MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 152.


__ADS_3

Di tempat lain.


"Assalamu'alaikum, maaf dengan siapa saya bicara?" tanya Sarah saat mengangkat sebuah telepon dari nomor yang tidak di kenal.


(Wa'alaikumsalam, maaf apa ini benar dengan Nyonya Sarah?) sahut suara di sebrang telepon.


"Iya, benar saya sendiri. ada apa ya?" tanya Sarah lagi kali ini jatungnya tiba tiba berdetak tak karuan, merasa kabar yang akan sampai padanya kali ini bukanlah kabar baik.


Tak ada jawaban, sejenak hanya terdengar suara gemerisik dari sebrang telepon. Sarah bahkan sampai memanggil di penelpon dua kali karna tak kunjung mendapat jawaban.


"Kalau tidak ada hal penting yang ingin di sampaikan saya akan matikan teleponnya," ucap Sarah sedikit keras.


  Akhirnya setelah menunggu beberapa detik, terdengar jawaban dari sebrang sana namun suaranya tidak jelas.


" ...  Nyonya .... ibu dan ayah ... di temukan di ... rumah yang terbengkalai."


Tut.


Tut


Tut


Panggilan tiba tiba terputus, Sarah terpaku di tempatnya berdiri. Mencoba mencerna kabar tak lengkap yang baru saja dia dengar dari seseorang yang entah siapa. Namun dari suaranya Sarah tahu orang itu laki laki, tapi siapa? Pertanyaan itu terus berputar bak kaset di benak Sarah.


"Sayang?" Axel datang lalu menepuk pundak Sarah pelan, namun karna Sarah tengah melamun dia sampai terjingkat kaget akibat tepukan ringan itu.


"Hei, kau terkejut? Ada apa?" tanya Axel cemas terlebih saat menyadari wajah istri nya begitu pias.


Sarah menggeleng, menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dan memegangi kepalanya yang tiba tiba terasa berdenyut.


"Ah, tidak. Ada yang menelpon, baru saja hanya ... aku tidak tahu siapa orangnya, mas. Dia mengatakan sesuatu seperti ibu dan ayah, juga ... rumah yang terbengkalai. Entah apa maksudnya," papar Sarah sembari mendudukkan tubuhnya di atas ranjang empuknya dan bersandar di sana meletakkan kepalanya yang terasa sakit karna banyaknya beban yang di pikulnya belakangan ini.

__ADS_1


"Tunggu, ibu dan ayah ... siapa yang dia maksud? Lalu ... rumah terbengkalai? Kenapa jadi seperti novel misteri?" gumam Axel mencoba mencari jawaban pula.


Sarah menggeleng. "Entahlah, Mas. Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini, dan semuanya terasa di luar ranah kita."


Axel manggut-manggut membenarkan ucapan istrinya. "Yah kamu benar, sayang. Dengan itu ada baiknya masalah ini tidak usah terlalu kamu pikirkan. Toh juga tidak jelas, biarkan saja istirahatlah kamu sudah terlalu lelah belakang ini."


Axel mengecup kening istrinya sekilas, lalu beranjak bangkit karena akan pergi mengurus restorannya yang lain --bukan yang di percayakan pada satrio--.


"Baiklah, Mas terima kasih pengertiannya." Sarah tersenyum kecil sebelum merebahkan kepalanya di atas bantal, bersiap untuk beristirahat setelah beberapa hari tak bisa tidur nyenyak karna terus di ganggu sang ibu yang memintanya untuk tidak mempercayai Edwin dan membawa gadis gadis yang di akui sebagai anaknya itu pergi.


Dan jujur saja Sarah pun bingung apa yang membuat nyonya Ellen menjadi seperti itu. Jauh sekali dari perangai Nyonya Ellen yang selama ini Sarah kenal sebagai ibunya yang lembut dan penuh kasih sayang.


Baru saja kaki Axel menapaki lantai luar kamar, jeritan Sarah terdengar mengagetkan dirinya tubuh tegapnya sontak berbalik.


"Aaaahhhh!"


"Ada apa, sayang?"


"M- mas ... Momy ... dan Dady ...."


"Kenapa Momy dan Dady?" cecar Axel sembari berjalan cepat menghampiri istrinya.


Sarah memberikan ponselnya yang masih dalam kondisi menyala pada Axel, dan pria penyayang itupun melihat apa yang baru saja menjadi penyebab istrinya menangis dan menjerit.


