
Juli gelagapan, terlebih saat orang yang sangat dia hindari dan juga orang yang saat ini ingin dia temui kini turun dari mobil dan melangkah mendekatinya. Bahkan memindai penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Juli lekas lekas merapikan rambutnya yang acak acakan saat di bawa naik motor tadi, apalagi pakaian yang dia kenakan sebagian ada yang kotor terkena noda dari cipratan mobil di jalan menuju ke perumahan ini tadi.
"Bener Juli kan? Ngapain di sini?" tanya Asy lagi, sembari memindai kondisi Juli yang jujur saja terlihat mengenaskan di matanya. Apalagi kalau di bandingkan penampilannya waktu acara pesta pernikahannya tempo hari sangat berbeda jauh.
"Ah, ehhh i- iya. Ini aku Juli," ujar Juli sambil membuang muka ke arah lain, membuat penjaga perumahan yang sudah mengenal Asy itu menatapnya keheranan.
"Non Asy kenal sama perempuan ini?" tanyanya sembari menunjuk Juli.
"Nggak usah segala nunjuk nunjuk segala kenapa? Na jis tau nggak," sentak Juli meninggi sembari menepis tangan sang penjaga perumahan itu kasar.
Asy hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Juli yang masih saja tak berubah, sombong dan tinggi hati.
"Nggak, Pak saya nggak kenal sama dia."
Juli langsung menatap Asy dengan tatapan nyalang, tapi Asy tak takut. Toh apa yang harus dia takuti dari Juli? Selain status kalau dia sekarang adalah istri mantan suaminya tak ada hal lain yang dia ketahui tentang Juli selain tempat tinggalnya, hanya itu. Dan itu tak akan cukup untuk di katakan kenal bukan?
"Saya cuma tahunya dia istri mantan suami saya, Pak. Itu saja," tambah Asy lagi, kemudian berbalik hendak masuk kembali ke dalam mobil yang saat ini di kemudikan oleh Rahman, lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
Satpam penjaga gerbang itu manggut-manggut mengerti, lalu menatap Juli dengan tatapan tajam tak terelakkan.
"Kamu ..."
Secepat kilat Juli berlari dan menyambar pergelangan tangan Asy, wajah yang tadinya a nyalang dia ubah secepat mungkin menjadi memelas.
"Asy, Asy ... jangan begini, Asy. Tolong aku, Asy. Tolong," cicitnya dengan nada memohon, bahkan Juli tak segan menciumi tangan Asy agar Asy bisa luluh dan may membantunya. Hanya dia satu satunya harapan Juli sekarang.
Asy kaget, menarik tangannya dari genggaman Juli dengan segera.
"Apa apaan kamu, Juli?" ucapnya dengan nada di tekan, agar tak terdengar oleh yang lainnya yang saat ini juga tengah memperhatikan mereka.
Asy tak ingin muncul gosip yang tidak tidak tentangnya karena masalah ini. Dia tak mau menjadi penyebab nama orang tuanya menjadi buruk.
"Asy tolonglah, tolong aku, Asy." Juli hendak menjatuhkan dirinya di bawah kaki Asy. Tak peduli seberapa jatuhnya harga dirinya saat ini yang penting dia bisa pulang kembali ke kampungnya.
Dan untuk itu, dia harus bisa mendapatkan hati Asy.
Asy bingung, dia menoleh ke arah mobil dimana Rahman juga tengah memperhatikan mereka dari dalam.
Rahman melambaikan tangannya, memberi kode agar Asy membawa Juli masuk agar tak lagi menjadi tontonan penjaga perumahan dan pria yang mengantar Juli ke sana.
Asy mengangguk paham, lalu mengangkat bahu Juli agar bangkit berdiri.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam mobil."
Juli mengangguk dan dengan pasrah mengikuti Asy masuk ke barisan ke dua mobil, duduk bersisian seperti majikan dan pembantu. --bayangin aja sendiri ya--
Juli melirik asy dengan ekor matanya kala mobil mulai bergerak menjauh, masih bisa di lihat Juli pula bagaimana perawat pria yang tadi mengantarnya kini tengah bercengkrama dengan sang penjaga perumahan mungkin tengah membicarakan dirinya, entahlah tapi itu yang paling mungkin terjadi bukan?
