
"Mama!" seru si kembar berbarengan ketikan baru saja masuk ke dalam rumah dan mendapati Sarah dan Sonia tengah duduk di ruang tengah.
Sarah membelalak tak percaya, namun sejurus kemudian tepukan di pundaknya membuatnya sadar kalau semua itu nyata.
Azkara dan Adam langsung menghambur ke pelukannya, menangis bersama dan mengungkapkan rindu yang begitu dalam.
"Azka! Adam!" seru Ayuna yang datang dari lantai atas, lalu berlari pula menyambut dua saudara kembarnya dengan penuh suka cita.
Air mata bahagia mewarnai ruang tengah itu, Andrew yang baru keluar dari kamarnya pun langsung menangis haru melihat ke dua cucunya yang begitu dia cemaskan kini sudah ada di depan matanya.
"Mama kangen sekali sama kalian, Nak. Ya Allah, kalian kemana saja? Mama cemas sekali sama kalian." Sarah tergugu tanpa mau melepaskan pelukannya dari tubuh anak anaknya sedikit pun.
"Iya, Azka ... Adam. Ayuna juga kangen sekali main sama kalian, kalian kemana aja sih kok baru pulang sekarang? Kasian Mama tahu, nangis terus tiap hari mikirin kalian," pungkas Ayuna di sela pelukan ketiganya.
"Azkara sama Adam di ajak main sama om pake jaket hitam ke rumahnya, Ma. Main sama anaknya, namanya Rio. Rio itu kasihan loh, Ma masa makan telur saja dia jarang. Kasihan kan, Ma? Jadi kemarin Azka kasih telur punya Azka buat Rio, Ma rionya kelihatan seneng banget loh, Ma," celoteh Adam membeberkan apa yang terjadi saat mereka di rumah Lira beberapa hari yang lalu.
"Oh ya? Syukurlah kalau begitu, semoga orang yang baik sama kalian bisa dapat balasan kebaikan juga," timpal Sarah tak begitu memperhatikan tentang siapa yang sudah menculik anaknya dan merawat mereka saat di culik. Yang ada di kepalanya saat ini hanya yang terpenting anak-anaknya sudah kembali dan sudah ada di pelukannya lagi.
"Ngomong ngomong, Papa kalian dimana anak anak?" sela Andrew karna sejak tadi tak melihat adanya Axel masuk ke dalam rumah.
Azkara menoleh dan menjawab pertanyaan sang kakek. "Tadi masih di mobil, Opa. Katanya Azka sama Adam di suruh masuk dulu nanti Papa nyusul, begitu kata Papa tadi, Opa."
Andrew tiba tiba merasa batinnya tak tenang, dengan perasaan was was dia beranjak menuju ke teras untuk melihat dimana gerangan Axel berada.
Hening, tak tampak siapapun yang ada di sana. Baik di teras ataupun garasi yang sudah terparkir mobil yang di pakai Axel sebelumnya. Namun entah kemana pengemudinya pergi setelah memarkirkan mobil tersebut.
Masih penasaran, Andrew mengitari sekitar garasi, dan betapa terkejutnya ia kala mendapati tubuh sang anak sudah terkapar bersimbah darah di belakangan garasi.
"Tiidaaaakkkk! Axel!!" teriaknya histeris.
Suara teriakan Andrew yang melengking membuat Sonia bergegas menyusulnya, sedangkan Sarah dan ketiga anaknya dia minta masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Sonia was was, berlari kecil mencari keberadaan suaminya yang kini terdengar menangis sesenggukan.
"Pa? Ada ap ... Astaghfirullah! Ya Allah, Axel!" Sonia berlari cepat dan memeluk tubuh Axel yang entah kenapa bisa sampai dalam keadaan itu sekarang.
"Ma, cepat panggil ambulan. Axel butuh pertikaian segera," titah Andrew yang sedang berusaha membalik tubuh axel yang tengkurap dan membawa kepalanya untuk berada di pangkuannya.
