MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 163.


__ADS_3

 Alam terbelalak lebar saat melihat dengan jelas apa yang ada di genggamannya. Di susul suara teriakan ibunya lagi yang seolah menjelaskan semuanya.


"Pak e! Itu suara tivinya kecilkan! Bikin budeg telinga orang aja!"


 Dan benar saja suara tibi yang sepertinya tengah menayangkan adegan penggerebekan itu mulai mengecil, dan Bu Sani pun memberikan sehelai handuk pada Juli yang nampak mulai menggigil kedinginan.


"Sambil di makan pisang gorengnya, Jul maaf Mak adanya cuma ini." Bu Sani mendorong sepiring pisang goreng kipas ke hadapan Juli.


 Sedang Alam tampak terpaku minat pisang goreng sebesar buah melon di tangannya.


"'pantesan empuk dan kenyal,' omelnya di dalam hati.


 Alam pun baru sadar, yang duduk di sampingnya tadi rupanya adalah ibunya sendiri yang langsung memberikan pisang goreng ke tangannya, lantas sisanya dia bawa ke hadapan Juli.


 Hujan masih meraja, belum ada tanda tanda akan reda. Sedangkan awan hitam tampak malah semakin pekat di atas sana.


"Bajumu itu pendek sekali tho, Jul? Mana basah semua lagi, ganti pake bajunya Mak mau?" tawar Bu Sani setelah melihat juli yang menggigil karna memakai baju basah.


 Juli tersenyum tipis dan menggeleng padahal bibirnya pun sudah tampak pucat. "Nggak usah, Mak nanti malah merepotkan."


"Halah nggak, kalau nggak mau pake baju Mak ya sudah, ini Mak ambilkan bajunya si Al."


 Bu Sani kembali melangkah masuk ke dalam rumahnya, tanpa bisa di cegah. Padahal sebenarnya Alam tidak ikhlas jika bajunya di pakai oleh juli, walau pun judulnya hanya meminjam.


 Juli yang sadar tengah di perhatikan oleh Alam langsung tersenyum malu dan mengangguk sopan. Namun lagi lagi Alam melengos membuang mukanya ke arah lain.


"Jangan cuek cuek, Mas nanti bilangnya benci jadinya cinta loh," celetuk Juli terdengar agak gemetar, sepertinya gadis itu memang sudah sangat kedinginan.


 Mendengarnya membuat Alam tak tega juga, tapi untuk memberi sedikit perhatian dia malas juga jadi tak di gubrisnya lah si juli sejak tadi. Hanya sibuk mengunyah pisang goreng kipas besar miliknya saja yang sudah mulai habis separuh itu.


"Pisang gorengnya besar ya, Mas pasti sama kaya punyanya Mas Al. Hehe jadi pengen...."


"Ngomong apa kamu, Juli!" sentak Alam tak suka, bahkan dengan cepat dia membuang pisang hangat yang ada di tangannya dengan wajah merah padam. Yah, walaupun dalam hatinya sayang siih itu pisang enak banget soalnya woy. Tapi demi gengsi semua harus di lakukan.


"Alam! Apaan kamu itu bentak bentak tamu?" marah Bu Sani yang baru datang dari arah dalam, membawa satu stel pakaian yang Alam tahu itu adalah miliknya.

__ADS_1


"Ya tapi, Bu ...." protes Alam.


 Bu Sani menoleh cepat dengan tatapan tajam. "Sudah diam, jangan bicara."


 Alam kicep dan langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas balai bambu dengan raut wajah kesal.


 Juli sendiri tampak kesenangan saat Bu Sani memberikan pakaian Alam itu ke tangannya.


"Ini, Ndang (cepet) sana ganti dulu bajumu itu. Nanti masuk angin," titah Bu Sani sambil menunjuk ke arah dalam rumah.


 "Makasih banyak ya, Mak.". Juli tersenyum manis.


"Iya, yok Mak anter ke belakang buat ganti baju."


 Bu Sani melangkah duluan, sedang juli berada di belakangnya membuntuti dengan handuk yang juga melilit di pundaknya.


