MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 215.


__ADS_3

 Pagi menyapa, suasana desa yang begitu di rindukan Asy kini menyambutnya dengan suara kicau riang burung burung yang beterbangan di sekitar rumah, sejuknya udara pagi yang sangat jarang bisa di temui di kota, dan juga keindahan pemandangan matahari terbit yang akhirnya bisa lagi dia saksikan di barengi dengan indahnya caping caping yang bergoyang di sela tanaman padi yang mulai merunduk.


"Lagi apa ,dek?" sapa Rahman yang baru saja menyelesaikan zikir paginya seraya melipat sajadah yang tadi dia pakai.


 Asy berbalik, memamerkan seulas senyum kecil pada suaminya.


"Nggak papa, mas cuma seneng aja bisa ada di sini lagi setelah sekian lama."


"Iya, puas puasin nanti di sininya. Soalnya kita nggak bisa lama," tukas Rahman mengelus lembut kepala sang istri dari luar jilbabnya.


 Asy mengangguk dan kembali membuang pandangannya ke luar jendela yang menghadap langsung ke persawahan milik Pak kades yang di garap oleh beberapa tetangganya di sana.


Sedang Rahman kembali ke atas ranjang, merebahkan kembali tubuhnya yang masih terasa pegal setelah perjalanan panjang yang mereka lalui semalam. Waktu satu hari ini sebelum acara akan dia pergunakan dengan sebaik mungkin untuk beristirahat dan menyenangkan istrinya.


Tok


Tok


Tok


 Tak berapa lama, pintu kamar tempat mereka menginap terdengar di ketuk.


"Ustadz? Ustadz sudah bangun?"


 Suara Abdi terdengar pelan, mungkin karna takut mengganggu jikalau Rahman dan Asy masih menikmati waktu istirahatnya.


"Ya, Mas? Saya sudah bangun kok," sahut Rahman cepat.


 Setelah itu dia beranjak membukakan pintu untuk Abdi.


"Ada apa, Mas?" tanya Rahman kala menangkap raut wajah yang tak biasa dari wajah Abdi, seperti raut wajah gelisah dan ketakutan berbaur jadi satu.

__ADS_1


Asy ikut mendekat karna penasaran, aneh kala itu dia malah lebih salah paham dengan tubuh Abdi yang tampak sangat basah oleh keringat di pagi yang bahkan masih belum tersentuh matahari itu, matahari bahkan masih malu malu di ufuk timur sama menunjukkan sinarnya, apa yang terlalu berat di lakukan pria itu hingga menyebabkan dia mandi keringat di subuh begini?.


"I- itu, ustadz m. Ada yang meninggal," ucap Abdi dengan nada suara terdengar bergetar.


"Apa? Meninggal? Siapa?" cecar Rahman kaget, pasalnya baru saja beberapa jam sejak kedatangannya ke kampung tersebut dan sudah langsung di sambut dengan kabar duka.


 Asy pun sama terkejutnya dengan sang suami, wajahnya bahkan sampai pias tak sabar menunggu kabar lebih lanjut dari Abdi.


 Abdi menarik nafas dalam lebih dahulu, kemudian kembali melanjutkan ucapannya.


"I- itu ... itu yang ... yang meninggal, si ... si Juli, dia di temukan meninggal di rumahnya!"


"Apa?" pekik Asy tanpa sadar, walau setidak suka apapun dia terhadap Juli namun tetap saja dia akan turut berdukacita jika sampai akhir dari wanita yang pernah di tolongnya itu telah tiba.


"Iya, Mbak. Ustadz di minta untuk membantu menyolatkan jenazah di masjid, apa ustadz bersedia?" tanya Abdi dengan nafas sedikit tersengal.


 Rahman dengan cepat menanggapi. "Ah iya iya, saya akan menyusul ke sana setelah saya bersiap sebentar ya."


Brakkk


 Asy terkejut kala mendengar suara pintu kamar abdi yang di tutup kasar oleh pemiliknya, entah secara sengaja atau tidak tapi yang jelas bunyinya benar benar mengejutkan hingga bisa terdengar sampai keluar ruangan.


"Astaghfirullah," desis Asy sambil mengelus dada.


