
Tak lama, Asiyah pun kembali dengan sebuah nampan berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya. Ada ayam kecap, mie bihun goreng udang, acar dan juga kerupuk udang tampak menggiurkan sekali.
"Maaf lama, Mbak. Tadi sekalian bikinin susu buat dek Abbas, soalnya pas lewat kamar Mbak Jen dek Abbas ngerengek. Jadinya Asy kasih susu dulu," ucap Asiyah sambil meletakan nampan di hadapan Pak Ismail yang sudah terlihat tak sabar.
"Monggo di makan, Pak." imbuhnya.
Axel mengangguk sopan dan mendekatkan nampan itu ke hadapan Pak Ismail, setelah melihat sekitar sesaat Pak Ismail akhirnya meraih piring itu dan mulai makan dengan lahap seperti seseorang yang sudah sangat lama menahan lapar. Entah dimana selama ini dia bersembunyi hingga sampai di kondisi itu.
"Abbasnya udah tidur lagi, As?" tanya Jeni.
Asiyah mengangguk. "Alhamdulillah udah, Mbak. Tadi habis minum susu langsung tidur lagi, ngorok pula."
Mereka tertawa bersama sembari bercerita ringan.
Beberapa saat kemudian, Jeni pamit untuk menghubungi suaminya di rumah sakit. Dan Sarah juga Axel di temani oleh Asiyah untuk sementara waktu.
Saat akan kembali lagi ke tempat Sarah menunggu, Jeni malah kembali berpapasan dengan Asiyah.
"Loh, As? Kok malah di sini?" tanyanya.
"Iya, Mbak. Ini mau balikin piring kotornya Pak Ismail ke belakang, Alhamdulillah beliau seneng sekali sudah makan sampai kenyang Mbak." Asiyah menjawab tenang.
Jeni terlihat mengangguk.
"Ooh gitu, Alhamdulillah kalau beliau suka semoga saja bisa menjadi jalan untuk beliau mendapat hidayah ya, As. Ya sudah Mbak ke depan dulu ya, mau nunggu Gus Musa sampai," ucap Jeni lembut.
Asiyah mengangguk dan merekapun berpisah di sana.
"Jen, apa suamimu masih lama sampainya?" tanya Sarah saat Jeni baru saja kembali ke tempatnya semula.
Dahi Jeni mau tak mau mengernyit melihat ekspresi tak tenang di wajah Sarah.
"Barusan dia bilang sudah langsung berangkat pulang, Mbak. Ya sepertinya sampai sekitar lima belas menit lagi, rumah sakitnya deket kok ini. Kenapa Mbak?" tanya Jeni risau.
Sarah tampak melihat ponsel dan juga arloji yang melingkar indah di tangannya, ekspresinya tampak semakin tak tenang.
"Barusan pengasuh di rumah Mbak telpon, katanya Ayuna demam. Mbak harus pulang sekarang," sahut Sarah panik.
Jeni tak kalah panik, hanya Axel yang masih tampak tenang. Lebih tepatnya menguasai keadaan, agar kondisinya tak semakin runyam.
__ADS_1
"I- iya, Mbak. Ta- tapi kalo Mbak pulang sekarang terus ... Pak Ismail gimana?" tanya Jeni resah.
Pak Ismail yang tengah di bicarakan hanya diam tertunduk, matanya terpejam entah tidur atau hanya sekedar menutup mata karena bingung harus melakukan apa.
Sarah menekan pangkal hidungnya pelan, mencoba menguasai diri sendiri agar tak membuat keributan.
"Oke ,oke kita urus dulu satu satu," pungkas Sarah akhirnya.
"Sayang, kamu sabar jangan terburu buru. Kan katanya Ayuna cuma demam biasa, bukan demam tinggi yang harus ke rumah sakit. Coba telpon dokter keluarga supaya ke rumah periksa Ayuna dulu," papar Axel memberi ide.
Sarah menjentikkan jarinya di depan dan menepuk pundak Axel dengan wajah bangga.
"I feel you, Mas," tegasnya.
Tak lama, akhirnya mobil milik Gus Musa tampak berhenti di halaman rumah. Saat itu Sarah tengah menelpon sang dokter keluarga dan memintanya datang ke rumah untuk memeriksa anak bungsunya.
"Assalamu'alaikum, " ucap Gus Musa sopan saat masuk ke ruang tamu dimana dia melihat ada tamu di sana.
Saat melihat seonggok tubuh dengan wajah yang dia kenali ada di sana Gus Musa tampak terpaku.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka yang ada di sana berbarengan.
"Kenapa dia ada di sini, dek Jen? Harusnya kalian membawanya ke kantor polisi supaya dia membusuk di sana!" seru Gus Musa meradang.
Jeni terkejut lalu dengan cepat berdiri untuk menuntun suaminya duduk di sisinya, mengelus lengan dan punggungnya untuk membuat Gus Musa lebih tenang.
