MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 60.


__ADS_3

Seorang wanita sepuh berhijab besar dan berwajah teduh tampak duduk di sebuah kursi goyang, di tangannya berputar tasbih seiring dengan bibirnya yang bergerak melafazkan zikir.


"Assalamu'alaikum, Umi." Gus Musa meraih tangan wanita itu dan menciumnya tamzim.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh, sudah pulang kamu le?" ucap wanita yang merupakan umi Gus Musa tersebut.


 Gus Musa duduk di hadapan uminya dan memberi kode pada Jeni untuk mendekat.


"Iya, Um. Ini ada yang mau melamar pekerjaan di sini, kata Umi tempo hari kan kamu cari orang untuk bantu-bantu di sini," ujar Gus Musa menunjuk Jeni.


 Umi Nafisah memandang Jeni lekat, sedangkan Jeni yang sejak tadi merasa sungkan hanya duduk menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. Jeni menarik lengan bajunya yang pendek, walau hal itu sama sekali untungnya untuk bawahan dia memakai celana bahan panjang dan tidak terkesan mengumbar, karna niatnya memang benar-benar mencari pekerjaan halal.


"Apa betul begitu, Nduk?" Kali ini umi Nafisah bertanya pada Jeni.


 Jeni mengangguk. "I- iya, Umi. Saya benar-benar membutuhkan pekerjaan, saya harus menghidupi anak saya yang masih bayi Umi."


 Umi Nafisah tampak menarik nafas dalam. "Lalu, dimana bayi kamu? Kenapa kamu sendirian ke sini?"


 "Dia ada di rumah, umi. Bersama nenek yang selama ini sudah Sudi menampung kami," sahut Jeni.


"Orang tua kamu?"


"Kedua orang tua saya sudah meninggal, Umi. Saya hanya punya bayi saya sekarang," ucap Jeni lagi.


 Umi nafisah tampak mengangguk. "Baiklah, kamu bisa kerja di sini. Hanya saja, pekerjaan asisten rumah tangga ya kamu tahu sendiri. Tidak mudah, bahkan tidak menutup kemungkinan kamu juga harus membantu jika ada acara di pondok nanti. Entah itu membantu memasak atau bersih-bersih, yang jelas Umi sampaikan dulu kalau pekerjaannya mungkin berat, tapi insyaallah sesuai dengan upahnya. Dan juga kalau kamu keberatan pulang pergi, kamu boleh bawa anak kamu ikut bekerja dan tinggal di sini. Nanti biar anak-anak santri yang bantu jaga," tutur Umi Nafisah bijak.


 Mata Jeni berkaca-kaca mendengar jawaban Umi Nafisah, akhirnya harapannya untuk bisa mendapat pekerjaan halal tercapai juga. Walau mungkin prosesnya akan lebih berat ketimbang berada di rumah Sarah atau dulu saat dia masih bekerja sebagai wanita penghibur.


"Alhamdulillah, berarti Mbak Jen di terima dong, Um?" celetuk Gus Musa yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

__ADS_1


 Umi Nafisah mengangguk sambil mengulas senyum tipis.


"Iya, kamu putuskan dulu mau pulang pergi atau menginap di sini, kalau kamu bisa memantaskan diri insyaallah kamu akan betah tinggal di sini. Tapi semuanya kembali lagi ke kamu, maunya yang mana senyamannya saja," pungkasnya sambil menatap lembut Jeni.


 Jeni mengangguk cepat dengan wajah berbinar senang.


"Iya, saya mau Umi. Saya pilih tinggal di sini saja," sahutnya yakin.


 Umi Nafisah tersenyum lembut, dan meminta Gus Musa memanggil seorang santri wanita untuk menunjukkan kamar yang akan di gunakan Jeni dan anaknya nanti menginap.


" Mulai besok kamu sudah bisa mulai kerja ya, mulai dari tugas di rumah ini saja. Kalo ada tugas lain nanti santri yang lain akan beri tahu, hari ini kamu bisa langsung pindah dan beres-beres kamar yang akan kamu tempati ya," tukas Umi Nafisah sambil beranjak dari tempat duduknya.


 Jeni mengangguk dengan perasaan penuh haru. "Iya, umi. Makasih banyak, Umi."


 Sepeninggalan Umi Nafisah, tak lama datang seorang santri perempuan yang tadi di panggil Gus Musa, seperti pengakuannya dia juga seorang santri yang mengabdi pada rumah 'ndalem' atau rumah utama kyai pondok.


