MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 216.


__ADS_3

 Suara tangisan bayi yang begitu melengking mengiringi proses pemakaman almarhumah Juli, semua mata menatap iba pada bayi yang kini berada di dalam gendongan Bu kades itu. Bu kades yang pendiam dan tak banyak bicara adalah satu satunya orang yang bersedia merawat si bayi setelah semua orang menolak merawatnya karena takut sial, entah siapa yang pertama kali menyebarkan kalimat provokasi itu namun akibatnya kini semua warga seolah jijik pada bayi perempuan yang di lahirkan Juli sebelum ini.


 Belum lagi kondisi almarhumah yang di ketemukan dalam keadaan tanpa busana dan juga wajahnya yang rusak berat seperti di hantam benda tumpul berkali kali membuatnya sudah sangat sulit di kenali.


"Kasihan sekali ya akhir hidupnya, sudah di tinggal suami. Melahirkan seorang diri, di kucilkan dan sekarang malah meninggal dalam keadaan yang mengenaskan."


"Iya, amit amit jabang bayi pokoknya semoga kita semua di jauhkan dari kehidupan yang apes seperti itu."


"Ya makanya kalau tidak mau hidupnya seperti Juli, ya kalian jangan jadi seperti dia sewaktu hidup dong."


"Tahu nih, orang sudah meninggal juga masih di saja di ghibahin. Nggak ingat mati apa gimana?"


 Seusai pemakaman yang di lakukan dengan sebagaimana biasanya itu, para pelayat yang mengantarkan semua pulang ke rumah masing masing sembari membicarakan apa yang mereka lihat dan dengar tentang almarhumah.


Rahman hanya bisa geleng-geleng kepala saja mendengar setiap pendapat yang di kemukakan oleh para pelayat yang kebanyakan adalah tetangga dan teman teman terdekat Juli di kala hidupnya dulu. Sungguh miris sekali, kala hidup mereka dekat seperti kepompong, sekarang di saat salah satunya meninggal bukannya mendoakan yang baik baik mereka malah sibuk mencari ke salahannya dan mulai mencacinya.


"Dek, kamu masih mau di sini?" tanya Rahman ketika melihat Asy, istrinya seperti masih betah berada di dekat pusara dengan batu nisan berukir nama Juli itu.


 Semua orang sudah pulang, hanya tinggal mereka, pak kades dan Abdi serta beberapa tukang gali kubur yang tengah membereskan alat alatnya tak jauh dari pusara.


"Iya, Kak. Asy mau mendoakan almarhumah dulu ya," sahut Asy lirih.


 Rahman mengangguk pelan kala Asy menatap matanya meminta persetujuan.

__ADS_1


 Asy pun berjongkok sembari memegang nisan berbahan kayu berwarna putih itu, matanya mulai berkaca-kaca sembari melantunkan doa di dalam hatinya untuk almarhumah Juli.


"Yang tenang di sana ya, Jul. Semoga Husnul khatimah." Asy berbisik lirih sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menjauh dari pemakaman tersebut.


 Berjalan beriringan menuju kembali ke rumah Pak kades yang hanya berjarak tiga ratus meter dari pemakaman tersebut, pak kades tampak mendekati Rahman. Sedangkan Abdi tampak berjalan lebih cepat seperti terburu-buru menuju rumahnya.


"Maaf, ustadz. Saya mau bertanya," ucap Pak kades sepelan mungkin.


 Rahman memelankan langkahnya, namun Asy dengan sigap menggandeng lengannya karna dia juga kepo dengan apa yang ingin di katakan Pak kades pada suaminya.


"Ada apa ya, Pak kades?" Rahman menjawab.


Pak kades tampak menimbang nimbang terlebih dahulu sebelum mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Sesekali matanya tampak melirik ke arah Asy seperti keberatan dengan kehadirannya.


 Hanya itu, dan sebaris kalimat itu mampu melenyapkan semua rasa ragu Pak kades sebelumnya.


 "Ah, anu. Begini, apa kira kira tanggapan ustadz sama Neng Asy kalau ... sebenarnya Juli itu meninggal karna di bunuh?"