"Ada apa, Jul? Kenapa kamu masih di sini? Dan lagi pun ... kenapa kamu sendirian? Dan ada perlu apa ingin menemui ku?" tanya Asy membuka percakapan.
__ADS_1
Juli mendesah pelan, perbedaan mencolok dari penampilan mereka malam ini benar benar menbuatnya seolah mati kutu berada di dekat Asy. Penampilan Asy yanh sederhana namun elegan dengan gamis polos namun tampak mahal dan Khimar yang senada, di padu sebuah pansus yang tak terlalu mencolok tapi sangat cocok sekali dengan kulitnya dan warna baju yang dia kenakan saat ini.
Berbanding terbalik dengan Juli yang hanya memakai gamis penuh Payet dan bordiran namun tanpa make up yang mendukung. Membuatnya seolah tengah meminjam pakaian orang lain.
"Jul," panggil Asy lagi, membuyarkan lamunan Juli yang sejak tadi tampak memerhatikan pakaian yang dia kenakan.
"Ah, eh y- ya? Kenapa?" sahut Juli gugup.
Mobil tiba tiba berhenti di tepian sebuah taman yang tampak sepi,
Juli gelagapan karna di kira akan di turunkan di tempat itu. Trauma dengan kejadian yang menimpanya tempo hari saat di tinggalkan begitu saja oleh suaminya, Alam.
"Eh eh, kok ini kita berhenti di sini? Kalian nggak mau buang aku kan?" cecar Juli dengan wajah yang sudah pucat pasi memandang sekeliling.
Asy mengerutkan keningnya heran melihat tingkah Juli, namun sejurus kemudian dia memberitahu asy apa tujuan mereka berhenti di tempat tersebut.
"Buang kamu? Apa maksudnya? Tujuan kami ya memang ke sini, mau makan bakso di sana itu tuh," tunjuk Asy pada sebuah gerobak bakso yang di lengkapi kursi dan meja di belakangnya yang terlindung terpal berwarna biru.
Juli mendesah lega, setidaknya sekarang dia tahu kalau hal yang dia alami sebelumnya tak akan terulang kembali di sini, mungkin.
"Ayo turun, kita bicara sambil makan." Rahman menyela dan membuka pintu mobil lebih dulu, di susul Asy dan Juli kemudian.
Setelah memesan tiga mangkok bakso Asy duduk di samping Rahman, suaminya yang sejak tadi memilih menunduk dan lebih banyak diam sembari memainkan ponselnya untuk melihat lihat berita terbaru.
Sedang juli, sudah berkali kali dia meneguk ludah menghidu aroma bakso yang menguar dari gerobaknya sana. Tampak sangat tak sabar untuk menikmati panganan berlemak tersebut yang memang sudah lumayan lama tak dia rasakan lagi.
"Mas Alam memangnya kemana, Jul?" tanya Asy membuka lagi percakapan di antara mereka, karna sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Juli yang tiba tiba muncul di hadapannya dan meminta pertolongan yang dia sendiri belum tahu pertolongan apa yang di harapkan Juli darinya.
"Ini baksonya, Mas, Mbak."
Perkataan Juli terpotong oleh penjual bakso yang baru saja menghidangkan pesanan mereka di meja. Setelah penjual itu berlalu barulah Juli hendak kembali meneruskan ucapannya.
"S- sebenernya, aku ... aku nggak tahu Mas Al dimana, Asy. Kemarin setelah dari kondangan ke pernikahan kalian, Mas Al ninggalin aku di depan rumah sakit jiwa, dan nggak balik balik lagi sampai sekarang," tutur Juli pelan terdengar agak bergetar di setiap nada suaranya, pastilah dia masih tak menyangka suami yang begitu di dambanya sejak dulu tega melakukan hal sedemikian rupa padanya dan calon bayinya yang masih berada di dalam kandungan.
"Astaghfirullah," gumam Asy dan Rahman hampir berbarengan, ke duanya sempat saling pandang.
Namun dengan bijak Rahman mencoba menengahi.
"Sebaiknya kita makan saja dulu, setelah itu baru bicara lagi."
