MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 125. S2


__ADS_3

Asiyah, Rahman dan Alam pun turun. Melihat dari luar banyak sekali santri putra dan santri putri yang tampak sibuk berlalu lalang di dalam pondok, seperti menyiapkan ini dan itu.


"Om Rahman!" seru seorang anak laki laki yang tak lain adalah Abbas, bocah itu berlari kecil dan masuk ke dalam gendongan Rahman.


"Hei, jagoan. Ini ada apa? Kok di rumah Abbas ada tenda?" tanya Rahman sembari menunjuk tenda di hadapan mereka itu.


.


Belum sempat Abbas menjawab, Asiyah yang sejak tadi memperhatikan mereka langsung menyela.


"Jadi jni Abbas, Kak? Yang dulu masih bayi itu?" tanyanya dengan tatapan mata terpana.


Rahman mengangguk dan tersenyum simpul.


"Om Rahman, ini siapa?" tanya Abbas sambil memindai Asiyah dari atas hingga bawah, karna maklum saja kalau dia tidak ingat saat Asiyah pergi dari pondok Abbas bahkan belum berumur setahun.


"Ini namanya bibi Asiyah, bibinya Abbas juga." Rahman menjawab.


Abbas mengulurkan tangan kecilnya pada Asiyah, mengerti maksud bocah pintar itu Asiyah langsung menyambut tangan kecilnya dan abbas pun mencium punggung tangan Asiyah.


"Aduh, pinternya keponakan bibi." Asiyah mencubit gemas pipi Abbas, membuat bocah itu sedikit tak nyaman karna tak suka pipinya di sentuh..


"Jangan begitu, bibi Abbas nggak suka." Abbas cemberut sambil menggoyangkan tangannya, kepalanya juga ikut bergoyang goyang lucu menyatakan ketidaksukaannya.


"Hei, jangan terlalu kasar pada kecil. Apalagi anak orang lain, nanti orang tuanya marah lagi kamu cubit pipinya. Harusnya kalau kau cubit itu pipi anak sendiri," celetuk Alam ambigu.


Asiyah mengerutkan keningnya heran.


"Maksudnya?"


Alam berdecak.


"Ya bikin anak sendiri lah."


Rahman tertawa kecil mendengar ucapan Alam, walau tak di pungkirinya kalau ada sudut hatinya yang tak terima mendengarnya.


Asiyah tampak tak enak pada Rahman, tampak dari tatapannya yang mendadak lebih banyak menunduk.

__ADS_1


"Abbas, Abbas ... le ..., dimana kamu?" panggil seseorang dari dalam pondok, sepertinya mencari cari si bocah lelaki pintar itu.


"Abbas di sini, Bah. Sama om Rahman!" sahut Abbas dengan suaranya yang melengking.


Orang yang tadi memanggil Abbas yang tak lain adalah Gus Musa terkejut saat melihat keluar gerbang ternyata sudah ada Rahman dan asiyah juga seorang pria yang belum di kenalnya ada di sana.


"Gus," sapa Rahman menundukkan kepalanya.


"Loh, kamu sudah sampai, Man? Ini juga kok bisa kebetulan ada Asiyah ke sini, Alhamdulillah kebetulan sekali." Gus Musa menyalami mereka semua termasuk Alam yang masih saja memasang wajah jutek karna diam diam cemburu dengan sang istri.


"Ya ampun ,lima tahun nggak ketemu kamu makin cantik ya, As. Makin kesemsem kayaknya ini," imbuh Gus Musa sambil melirik Rahman dengan alis di naik turunkan..


Rahman hanya tersenyum kecut, namun enggan menanggapi karna apa di harapkan masih belum di restui oleh takdir.


"Eh, ini kok ngomong ngomong kalian bisa barengan sampenya bagaimana ceritanya?" tanya Gus Musa lagi.


"Saya nebeng mobilnya Mas Alam, Gus. Beliau orangnya," tunjuk Rahman pada Alam yang sejak tadi enggan bicara itu.


Gus Musa menganggukkan kepalanya, lalu mengajak mereka semua untuk masuk. Melewati tenda besar itu dan menyapa beberapa santri yang lewat sambil membawa beberapa barang dan kesibukan masing-masing.


