
Pagi menjelang, sesuai perjanjian semalam Sri sejak pagi pagi sekali sudah membangunkan Juli yang kala itu bahkan baru memejamkan mata beberapa saat saja.
Dengan langkah gontai dan terkesan malas malasan Juli berjalan keluar dari kamar kos kecil yang beberapa jam lalu menjadi tempat istirahat singkatnya.
"Buruan, lama banget sih." Sri berkata ketus sembari melangkah lebih cepat menuruni tangga karna kamar yang di tempati Juli semalam memang berada di lantai dua.
"Iya iya," jawab Juli turut merasa kesal, terlebih rasanya tubuhnya masih sakit sakit dan pegal karna tidur di kasur yang berbatasan langsung dengan lantai.
Sembari memijit mijit lengan dan pundaknya yang terasa linu Juli terus saja melangkah hingga akhirnya mereka tiba di tempat khusus untuk menerima tamu. tak jauh dari posisi mereka tampak Mang Midun baru saja menggeser pagar kosan agar penghuninya bisa keluar masuk dengan mudah.
"Tumben pagi banget, mang?" tanya Sri sembari mendudukkan tubuhnya di atas sofa tersebut tanpa menawarkan Juli untuk ikut duduk.
Tapi karna tak mungkin juga terus terusan berdiri akhirnya Juli memilih untuk duduk saja langsung walau tanpa di persilahkan.
"Iya, Neng. Istri saya banguninnya kepagian, mau lanjut tidur lagi tadi malah takut kesiangan makanya saya langsung berangkat saja lah." Mang Midun menimpali dengan senyum khas di bibir berkumis tebal miliknya.
Sri hanya menanggapi dengan senyum dan memilih kembali sibuk dengan ponselnya.
Juli mendengkus , kala mengetahui kalau saat itu bahkan matahari saja belum bangkit dari peraduannya. Suasana sekitar masih remang remang bahkan aroma embun yang membasahi bumi masih sangat kental terasa.
"Kenapa kamu dengus begitu?" ketus Sri sembari melirik juli dengan sinis.
Juli mencebik. "Ya sadar diri sedikit lah, matahari bahkan belum bangun tapi aku sudah di suruh bangun padahal mobil travel nya juga baru datang jam tujuh pagi kan? Lha ini mungkin jam enam saja belum."
Melihat Juli mulai uring uringan Sri menjadi naik pitam, dengan kesal di tariknya tangan Juli hingga mau tak mau wanita yang tengah hamil tua itu menghadap ke arahnya.
"Apaan sih? Sakit tahu!" sentak Juli sembari menarik paksa tangannya yang masih berada di dalam cengkraman Sri, hingga terasa perih karna tergores kuku kuku Sri yang panjang.
Sri melotot, membuat Juli sedikit menciut juga karenanya. Tapi tentu saja Juli tak akan menunjukkannya karna tak ingin kalah saing.
"Dasar nggak tahu terima kasih! Sudah di tolong malah uring uringan lagi, kamu mau kalau jam tujuh aku baru bangunin kamu dan yang ada kamu malah ketinggalan mobil travelnya dan nggak bisa pulang? Iya? Begitu mau kamu ha?" bentak Sri kesal.
"Y- ya nggak gitu juga lah." Juli membuang pandangannya dari wajah Sri, merasa terintimidasi dengan tatapan mata Sri yang menghujam.
Plaaakkk
Sri melempar tangan Juli yang masih berada di genggaman tangannya, lalu mengambil tisu dan mengelap tangannya yang baru saja di gunakan untuk menyentuh tangan Juli tadi. Seakan tangan Juli menyimpan bakteri yang kotor.
Juli mendelik melihat itu, namun ingin protes pun dia tak cukup nyali. Ketimbang tak bisa lagi pulang ke kampung, maka Juli memilih diam walau hatinya ngedumel tiada henti.
Untuk selanjutnya, suasana hening. Udara dingin yang masih berhembus membuat Juli kembali memeluk tubuhnya sendiri, lamat lamat kantuk malah kembali menyerangnya hingga tanpa sadar dia pun tertidur dalam posisi duduk.
