MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 113. S2


__ADS_3

"Tapi sebenarnya kasihan loh, ustadz Mbak Asiyah itu menikah sama Pak Alam. Soalnya biarpun kaya beliau itu orangnya ...."


"Maaf ya cuma ada ini, mari silahkan di minum."


 Belum sempat Abdi menyelesaikan ucapannya Salma tiba tiba keluar dari dalam rumah sambil membawa sebuah nampan berisi dua gelas teh hangat dan sepiring singkong goreng.


"Terima kasih, bik. Jadi merepotkan," ucap Abdi sambil menyambut nampan itu dan meletakkannya di antara dirinya dan Rahman yang masih tampak sangat penasaran dengan kelanjutan cerita Abdi, hanya saja harus di tahan karena adanya Salma di antara mereka.


"Tidak merepotkan, sudah ayo silahkan di minum. Maaf ya temannya cuma singkong, di rumah tidak ada apa-apa," ucap Salma sekali lagi sambil mengayunkan tangannya sebagai tanda mempersilahkan.


 Rahman dan Abdi mengangguk lalu mulai menyeruput teh hangat itu dan memakan singkong goreng sambil sesekali bercakap cakap ringan dengan Salma.


"Alhamdulillah, terima kasih sekali lagi ya, bik. Sudah di jamu begini, kalau begitu kami pamit dulu ya, bik besok jangan lupa datang maulid ke masjid ya," ucap Abdi setelah isi gelas mereka masing masing sudah tandas.


 "Insyaallah, kalau ada yang bantu pasti bibik berangkat kok," sahut Salma ramah.


"Nanti biar Abdi jemput, bik. Kalo nggak ada yang bantu ke masjid," kekeh Abdi sambil naik ke atas motornya di ikuti Rahman.


"Nggak usah, nanti merepotkan." Salma menolak halus.


"Iya, nggak usah sok baik kamu. Salma ini masih ada suami tahu!" seru Pardi yang tiba-tiba saja sudah ada di belakang Salma dan menatap tajam pada Abdi dan Rahman.


 Rahman terhenyak saat melihat wajah pria paruh baya yang sangat di ingatnya itu, namun belum sempat dia berkata apa apa, Abdi sudah langsung melakukan motornya meninggalkan halaman rumah Salma dan Pardi.


"Kenapa tiba-tiba ngebut begitu, Mas? Kan belum pamitan?" tanya Rahman tak mengerti.


"Saya segan sama Pak Pardi itu, Ustadz. Orangnya galak, cuma mau baiknya sama Pak Alam menantunya aja, sama orang lain semua di musuhi, nggak tahu kenapa." Abdi menjawab sambil menurunkan kecepatan motornya karna mereka sudah cukup jauh dari rumah Pardi.


 Rahman hanya manggut-manggut saja, tak tahu juga harus merespon bagaimana.


"Kita mau kemana lagi, ustadz? Apa mau pulang saja?" tanya Abdi.

__ADS_1


"Iya, kita pulang aja, Mas. Sekalian nanti kalo ada yang jual makanan kita beli ya, buat ngemil di rumah," pinta Rahman.


 Abdi mengangguk, lalu kembali menaikkan kecepatan motornya menuju ke tempat penjual makanan sesuai permintaan Rahman.


"Nah, ini ustadz tempat penjual makanan paling enak di kampung sini," ucap Abdi sesampainya mereka di depan warung Wak Sumirah, yang menjual beraneka ragam kue basah dan juga nasi uduk yang memang enak.


 Rahman turun lalu menghampiri Wak Sumirah yang kebetulan sedang berada di balik etalase jualannya, tengah melayani orang yang juga membeli nasi uduknya.


"Permisi, Wak. Nasi uduknya empat ya, sama kuenya dua puluh ribu." Rahman menyerahkan selembar uang merah ke atas meja, dan Wak Sumirah menerimanya dengan wajah sumringah.


"Iya, sebentar ya. Wawak layani yang ini dulu."


 Rahman mengangguk, lalu dengan di ikuti Abdi mereka duduk di kursi yang di sediakan untuk menunggu.


 Baru saja Rahman hendak kembali bertanya tentang kelanjutan cerita Abdi saat di rumah Salma tadi, tiba tiba datanglah Juli dengan pakaian yang lebih nyentrik lagi ketimbang tadi, dia berjalan berlenggak-lenggok seperti bebek sawah karena melihat adanya Rahman di warung Wak Sumirah.


"Eh, ada Mas ustadz. Beli apa, Mas? Biar sekalian Juli bayarin," celetuknya sambil mengerling manja pada Rahman.


"Loh, ini tadi ustadz muda yang lagi rame di bicarakan itu toh. Oalah, wawak nggak begitu perhatikan," cetus Wak Sumirah setelah satu pelanggannya tadi selesai di layani.


 Rahman hanya mengangguk pelan namun masih dengan menjauhkan wajahnya agar tak melihat Juli yang kini malah duduk di dekat Abdi, untungnya saja dia tidak memaksa untuk duduk di sebelah Rahman atau Rahman akan menggeplak kepalanya, eh.


