
Serat merta Rahman mendelik.
"Apa, Bu? Resin?" pekiknya kaget.
Bu Hannah mengangguk dengan senyum manis di bibir tuanya.
Tapi sejurus kemudian Rahman malah garuk garuk kepala dengan wajah bingung.
"Resin apaan sih, Bu?" tanyanya sambil terkekeh.
Bu Hannah menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Ternyata anakku ini katanya pinter tapi bo doh," kekehnya tanpa bermaksud menghina.
Rahman memajukan bibirnyas dalam mode pura pura merajuk.
"Ibu apaan sih, kasih tahu kenapa, Bu. Lagi pula bandul itu bentuknya aja nyeremin begitu kok darimana resinnya?" protes Rahman lagi.
Bu Hannah mengangkat tangan Rahman dan meletakkannya di atas bandul berduri itu.
"Aaahh, tidak jangan, Bu! Nanti tangan Rahman sobek!" jerit Rahman sambil menutup mata.
Tapi sedetik kemudian tak ada rasa sakit yang dia rasakan, dia pun mencoba memberanikan diri untuk melihat ke arah tangannya di letakkan Bu Hannah.
"Huaaahhhh," pekiknya sambil mengangkat tangannya dan memindainya tepat di depan matanya.
"Apa teriak teriak? Ada yang luka nggak tangan mu?" tanya Bu Hannah mengerlingkan matanya pada Rahman.
Rahman ternganga, berpaling pada Bu Hannah dan menggeleng pelan.
"Nih, coba pegang lagi." Bu Hannah kembali menyodorkan bandul berduri berwarna ke abuan itu ke hadapan Rahman.
Pelan Rahman mengangkat tangannya untuk menyentuh bandul itu, perlahan permukaan tangannya terus menelusuri bagian bandul yang memang terasa seperti plastik.
"Eh, kok begini, Bu?" tanyanya heran lalu mengambil bandul berduri itu dari tangan Bu Hannah dengan perasaan dongkol karna rupanya Edwin sudah berhasil mengerjainya dengan menggunakan bandul mainan itu.
"Ya emang begitu, mau gimana lagi? Resin ya begitu teksturnya kurang lebih sama kayak plastik atau akrilik," terang Bu Hannah dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang teduh.
__ADS_1
Rahman manggut-manggut paham dan mengembuskan napas panjang sebelum kembali bertanya pada ibunya tentang apa yang sudah membuat dia penasaran selama ini.
"Bagaimana uncle memperlakukan ibu selama ini?" tanya Rahman lembut.
Mata Bu Hannah yang semula berbinar mulai berkabut.
" Ibu menangis? Apa uncle memperlakukan ibu dengan buruk?" Rahman menyambung ucapannya.
Tapi Bu Hannah menggeleng cepat sambil mengusap sudut matanya.
"Tidak, justru dia memperlakukan ibu dengan sangat baik. Kayaknya ibunya sendiri yang sudah lama meninggal," sahut Bu Hannah pelan namun masih cukup terdengar di telinga Rahman.
"Bukankah ibunya uncle meninggal karena keserakahan uncle sendiri, Bu? Uncle yang sudah membunuh kedua orang tuanya sendiri bukan? Bahkan seluruh keluarga tahu hal ini."
Bu Hannah tampak tersentak, namun sejurus kemudian matanya kembali berkaca-kaca.
"Tidak, bukan seperti itu cerita yang sebenarnya. Cerita itu di buat untuk membuat pamanmu itu nampak buruk di hadapan seluruh keluarga, tapi aslinya itu bukanlah kisah sebenarnya. Bahkan pelaku sebenarnya masih berkeliaran bebas hingga saat ini."
Rahman hanya bisa tercengang mendengar cerita sang ibu, anggapannya selama ini akan sang paman runtuh seketika demi mendengar pengakuan ibunya sebagai saksi mata kejadian mengerikan yang merenggut nyawa saudarinya berpuluh tahun yang lalu.
Di tempat lain.
"Sudah siap?" tanya Satrio sambil memindai penampilan kekasih hatinya, Aish yang kini tampak manis dengan mengenakan dress di bawah lutut dengan motif bunga daisy kecil, rambutnya yang panjang di gerai indah menambah paripurna penampilannya malam itu.
Aish tersipu malu dan menundukkan kepalanya saat menyadari mata Satrio tak henti menatapnya lekat.
"Ayo berangkat, Mas. Mau sampai kapan ngelihatinnya?" gumam Aish menutup mulutnya menahan tawa.