"Sabar, Mas. Istighfar ," bisik Jeni sembari terus mengusap lengan Gus Musa.
Gus Musa beristighfar, sambil menundukkan pandangannya ke bawah dan berulang kali menarik nafas dalam-dalam.
"Jen, maaf ... tapi waktu kami nggak banyak," dalih Sarah sambil mengutak atik ponselnya sedari tadi dengan ekspresi gelisah.
Jeni juga tampak tak tenang, namun tak satu katapun terucap dari bibirnya. Dia hanya diam sambil menunggu suaminya mengambil keputusan.
"Tinggalkan saja beliau di sini, biar kami yang mengurusnya," sela Gus Musa setelah beberapa saat terdiam.
Sarah dan Axel saling pandang dan mengangguk. Ekspresi wajah Sarah sudah sangat tidak tenang.
"Ya sudah, kami minta maaf karna tidak bisa membantu banyak. Kami pamit dulu, Jen, Mas." Axel mewakili Sarah berpamitan pada mereka dan bergegas menuju ke mobilnya dengan langkah kaki tak sabar.
__ADS_1
Tinggallah di sana mereka dengan seonggok Pak Ismail yang masih tertunduk di tempatnya semula. Sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.
"Mas, bagaimana kondisi Nenek?" tanya Jeni mencoba mencairkan suasana yang tampak tak menyenangkan ini.
Gus Musa mendesah panjang, matanya langsung tertuju ke tubuh yang teronggok di sudut ruangan itu.
"Nenek ... terus saja memanggil namanya," sahutnya lirih.
Jeni mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, matanya turut menatap pada Pak Ismail. Terbayang di benaknya setiap adegan yang pernah terjadi di antara mereka, hingga sampai pada pertemuan terakhir mereka di rumah Nek Minah yang meninggalkan luka dalam tak hanya di fisik tapi juga batin Jeni yang terdalam.
"Lalu ... bagaimana rencana kamu selanjutnya, Mas? Apa kita akan bawa Pak Ismail ke pihak berwajib?" desis Jeni.
Tampak Gus Musa menyusut sudut matanya yang berair dengan cepat, dan menatap istrinya dengan senyum aneh yang tampak begitu di paksakan.
"Entahlah, tapi ... Mas minta maaf yah, dek. Malam pertama kita ... harus kacau karna ini semua, Mas merasa ... bersalah sama kamu," bisik Gus Musa malah mengalihkan pembicaraan ke masalah pribadi mereka.
Jeni mengangguk tulus saat suaminya perlahan meraih tangannya dan menciumnya. Jeni tak kuasa menahan tangis merasai tulusnya perasaan Gus Musa untuknya, sebuah rasa yang sejak dulu tak pernah dia dapatkan dari setiap lelaki yang mampir ke hidupnya hanya untuk sesaat.
"Nggak papa, Mas. Jeni ikhlas, Jeni nggak papa kok."
Gus Musa mengangkat kepala dan menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah, karna sudah di mulai mari kita langsung selesaikan saja. Supaya kehidupan kita juga tenang untuk ke depannya." Gus Musa bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Pak Ismail.
"Mas, mau apa?" sela Jeni cemas.
Gus Musa menghentikan langkahnya tanpa menoleh lagi pada Jeni.
"Dek Jen, sekarang masuk ke kamar ya. Tidur yang tenang dan jangan pikirkan apapun, masalah ini biar Mas yang selesaikan malam ini juga. Mas janji setelah ini nggak akan ada masalah seperti ini lagi, pengecut ini akan mendapat ganjarannya malam ini," sahut Gus Musa yang entah kenapa terdengar begitu dalam dan dingin.
"I- iya, Mas." Jeni berdiri dan melaksanakan apa yang menjadi titah suaminya, tak ada pilihan lain Jeni bahkan masih merinding jika mengingat nada suara suaminya yang saat ini sudah dia tinggalkan di ruang tamu bersama Pak Ismail.
Sedangkan Jeni sendiri kini sudah berada di kamarnya, memeluk baby Abbas yang terlelap dalam pelukannya.
Tak lama, terdengar suara tubuh yang di seret di susul pintu utama yang tertutup lumayan keras.
Brakk
Jeni sempat terlonjak, untung saja putranya yang manis itu tak sampai terbangun. Jeni menepuk pelan bokong bayi itu seraya berdoa, mengiringi suara mesin mobil suaminya yang terdengar kembali melaju entah kemana.
__ADS_1
"Ya Allah, ku serahkan segala urusan hamba hanya pada- Mu, ya Allah. Lindungilah kami, selamatkan kami dari mara bahaya yang mungkin mengintai, Ya Allah. Titip suamiku pada- maharibaan- Mu , ya Allah. Amiiinnn," doa Jeni membubung ke angkasa, berharap akan segera di dengar dan di kabulkan sang pencipta.