Sonia mengangguk paham, cepat berlari ke dalam rumah dan menghubungi rumah sakit terdekat untuk meminta ambulan menjemput. Tak lupa, Sonia juga sekalian menelpon polisi untuk menyelidiki siapa pelaku penyerangan terhadap anaknya tersebut.
Setelah itu, bersama beberapa anak buahnya Andrew mengangkat tubuh Axel ke teras rumah yang lebih lega dan bersih. Sonia memberi sebuah bantal dan waslap untuk mengelap darah di tubuh putranya, rupanya luka Axel tak hanya satu melainkan seperti sayatan benda tajam di lengan dan kakinya yang seolah sedang berusaha mempertahankan diri dari serangan bertubi-tubi dari seseorang.
Untungnya tak berapa lama kemudian ambulan datang, lekas Sonia mendampingi Axel ke rumah sakit, sedang Andrew menunggu di rumah untuk memberi keterangan di nanti pada pihak kepolisian agar bisa membantu menyelidiki kasus ini.
"Bertahanlah, Nak." Sonia berbisik di telinga Axel, air matanya kembali tumpah ruah setelah tadi pun menangis karna bahagia para cucunya sudah di temukan. Kini dia kembali menangis karna takut kehilangan sang putra untuk yang ke dua kalinya.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat lama, terlebih karna lajur yang seharusnya aman dan lancar untuk ambulan kini malah tertutup oleh kemacetan yang sangat sulit di uraikan.
Sonia terus berdoa di dalam hati, berharap keselamatan sang anak dan kesembuhannya pula.
Hampir tiga puluh menit lamanya ambulan akhirnya sampai juga di pelataran rumah sakit, perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu tak lebih dari lima belas menit kini bertambah dua kali lipat karena kemacetan panjang.
Axel langsung di tangani, sedangkan Sonia menunggu di depan ruangan tindakan dengan penuh harap.
"Ya Allah, selamatkan putraku," isaknya pilu.
__ADS_1
****
Di tempat lain.
"Bagaimana kali ini?"
"Beres, bos. Semua berjalan kembali sesuai rencana, keluarga itu sepertinya sangat bo doh dan mudah di perdaya. Buktinya sudah berkali kali kita mencelakakan anggota keluarga mereka dan selalu berhasil walau sulit. Dan lucunya lagi, bahkan tak ada yang bisa mengendus jejak kita, bos. Padahal kita sangat dekat," pria bertopeng joker itu terkekeh-kekeh di balik penyamarannya.
Pria botak yang di panggil dengan sebutan bos itu ikut tertawa, mula mula perlahan dan lama kelamaan menjadi lebih keras dan membahana. Dia senang, bahagia karna semua dendamnya perlahan terbalaskan satu demi satu dengan sangat mudah. Hampir tak ada yang bisa menangkapnya dan mengungkap kasusnya walau itu polisi dan detektif sekalipun. Dia yakin, dia optimis akan bisa membalaskan semua dendam yang membara di dalam hatinya sejak lama itu.
"Sudah terlalu lama, terlalu lama aku memberi kalian waktu untuk menikmati hidup kalian yang nyaman dan tentram itu. Kehidupan yang kalian dapatkan dari hasil merampas milikku! Kehidupan ku! Dan semua harta yang seharusnya menjadi milikku. Sekarang, giliran ku. Tak akan aku biarkan kalian hidup tenang sampai semua yang seharusnya menjadi milikku kembali lagi padaku, kalian harus ingat itu. Dan bersiaplah, untuk lebih banyak kejutan lagi yang akan aku hadirkan dalam kehidupan kalian, selamat menikmati."
****
Sementara itu.
"Jadi ... jadi benar kalau sebenarnya suami saya meninggal karena di bunuh, Dok? Maksud saya ... Ada seseorang yang sengaja memasukkan racun ke dalam tubuhnya dan membuat almarhum kehilangan nyawanya, begitu?" tanya Aish dengan raut wajah syok, bagaimana tidak? Baru saja dia mendapatkan kabar kalau kematian Satrio adalah karena di segala oleh seseorang, dan bukan murni karena keracunan semata. Ada orang, yang memang menginginkan kematiannya.
