MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 37.


__ADS_3

"Aargghhh, sial! Sial! Sial!" Jeni mengamuk di rumahnya dan membanting berbagai barang yang bisa dia temukan.


Setelahnya rumah yang sudah berantakan itu, semakin nampak kacau dan tak karuan dengan berbagai macam benda yang berserak tidak pada tempat. Juga banyak sekali sampah bungkus makanan yang di tumpuk jadi satu di salah satu pojok rumah.


"Dasar perempuan culun sial*n! Bisa-bisanya dia menghina aku di sana? Memangnya sekaya apa calon suami barunya yaitu sampai berani menginjak harga diri orang lain? Dasar wanita sampah!" maki Jeni sambil menatap cermin retak yang ada di kamarnya.


"Jen ... Nak, kamu kenapa?" tanya sebuah suara lirih nan serak yang merupakan suara abahnya.


Pria tua yang punggungnya sudah mulai bungkuk itu melongokkan kepalanya ke dalam kamar Jeni, dan menggelengkan kepala lemah melihat kondisi kamar yang tak ubahnya gudang itu.


Tak jauh berbeda dengan ruangan lain, kamar Jeni menjadi tempat yang paling berantakan di rumah itu, semua baju miliknya berada di luar lemari, dan berbagai botol skincare dan bodycare yang berserak di mana-mana.


"Nggak usah banyak tanya, pergi sana!" hardik Jeni mengusir Abah nya yang tampak khawatir itu.


"Ya Allah, Jen. Sadar, Nak. Jangan seperti ini terus, kalau kamu nggak pernah berhenti bersikap angkuh dan sombong begini selamanya hidup kamu bakalan kacau, Nak." Abah Abdul mendekat dan mencoba meraih rambut Jeni yang tergerai kusut karna dia menarik ikat rambutnya sepulang kerja tadi.


"Diam! Nggak usah banyak bac*t! Jeni sampai jadi kayak gini juga gara-gara Abah sama emak kan? Kenapa sih kalian harus nikahin Jeni sama Bang Adam dulu? Harusnya itu kalo mau nikahin Jeni sama laki-laki yang kaya! Bukan yang kere kayak Bang Adam! Lihat aja sekarang, Jeni harus kerja sendiri sedangkan dia pergi nggak tau kemana." Jeni merubuhkan tubuhnya ke kasur dengan nafas terengah-engah menahan emosi yang menggelegak dalam dadanya.


Jeni memang tidak jujur mengatakan pada ke dua orang tuanya kalau Adam(Axel) sudah menjatuhkan talak padanya dan kini mereka sudah resmi bukan suami istri lagi. Jeni hanya bilang kalau suaminya pergi meninggalkannya tanpa alasan, dan sampai kini orang tuanya sama sekali tak tau alasan mereka berpisah yang sebenarnya.


"Doakan saja suamimu supaya lekas sadar dan pulang, Nak. Tidak baik mengumpat dan marah-marah terus seperti ini. Lihat kondisi kamu sekarang, kamu bahkan lebih menyedihkan ketimbang dulu saat masih bersama Adam," sesal Abah Abdul mendengus kasar.


"Halah! Abah itu nggak tau apa-apa! Nggak sok sokan nasehatin Jeni dan ngatur-ngatur hidup Jeni, masih untung Jeni masih inget sama kalian dan masih mau nampung kalian. kalau nggak? Memangnya mau kalian mati kelaparan di gubuk jelek itu?"


"Tapi kan, Jen ...."

__ADS_1


"Jeni bilang udah! Sana keluar! Ngapain kek, beres-beres rumah kek jangan taunya tiduran aja sambil nunggu jatah makan!" lagi Jeni membentak abahnya dan membuat pria tua yang sudah tak kuat bekerja itu meneteskan air matanya sambil berlalu keluar.


"Bilang juga sama emak! Jangan tidur aja kerjaannya, ini rumah di beresin kalau masih mau tinggal di sini dan makan uang aku!" Jeni berteriak lagi seakan tak puas sudah melukai hati abahnya.


"Tapi emakmu kan lagi sakit, Jen. Mana kuat dia beresin rumah ini," desah Abah Abdul lirih, matanya menyapu seluruh ruangan yang lebih cocok di bilang tempat sampah ketimbang rumah tinggal.


