MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 69.


__ADS_3

"Mbak Jen kenapa melamun aja tho? Perasaan dari kemaren kayak nggak fokus gitu,"tanya Asiyah saat lagi lagi mendapati Jeni tengah melamun sambil mengerjakan tugasnya di ndalem'.


 Jeni terkesiap dan langsung meneruskan pekerjaannya mencuci piring piring yang sudah menumpuk bekas tamu yang datang ke rumah kyai Hasan.


"Ah, nggak kok, As. Mbak cuma kepikiran saudara Mbak, ada yang lahiran dan Mbak pengen jengukin."


 Asiyah manggut-manggut dan mulai membantu Jeni membilas piring yang sudah di sabuni agar pekerjaan Jeni lekas selesai.


"Ya ayo kalo begitu Asy temenin, Mbak. Sekalian kita bawa dedek jalan jalan, kan kasian dia di dalam pondok terus. Biarpun banyak temennya juga pasti kan bosen juga Mbak tiap hari yang di lihat itu itu mulu," sahut Asiyah terkekeh.


 Jeni mendesah berat, seakan tak ingin pergi namun hatinya sangat ingin pergi.


"Lah, kok malah begitu ta Mbak? Sebenernya pengen pergi beneran apa nggak?" tanya Asiyah lagi.


 Jeni menggeleng namun kemudian kembali mengangguk. "Ah, nggk tahulah As. Mbak bingung, soalnya mereka itu mantan majikan Mbak dulu."


 Dahi Asiyah berkerut. "Lha terus kenapa, Mbak? Kan bagus kalau begitu, Mbak bisa silaturahmi sama mantan majikan dan bisa menyambung lagi komunikasi yang lama."


"Masalahnya urusannya nggak segampang itu, As. Ah udahlah pikir nanti aja, pusing Mbak." Jeni mengibaskan jilbab besarnya ke belakang dan kembali fokus mencuci piring di hadapannya.


 Tak butuh waktu lama, akhirnya pekerjaan itu pun selesai juga. Bertepatan dengan itu, tampak Gus Musa masuk ke dapur sambil menenteng dua buah kantong plastik.


"Mbak Jen, Asy. Ini ada bahan buat di kulkas, tolong di susun dulu ya."


 Jeni dan Asiyah mendekat ke arah Gus Musa dan menerima dengan sopan plastik yang di sodorkan.


"Di situ ada makanan buat si kecil juga, nanti di bawa Mbak Jen. Biar belajar cicip jajan anaknya Mbak Jen," tukas Gus Musa lagi sambil berjalan kembali menuju rumah depan.


"Injih, terima kasih banyak, Gus." ucap Jeni walau Gus Musa sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


 Setelahnya mereka langsung menjalankan tugas dari Gus Musa dan menyusun semua bahan makanan itu ke kulkas, dan kemudian keluar dari dapur ndalem' untuk kembali ke asrama.


"Wah, mbak banyak juga ya jajanan yang di beliin Gus Musa buat Dede. Duh kayak ada bau bau calon papa baru nggak sih?" kekeh Asiyah menggoda Jeni.


 Jeni menepuk lengannya pelan. "Hush, ada ada aja kamu. Mana ada kayak gitu, lagi pula siapa yang mau sama Mbak ini udah janda punya anak, cuma pembantu lagi. Halah, wes nggak mimpi punya suami lagi Mbak, hidup sama anak aja rasanya udah cukup kok."


 Asiyah mengangguk dan tertawa pelan. Mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.


 Saat baru saja menghentakkan tubuhnya ke atas kasur yang ada di dalam biliknya, kembali Jeni mendengar suara Asiyah di depan pintu kamar.


Tok


Tok


Tok


"Mbak Jen, Mbak Jen!" panggilnya.


 Pintu terbuka, dan wajah centil Asiyah tampak tertawa lebar di sana. Dia masuk dan dalam gendongannya tampak bayi Jeni sedang menggigiti jilbab yang di pakainya.


"Ini, Mbak. Tadi si Dede nangis waktu ikut sama Nuning, jadi aku bawa aja ke sini sekalian. Pengen liat dia makan jajan dari Gus Musa," kekeh Asiyah lagi sambil duduk di lantai di hadapan Jeni.