"Apa? Mas Satrio? Kamu nggak lagi becanda kan, Mas? Aku merinding beneran loh ini.".
Lamat lamat, Juli terbangun kala mendengar suara yang lumayan keras yang tak lain dan tak bukan berasal dari Sri yang saat ini tengah menerima telepon dari Sutris. Memberi tahunya tentang kejadian semalam saat dia menemukan Satrio di depan rumah kontrakannya dalam kondisi mengenaskan.
Juli mengucek mata perlahan, dan terkejut kala melihat suasana di sekitar sudah berubah menjadi terang benderang. Dia gelagapan,di angkatnya tubuhnya menatap sekitar dengan panik takut kalau kalau saat ini mobil jemputannya sudah lewat dan tak ada yang membangunkannya.
"Ooh, begitu. Syukurlah, Mas
Insyaallah nanti habis ini aku jenguk ke rumah sakit ya, Mas. Sekalian mau silaturahmi juga sama keluarga majikannya Mas yang baik hati itu. Ya sudah ya, Mas nanti telepon lagi, assalamualaikum."
Sri menutup telepon lalu kembali duduk di sofa yang sebelumnya tadi dia duduki , tanpa menoleh pada Juli sama sekali padahal saat itu Juli tengah melihatnya dengan tatapan penuh tanya. Sri sengaja tak memberi tahunya apapun karna kesal dengan kejadian tadi.
,"Jam berapa sekarang?" tanya Juli karena tak mendapati tanda tanda Sri akan buka suara mengenai apa yang menjadi pertanyaannya.
Sri melirik sekilas, lalu kembali melengos sembari tetap fokus dengan ponsel di tangannya.
"Jam delapan," ketus Sri.
Mata Juli sontak melotot lebar dan serta merta bangkit dari duduknya.
"Terus mobilnya?" serunya kaget.
Sri mengangkat bahu. " Salah sendiri tidur kayak mayat, susah banget di bangunin. Ya rasain akibatnya."
Juli mendadak lemas mendengar jawaban Sri, tubuhnya melorot kebawah hingga terjatuh kembali ke sofa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Astaghfirullah, aku mau pulang." Juli mendesah lirih hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi ke dua pipinya.
Sri kembali melirik sinis, dengan seringai puas di wajahnya.
Dan tak butuh waktu lama, isakan Juli yang semula hanya lirih perlahan menjadi semakin kuat dan keras.
"Aku mau pulang! Huhuhu, aku mau pulang! Mas Al! Juli mau pulang, Mas!"
"Buahahahhahahha!" Sri tertawa lepas sembari memegangi perutnya yang terasa tegang saking kerasnya tawanya.
Juli yang sedang menangis sontak langsung menghentikan tangisnya dan menoleh pada Sri, menatapnya dengan tatapan tak mengerti.
"Kenapa kamu ketawa? Seneng ya kamu lihat aku menderita begini? Semua ini gara gara kamu tahu? Harusnya kamu itu bangunin aku bukannya malah di biarin! Ya setidaknya usaha kek biar aku bisa bangun. Kan jadinya aku nggak bingung kayak gini!" amuk juli yang merasa sangat kebingungan saat ini, dimana satu satunya orang yang sudah berbaik hati menolongnya kini sudah pasti tak akan mau membantunya lagi. Pada siapa lagi Juli bisa meminta bantuan setelah ini? Otak juli terasa buntu hanya untuk memikirkan hal itu.
Sri menutup mulutnya meredakan tawa yang masih tersisa, hingga akhirnya tawanya mereda dan bisa menjawab perkataan Juli.
"Nggak usah histeris begitu juga dong, bo doh! Hahahahah wong aku cuma ngerjain kamu kok."
Kening Juli berkerut tak mengerti. "Maksud kamu?"
Sri menarik nafas dalam dan berkata. "Tadi Mas sutris nelpon, ngabarin katanya mobil travel yang tujuan ke kampung kamu baru berangkat jam sembilan pagi, soalnya belum penuh penumpangnya."
Juli mendesah lega setelah mendengar penjelasan Sri, namun kini pikirannya malah berkelana ke apa yang akan dia lakukan setelah nanti dia tiba di kampungnya, apa dia harus pulang ke rumah Alam, tempatnya selama ini tinggal atau harus ke rumahnya sendiri karna dia sudah di buang?.
