
Asy yang baru saja mendapat kabar tersebut lantas kebingungan, langkahnya resah antaraa pergi ke rumah sakit atau tetap di rumah, kondisi jualah yang membuatnya demikian.
"Asy?" panggil Aish yang baru saja melewati pintu kamar Asy yang terbuka, dengan membawa nampan berisi minuman di tangannya.
"Ah, Aish." Asy berbalik dengan wajah masih menampakkan kebimbangan.
Aish meletakkan nampan itu di atas nakas lalu berjalan mendekat. "Ada apa? Wajahmu tampak resah?"
"Ah, kelihatan sekali ya?" tanya Asy sembari berusaha tersenyum walau kaku.
Aish memegang ke dua bahu Asy, mengarahkan wajahnya menghadap dirinya. Mereka seolah sedang bercermin dalam posisi demikian, yang membedakan hanya jilbab yang menutupi kepala Asy dan rambut panjang tergerai Aish.
"Apa kamu tidak menganggap aku saudaramu? Kita ini lahir dari satu rahim yang sama, Asy. Walau bertahun-tahun kita tidak berjumpa tapi sekarang setidaknya cobalah untuk lebih terbuka, apa kamu tahu? Terlalu tertutup membuat kami selalu khawatir akan kondisimu?" cecar Aish dengan wajah tak kalah cemas.
Asy termegap, karna tak menyangka akan terlontar kalimat protes itu dari bibir Aish.
"Tap- tapi ... tapi, ku pikir ...."
"Apa? Kau pikir apa? Kami tidak peduli denganmu? Atau kami terlalu sibuk dengan hal lain yang menurutmu lebih penting? Jika benar begitu kenapa setiap hari Mami mengatakan rindu padamu semenjak kamu terus mengurung diri di kamar ini, cobalah keluar dan katakan pada kami ada apa padamu? Katakan agar kami setidaknya bisa membantu, itu gunanya keluarga bukan? Dan kita memilikinya sekarang."
Tanpa sadar air mata Aish menetes, dia memeluk saudarinya itu erat erat menumpahkan sesak karena selama berada di rumah Ed mereka sangat jarang bertegur sapa. Asy yang terlalu tertutup dan Aish yang terlalu takut untuk memulai hubungan baru walau itu dengan saudari kandungnya sendiri.
"Maaf, Aish ... maaf membuat kalian khawatir. Tapi ... sekarang sepertinya ada masalah serius yang harus aku lihat," gumam Asy sembari mengelus punggung Aish yang berguncang karna tangisnya.
Aish melerai pelukannya dan mengusap air matanya dengan ujung pakaian yang di pakainya.
"Oh ya? Apa itu? Apa kau mau membaginya denganku?"
Asy berpikir sejenak, lalu karna merasa tidak ada salahnya mengatakan akhirnya dia memberi tahu pada Aish.
"Mas Al ... barusan ada yang menelpon, katanya dia masuk rumah sakit dan kondisinya sudah gawat."
"Hah? Apa?" Aish tampak terkejut. "Tapi ... bukankah kalian sudah bercerai? Lalu kenapa kamu masih saja peduli padanya? Bukankah dia sendiri yang menjatuhkan talak itu padamu, Asy?" cecarnya lagi dengan mata melebar tak percaya.
****
Di tempat lain.
Sarah tengah berjalan bolak balik di dalam kamarnya, sesekali tampak dia menggigiti kukunya sebagai pelampiasan rasa gelisah yang melanda hatinya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, bagai mana ini?" gumamnya cemas.
Sarah menyibak sedikit tirai jendelanya, dan lagi lagi jantungnya bagai tersetrum karna sasaran pandangnya ada di sana.
Sarah gegas meraih ponselnya, menekan nomor sang suami dan menelponnya.
Tut
Tut
Tut
Tut
Panggilan mati sendiri dengan suara operator di sebrang sana, tak puas Sarah kembali menekan layar dan menelepon suaminya, tersambung namun tak kunjung di angkat.
"Mas, ayolah ... kamu dimana , Mas?" gumam Sarah mulai ketakutan.
