MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 141.


__ADS_3

" Kembalian saya mana?"


 Sang supir tampak salah tingkah, dia membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil seakan akan tidak mendengar ucapan Satrio.


"Laki laki jaman sekarang, tahunya cuma ngegombal aja, jemput cewe depan gang aja bangga. Motor masih punya orang tua di pake kebut kebutan, masih kecil udah pinter ngerokok udah pinter ngibul, mending juga kalo pinternya nyari duit. Bermanfaat, lha ini pinter morotin uang orang tuanya doang, kalau nggak ya morotin uang anak orang," oceh supir itu entah bicara pada siapa.


 Satrio yang geram pada akhirnya terpancing emosi jua, dengan gerakan cepat dia menarik kerah baju di supir dari kursi belakang dan menahannya di sandaran jok hingga leher supir itu terasa tercekik.


"Mas!" seru Aish terkejut, dia beringsut mundur hingga terpojok di sudut pintu mobil yang masih tertutup.


"Aarrtghhhhhhh, lepaskan!" pinta supir itu dengan suara serak dan tangan yang menggapai gapai hendak meraih kepala Satrio, wajahnya memerah dengan urat urat yang bersembulan dari balik pelipisnya.


"Berikan uang kembaliannya, sekarang!" bentak Satrio yang sudah di kuasai amarah.


 Supir itu masih ngeyel, dan malah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman Satrio.


 Kesal tak kunjung mendapat respon akan haknya, Satrio semakin menarik kerah baju supir itu ke belakang hingga wajah si supir tampak mulai memucat karna kekurangan oksigen.


"Mas, sudah! Nanti kamu kena masalah, Mas!" seru Aish yang mulai panik.


 Namun untungnya saat itu kondisi di sekitar tempat itu sedang sepi dan lengang, hingga tak ada yang memergoki kejadian tersebut.


"Iya, setelah orang ini memberikan hak kita kembali," sahut Satrio dengan nada kesal.


 Supir itu tampak mulai kepayahan, akhirnya dengan lemas dia merogoh kantong bajunya dan memberikan lembaran uang hijau dan abu abu ke tangan Satrio.


. Dengan kesal Satrio merampas uang itu dan melepaskan cengkramannya di baju si supir.


 Supir itu terbatuk-batuk dan menarik nafas dengan rakus seakan hendak menghabiskan seluruh persediaan oksigen di planet ini seorang diri.


"Makanya jangan cari gara gara, udah tua juga hobinya nyari rejeki nggak halal, apa berkah itu yang di makan anak istrinya?" sindir Satrio membalas ucapan si supir yang sejak tadi menyindir habis habisan.


 Supir itu tidak menjawab, hanya sibuk menarik nafas dan menghembuskannya lagi agar paru parunya lekas membaik belum lagi jantung dan otaknya yang terasa blank akibat cekikan tadi.

__ADS_1


"Ayo, Aish. Kita turun," ajak Satrio lalu mendahului aish turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil yang di sebelah Aish.


Greb


 Brakkk


 Satrio sengaja membanting pintu mobil itu untuk mengekspresikan kekesalannya pada si empunya, entah itu mobil milik si supir pribadi atau apa dia tak peduli yang jelas Satrio amat sangat kesal dengan pengalamannya malam ini.


"Mas, sudah. Istighfar, Mas." Aish mengelus lengan Satrio.


 "Astaghfirullah," gumam Satrio sambil menarik nafas panjang guna menetralkan perasaannya yang tengah emosi dan meledak ledak, andai saja tak ada aish tadi di dalam mobil itu mungkin saja supir itu sudah habis di tangan Satrio.


 Tak lama berselang mobil berwarna putih itu akhirnya berjalan menjauh dengan kecepatan sedang, mungkin si supir baru bisa mengontrol perasannya setelah peristiwa yang pastinya akan mengguncang jiwanya juga itu.


 Lagian cari lawan nggak lihat lihat dulu, kan nggak semua orang yang kali kesal sama seseorang bisa mengikhlaskan saja uang kembaliannya untuk orang itu karena enek lihat mukanya lama lama. Akhirnya kena batunya deh itu supir curang yang sengaja memancing emosi penumpangnya supaya si penumpang kesal dan melupakan uang kembaliannya.