****
Kembali ke rumah sakit.
"Dok, bagaimana kondisi suami saya?" tanya Aish dengan tak sabar, ketika dokter yang menangani Satrio baru saja keluar dari ruangan.
Dokter itu membuka masker di wajahnya, mendesah pelan lalu menatap Aish dengan tatapan sulit di artikan.
"Saya tidak tahu apa yang membuat kondisinya bisa sekritis itu, tapi syukurlah sekarang dia sudah lebih baik. Masa kritisnya juga sudah lewat, dan semoga saja setelah di rawat beberapa hari lagi dia bisa pulih seperti sedia kala."
"Alhamdulillah, terima kasih Dok." Aish mengusap sudut matanya yang berair lalu mengangguk kala dokter itu berpamitan untuk menjalankan tugas kembali.
Setelah beberapa saat, tampak Asy dan Rahman baru saja kembali dari mushola. Tampak membawa sebuah kantong plastik berlogo minimarket yang berada di sebrang rumah sakit.
"Bagaimana, Ai? Apa sudah ada kabar tentang kondisi Satrio?" tanya Asy setelah duduk dan meletakkan kantong plastik yang dibawanya tadi di sebelahnya.
Aish tersenyum dan mengangguk. "Alhamdulillah, sudah. Dan mas Satrio bisa di selamatkan. Entah apa yang sudah menimpanya, tapi yang paling terpenting sekarang suamiku sudah selamat, Asy. Hanya tinggal menunggu dia pulih saja."
"Alhamdulillah," ucap Asy dan Rahman berbarengan.
Setelah itu Asy memberikan sebuah kemasan air mineral dan sebungkus roti untuk Aish. Dan dia serta suaminya juga memakan makanan yang sama sembari menunggu para perawat itu memindahkan Satrio ke kamar rawat.
"Dimana Mami?" tanya Assy setelah menghabiskan roti miliknya.
"Tadi di minta Papi menemaninya menemui seseorang, entahlah mereka hanya bilang begitu. Dan katanya akan kembali sebentar lagi tapi ini sudah hampir setengah jam sejak waktu itu," sahut Aish apa adanya.
Asy manggut-manggut paham, dan kembali melanjutkan sarapan yang terlalu pagi baginya itu. Hari masih belum terang, namun tubuh yang lelah akan semua masalah ini membuat perut menjadi lebih cepat lapar.
Tak menunggu lama, setelah Satrio di pindahkan ke kamar rawat. Asy, Aish dan Rahman mengikuti sebelum akhir di persilahkan masuk untuk menemani pasien oleh perawat.
"Tolong tenang dan jangan memaksa pasien untuk bangun ya, sebab pasien masih dalam pengaruh obat bius dan masih butuh istirahat yang banyak . Jadi keluarga di mohon kerja samanya."
"Baiklah, sus. Terima kasih," sahut Aish.
Setelah suster itu pergi, gegas mereka masuk ke dalam ruang rawat Satrio. Tempatnya cukup lega dan nyaman karna Ed sudah memesan kamar VIP untuk menantunya, dan tentu saja agar anak-anaknya yang ikut berjaga akan merasakan kenyamanan yang sama ketimbang harus berdesakan dengan orang lain di kamar rawat biasa yang bisa di isi hingga tiga pasien dan banyak anggota keluarga lainnya.
Aish mendekat ke ranjang rawat Satrio, di ikuti Asy dan juga Rahman. Menatap wajah diam yang terpejam rapat dengan beberapa perban di bagian kepalanya. Bahkan posisi tidur Satrio harus di miringkan karna banyak bekas luka di punggungnya.
Aish menangis, tak kuasa membayangkan apa yang sebenarnya menimpa suaminya hingga jadi seperti itu.
"Sabar, Ai. Doakan yang terbaik saja untuk Mas Satrio, insyaallah dia akan segera sembuh." Asy menenangkan aish dengan memeluk tubuhnya erat dari samping.
Asy meninggalkan saudaranya itu sejenak ketika dering ponsel memecah suasana haru yang tengah menyelimuti.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," sapa Asy tanpa melihat siapa yang tengah menelponnya.