 Jeni tersenyum menyambut anaknya yang mulai merangkak mendekat ke arahnya sambil merengek pelan, sepertinya bayi itu pun mulai haus karna belum menyusu.


 Jeni menyusuinya lebih dulu hingga bayinya cukup kenyang, sembari bercengkrama dengan Asiyah, santri yang paling dekat dengannya selama di pondok itu.


"Mbak, emangnya Mbak nggak ada pikiran mau nyariin ayah baru gitu buat si dedek?" tanya Asiyah tiba tiba, mulutnya penuh dengan roti yang ada di dalam toples milik Jeni, mereka memang selalu berbagi makanan apa saja yang mereka punya untuk di makan bersama.


 Jeni menghela nafas berat. "Nggak, As. Nggak ada kepikiran sampai ke sana. Mbak terlalu trauma sama laki laki soalnya. Semuanya sama aja, nggak ada yang membuat mereka istimewa dan di butuhkan di hidup Mbak sekarang."

__ADS_1


"Tapi pasti suatu saat dedek bakalan nanyain dimana ayahnya, Mbak. Saat itu nanti, Mbak mau jawab apa?"


 Jeni menggeleng. "Entahlah, Mbak belum berpikir sampai ke sana. Mungkin Mbak mau selamanya aja ada di pondok ini, supaya anak Mbak juga nantinya bakalan menjadi anak yang baik Budi pekerti dan agamanya kalau dia tumbuh besar di sini. Masalah lainnya Mbak berserah saja sama yang kuasa, biar semua Gusti Allah yang ngatur untuk Mbak. Karna sebaik baik perencana tetaplah Allah'SWT semata."


 Asiyah mengangguk paham, dan tak lagi banyak bertanya. Setelah bayi Jeni cukup puas menyusu dia kembali berguling dan merangkak mendekati panganan bayi yang tadi di belikan Gus Musa untuknya, Jeni masih meletakkannya di dekat Asiyah karna belum sempat beres beres.


"Dedek mau makan ini? Mbak aku bukain ya," ucap Asiyah meminta izin untuk membuka sebuah biskuit bayi dengan gambar beruang kecil di depannya.


"Iya, buka aja." sahut Jeni sambil berbaring telentang, dia butuh istirahat sejenak untuk raga dan juga pikirannya yang ruwet ini.


 Bayi Jeni yang sudah mulai bisa duduk itu makan dengan lahap, Asiyah yang menemaninya terlihat gemas sekali melihat cara makan bayi itu. Beberapa kali Asiyah tampak menggodanya hingga bayi itu ingin menangis.


"Mbak, yang tadi katanya mau jengukin saudara Mbak itu jadi?" Celetuk Asiyah setelah beberapa saat saling diam.


 Jeni terlihat kembali bingung karna memang belum memikirkan itu sejak tadi.


"Entahlah, As. Mbak juga dilema sekali rasanya.". Jeni menyahut lirih.


"Memangnya kenapa sih, Mbak? Pasti ada alasannya kenapa Mbak jadi segalau ini cuma karna mau jengukin anak saudara aja," tebak Asiyah.


 Jeni mengangguk karena merasa tak ada yang harus di tutupi lagi dari Asiyah, selain karna mereka dekat Jeni juga tau kalau Asiyah bukanlah tipe perempuan ember yang suka membicarakan masalah orang lain pada orang lain lagi.


"Mbak nggak mau cerita gitu?" tanya Asiyah lagi sambil menyuapi bayi Jeni dengan biskuit.


"Mbak cuma bisa bilang, suami saudara Mbak itu ... adalah mantan suami Mbak sendiri."


 Mata Asiyah melebar. "Jadi, dia juga ayah kandungnya dedek?"


 Jeni menggeleng. "Bukan."

__ADS_1


 Dari Asiyah berkerut dalam, semakin tidak mengerti dengan jalan hidup Jeni sebelumnya yang baginya terlalu rumit untuk di mengerti.


"Lalu siapa ayah kandung dedek, Mbak?"


__ADS_2