Satrio terkesiap dan langsung tersadar dari lamunannya, lalu dengan gagah dia menggandeng tangan sang pujaan hati menuju ke taksi online yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
"Silahkan, calon permaisuri ku." Satrio membukakan pintu mobil untuk Aish, dan melindungi bagian atasnya agar kepala sang kekasih tidak terantuk, sungguh romantis sekali. Entah kapan author akan merasakan seperti ini, ah ngayal lagi.
"Lama banget sih, Mas." Sang supir taksi online itu menggerutu saat Satrio baru saja masuk lewat pintu yang satu lagi.
.
Mendengarnya Satrio hanya menghela nafas dalam dan tersenyum.
__ADS_1
"Si bapak kayak nggak pernah jatuh cinta saja, ya sudah langsung ke alamat sesuai aplikasi ya, Pak."
Supir taksi yang merupakan seorang pria dewasa dengan kulit sawo matang itu mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya ke arah jalan raya.
"Mas, kita beneran mau ke rumahnya Mbak Sarah?" tanya Aish setelah beberapa saat saling diam di dalam mobil.
Satrio menoleh dan mengangguk mantab. "Iya dong, kan Pak bos sendiri yang minta kita ke sana. Masa kamu lupa sih, Sayang?"
Wajah Aish memerah mendengar Satrio memanggilnya sayang di hadapan orang lain yang notabene orang tak di kenal, namun nampaknya Satrio santai saja dan tak begitu peduli dengan sekitarnya.
"Kenapa nunduk terus sih? Kan Mas jadi nggak bebas lihat wajah cantik kamu sekarang? Masa kamu nggak kangen sih sama Mas? Setelah bertahun-tahun nggak ketemu masa kaki kamu lebih enak di pandang dari pada Mas?" keluh Satrio berpura-pura merajuk.
Aish mengangkat wajahnya dan tersenyum, namun belum sempat dia berkata apa apa si supir rese kembali menyela obrolan mereka.
"Jangan percaya omongan laki laki, Neng. Biasanya kalau udah muji muji itu pasti ada maunya, sayang masa depan Eneng kalo sampai di percaya sama laki laki modelan buaya yang cuma modal gombal aja mah, neng," ucap supir itu bernada ketus.
Satrio yang merasa tersindir hanya mencebik lalu menoleh pada supir rese itu yang wajahnya tak ada ramah ramahnya sama sekali.
"Eh, Pak. Hati hati dong kalo bicara, nggak semua laki laki loh kayak yang bapak bilang barusan, ada juga laki laki yang setia dan penuh pengertian sama pasangannya nggak cuma modal gombal doang kayak kata bapak tadi, asal bapak tahu ya, Pak saya sama pacar saya ini udah LDR selama kurang lebih lima tahun ,jadi wajarlah rasanya kalau saat ini saya mau puas puas melihat mukanya kenapa jadi bapak yang sewot sih? Saya mau gombal juga suka suka saya lah, wong saya lagi usaha bikin pacar saya ini seneng kok emang masalah buat situ? Lagi pula nih ya, Pak."
"Udah udah ngomongnya, udah sampe nih, buruan bayar." Supir itu malah menadahkan tangannya meminta bayaran dari jasanya tanpa mempedulikan perkataan Satrio yang sejak tadi mengoceh hingga tak sadar sudah sampai di alamat tujuan.
Satrio terpana melihat supir yang tingkahnya begajulan seperti supir ini, kok bisa supir model begini malah dapat bintang lima di aplikasi ojol itu.
"Heh, Mas. Malah menung lagi, buruan bayar terus turun saya ada orderan lagi nih! Nggak tahu apa orang lagi kejar setoran buat uang Panai?" desak supir itu sambil memutar tubuhnya ke belakang dan menatap Satrio kesal.
Dengan wajah menahan marah Satrio membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang biru dari dalam sana.
"Nih," ucapnya sembari meletakkan uang itu ke tangan si supir yang langsung sumringah.
Satrio tak bergeming saat si supir malah memasukkan begitu saja uang itu ke dalam kantong bajunya dan tak ada tanda tanda akan mengembalikan sisanya. Padahal di aplikasi tertera ongkosnya hanya sekitar dua puluh empat ribu saja.
"Loh kenapa belum turun juga? Ini benar kan alamatnya? Sesuai pesanan?" dengus si supir yang tampak kesal karna Satrio dan aish masih betah duduk di kursi belakang mobilnya.
Satrio menggeram tertahan lalu dengan menatap tajam mata si supir dari kaca spion dalam dia berkata pelan.
" Kembalian saya mana?"
__ADS_1