Dia berlari kembali mendekat ke arah jendela, dan ya objek itu masih di sana. Seseorang dengan pakaian hitam hitam juga tutup wajah hitam tengah mengawasi rumahnya dari balik pohon palem tinggi yang tumbuh di halaman sebrang rumahnya, lebih tepatnya dari sebrang jalan rumahnya. Tapi Sarah yakin orang yang sudah beberapa hari ini dia dapati mengawasi rumahnya itu mempunyai tujuan khusus yang mungkin saja berkaitan dengan kematian orang tuanya yang dikatakan Sonia penuh kejanggalan itu.
"Assalamu'alaikum, sayang?"
Sempat menetralkan degup jantungnya yang bertalu sebentar dengan meminum air putih yang ada di atas nakas, lalu duduk di tepian ranjangnya.
"Sayang ada apa? Kamu baik baik saja?" tanya Axel lagi di sertai riuhnya suara kendaraan di sekitarnya. Bisa di tebak Sarah jika saat ini sang suami tengah berada di tengah perjalanan.
Setelah menarik nafas dalam, Sarah pun mulai bicara.
"Mas, orang itu ... orang itu ada lagi, si sebrang jalan rumah kita," ucap Sarah dengan nada rendah, entahlah dia selalu merasa di awasi beberapa waktu terakhir ini hingga untuk bicara dengan sewajarnya saja dia mulai takut ada yang mendengar.
"Hah? Apa? Maksud kamu gimana, sayang? Orang siapa?" tanya Axel tak paham.
Sarah menggigit bibir, ketakutan mulai merajainya.
"Mas, cepatlah pulang ke rumah. Aku takut, Mas."
Suara Sarah terdengar bergetar, tangisnya perlahan keluar di ke dua sudut matanya.
Terdengar suara gemerisik di sebrang sana, sepertinya Axel menepikan mobilnya.
__ADS_1
"Sayang katakan yang jelas ada apa? Kamu menangis?" cecar Axel dengan nada cemas yang tak di buat buat.
Sarah tergugu di tempatnya tak berani membuka mata.
"Ada orang yang ingin mencelakai kita, Mas cepatlah pulang. Dia ada di sebrang jalan, aku takut. Cepatlah pulang, Mas ....".
"Baiklah baiklah, Mas pulang sekarang. Jangan buka pintu atau jendela ya, pastikan semua terkunci."
Klik
Axel mematikan sambungan teleponnya dan segera memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju ke rumahnya.
Sarah gemetar memilih bergelung di balik selimutnya, dan menumpahkan tangisnya di sana.
Entah berapa lama Sarah berada dalam posisi itu, hingga Lamat lamat matanya mulai terbuka, dan lagi lagi di dapatinya dirinya berada di sebuah Padang rumput yang sangat luas.
Sarah mengedarkan pandang, kali ini aroma yang tidak enak dan memuakkan terasa menguar di udara.
"Mom!"
"Dad!"
Pekik Sarah berusaha melihat ke sekelilingnya yang di kelilingi ilalang. Sarah tahu ini pasti mimpi, mimpi yang mempertemukan dirinya dengan almarhum orang tuanya yang sudah tiada.
"Sarah,". seru seseorang dengan suara serak yang terdengar asing.
Sarah berbalik, dan terkesiap saat mendapati di belakangnya tampak dua sosok dengan tubuh yang tak utuh lagi. Pakaiannya hitam, dan compang-camping dengan rambut yang seolah terbakar karena bau gosong yang begitu tajam menusuk penciuman.
"Nak, waktu kami tidak banyak. Kami ingin minta tolong, tolong sedekahkan sebagian harta kami, Nak. Ringankanlah hukuman kami, juga tolong carilah keluarga dari orang ini dan berikan santunan pada mereka." Salah satu sosok mengerikan itu memberikan sebuah foto yang terbang seolah tertiup angin ke arah Sarah.
Sarah mengambilnya, memperhatikan gambar seorang pria di dalam sana yang terasa asing baginya.
"Jika nanti kau mendengar kabar yang tak mengenakkan tentang kami, tolong berjanjilah untuk tidak marah dan tetaplah menjadi putri kami, Nak." sosok lainnya bersuara dengan suara serak yang sama.
Sarah menyipitkan matanya. "Mom? Dad? Apa itu kalian?
Tak ada jawaban, setelah itu Sarah merasa hembusan nafas di tengkuknya. Membuatnya seketika membuka mata kaget.
"Selamat datang di kenyataan, Honey. Sekaranglah saatnya kau bertanggung jawab atas dosa orang tuamu di masa lalu."
__ADS_1