"Yah, demikian lah kenyataan yang kami dapati, Nona. Saya sendiri juga heran untuk apa seseorang ingin melenyapkan orang lain dengan cara seperti itu, sungguh tragis sekali." Dokter yang menangani Satrio sebelumnya mendesah berat dan memasang wajah penuh penyesalan. Walau semua yang terjadi bukanlah salahnya tapi melihat mendung bergelayut di wajah keluarga pasien yang meninggal dalam penanganannya membuatnya ikut merasa sedih.
"Lalu ... saya harus bagaimana menanggapi ini?" Aish mulai terisak.
Dokter pria itu bernafas panjang, di tatapnya wajah sendu perempuan yang baru saja resmi menyandang status janda di usia muda itu dengan nelangsa.
"Semua kembali pada Nona, kalau Nona ingin kasus ini di periksa oleh polisi saya siap menberikan bukti bukti sesuai yang saya temukan saat memeriksa pasien beberapa waktu lalu."
Aish mengangkat wajahnya sedikit, gelayut kesedihan masih tampak pekat di wajahnya yang sendu.
Tak tega, dokter itu mengangsurkan selembar tisu ke hadapannya. Dan langsung di terima Aish sembari mengucapkan terima kasih.
"Tapi ... jikalau pun saya melaporkan hal ini, apa untungnya lagi buat saya, dok? Toh, suami saya sudah meninggal. Di tangkap atau tidaknya pelaku tersebut tidak akan merubah apapun. Suami saya tidak akan bisa hidup lagi," tutur Aish putus asa.
Aish menarik nafas dalam, membenar apa yang di katakan dokter itu mungkin saja ada benarnya.
"Tapi ... di situasi sekarang, saya rasa belum saat yang tepat untuk membahas ini, dok. Saya masih berkabung, dan ... mungkin untuk sementara saya akan menepi lebih dulu sebelum membahas hal ini lagi. Tentunya, nanti saat mental saya sudah lebih siap." Aish berdalih.
Dokter itu hanya bisa manggut-manggut saja, tak dapat memaksa orang yang sedang dalam kondisi tidak baik baik saja.
"Baiklah, jika itu keputusan Nona. Saya bisa memaklumi, namun ... jika nanti Nona mungkin membutuhkan bantuan saya, hubungi saja saya. Insyaallah saya akan usahakan untuk bisa membantu semampu saya," tandas dokter itu.
Aish mengangguk, dan setelah itu langsung minta diri untuk kembali ke rumahnya.
"Sudah selesai, Non?" sapa Sutris yang tengah menunggu Aish sembari membeli segelas es dawet yang kebetulan mangkal di depan rumah sakit.
Aish mengangguk dan tersenyum kecil pada bapak bapak tua penjual es dawet itu.
"Saya tunggu di mobil, Mas. Santai saja minumnya, saya nggak buru buru kok." Aish berkata pada Sutris.
"Iya, Non. Saya juga sebentar lagi habis kok ini," sahut sutris pula.
Aish membuka pintu mobil, lalu menghempaskan punggungnya di sana. Di sandarkannya kepala yang terasa sangat pusing setelah beberapa hari lamanya terus saja menangis dan terkadang tak bisa tidur sepanjang malam karena terus teringat akan Satrio. Lelaki hebat yang selama ini menghuni relung hatinya, yang selalu menghiburnya di kala duka dan selalu mengerti setiap kondisinya. Lelaki yang di harapkannya akan menjadi teman hingga masa tuanya nanti, rupanya malah berpulang di saat mereka baru saja mengesahkan pernikahan mereka.
Miris, sungguh miris memang. Namun apa mau di kata, takdir Tuhan lebih berkuasa nyatanya.
"Non, saya sudah selesai. maaf menunggu lama," ujar Sutris sembari masuk dan duduk di kursi kemudi, siap mengantar anak majikannya itu ke mana pun dia inginkan.
__ADS_1
"Nggak papa, Mas. Oh ya, kita jalan pulang aja dulu ya, Mas. Nanti kalau saya mau berhenti di mana gitu saya kasih tahu," titah Aish pelan sekali.