"Dek, Mas siap siap dulu ya. Mas mau mandi dulu, tolong siapkan pakaian Mas ya," pinta Rahman tergesa.


 Asy menggangguk dan melakukan apa yang di pinta Rahman setelah sang suami masuk ke dalam kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.


 Tak sampai lima belas menit kemudian, Rahman telah siap dengan semua keperluannya. Penampilannya juga sudah rapi bersih dan wangi, entah kekuatan apa yang dia miliki hingga bisa bersiap dalam waktu sesingkat itu.


 Asy bahkan sampai tercengang melihatnya.

__ADS_1


"Mas berangkat dulu ya, sayang. Tunggu di sini dan jangan kemana mana ya?" titah Rahman sembari mengecup kening sang istri.


 Asy mengangguk samar. "Iya, Mas. Semoga semua lancar ya, segeralah pulang setelah semua urusan Mas selesai."


"Baiklah, sesuai titah anda Tuan putri." Rahman mengulum senyum dan beranjak membuka pintu menuju keluar.


 Rupanya di teras rumah Abdi juga sudah menunggunya dengan penampilan yang tak kalah rapi, Asy sendiri bahkan sampai berulang kali menggeleng kan kepala melihat keajaiban yang tejadi di depan matanya. Fakta baru itu, ternyata kalau akgi buru buru laki laki bisa bekerja lebih cepat ketimbang biasanya, jadi jangan heran kalau ketemu laki yang bangun jam 6 jam 6. 15 udah beres semua dan siap berangkat kerja -- ini khusus untuk laki-laki, kalau perempuan bangun jam 5 subuh beres semuanya jam setengah tujuh, itu juga kalo nggak ada yang kelupaan--


" Ayo ustadz, kita nggak punya banyak waktu. Para warga sudah menunggu di masjid sana, karna almarhumah nggak punya sanak keluarga lagi jadi mau langsung di kebumikan saja katanya," ujar Abdi sembari lekas lekas memakai sandal jepitnya yang ada di bawah tangga.


 Rahman mengangguk dan mulai mengikuti langkah kaki Abdi yang mendahuluinya menuju motor yang terparkir di samping rumah.


"Pegangan ya, ustadz. Saya mau ngebut," titah Abdi lagi ketika Rahman bahkan baru saja naik ke boncengannya.


 Rahman memegangi pundak Abdi. "Jangan terburu buru begitu, itu sama saja kamu mengikuti sifatnya setan. Sudah sedang saja, yang penting kita selamat sampai tujuan," kilah Rahman.


 Akhirnya Abdi setuju saja karena tak ingin semakin membuang waktu, setelah membunyikan klakson pertanda berpamitan pada asy yang mengantar hingga ke teras.


 Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju masjid di kampung tersebut, beberapa kali juga sempat berpapasan dengan orang orang yang juga sama sedang mengurus pemakaman untuk salah satu warga mereka m.


"Memangnya jam berapa meninggalnya katanya, Mas?" tanya Rahman membuka suara.


 Abdi menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan setirnya.


"Katanya sih baru, ustadz. Tapi untuk pastinya jam berapa saya kurang tahu," sahut Abdi dengan nada sedikit kencang agar Rahma bisa langsung mendengar suaranya.


 Rahman tak banyak bertanya lagi, sesampainya di masjid gegas ia mengambil wudhu dan masuk ke dalam masjid dimana jenazah sudah di baringkan di depan tempat imam.


"Ustadz sekalian jadi imam ya," ucap salah satu warga yang kebetulan melihat Rahman dan mengenalinya sebagai ustadz yang akan mengisi kembali acara keagamaan di masjid mereka esok hari. Namun entah akan jadi di laksakan atau tidak mengingat sekarang sedang sibuk dengan berita duka dari seorang yatim piatu sebatang kara yang meninggal secara misterius.


 Rahman menyanggupi permintaan warga tersebut, namun saat sholat jenazah akan di mulai dan Rahman menyibak sedikit kain yang menutupi keranda dimana tubuh mayit di baringkan betapa terkejutnya ia kala melihat kondisinya yang .....

__ADS_1


__ADS_2