"Siapa? Siapa yang memberi kabar ini?" cecar Axel dengan getir, matanya menyiratkan kegetiran dan ketakutan yang sangat.


"Ini tidak mungkin Momy dan Dady, mereka tidak mungkin meninggal."


Axel tergugu melempar ponsel yang masih menyala itu ke atas kasur dan memeluk istrinya erat, menangis bersama berharap kabar yang baru saja mereka terima tidak benar adanya.


****

__ADS_1


"Kau sudah tenang?" tanya Ed sembari menyodorkan segelas teh hangat pada Rahman yang kini tampak duduk dengan tubuh gemetar di atas ranjang.


Ed sengaja membawanya ke rumahnya setelah kejadian penculikan itu, terlebih juga Bu Hannah masih berada di rumah itu saat ia menelpon Ed mengatakan Rahman pergi dari rumah dan tak kunjung kembali setelah semalam suntuk.


"Ini ... ini mustahil, uncle. Apa semuaa ini nyata? Atau hanya halusinasi ku saja?" gumam Rahman yang menatap nanar gelas di hadapannya, bahkan melihatnya saja membuatnya teringat akan genangan darah yang menjadi phobianya.


Rahman mual, dia membuang pandangannya ke arah lain karena tak ingin menyinggung perasaan Ed yang sudah membawakan teh itu untuknya.


Ed duduk di kursi yang berada tak jauh dari ranjang yang di tempati Rahman, sebuah kamar tamu yang nyaman dan luas.


"Yah, semua yang terlihat di dunia ini tak selamanya adalah yang sebenarnya, dude. Kau tahu, bahkan akupun begitu.".


Rahman terdiam, mencerna apa yang di katakan Ed. Sampai di sini memang terlihat sisi Ed yang lebih kebapakan dan lembut ketimbang yang tertanam di pikiran Rahman kalau pamannya itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin.


"Mengenai orang itu ... sebenarnya dialah yang sudah membuat aku tampak buruk di mata hampir semua orang. Dia ... memfitnahku melakukan hal yang tak pernah ku lakukan, padahal semua itu dia yang melakukannya. Itu pula sebabnya aku mendekam di penjara dulu sekali, dengan tuduhan yang tak bermoral itu." Ed mulai bercerita tentang apa yang terjadi di masa lalunya, cerita yang belum sempat di katakan Bu Hannah pada Rahman.


"Apa benar begitu, uncle? Kalau begitu ... aku ...."


Rahman tak sanggup melanjutkan kata katanya, tenggorokannya terasa tercekat dan lidahnya terasa kelu. Dia hanya bisa menatap nanar Edwin.


"Kalau kau tak percaya, kau boleh bertanya langsung pada ibumu, dude. Beliau lah saksi hidup akan semua yang terjadi dahulu, dan itu pula sebabnya aku menyembunyikan di rumah ini selama kau mencari putriku, aku tidak ingin dia celaka karna orang itu masih saja mengincarnya sebagai saksi kunci kejahatannya di masa lalu, dude.".


Kembali Rahman terhenyak, percaya atau tidak tapi cerita yang keluar dari mulut Ed terdengar begitu masuk akal.


"Lalu ... Asy dan A- Aish?"


Edwin menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, beranjak dan melangkah mendekat ke ranjang Rahman lalu duduk di sana. Membiarkan Rahman menatap mata teduh yang sangat mirip milik almarhum ayahnya itu. Ayahnya yang sangat di cintai dan di rindukannya.


Lelaki hebat yang rela mati demi melindungi dirinya dari serangan brutal dari seseorang yang menerobos masuk rumah mereka belasan tahun lalu. Dan hingga kini Rahman masih mengira orang itu adalah Edwin.


"Asy dan Aish, putri putriku yang pada akhirnya kembali setelah di culik dan di buang entah di mana oleh orang tak bermoral itu. Bayi bayi yang di gunakan mereka demi membuat aku bungkam dan dengan suka rela menerima hukuman atas apa yang tak pernah aku lakukan. Hingga akhirnya bayi bayiku benar benar hilang dan mereka malah bersikap seolah tak bersalah." Edwin bercerita dengan tatapan mata tajam, tangannya bahkan mengepal erat hingga buku buku jarinya memutih.

__ADS_1


*Yang masih penasaran silahkan ke sebelah ya ... nggak muat mau di taro di bab ini semua kisahnya, hehe terima kasih masih setia mengikuti author edan ini...


__ADS_2