"Loh, Satrio? Ngapain berdiri di pinggir jalan begini?". tanya Axel yang baru saja keluar dari dalam rumahnya untuk pergi ke minimarket depan komplek karna harus membeli sesuatu.


 Satrio dan Aish berbalik dan tersenyum menatap Axel.


 Hati Satrio yang sebelumnya masih dongkol karna peristiwa yang baru saja menimpanya langsung menguap begitu saja setelah bertemu Axel yang begitu menjadi idolanya semenjak bekerja untuknya selama ini.


Sosoknya yang lembut dan penyayang keluarga membuat Satrio bercita-cita untuk menjadi sosok seperti Axel, belum lagi sikap dermawan nya yang sangat jarang di ketahui orang lain menjadi nilai plus tersendiri bagi Satrio untuk meniru bosnya itu.


"Ayo masuk," ajak Axel sambil berbalik menuju rumahnya.


Ceklek.


 Axel membuka pintu dan sudah di sambut oleh tiga pasang mata yang terlihat tengah duduk bersama di depan televisi besar di ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang tamu.


"Kok balik lagi, Mas?" tanya Sarah yang baru datang dari dapur dan meletakkan sebuah nampan berisi camilan untuk anak anaknya di atas meja.


"Iya, coba lihat dulu siapa yang datang, sayang." Axel menyingkir dari ambang pintu dan membiarkan Satrio dan Aish masuk.

__ADS_1


 Sarah dan triplets bersamaan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang, dan sedetik kemudian Sarah berlari menyongsong gadis yang selama ini dia rindukan dalam diam itu.


"Ya Allah, Aish? Ini benar kamu?" ucap Sarah tergugu, mata indahnya tampak berkaca-kaca.


 Ayuna yang melihat mantan pengasuhnya saat kecil itu berlari pula dan memeluk kaki Aish dengan tangan kecilnya.


"Mbak Ai," gumamnya sambil mendongak menampakkan mata beningnya yang tak berubah sejak dia masih bayi.


 Aish berjongkok, menyusut sudut mata yang basah dan tersenyum lebar menatap anak manis yang dulu masih bayi saat dia tinggalkan. Wajahnya tak banyak berubah kecuali ukurannya yang semakin membesar. Ah elah, bahasamu nggak estetique banget sih, Thor?


"Mama, Mbak Ai?" Ayuna mendongak menatap Sarah yang mengangguk padanya dengan mata basah oleh air mata.


 Aish menatap Sarah pula seolah meminta penjelasan kenapa anak sekecil Yuna bisa mempunyai nama panggilan untuknya? Sedangkan saat di tinggalkan dulu Ayuna bahkan baru bisa tengkurap.


"Dia sering lihat foto kamu sama dia waktu bayi di hape Mbak," jelas Sarah seolah tahu isi pikiran Aish.


.


Aish tersenyum haru, lalu tanpa ragu ragu lagi dia membawa Ayuna ke dalam pelukannya. Memeluknya erat dan menghidu aroma cologne yang menguar dari tubuh Ayuna, cologne yang sama dengan yang selalu dia pakaikan ke tubuh ayuna saat masih bayi dulu.


 Setelah beberapa saat berpelukan, Aish mengangkat Yuna dalam gendongannya, dan Sarah mengajak mereka semua masuk.


"Mama, Mbak Ai cantik ya. Sama kayak di foto," celetuk Ayuna sambil memegangi pipi aish yang kemerahan karna malu.


 Satrio pun dengan pedenya malah melingkarkan tangannya ke pundak Aish.


"Iya dong, calon istri Oom ini loh, dek Yuna."


 Aish tersipu malu, sedangkan yang lain hanya tertawa menanggapi ucapannya.


 Tak lama setelah Sarah kembali dari dapur membawa minuman dan makanan kecil untuk mereka, Axel mulai berkata serius pada mereka, Aish dan Satrio.


"Syukurlah kalian langsung datang malam ini, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada kalian. Dan saya harap kalian sudi membantu saya dan istri saya."

__ADS_1


 Satrio mengerutkan keningnya dalam, begitu pula Aish yang menunggu dengan dada berdebar.


"Bantuan? Bantuan apa, bos?" tanya Satrio akhirnya.


__ADS_2