Sutris mengangguk dan langsung menjalankan mobilnya sesuai permintaan aish.
Sengaja dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan rendah, melewati jalan yang tak begitu ramai hingga Aish bisa menikmati setiap pemandangan yang tertangkap oleh penglihatannya. Menenangkan, setidaknya dalam kondisi ini Aish tak terlalu tertekan dengan kehilangan yang baru saja di alaminya.
"Mas," panggil Aish tiba tiba.
"Iya, Non?"
"Kapan kamu menikah?" Entah angin dari mana Aish malah menanyakan itu pada Sutris.
Sutris tampak salah tingkah, ingin menjawab jujur tapi kondisi Aish yang tengah bersedih dan berkabung membuatnya tak enak hati.
"Emmm ... belum tahu, Non. Memangnya kenapa ya?" tanya Sutris hati hati.
Aish tersenyum kecut, dapat menangkap raut segan dari air muka Sutris.
"Jawab saja apa adanya," desak Aish lagi.
"Ah, emmm ... kalau itu ... saya ... saya ...."
"Hegh, ya sudah kalau kamu nggak mau jawab. Tapi ... saran saya, nanti kalau kamu menikah tolong tetaplah bekerja dengan keluarga saya," gumam Aish, memainkan jemarinya di sisi jendela mobil.
Sutris mengernyit heran . " Memangnya kenapa, Non? Ah, maksud saya ... saya bukannya ada niat buat berhenti bekerja setelah menikah nanti, tapi nasib tidak ada yang tahu, Non.".
"Yah, saya sekedar mengingatkan saja kok." Aish berdalih.
Setelah itu mereka larut dalam keheningan, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Saat melewati sebuah terminal yang berada tepat di samping taman kota, Aish seperti melihat seseorang yang begitu familiar di matanya. Sejenak dahinya mengernyit, menajamkan pandangan hingga menegakkan punggungnya agar bisa melihat lebih jelas. Setelah cukup yakin, dia langsung meminta Sutrisno untuk menghentikan laju mobilnya.
"A' Hen!" seru Aish setelah keluar dari dalam mobil.
Seseorang yang di panggilnya, menoleh dan dengan tatapan penuh kerinduan dia berlari ke arah Aish.
****
Setelah mendapat kabar dari Sonia, Sarah langsung bergegas menuju rumah sakit sendirian. Sonia kembali pulang karna anak anak tidak di izinkan untuk ikut, saat ini kondisi mereka sedang tidak baik baik saja untuk terus berada di luar rumah. Jadi, rumah masih menjadi tempat teraman untuk mereka.
Setelah mendapati ruangan yang di katakan Sonia sebagai ruang rawat Axel, Sarah segera masuk dan betapa terkejutnya dia begitu mendapati seseorang sudah lebih dulu datang dan duduk di samping suaminya yang terbaring lemah dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Siapa kamu?" sentak Sarah langsung waspada.
Pria itu berbalik, topi kupluk yang di kenakannya menyamarkan bagaimana bentuk wajahnya. Belum lagi masker dan jaket kulit berwarna coklat yang sebenarnya sangat tidak sesuai di kenakan di cuaca terik seperti ini.
"Lama tidak bertemu, Sarah."
Suara yang berat dan basah, langsung mengingatkan Sarah pada seseorang yang tak akan mungkin bisa dengan mudah dia lupakan. Orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya juga.
"Kamu ..."
"Yah, ini aku. Aku kembali," pungkas pria itu pelan sekali, namun karna suasana di dalam kamar yang hening membuat suaranya lumayan jelas terdengar.
"Apa maumu, jangan ganggu kami. Kita sudah tidak punya urusan apa apa lagi." Sarah membentak, tak ingin menunjukkan rasa takutnya sedikit pun.
__ADS_1
Namun, pria itu malah berjalan mendekatinya. Dari sudut matanya tampak jelas kalau dia sedang menyeringai.
"Tidak ada urusan katamu? Kau lupa apa yang dulu pernah kau dan orang tuamu lakukan padaku? Dan sekarang, aku di sini ... datang untuk membalaskan dendam ku dan mengambil semua hak ku kembali."