
Sarah begidik mendengarnya, tengkuknya terasa di taburi pasir namun dai tak berdaya dia tak tahu dimana dia berada dan apakah akan ada yang mendengar jika dia berteriak.
Sarah merasa semakin dilema saat belati kecil yang tadi melukai lengannya kini di arahkan peter ke lehernya.
"Kembalikan ... kembalikan semua hakku yang di ambil paksa oleh orang tuamu, Kak. Jika tidak ... jangan salahkan aku kalau kau tak akan lagi bisa melihat anak anakmu dan akan pergi menyusul orang tuamu."
Peter menyeringai saat menyadari wajah Sarah yang sudah sedemikian pucat, belum lagi tubuhnya yang tampak gemetar membuatnya yakin kalau semua akan berhasil kali ini.
"A- apa? Apa yang harus ku kembalikan? Aku tidak tahu," cicit Sarah mencoba menjauhkan ceruk lehernya dari belati yang berkilat itu.
Perih di lengannya belum hilang, di tambah rasa pusing karna kehilangan banyak darah dan masih harus menanggapi kegilaan Peter pula.
"Apa kau yakin kalau kau tak tahu, kak? Kenapa rasanya aku tidak percaya ya?" Peter mulai mengintimidasi Sarah, berjalan mengelilingi kursinya dengan ujung belati menempel di sisi lehernya, salah bergerak sedikit saja akan membuat ujung runcing itu menembus kulitnya.
Sekuat tenaga Sarah berusaha mengontrol gerakannya agar tidak lagi terluka. Bahkan untuk bernafas saja dia kesulitan sekarang, karna takut hembusan nafasnya sendiri nanti akan melukainya.
Tep
Peter berhenti tepat di hadapan Sarah, posisi belati ada di tepat di depan tenggorokan Sarah. Pandangan Sarah meremang karna terlalu banyak darah yang keluar dari tubuhnya dari luka di lengannya namun dia berusaha tetap sadar karna tak ingin nyawanya berakhir sia sia di tangan Peter.
"Apa kau mendengar ku, Kak? Kenapa kau diam saja?" Peter bertanya dengan nada dingin.
"A- aku ... aku sungguh tidak ... tahu apa yang maksud, ji- jika memang ada yang kau maksud itu padaku, silahkan ambil ... saja tapi, kembalikan aku ... pada anak anakku." Sarah mencoba menjawab walau dengan terbata, pandangannya semakin kabur dengan deru nafas yang pendek pendek.
Hanya satu yang ada di benak Sarah saat ini, pergi dari tempat aneh itu dan memeluk anak anaknya.
"Baiklah, kalau begitu ... silahkan kau pergi dari dunia ini, Kak! Akan dengan senang hati aku mengantarkan mu pada malaikat kematian mu! Hahahaha gantikan nyawa ke dua orang tuaku yang di rebut orang tuamu, hahahahhha!"
Jleebbbb
Brrraaakkkk
Bruaaakkkhhhhhhh
Pintu ruangan itu roboh, beberapa orang merangsek masuk dan dengan cepat meringkus Peter.
"Saraaaahhhhhh!" seru Axel yang baru saja datang dengan rombongan anggota kepolisian.
Sarah tersenyum kecil, pandangannya semakin buram dan kemudian gelap menguasai pandangannya. Tubuhnya lemas terkulai dengan bersimbah darah, dia bahkan tak lagi merasakan sakit dari semua luka lukanya. Hanya adalah kehampaan yang aneh bersemayam dalam hatinya.
****
Di tempat lain.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Permisi, Nyonya ... Tuan ada yang mau bertamu," ucap salah satu penjaga gerbang di rumah Ed sembari membersamai seorang pria yang kemarin di beri alamatnya oleh Amelie.
Pria itu ternyata tak lain dan tak bukan adalah Sutrisno, yang di akui Sri sebagai kekasihnya. (baca episode sebelumnya)
Amelie turun dengan anggun dari tangga lantai atas, dia seorang diri karna putri kembarnya tadi tampak tengah berbincang di kamar dan dia tak mau mengganggunya.
"Tinggalkan dia, Josh aku yang akan mengurusnya," titah Amelie pada anak buah suaminya itu.
Pria yang di panggil Josh itu mengangguk lalu mengayunkan tangannya mempersilahkan Sutris untuk masuk, sementara dia sendiri berbalik untuk kembali ke pos jaganya.
"Masuklah, " ucap Amelie sembari berjalan mendahului Sutris menuju ke sofa ruang tamu yang lega.
