
"Loh, Lasmi. Kok kamu bisa di sini?" tanya Sarah pula yang terkejut dengan keberadaan wanita yang pernah menjadi asistennya itu di rumah Nek Minah, karna setahunya Lasmi sudah menikah kembali dengan orang pulau sebrang dan pindah ke tempat suaminya, lalu bagaimana kini dia bisa ada di sini.
"Jawab, Lasmi! Jangan bilang kalau kamu ...." Pak Ismail menunjuk wajah Lasmi dengan tatapan entah, namun anehnya wajahnya terlihat gusar.
Dan saat Lasmi berdiri dan melangkah satu langkah ke depan, Pak Ismail sekonyong-konyong langsung mundur dan terjatuh ke belakang karena tersandung kakinya sendiri.
"Hai, Mbak Sarah, Pak Axel." Lasmi menyapa Sarah dan Axel dengan senyum manis di bibirnya. "Hai, mantan suamiku yang gila," desisnya sambil menatap Pak Ismail yang kini terduduk di lantai dengan wajah syok.
Jeni tak peduli dengan semua drama yang ada , setelah Lasmi beranjak dari tempatnya dia gegas mendekati tubuh diam dan dingin Nek Minah lalu memeluknya sambil terus berusaha menyadarkannya, padahal dia tahu tubuh itu tak akan lagi bisa merespon setiap panggilannya.
Kyai Hasan dengan di dorong Umi Nafisah juga menyusul Jeni ke dalam, bersama Gus Musa yang tidak ingin ikut campur masalah lain di dalam keluarga itu. Mereka masuk dan mulai menenangkan Jeni, sambil menghubungi beberapa orang yang sekiranya bisa membantu proses pemandian dan pemakaman almarhumah nek Minah.
Sedangkan Sarah, Axel juga Pak Ismail masih bersama Lasmi yang kini berjalan menuju ke ruang tamu.
"Lasmi kamu bagaimana bisa di sini? Bukannya kamu ikut suamimu ke pulau sebrang?" tanya Sarah memberanikan diri,karna sejak tadi Lasmi yang diam malah membuatnya sedikit takut.
Pak Ismail bangkit dan mengikuti langkah Lasmi yang sekarang berdiri diam di ruang tamu, tepat di tengah-tengah.
"Ku mohon jangan lagi ganggu kami, Lasmi. Kamu sudah bahagia kan sekarang? Tolong jangan lagi datang ke hidupku, aku hanya sendiri sekarang," ucap Pak Ismail terdengar memelas.
Sarah dan Axel saling pandang karna tak mengerti dengan kondisi yang tengah berlalu di depan mereka.
Lasmi tampak melirik Pak Ismail dengan tatapan yang tak bisa di artikan.
"Apa maksudmu, Mas? Pergi? Kau memintaku pergi, apa kau lupa kalau kau masih mempunyai hutang yang sangat besar padaku hah?" bentak Lasmi tegas, hingga membuat Pak Ismail tampak terperanjat dan mundur kembali satu langkah.
"T- tapi, Lasmi. Kamu lihatkan? Ibu ku baru saja meninggal, tidak mungkin kita bahas hal itu sekarang bukan? Tolonglah bermurah hati sedikit, kasihan ibuku jika tidak segera di urus dan di kebumikan jika kita terus berdebat," bujuk Pak Ismail mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
Lasmi mendengus keras, kemudian menatap tajam netra tua Pak Ismail yang dulu selalu menatapnya tajam itu, namun kini jangankan untuk menatap matanya berkata dengan nada tinggi di hadapan Lasmi pun Pak Ismail sudah tak berani.
"Sampai kapan aku harus menunggu lagi? Sampai nanti akhirnya kau yang akan menyusul ibumu pula, Mas? Iya?" sentak Lasmi lagi.
Pak Ismail tampak gemetaran, tangannya bergoyang goyang di udara dengan kepala tak hentinya menggeleng.
"Tidak! Tidak bukan begitu maksud ku, Lasmi. Tapi ... tapi tolonglah, lihatlah situasinya, tidak bisakah kita tangguhkan dulu masalah ini?" pinta Pak Ismail masih mencoba menghiba.
Lasmi tampaknya enggan untuk pergi, mungkin karna sudah terlalu lama bersabar menunggu Pak Ismail memenuhi janjinya.
Sarah akhirnya berinisiatif membantu Pak Ismail bicara, terlebih saat ini memang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas masalah lain sementara ada jenazah yang menunggu untuk di urus.