 Santri itu mengantar Jeni menuju ke ujung asrama perempuan, dimana terdapat satu kamar kosong di sana. Dan tempatnya pun cukup luas dan lega. Dengan kasur berukuran sedang dan sebuah lemari plastik juga meja kecil di dalamnya, dan bagusnya lagi kamar itu memiliki kamar mandi yang berada di dalam kamar.


 Santri berwajah lembut dengan nada bicara yang tak kalah lembutnya, setiap bersamanya Jeni merasa nyaman dan betah sekali.


"Iya, saya sepertinya akan betah kerja di sini. Makasih banyak ya, As." Jeni tersenyum senang pada Asiyah.


 Asiyah mengangguk, dan mengajak Jeni keluar dari kamar.


"Mbak Jeni mau masuk sekarang? Biar saya bantu bersihkan kamarnya," tuturnya lembut.


 Jeni menggeleng cepat karna tak ingin merepotkan.


 "Eh, nggak ... nggak usah Asiyah. Biar nanti Mbak aja yang bereskan, sekarang mbak mau pulang dulu jemput anak Mbak. Kebetulan tadi Umi bilang kalau hari ini Mbak bisa beres-beres kamar dulu. Kerjanya mulai besok kok, jadi biar Mbak aja kamu jangan repot-repot ya."

__ADS_1


 Asiyah mengangguk namun tak henti juga menawari bantuan untuk Jeni.


"Kalau begitu, apa mau asy antar? Kebetulan pekerjaan Asy udah selesai semua."


 Jeni menatap keluar dimana matahari tampak bersinar dengan gagahnya, cuacanya cukup terik sepertinya akan memakan waktu lama berpanas-panasan jika memaksakan berjalan kaki apalagi nanti Jeni berniat membawa bayinya.


"Ayo, Mbak. Asy antar aja ya, cuacanya panas. Sebentar biar Asy izin sama Gus Musa dulu." Asiyah berjalan cepat menuju sebuah ruangan, tak lama dia keluar kembali dengan membawa sebuah kunci.


"Mari, Mbak. Nanti keburu sore," tukasnya sambil menarik tangan Jeni yang masih terbengong.


 Asiyah tampak mengeluarkan sebuah sepeda motor jenis metik dari garasi rumah besar Umi Nafisah, nampaknya gadis itu sudah begitu di percaya hingga begitu santainya memakai barang milik keluarga utama kyai yang Jeni sendiri belum mengetahui rupanya.


 Setelah beberapa menit berkendara barulah Asiyah mulai menanyakan posisi rumah yang akan mereka tuju.


"Lha kirain dari tadi main jalan aja itu kamu udah tau, As." Jeni terkekeh.


 "Heheheh, ya nggak Mbak. Aku cuma seneng aja kalo bisa keluar ke tempat lain selain ke pasar buat belanja kebutuhan dapur. Abisnya bosen Mbak," celetuk Asiyah menyampaikan unek-uneknya.


 Jeni hanya geleng-geleng kepala saja mendengarnya. Setelah menunjukkan tempat dan arah yang hendak di tuju, Jeni memilih diam sambil memikirkan apa saja yang akan dia lakukan untuk anaknya jika nanti sudah berkecukupan, terlalu jauh memang, tapi bukankah berencana lebih baik untuk masa depan?.


 Sesampainya ke rumah Nek Minah, Jeni segera turun di ikuti Asiyah, Jeni mencari keberadaan Nek Minah yang ternyata tengah mengajak bayinya bermain di kebun belakang yang banyak sekali terdapat jangkring dan belalang.


"Nek!" panggil Jeni sambil melambaikan tangannya.


 Nek Minah menoleh dan balas melambai, setelahnya kakinya yang masih lincah itu berjalan melintasi rerumputan yang ada di halaman belakang sambil menggendong ria si bayi.


 Bayi Jeni tampak tertawa riang dalam gendongan Nek Minah, membuat Jeni menjadi haru dan rasa tak tega memisahkan mereka mulai merasuki pikirannya..


" Kamu sudah pulang, Jen? Gimana? Dapet kerjaannya?" cecar Nek Minah dengan tatapan mata tak lepas dari Jeni.

__ADS_1


 Sedangkan bayinya, kini tampak mengusapkan wajahnya ke tubuh Nenek itu. Semakin tak tega Jeni untuk menyampaikan keinginannya bekerja di rumah pemilik pondok pesantren itu, melihat bagaimana mesranya anaknya dan Nek Minah.


__ADS_2