MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 214.


__ADS_3

*Kondisi author lagi kurang fit, jadi maaf ya kalau up babnya kadang suka ngaco. Huhuhu terima kasih yang masih ngkutin sampai sekarang. Kita lanjut lagi ya.


****


"Ya iyalah sayang, kamu kan ikut kali ini. Kamu mau kan? Sesekali nemenin Mas ya. Ya ya mau ya, sekalian jenguk orang tua angkat kamu ke kampung itu, masa iya kamu nggak kangen mereka sih?" bujuk Rahman seperti seorang anak yang tengah merengek meminta mainan pada ibunya.


 Asy mengulum senyum dan mengangguk, setelah itu mulai mengeluarkan koper dan membereskan barang barang dan pakaiannya sendiri yang akan dia bawa untuk menemani suami manjanya itu.


Tok


Tok


Tok


"Asy? Kamu di dalam?" seru suara yang begitu di kenali Asy, ya siapa lagi kalau bukan cerminan dirinya, aish.


"Iya, sebentar Ai!" sahut Asy kemudian beranjak menuju pintu, sedang pekerjaannya di ambil alih oleh sang suami untuk membereskan dan menutup kopernya.


Ceklek


 Pintu terbuka, di depan sana seraut wajah sendu sudah menunggu.


"Sedang apa?" berondong Aish begitu mlihat wajah saudari kembarnya muncul dari balik pintu.


"Tidak ada, hanya sekedar beberes saja kok. Ada apa? Tumben kamu rapi sekali?" kekeh Asy menggoda.


 Wajah Aish seketika bersemu merah.


"Sudahlah, jangan mulai. Oh ya, apa kamu bisa menemani ku ke rumah sakit? Aku ingin melanjutkan kasus almarhum Mas Satrio, setelah di pikir pikir sepertinya benar yang kamu katakan, walau hal itu tidak akan membuat Mas Satrio kembali tapi setidaknya bisa mengobati luka hati karna dengan begitu kita tahu siapa orang yang begitu tega berbuat demikian padanya," papar Aish.


 "Benarkah? Akhirnya kamu setuju'?" ucap Asy dengan penuh semangat.


 Aish mengangguk mantab, tangannya erat memegang tali tas sandang di pakainya.


"Baguslah, aku turut senang dengan keputusan yang kamu ambil. Semoga Allah mudahkan semua urusannya ya," imbuh Asy lagi, doa tulus yang selalu dia panjatkan untuk sang saudari.


"Kalau begitu, apa kamu bisa menemani? Aku tidak yakin akan kuat jika sendiri," pinta Aish pula.

__ADS_1


 Sesaat Asy tercenung, sebelum akhirnya memilih membuka pintu lebar lebar dan mempersilahkan Aish untuk masuk. Tampak di dalam sana Rahman juga tengah sibuk dengan ponsel di tangannya, sangat serius mengetikkan sesuatu.


"Masuklah dulu, aku akan tanyakan pada suamiku." Asy mendahului Aish masuk ke dalam dan mendekati suaminya.


 Aish mengangguk dan melangkah masuk dengan perlahan.


"Mas, bisa aku bicara?" tanya Asy sembari melangkah lebih dekat.


 Rahman mendongak dan tersenyum lembut ke arahnya. "Tentu saja, kamu tak perlu izin untuk itu, dek. Aku akan selalu mengizinkan kamu bicara dan menyampaikan pendapat."


 Ucapan Rahman sukses membuat tak hanya Asy tapi juga Aish mengulum senyum dan menunduk karena tersipu malu.


"Kamu bisa saja, Mas," sambung Asy . "Begini, apa kita akan berangkat sekarang? Kalau masih ada waktu asy mau minta izin menemani Aish dulu ke rumah sakit."


"Rumah sakit? Untuk apa?" tanya Rahman dengan kening berkerut dalam.


"Melanjutkan kasus meninggalnya Mas Satrio, karna kata dokter di sana dia akan membantu Aish mendapatkan pelakunya karena dia punya bukti kalau Mas Satrio meninggal karna di racun dengan sengaja oleh seseorang," beber Asy menjelaskan.


 Sontak Rahman menegang, masih teringat jelas di benaknya kala dia di minta mengawasi lebih dulu ke rumah sakit kala itu. Ed langsung memintanya menemani Satrio, namun sebenarnya semua sudah terlambat orang yang melakukan semua itu sudah melakukan tugasnya lebih dulu sebelum mereka menyadari.