"Lasmi maaf, Mbak memang tidak tahu di antara kalian ada masalah apa. Tapi ... yang di katakan Pak Ismail ada benarnya, sekarang kita harus lebih mendahulukan pengurusan jenazah lebih dulu, kasihan kalau terlalu lama di urus. Untuk itu, Mbak mohon pengertiannya ya, Lasmi. Urusan ini besok bisa kamu bahas lagi dengan Pak Ismail setelah urusan jenazah selesai, bagaimana?" tanya Sarah hati-hati.
Entah karena Sarah yang bicara atau apa, pada akhirnya Lasmi mengangguk dan tidak meneruskan masalah itu lebih dulu namun dia meminta Pak Ismail berjanji untuk menunaikan janjinya setelah semua urusan di rumahnya selesai.
****
Setelah prosesi pemakaman Nek Minah selesai, Jeni masih tergugu di atas gundukan tanah merah itu. Menangis di atasnya hingga wajahnya memerah.
"Nduk, sudahlah. jangan terlalu di tangisi seperti ini kasihan almarhumah, nduk," ucap Umi Nafisah sambil mengelus punggung menantunya yang tampak sangat kehilangan itu.
Jeni menggeleng sambil tetap memeluk tanah gembur yang di bawahnya terbaring damai seseorang yang sangat di sayanginya setelah Abah dan Emaknya.
"Dek, kita pulang ya." Gus Musa turut membujuk istrinya, karna para pelayat yang mengantar termasuk Sarah dan Axel pun sudah pamit pulang sejak tadi.
"Jeni masih mau di sini, Mas." Jeni menjawab tanpa melepaskan pelukannya dari tanah dan nisan bertuliskan nama Nek Minah beserta tanggal meninggalnya.
__ADS_1
Umi Nafisah menyentuh bahu Gus Musa.
"Le, Umi bawa abahmu pulang dulu ya. Sudah sore, Abah waktunya minum obat sudah lewat juga, kamu temani dulu Jeni."
"Terus Umi sama Abah pulangnya naik apa? Kan tadi kita cuma bawa satu mobil," tanya Gus Musa khawatir, karna kini wajah kyai Hasan pun sudah mulai tampak lemas dan pucat, mungkin juga karna sejak siang belum makan karena kesibukan mereka.
"Gampanglah, Umi sudah pesan taksi online ini. Kamu jagain Jeni saja di sini ya, sampai dia mau pulang sendiri nantinya jangan di paksa. Abbas nanti biar Umi yang urusin di rumah," tukas Umi Nafisah bijak.
Gus Musa mengangguk dan membiarkan kedua orang tuanya berlalu untuk pulang, menatap punggung dua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya itu hingga hilang di balik pintu taksi online yang menunggu di tepi jalan.
"Gus Musa, Jen. Saya ... mau minta maaf sekali lagi sama kalian, kalau dulu saya punya banyak sekali salah sama kalian. Saya ... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Pak Ismail yang juga masih berada di sana, kini hanya tinggal mereka bertiga yang berada di pemakaman itu, sedang hari mulai beranjak petang.
"Iya, Pak. Saya beserta istri, insyaallah sudah memaafkan Bapak, terlepas dari hubungan bapak dengan nek Minah. Insyaallah kami sudah maafkan semuanya bahkan sejak bapak belum mengatakannya," sahut Gus Musa bagaikan angin segar di telinga Pak Ismail yang sudah benar-benar menyesali semua tindakannya di masa lalu.
"Alhamdulillah, mungkin setelah ini saya akan tinggal di pondok, Gus. Apa boleh?" tanya Pak Ismail lagi.
.
Gus Musa sambil tetap merangkul bahu Jeni yang masih terisak di atas makam tersenyum simpul.
"Boleh saja, Pak. Datanglah kapanpun bapak mau," tukasnya lagi, kembali menentramkan hati Pak Ismail.
"Baiklah, setelah acara tujuh hari emak besok saya akan ke pondok."
Setelah mencapai kata sepakat mereka diam, menikmati suasana senja di pemakaman yang mulai dingin itu.
Saat Gus Musa baru saja hendak kembali membujuk sang istri untuk pulang, tubuh Jeni malah lebih dulu limbung dan jatuh dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ya Allah, Dek Jen!" seru Gus Musa kaget saat Jeni pingsan di pelukannya, dengan wajah yang sembab dan memerah penuh kedukaan.