 Alam lagi lagi di tinggal seorang diri, dadanya mulai berdebar keras. Namun tak di pedulikannya walau rasa sakit mulai terasa. Matanya memanas, bulir bening yang sejak tadi di tahannya akhirnya jatuh juga.


"Dek Asy, semoga kamu bahagia dengan keputusan kita ya. Mas janji akan selalu mengingat kamu sampai kapanpun, seperti pisang goreng itu." Alam bermonolog sendiri sembari menatap sedih pisang goreng yang tadi di buangnya ke bawah, yang kini sudah basah dan tak karuan terkena air hujan.


"Padahal tadi dia enak sekali loh," gumam alam lagi, masih dengan tatapan tak ikhlasnya.


 Mobil yang di tumpangi aish dan sang ibu membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Di dalamnya tampak dua wanita berbeda generasi tengah tertawa bersama.


"Mami, Aish nggak tahu kalau Mami bisa nyetir?" tanya Aish menatap takjub wanita cantik di sampingnya itu.


 Amelie mengangguk. " Mami dulu pernah juga kerja jadi supir angkot, supir truk batu bara, supir truk sawit. Ah macam macam lah kerjaan kasar Mami dulu sebelum di nikahi Papimu," kekeh Amelie kemudian menekan tuas rem di dekat lampu merah yang menyala terang.


 Tujuan mereka berdua tak lain dan tak bukan adalah rumah kontrakan Satrio, karna Amelie ingin melihat langsung kondisi kekasih dari putrinya itu .


"Itu luar biasa, Mami bagaimana ceritanya Mami bisa jadi supir alat berat?" cetus Aish lagi, tak dapat menyembunyikan kekagumannya pada ibunya sendiri.


 Amelie tampak tertawa lepas, tawa yang bahkan baru kali ini Aish lihat setelah beberapa bulan tinggal bersama orang tua kandungnya ini.


"Ceritanya panjang, nanti akan Mami ceritakan saat waktu kita senggang ya."

__ADS_1


 Aish tampak mengerucutkan bibirnya. "Ah, Mam kau membuatku penasaran."


"Haha, tentu saja. Bukan kah di buat penasaran itu menyenangkan?" kekeh Amelie.


 "Menyenangkan apanya? Sama sekali tidak, Mam." Aish mendesah lirih.


  Tawa berat Amelie terdengar. "Oh ya? Tapi buktinya, selama belasan tahun Tuhan membuat Mami terus merasa penasaran kapan kiranya Mami akan kembali bertemu anak anak Mami yang sangat Mami sayangi ini."


Nyuttt


 Dada Aish terasa tercubit, mendengar sederet kalimat sederhana yang terlontar dari bibir tipis sang Mami.


"Baiklah," gumamnya mengalah.


 Dan setelahnya mereka diam, larut dalam kebisuan yang meraja. Sibuk dengan banyaknya keriuhan di otaknya masing masing.


 "Apa ini tempatnya, sayang?" tanya Amelie memecah keheningan di antara mereka.


 Aish mengedarkan pandangannya, dan tampak sebuah jalan kecil yang hanya muat satu mobil di sebelahnya. Dia ingat jalan itu, dan itulah tempatnya.


"Iya, Mam ini tempatnya. Apa Mami mau bawa masuk mobilnya? Atau mau kita tinggal di sini saja?"


 Amelie menilik jalan itu lebih dulu, lalu tersenyum simpul dengan mata mengerling indah.


"Kita bawa saja, sudah lama Mami tidak berpacu dalam adrenalin."


 Aish melotot mendengar ucapan maminya, seketika bulu bulu di tubuhnya terasa merinding. Namun belum sempat melayangkan protes mobil sudah berbelok ke arah jalan kecil itu.


 Dan benar saja baru saja beberapa meter masuk ke dalam jalan yang lumayan kecil itu, mobil yang berjalan dengan perlahan malah menabrak ah maksudnya di tabrak oleh pengendara motor ugal ugalan yang seolah buta ada mobil di depannya.


Gubrakkk


Bruk


Srukkk

__ADS_1


Jbuurrrr


"Dasar mobil si al an! Kenapa malah masuk ke gang sempit sih?" bentak pria yang kini tampak berkubang lumpur sebab terjerembab masuk ke dalam got itu.


__ADS_2