1