"Mas? Mas? Kamu melamun? Mas?" panggil asy sembari menggoyang pelan lengan bagian atas Rahman.


"Kamu kenapa, Mas? Kok malah seperti tegang begitu? Kamu sakit?" tanya asy lagi.


Cepat Rahman menggeleng dan sedikit beringsut memperbaiki posisi duduknya.


"Ah, tidak kok. Mas hanya ... sedikit terkejut saja. Oh ya, maaf tapi sepertinya kamu tidak bisa pergi bersama Aish kali ini. Karna baru saja kepala desa tempat Mas akan mengisi acara itu mengirimkan pesan kalau mobil yang akan menjemput sudah sampai di kota ini," terang Rahman sejujurnya.


 A


 Asy menghela nafas panjang, lalu berbalik menatap Aish yang pastinya juga sudah mendengar ucapan suaminya.


" Ya sudah , tidak apa kalau begitu Asy. Lain kali saja kalau begitu, aku juga tidak tahu tadi kalau kamu punya jadwal lain. Kalau begitu ... aku keluar dulu ya." Aish mengulas senyum tipis.


"Aish tunggu," sela Asy.


 Aish yang baru saja sampai ke ambang pintu berbalik dan menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Kenapa, Asy?"


 Asy berjalan mendekat dengan langkah lebar, dan mendapati saudarinya itu.


"Maaf untuk kali ini, tapi aku janji setelah ini akan menemani kami kemana pun itu nanti."


Aish mengangguk dan tersenyum lebar mengiyakan, membuat hati Asy lega karenanya.


"Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau ... kamu pergi bersama Mas Hendro saja? Ini akhir pekan dan biasanya dia hanya akan bekerja setengah hari saja kan?" Saran Asy memberi ide.


 Tampak wajah Aish memerah namun dia berusaha menyembunyikannya dari Asy.


"A- aaa... mungkin aku akan lebih memilih menunggu kamu pulang saja," pungkasnya lalu langsung berlalu dari hadapan Asy, sebab wajahnya yang semakin merah dan menghangat.


****


"Siap berangkat?" tanya abdi, yang lagi lagi di minta sang bapak untuk menjemput Rahman di kota.


 Kini mereka sudah ada di dalam mobil, bersiap menuju ke kampung tempat dimana selama lima tahun terakhir waktu itu Asy tinggal.


"Bismillahirrahmanirrahim, insyaallah sudah, Mas. Hati hati saja bawa mobilnya ya." Rahman menimpali.


 Abdi mengacungkan jempolnya ke pada mereka dan mulai menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.


"Neng Asy sudah lama sekali nggak pulang ke kampung, neng. Sekarang di kampung teh lagi heboh tahu," ujar Abdi membuka percakapan.


 Asy mengerutkan keningnya. "Heboh? Heboh kenapa kang?"


Abdi kembali melanjutkan ceritanya dengan penuh semangat. "Iya, heboh. Soalnya si Juli sudah melahirkan."


"Perkara melahirkan saja kok heboh sih, kang?" kekeh Asy tak habis pikir.


"Eeehhh, denger dulu atuh belum selesai ini saya bicaranya. Main potong potong wae ah," protes abdi dengan wajah senewen.


 Asy tertawa lepas melihatnya, dulu Abdi memang di kenal dengan wataknya yang humoris dan menyenangkan. Itu sebabnya Asy tak begitu memperhatikan jika wajahnya menunjukkan roman roman akan marah sebab itu tidak akan terjadi.


"Ya sudah, silahkan di lanjutkan ceritanya Mas abdi." Rahman yang menjawab ucapan abdi tak lupa dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Nah jadi begini, kan si juli teh sudah di talak sama Mas Alam. Setelah itu dia jadi kayak agak stress gitu suka jalan jalan sendiri terus ngomong sendiri juga, nah setelah keluarganya mas Alam teh pindah dari kampung kita tanpa membawa serta Mbak Juli di waktu itu mbak Juli melahirkan di rumahnya, sendirian. Untung saja ada orang yang mendengar suara bayinya jadi si bayi masih selamat, kalau nggak mungkin Mbak Juli sudah ....."


__ADS_2