"Wa'alaikumsalam, Nak kalian di mana?. Apa Satrio sudah di pindahkan ke ruang rawat?"
Asy menatap ponselnya dan tampaklah nama ibunya di sana.
"Ah iya, Mam. Ini sudah di kamar anggrek nomor lima," tukasnya memberi tahu.
"Baiklah, Mami akan menyusul ke sana sebentar lagi. Oh ya, usahakan jangan sampai ada yang mengatakan ingin menjenguk Satrio ya. Usahakan hanya kalian yang bersamanya sampai nanti Mami dan Papi ke sana."
Asy mengerutkan keningnya karna bingung dengan pesan ibunya, namun sedetik kemudian dia menjadi paham karena terdengar suara ketukan di pintu ruang rawat satrio.
Tok
Tok
Tok
Rahman bergegas membukanya dan samar samar Asy bisa mendengar suara orang yang berada di depan pintu itu.
"Saya teman Satrio, boleh saya menjenguknya?"
Rahman hampir saja mengizinkan jika saja Asy tidak langsung berteriak melarangnya.
"Mas, jangan!"
****
Di tempat lain. Malam sebelumnya.
"Sayang, kamu belum tidur?"
Axel duduk di tepian ranjang, bersebelahan dengan Sarah yang kini tengah duduk diam menghadap ke arah balkon kamar yang terbuka.
Sarah menggeleng, raut wajahnya tampak menyimpan ketakutan.
"Suara itu ... suara itu tadi terdengar lagi, Mas. Aku takut," gumam Sarah di iringi isakan kecil sesekali.
Axel tercenung sejenak, sebelum akhirnya tersadar dan langsung membawa istrinya ke dalam pelukan.
"Sudahlah, jangan di pikirkan ada Mas di sini. Mas akan menemani kamu ya," tukasnya.
Sarah menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, sembari bergumam lirih yang hanya bisa di dengar oleh Axel sendiri.
"Suara itu jelas sekali, Mas. Seperti suara orang yang kesakitan atau tengah di siksa. Apa itu ada hubungannya dengan dinding kamar anak anak yang kita dobel semen?"
Axel mengecup kening Sarah pelan, lalu memeluknya penuh kasih sayang.
"Mungkin saja, tapi semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah yang menimpa keluar kita. Semoga saja dalang di balik semua ini bisa keluar setelah tak lagi bisa mengganggu anak anak kita."
Sarah mengangguk setuju, namun dalam hatinya masih saja menyimpan keresahan yang entah apa alasannya.
"Mas, "panggil Sarah setelah beberapa saat saling diam.
"Hmmm?"
"Apa kamu, tahu sesuatu tentang semua yang terjadi ini?" tanya Sarah lagi.
Axel menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Bisa di bilang, iya. Tapi ... akan lebih baik kalau kamu tidak tahu, sayang. Mas takut kenyataan ini hanya akan membuat kamu semakin ketakutan nanti," pungkasnya.
Sarah mengangkat tubuhnya dari pelukan Axel, dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Apa maksud kamu, Mas? Kamu nggak akan memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ku? Aku istrimu, Mas harusnya kamu membagi semua yang kamu tahu pada ku. Apalagi ini menyangkut keluarga ku, juga anak anakku yang bisa terancam kapanpun." Sarah mulai emosional, beberapa waktu terakhir ini hal itu memang sering terjadi hingga membuat Sarah memilih mengurung diri di kamar agar tidak melukai anak anaknya.
Axel hanya menunduk, tak di pedulikannya kala Sarah berusaha memaksanya bicara dengan mengguncang tubuh dan sesekali memukuli dadanya.
__ADS_1
"Mas tidak bisa mengatakannya sekarang, sayang. Bersabarlah hingga waktunya tiba nanti, waktu dimana kamu tidak lagi selalu di kendalikan emosi. Saat itu, Mas yakin kamu sudah lebih siap menerima kenyataan pahit ini." Axel menangkap tubuh Sarah dalam pelukannya dan menahan pergerakannya di sana, setetes air mata tampak menggenang di pelupuk matanya.