"Gus, ini mau ada apa?" tanya Asiyah sembari mensejajari langkah Gus Musa yang tegap.


"Kecil kecilan kok sampe bangun tenda balon," celetuk Alam, namun matanya sibuk memindai semua dekorasi yang indah itu.


Gus Musa tersenyum kecil.


"Ah, iya. Jadi namanya apa ya, mau di bilang besar besaran juga nggak bisa soalnya kami nggak ngundang Pak presiden ke sini. Jadi yah, kecil kecilan saja lah ya."


Alam manggut-manggut dengan alis terangkat keduanya, persis seperti artis Reza Rahadian kalau sedang berpikir.


Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu ndalem' yang sejak dahulu tidak berubah, Asiyah senang sekali setelah bertahun-tahun akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di rumah yang begitu di rindukannya.


Abbas langsung berlari ke dalam rumah mengikuti langkah Gus Musa, tak lama mereka kembali lagi bersama Jeni yang kini membawa sebuah nampan di tangannya.


"Asiyah, ya Allah makin cantik saja kamu. Subhanallah, Mbak kangen sekali." Jeni meletakkan nampan itu di hadapan mereka dan langsung memeluk Asiyah.


"Mbak Jen ... Asy juga kangen banget, Mbak. Mbak juga makin cantik, mbak apa kabar?" sahut Asiyah memeluk Jeni erat.

__ADS_1


Jeni melerai pelukannya dan menangkup wajah Asiyah masih dengan tatapan tak percaya.


"Alhamdulillah, Mbak sehat kamu sehat kan? Gimana kabar orang tuamu?"


"Alhamdulillah, semua sehat, Mbak."


"Syukurlah kamu kembali, ada yang selalu galau menunggu kamu sejak kamu pergi," bisik Jeni sambil melirik Rahman dari sudut matanya. Namun anehnya Asiyah justru tersenyum kecut dan malah menunduk.


Mereka pun duduk walau masih saling terharu, namun sejurus kemudian barulah Jeni menyadari kalau ada orang asing yang baru di lihatnya ikut duduk di antara mereka.


"Maaf, kalau boleh tahu Mas ini siapa ya?" tanya Jeni sopan.


Asiyah mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk, dan menjawab pertanyaan Jeni dengan suara lirih.


"Ini Mas Alam, suamiku Mbak."


Degh.


Mata Jeni tampak membulat sempurna, dia menatap Asiyah tak percaya lalu beralih ke pada Rahman yang hanya diam menunduk dan terakhir pada Gus Musa yang hanya balas menatapnya dengan tatapan prihatin.


"Ekhem!"


Merasa di cuekin, Alam pun berdehem. Membuat mereka semua yang ada di sama terjingkat kaget.


"Ada apa sih? Kok malah pada diem? Ada yang salah?" imbuh Alam lagi, masih dengan wajah juteknya yang mendarah daging.


Cepat Jeni menggeleng dan mengambil secangkir teh yang dia buat tadi dan meletakkannya di hadapan Alam.


"Ah, tidak ada apa apa. Saya cuma kaget saja karena Asiyah tiba-tiba sudah menikah padahal tidak ada undangan apa apa yang sampai ke sini," kekeh Jeni berusaha mencairkan keadaan.


"Mau di undang pun memangnya bakalan datang? Jarak dari desa kami ke kota ini saja sudah hampir lima jam, di tambah jalan yang sebagian masih rusak. Yakin mau bela belain datang kalau kami kasih undangan?" sahut Alam terdengar menyindir.


Jeni terpana mendengar ucapan Alam yang sangat jauh di luar ekspektasinya itu, dia hanya bisa melongo menyaksikan adanya lelaki bermulut julid seperti itu.


.


Sadar perkataan suaminya tak pantas, Asiyah cepat ambil tindakan. Dia mencubit pinggang Alam dari belakang, hingga pria berwajah jutek itu mengaduh kesakitan.

__ADS_1


"Awww, Asy sakit." Dia berbisik di telinga Asiyah karna tak ingin membuat orang orang tahu kalau dia kesakitan, takut reputasi wajah juteknya luntur sepertinya.


"Rasain! Makanya kalo ngomong pake saringan, jangan asal njeplak aja!" balas Asiyah menggeram lirih sambil menguatkan cubitannya.


__ADS_2