Padahal saat masih ada Adam (Axel) padahal rumah itu selalu bersih dan wangi, tanpa debu sedikit pun yang menghiasi barang di dalamnya.


"Jeni nggak peduli, sekarang Jeni mau pergi dan Jeni mau saat nanti Jeni pulang rumah udah harus bersih! Kalau nggak, Jeni nggak bakal beliin makanan buat Abah sama Emak!"


Setelah berkata demikian Jeni lekas berlalu menuju keluar rumah sambil menenteng tas tangannya dan sepatu high heels di tangan satunya.


"Dasar orang tua merepotkan! Hidup ngerepotin, nanti mati juga nggak bakal bisa ngasih warisan. Huh! Apes banget sih hidup!" gerutu Jeni sambil memakai sepatunya dan kemudian memoles wajahnya dengan bedak setebal aspal jalanan.


Sebenarnya Mak Onah sudah mendengar semua perdebatan antara suaminya dan Jeni, dan betapa hancur hatinya mendengar kalau anak semata wayangnya mempunyai pemikiran yang picik dan angkuh.


"Ah, nggak papa, Mak. Udah Emak istirahat aja ya, Abah mau beresin rumah sebentar sudah kotor banget, Abah nggak betah," ujar Abah Abdul sambil keluar dari kamar dengan terbungkus dan perlahan sambil berpegangan pada dinding dia mencari sapu dan pengki di dapur.


Mak Onah meneteskan air matanya, ingin sekali rasa hatinya membantu suaminya yang sudah tua renta itu, tapi apalah daya tubuhnya dan lemah dan sakit membuatnya hanya bisa pasrah di pembaringan.


Krucuukkkk


Mak Onah memegangi perutnya yang terasa keroncongan, mungkin Jeni lupa entah memang sengaja. Sejak kemarin dia baru memberi orang tuanya makan satu kali, itupun hanya sebungkus nasi Padang sepuluh ribuan yang harus di bagi dua untuk Abah dan Emaknya.


"Ya Allah, akan lebih baik kalau Engkau ambil kami kembali pada-Mu. Kehidupan di dunia hanya membuat kami semakin tersiksa, kapan Jeni bisa mendapat hidayah- Mu, ya Allah?"

__ADS_1


Mata Mak Onah tertutup, seiring air mata yang meleleh pelan membasahi wajah keriputnya.


****


"Kenapa lama sekali sih?" hardik seorang pria buncit dan botak dengan kumis khasnya yang dipelintirnya dengan dua jari.


Matanya yang besar itu melotot melihat Jeni yang baru sampai dengan penampilannya acak-acakan.


"Maaf, Om. Tapi Jeni kan baru pulang kerja, ya mana Jeni tau kalau kerja di sana itu pulangnya sampai sesore ini," dalih Jeni sambil memegang tangan gemuk pria itu.


Pria yang sama dengan yang di lihat Sarah beberapa hari lalu. Dan pria itu juga yang kini menjadi pelanggan tetap Jeni setelah masuk ke rumah bordil milik Tante temannya.


Desakan ekonomi jugalah yang akhirnya membuat Jeni memilih jalan sesat itu untuk menjadi ladang uangnya. Walau pria tua buncit itu, seringkali membuatnya kesakitan dengan fetisnya.


"Udah cepetan masuk, kamu bikin mood saya kacau. Dengan begitu berarti kamu harus di hukum." Pria itu tersenyum sinis sambil melirik Jeni, sedangkan yang di lirik hanya diam sambil mengusap tengkuknya yang terasa merinding.


"Aduh, gawat. Alamat besok harus beli obat pereda nyeri lagi ini.' Jeni mengeluh di dalam hati.


Namun tak ada pilihan lain, hanya ini jalan yang bisa di ambil Jeni untuk bisa tetap bertahan hidup karna hanya pria itulah yang masih mau memakainya.


"Bersiaplah, Jen. Nikmati hukuman mu!"


Ctarrr


Sebuah sabetan ikat pinggang mengenai tubuh polos Jeni, dan pria buncit dengan tubuh penuh bulu menjijikkan itu tertawa terbahak menyaksikan lawan mainnya kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2