Asy mengangguk menyetujui, lalu mempersilahkan Juli makan bakso bagiannya. Walau sungkan, tapi karena lapar dan juga karna memikirkan bayi di dalam kandungannya akhirnya Juli menghabiskan seluruh isi mangkok bakso tersebut hingga tandas bahkan hingga ke kuah kuahnya.
"Kalau kurang pesan aja lagi, Jul." Asy menawarkan saat melihat sepertinya Juli sangat lahap memakan baksonya, bahkan terkesan sangat kelaparan. Membuat Asy semakin bertanya tanya apa yang terjadi dengan mantan tetangganya di kampung tersebut setelah pulang dari pesta pernikahannya tempo hari.
"Nggak usah, ini aja sudah cukup kok. Aku udah kenyang, terima kasih ya, Asy. Mas terima kasih," tutur Juli sopan, terlebih saat bicara dengan Rahman. Wajah yang penuh wibawa itu membuatnya sedikit sungkan untuk bersikap seenaknya seperti biasa.
"Ya sudah, kalau mau lagi bilang saja ya. Ibu hamil memang butuh asupan makanan lebih banyak kan? Oh ya, ngomong ngomong bisa kita lanjutkan cerita tadi?" tanya Asy hati hati, bahkan nada bicaranya masih terdengar sopan setelah apa yang pernah di perbuat Juli padanya dulu bahkan hingga acara pernikahannya kemarin. Tapi sedikit jua Asy tak memendam dendam padanya.
Juli mengangguk pelan, lalu perlahan mulai bercerita awal mula kejadian yang menimpanya. Dari awal hingga akhir tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Hingga tanpa sadar asy sampai menitikkan air mata karna mendengarkan ceritanya.
"Begitulah, Bahkan aku masih bingung sama tingkah Mas Al. Apa aku sejahat itu sampai pantas untuk di buang?"
__ADS_1
--iya sih, (ini kata author)--
"Jadi ... sekarang apa yang bisa kami bantu buat kamu? Jujur saja kami sebenarnya kurang nyaman kalau harus ikut campur masalah rumah tangga orang lain, tapi ... ini berhubung masalahnya beda tapi sebisa mungkin kami akan bantu," tukas Asy setelah mendapat persetujuan dari suaminya, Rahman yang sejak tadi hanya memilih diam tanpa buka suara sama sekali.
Juli menarik nafas panjang lebih dahulu, sebelum akhirnya menjawab lugas pertanyaan Asy.
"Tidak banyak kok, Asy. Kalau boleh, tolong rentalkan travel untukku supaya bisa pulang, sebab jujur saja aku sama sekali tidak pegang uanh sepeser pun, bahkan hape pun tertinggal di mobil Mas Al jadi nggak ada yang bisa aku hubungi. Selain kamu, nggak ada lagi yang bisa aku mintai tolong, Asy tolonglah. Aku janji akan ganti uangnya setelah sampai ke kampung nanti, kamu kasih saja aku nomor rekening mu," pinta Juli dengan sedikit terisak.
Dan seperti dugaannya, Asy akan luluh bahkan dia kini menatap sendu pada Rahman suaminya seolah meminta izin untuk membantu Juli.
Rahman yang sebenarnya juga turut prihatin dengan nasib Juli, pada akhirnya mengizinkan walau sebenarnya dia masih senewen dengan tingkah Juli saat dia dulu di undang berceramah di kampungnya, hingga sampai mereka bertemu kembali di acara pernikahan nya kemarin, kekacauan yang di buat Juli pun sebenarnya masih melekat erat di ingatannya saat ini.
Singkatnya, setelah dari tukang bakso lekas Rahman dan Asy mengantarkan Juli ke loket travel yang buka hingga malam di kota tersebut. Loket tersebut kebetulan milik teman Rahman saat masih menjadi pemulung dulu, hingga tak sulit baginya mendapatkan mobil untuk membawa Juli ke kampungnya.
"Ada sih, bro. Tapi paling baru berangkat besok pagi, soalnya ini sudah malam nggak ada supir yang mau berangkat jam segini."
Teman Rahman yang memiliki cambang di wajah itu menjelaskan dengan logat Batak yang sudah amburadul.