"Eh, Wak. Jangan sok kenal kenapa? Calon suami aku loh ini," ketus Juli dengan tingkat kepercayaan diri tingkat tinggi.


 Rahman bahkan sampai tersedak ludahnya sendiri mendengar itu.


"Maaf, tolong jangan bicara begitu saya tidak mau tersebar gosip yang bukan bukan nantinya, " protes Rahman dalam nada pelan namun terdengar sangat keberatan.


"Nah, kamu bisa dengar sendiri kan, Juli? Makanya jadi perempuan itu jangan gampangan kali, jual murah di mana mana huh." Wak Sumirah menimpali sambil mendengus kesal.


 Juli mencebik dan tak mempedulikan ucapan Wak Sumirah sama sekali.

__ADS_1


"Kang Abdi, boleh geseran dikit nggak? Biar Juli yang di situ. Boleh kali bantu tetangganya ini biar cepet ketemu jodohnya." Juli mulai kembali melancarkan aksinya untuk bisa mendekati Rahman.


 Hanya dengan mendengar suaranya saja Rahman langsung merasa ada yang menabur pasir di tengkuknya.


 Namun untungnya saja Abdi paham kalau rahman tak suka Juli mendekatinya, jadi dengan reflek dia langsung bergeser untuk lebih dekat dengan Rahman, bahkan sampai mepet.


"Nggak! Ngapain saya mikirin kamu. Mendingan saya pikirkan masa depan saja sendiri, mumpung ada jodoh terbaik di depan mata begini," ucap Abdi ambigu, yang tentu saja membuat mata Juli seketika membeliak karna salah tanggap.


"Ma- maksud kamu ... mas ustad ...."


 Juli menunjuk ke arah Rahman, dengan tatapan tak percaya.


 Melihat keberhasilannya mengerjai Juli, Abdi langsung tersenyum dan dengan pedenya merangkul Rahman di pundaknya. Rahman yang paham pun serta merta melingkarkan tangannya ke pinggang Abdi.


 Juli tampak begidik ngeri, lalu tanpa berkata apa apa dia langsung ngacir begitu saja dari sana sambil terus menggosok gosok tubuhnya seakan baru ketempelan ulat bulu segentong.


"Nah, rasain! Jadi perempuan kok gatelnya minta ampun," umpat Wak Sumirah yang memang tak suka dengan Juli sejak lama.


 Setelah Juli pergi, Abdi langsung melepaskan rangkulannya di pundak Rahman begitu juga Rahman yang langsung menarik tangannya kembali.


"Terima kasih ya, sudah bantuin saya," ucapnya.


 "Sama sama, ustadz. Sudah seharusnya, lagi pula semua warga kampung sini juga kesal sama tingkah si Juli yang suka kegatelan begitu. Tanya aja Wak Sumirah nih, kalau nggak di begitukan mungkin sampai nanti ustadz pulang ke kota juga bakalan terus di teror, ya kan Wak?" ucap Abdi melempar pertanyaan pada wak Sumirah yang tengah sibuk membungkus nadi uduk pesanan Rahman.


"Iya, bener banget. Itu betina satu kalau nggak di bikin kapok semua laki laki yang menurutnya ganteng di kampung ini pasti sudah di goda. Lihat aja itu si Neng Asiyah sampe sekarang di musuhi sama dia karena dia suka sama si Alam suaminya. Dulu kan si Juli itu ngejar ngejar Alam sudah lama, cuma nggak pernah di tanggapi karena terlalu gatel kata si Alam, eh sekalinya Alam nikah sama Neng asiyah malah di musuhi. Padahal loh Neng Asiyah itu mah baik sekali orangnya," papar Wak Sumirah panjang lebar, tanpa sadar saat ini ada hati yang seakan tersudut mendengar ia sejak tadi mengucapkan nama yang selalu di rindunya berulang kali.


 "Nah, panjang umur ini yang lagi di omongin dateng," imbuh Wak Sumirah lagi saat melihat seorang perempuan manis berkerudung lebar dengan warna maroon berjalan menuju warungnya sambil menundukkan kepalanya dalam.


 Rahman sontak menoleh dan hatinya kembali mencelos saat akhirnya bisa bersitatap dengan perempuan yang di rindunya itu dari jarak yang lebih dekat. Dan jelas sekali terlihat olehnya bekas merah di pipi perempuan manis itu, dengan mata yang sembab dan mata yang masih berkaca-kaca.


"Ya Allah, Neng Asiyah kenapa? Kok nangis?" tanya Wak Sumirah sambil berjalan keluar dari balik etalase jualannya dan memeluk Asiyah dengan hangat.

__ADS_1


"Kayaknya ini hasil perbuatannya Pak Alam, Wak." Abdi terdengar berbicara pelan sekali namun masih cukup terdengar di telinga Rahman, membuat emosinya mendadak naik ke ubun-ubun.


__ADS_2