 Rahman dan Asy terdiam sejenak, karna meski mereka melihat dan mengantar jenazah secara langsung sebelum ini tapi sebagai orang asing di kampung tersebut tentu rasanya kurang sopan jika mereka sampai ikut campur dengan apa apa yang terjadi di sana.


"Maaf, bukan maksud saya membuat kalian tidak nyaman. Namun, saya pribadi masih tidak menyangka ada hal semacam ini di kampung ini. Kematian Juli ... terlalu tragis untuk di katakan hanya kebetulan, yah walau pun memang kerap ada laporan kalau almarhum semenjak maaf, gila itu sering berkeliling rumahnya dalam keadaan, ummm ... tidak memakai busana dan sering pula terdengar seperti suara orang membenturkan kepalanya ke tembok beberapa kali. Yang warga yakini sebagai suara juli yang tengah melampiaskan stressnya," imbuh Pak kades lagi, tak ingin membuat dua tamu desanya itu menjadi tak nyaman.


 Rahman tampak manggut-manggut, memasuki areal halaman rumah Pak kades yang luas Rahman memilih diam. Dan berniat akan melanjutkan pembicaraan mereka setelah sampai di rumah. Setidaknya begitu akan lebih aman dari telinga telinga jahat yang bisa sja mencuri dengar dan akan merugikan mereka nantinya.

__ADS_1


 Sesampainya di dalam rumah, tak terdengar suara apapun. Padahal Bu kades dan Abdi sudah pulang lebih dulu tadi. Bahkan Bu kades membawa serta bayi Juli yang kini hak asuhnya mau tak mau harus dia ambil karna tak ada warga lain yang mau merawatnya. Ingin menyerahkan bayi itu ke panti asuhan pak kades tidak tega ,jadilah akhirnya tanggung jawab itu di ambil alih oleh mereka.


"Assalamu'alaikum, Bu? Bu?" panggil Pak kades sembari melangkah masuk mendahului Rahman dan Asy karna hendak mencari keberadaan sang istri.


 Setelah mendapati ternyata sang istri tengah tertidur di kamar sembari memeluk bayi itu, pak kades tersenyum lega dan kembali ke ruang tamu dimana Rahman dan Asy duduk menunggu.


"Nah, ustadz. Bagaimana dengan pertanyaan saya tadi?" tanya Pak kades lagi, dengan suara yang sengaja di lirihkan karna tak ingin membuat bayi yang sepertinya baru saja terlelap itu menjadi terbangun karna kaget.


"Saya ... jujur saja saya, takut untuk berspekulasi, Pak kades. Selain karna saya warga asing, warga luar saya juga merasa tidak berhak ikut campur dalam masalah ini," sahut Rahman bijak.


 Pak kades menunduk, mengambil segelas air mineral kemasan yang memang selalu tersedia di atas meja dan menyesapnya perlahan.


"Ingin saya membawa kasus ini ke kantor polisi, tapi ... karna pihak keluarga juga sudah tidak ada, dan warga juga tidak ingin kasus ini di perpanjang karna takut nama desa jadi buruk, maka saya bisa apa? Sedih padahal kalau mengingat nasib malang anak itu," tutur Pak kades tampak sangat prihatin dengan nasib yang menimpa Juli.


 Rahman mengangguk paham, terlebih Pak kades adalah orang yang nomor satu di kampung tersebut. Sudah tentu dia akan turut merasa bertanggung jawab jika ada warganya yang terkena masalah atau kasus seperti yang di alami almarhum Juli.


"Kalau begitu, rencana bapak ke depannya apa?" tanya a Asy pula.


 Pak kades menolehnya sekilas, lalu kembali menunduk dengan wajah gundah.


"Entahlah, mungkin saya akan memusyawarahkan semuanya dengan warga lain terlebih dahulu. Apalagi saya juga punya bukti kalau memang Juli itu sudah di bunuh, bukan murni meninggal seperti kata warga."


 Kening Asy berkerut mendengar pengakuan Pak kades. " Apa? Bukti? Bukti apa yang bapak punya?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


__ADS_2