"Oh, begitu ya?" ucap Rahman yang langsung di angguki oleh temannya.
"Iya, kalau mau besok pagi pagi saja. Nanti ku boking kan kursi paling depan biar nyaman," tandas temannya lagi.
Kali ini Rahman berpaling ke belakang dimana Asy dan Juli menunggu di kursi tunggu loket yang sederhana dengan bahan bangunan hanya dari kayu itu, tapi yang memakai jasa travel di sini lumayan ramai bahkan tempatnya pun terkenal, setiap ada yang ingin pulang kampung atau bepergian pasti akan menggunakan jasa mereka yang memang terjamin aman dan terpercaya.
"Bagaimana? Besok baru ada mobilnya yang ke kampung?" tanyanya tapi matanya mengarah pada Asy, bukan pada Juli. Selain karna bukan muhrim tapi Rahman juga enggan terlalu lama menatap wajah Juli, takut khilaf dengan melontarkan kekesalan walau hanya di batin saja.
"Gimana, Jul?" tanya Asy sembari menyenggol sedikit pundak Juli yang sejak tadi malah tampak melamun.
Juli tersentak. "Ah eh, apa apa? Maaf aku nggak denger."
Asy menarik nafas dalam, sedangkan Rahman langsung membalik badannya kembali menghadap temannya yang duduk santai di meja kerjanya yang penuh coretan entah apa.
"Mobil travelnya baru ada besok, kamu gimana? Mau apa nggak?" ulang Asy dengan suara sedikit lebih tegas.
Baru saja Juli seperti hendak berkata mau, tapi sedetik selanjutnya dia malah tampak ragu ragu.
"Kalau besok baru ada, terus malam ini aku nginap dimana? Nggak mungkin di rumah sakit jiwa itu lagi, pasti nggak di izinkan lagi sama pengurusnya. "
"Nginap di sini aja juga bisa kok, Mbak." Teman Rahman nyeletuk sambil membuang kulit kuaci dari mulutnya dan tersenyum menyebalkan.
"Hegh, ingat anak istrimu di rumah." Rahman berkata pelan namun menohok sembari mengeluarkan dompet dan meletakkan selembar merah dan satu lembar biru di atas meja.
"Hehehhe, bercanda bro. Lagi pula mana bisa nginap di sini, mau tidur dimana dia? Di bawah meja ini?" kekeh teman Rahman dengan gaya tengilnya yang menyebalkan itu, tapi sebenarnya orangnya baik tak seamburadul penampilannya. Bahkan kini dia sudah mulai rajin ikut mengaji dengan Rahman di pondok walau masih ngalong ( pulang pergi, tidak menetap).
"Ya sudah, ini ongkosnya buat besok. Jangan lupa jemput ke rumah ya, bisa kan?" tandas Rahman.
Temannya itu mengacungkan jempolnya. "Siap, ketua. Nanti kasih tahu aja alamatnya dimana, besok biar supir yang jemput. Nah ini kembaliannya ya," ucap teman Rahman sembari menyodorkan dua lembar hijau dan ungu kembali ke pada Rahman.
Singkatnya, akhirnya malam itu Rahman dan Asy sepakat mengajak Juli untuk menginap semalam di rumahnya lebih dulu. Walau sebelumnya sempat di tentang oleh Amelie namun pada akhirnya di perbolehkan juga dengan syarat Juli hanya boleh tidur di kamar belakang, dalam artian kamar pembantu dan harus sudah pergi dari rumah itu tepat jam 7 pagi saat travel menjemput besok.
"Huh, nggak anaknya nggak emaknya semua nyebelin. Masa iya orang kaya tapi punya tamu di suruh nginep di kamar pembantu, yang bener aja? Awas aja bakalan aku kerjain kalian," gumam Juli setelah berada sendirian di kamar yang hanya berukuran 3 x 3 meter dan hanya di lengkapi kipas angin kecil tersebut.
__ADS_1
*Duh Juli Juli, nolongin kamu kayak nolongin an jing ya, Jul? Sebel juga author lama lama. Yang samaan sama author mohon dukungan like, komen dan gift nya ya, supaya cerita ini bisa terus berlanjut sampai 300 episode.