"Bagaimana? Apa kau setuju untuk bekerja di sini? Kebetulan kami butuh satu supir lagi dan seorang tukang kebun." Amelie membuka percakapan.
Sutris tampak berpikir sejenak. "Kalau saya boleh tahu berapa gaji yang akan saya dapat, Nyonya? Sebab Nyonya tahu sendiri biaya hidup sekarang mahal, terlebih saya harus menabung untuk melamar kekasih hati saya."
Amelie tertawa kecil lalu menghidangkan minuman kemasan yang selalu tersedia di bawah meja ruang tamunya untuk Sutris.
Sutris terhenyak, dalam pikirnya masih tidak menyangka semudah itukah mengeluarkan uang bagi orang kaya?.
( Jangan tanya author, author juga belum pernah ngerasain jadi orang kaya soalnya. Mungkin tahun depan, ya berdoa dulu aja)
"A- anda serius, Nyonya?" guman Sutris masih ternganga.
Amelie mengangguk ringan, lalu meminum minumannya sendiri.
"Yah, katakan saja. Jika cocok dengan pekerjaan mu nanti saya akan memberikan gaji sebanyak yang kamu mau di akhir bulan."
"Apa? Benarkah? Bagaimana kalau saya minta sepuluh juta, Nyonya?" tanya Sutris tanpa sungkan.
Amelie tergelak sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Kau sangat pandai bernegosiasi."
Wajah Sutris mendadak memerah malu, mungkin sungkan karna merasa permintaannya terlalu besar.
"Maaf, Nyonya jika keberatan tidak perlu di tanggapi saya hanya bercanda saja. Separuhnya juga sudah banyak kok, Nyonya," ralat Sutris menggaruk tengkuknya sungkan.
__ADS_1
Amelie menggeleng. "Tidak apa, saya suka dengan kejujuran kamu. Baiklah tunjukkan sebagus apa kinerja kamu dalam satu bulan ini, jika bagus maka akhir bulan nanti saya akan beri gaji sepuluh juta seperti yang kamu minta. Bagaimana?"
Mata Sutris langsung membulat sempurna. "Be- benarkah, Nyonya?"tanyanya antara percaya dan tidak.
Lagi Amelie mengangguk menyakinkan. "Iya, tapi bekerjalah dengan baik, jujur dan sepenuh hati maka gaji itu akan jadi milikmu."
Bertepatan dengan itu tampak Asy dan Aish berjalan menuruni tangga dengan sedikit tergesa. Pakaian mereka yang rapi membuat Amelie sudah bisa menebak kalau ke dua buah hatinya itu hendak pergi keluar.
"Mam, boleh kami izin pergi?" tanya Aish mewakili saudarinya yang wajahnya kini tampak pias.
"Kemana, sayang?" tanya amelie lembut.
"Ke rumah sakit, Mas Al masuk rumah sakit dan sekarang kondisinya sudah gawat, Mam."
Amelie beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati anak-anaknya.
"Al? Alam maksudnya?". Asy dan Aish mengangguk bersamaan.
"Bukankah dia sudah menceraikan kamu, Asy?" tanya Amelie pada Asy.
Asy mengangguk lemah. " Iya, tapi Asy nggak bisa pura pura tidak peduli saat dia sakit begini, Mami tolong izinkan kami pergi."
Asy menangkup tangannya di dada, dengan wajah memelas yang membuat Amelie seketika luluh di buatnya.
"Baiklah,h tapi kalian harus di antar supir ya."
Asy dan Aish kompak mengangguk. Amelie berpaling pada Sutris yang sejak tadi hanya diam di tempatnya.
" Apa kamu bisa bekerja sekarang juga? Mengantar anak anak saya ke rumah sakit?"
Sutris mengangguk mantab. "Siap, bisa Nyonya."
*
Dan di sinilah mereka sekarang, di dalam mobil yang di kendarai oleh Sutrisno.
Tak butuh waktu lama karna kelihaiannya menyetir membuat mereka bisa sampai di rumah sakit dalam waktu singkat.
Asy tak sempat berkata apa apa, dia langsung keluar dari mobil dan berlari menuju lobi rumah sakit. Namun karna terlalu terburu-buru tanpa sengaja Asy malah menabrak brankar yang tengah di dorong oleh serombongan tim perawat hingga jatuh.
Brakkk
"Ya Allah, Sarah!" pekik seorang pria yang tubuhnya di tabrak Asy, karna melihat brankar pasien terguling dan pasiennya jatuh ke rumpun bunga hias di samping rumah sakit.
__ADS_1