
Pak Ismail masih tampak tersengal, hingga untuk bicara saja sangat sulit sekali. Akhirnya Jeni berinisiatif mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Pak Ismail.
"Minum dulu, le. Tenang dulu, setelah itu baru nanti cerita sama kami." Kyai Hasan menepuk nepuk pundak Pak Ismail.
Pak Ismail mengangguk lalu menghabiskan seluruh isi gelas itu hingga tandas, hingga deru nafasnya tak lagi seberat tadi.
"Sekarang ceritakan, ada apa? Kok tumben sekali kamu langsung ke sini sendiri? Terus kenapa kamu kelihatan khawatir sekali seperti itu?" ulang kyai Hasan lagi.
Pak Ismail yang sudah lebih tenang menatap dalam mata kyai Hasan, tampak kabut mulai kembali memenuhi netra nya yang menua. Dan setelah itu Pak Ismail jatuh terduduk dan menangis terisak-isak.
"Emak saya ... Emak saya ... hiks, hiks," isaknya memilukan.
Semua hati bergetar mendengar tangisan Pak Ismail, apalagi dengan menyebut sang ibu yang sudah beberapa waktu terakhir tak pernah lagi terdengar kabarnya.
Jeni maju dengan mata basah, dia menarik tangan Pak Ismail ingin meminta penjelasan.
"Nek Minah kenapa? Apa yang terjadi sama Nek Minah, Pak? Apa? Katakan cepat!" serunya cemas sekaligus ketakutan.
Selama ini Jeni selalu merindukan Nek Minah, tak jarang setelah Nek Minah memutuskan untuk pulang dan kembali tinggal dengan Pak Ismail, Jeni akan berkunjung setiap minggunya dan akan menelpon nek Minah setiap harinya karna cemas jika saja Pak Ismail hanya pura pura berubah. Namun karna sampai bertahun lamanya dan tak ada lagi kabar miring tentang Pak Ismail, Jeni mulai jarang mengunjungi dan menelpon nek Minah karna nek Minah memintanya percaya pada sang putra yang kini sudah benar-benar berubah.
Pak Ismail masih diam tak menjawab pertanyaan Jeni, Jeni yang sudah lemas karna takut terjadi apa apa pada Nek Minah langsung berlari ke dalam rumah untuk mengambil kunci motornya.
"Dek Jen, mau kemana?" tanya Gus Musa sambil berlari kecil mengikuti langkah sang istri.
"Jeni mau lihat langsung kondisi nenek, Mas. Jeni takut terjadi sesuatu sama nenek," sahut Jeni tanpa mengurungkan niatnya naik ke motor.
Gus Musa mempercepat larinya dan memegangi stang motor itu, karna tak ingin istrinya pergi seorang diri.
__ADS_1
"Tunggu, Dek Jen. Sabar, sebaiknya kita tunggu jawaban dari Pak Ismail dulu. Jangan terburu-buru ya," bujuk Gus Musa lembut sambil memegang tangan Jeni lalu memintanya untuk kembali naik.
"Pak, tolong sekarang jelaskan ada apa dengan nek Minah. Jangan membuat kami semua cemas tanpa alasan begini," pinta Gus Musa tegas sambil berjongkok di hadapan Pak Ismail yang masih terisak.
"Emak ... emak ... sudah meninggal." Pak Ismail menyahut lirih, lirih sekali hingga harus berkonsentrasi untuk bisa mendengar suaranya.
Gus Musa yang mendengar langsung tersentak kaget.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun ...," ucapnya mewakili semua.
Jeni semakin terkejut, namun karna tadi tak begitu mendengar ucapan Pak Ismail Jeni kembali bertanya pada suaminya.
"Mas, kenapa bilang begitu? Siapa yang meninggal, Mas? Nggak mungkin nenek kan? Mas, jawab!" Jeni mengguncang tubuh Gus Musa yang tampak masih syok, namun pada akhirnya anggukan dari Gus Musa menjelaskan semuanya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun, nenek ...." Jeni jatuh terduduk di sebelah suaminya, tertunduk dalam dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang penuh air mata.
"Lalu sekarang bagaimana kondisi almarhumah, Pak?" tanya Gus Musa lagi.
" Jenazah emak masih ada di rumah, karna kami hanya tinggal berdua dan jauh dari tetangga jadi belum ada yang membantu saya mengurusnya, makanya saya memutuskan pergi ke sini lebih dulu." Pak Ismail kembali menjelaskan.
"Kalau boleh tahu, kapan waktu meninggalnya almarhumah?" tanya kyai Hasan pula.
Pak Ismail mengusap air mata yang mengalir deras di wajahnya.
"Belum lama, mungkin setelah sholat Dhuha tadi. Saya menemukan Emak masih duduk terpekur di atas sajadah lengkap dengan mukenanya padahal hari sudah beranjak siang. Saya kira emak masih asik berzikir, jadi saya biarkan dan saya tinggal ke kebun. Tapi, dua jam kemudian waktu saya kembali posisi Emak masih sama seperti waktu saya berangkat. Dan ... dan ... ketika saya sentuh badan Emak, emak sudah ...." Pak Ismail kembali terisak hebat, kentara sekali dia sudah sangat menyayangi ibunya terlihat dari kepedihan di wajahnya saat di tinggalkan oleh Nek Minah untuk selamanya.
"Baiklah, kita ke rumah kamu sekarang," pungkas Kyai Hasan setelah mendengar penjelasan Pak Ismail.
__ADS_1
Lalu beliau pun menoleh pada Sarah dan Axel yang juga masih ada di sana dan menatap iba pada Pak Ismail.
"Nak Sarah, nak Axel. Maaf tapi kami semua harus pergi ke rumah nak Ismail ini, untuk membantu mengurus jenazah ibunya."
Bukan berniat mengusir, hanyaa saja kyai Hasan juga harus bisa mendahulukan mana yang memang pantas di dahulukan. Jadi beliau berkata demikian pada Sarah dan Axel untuk meminta pengertiannya.
"Kami ikuta saja, kyai. Kami juga mau menyelawat almarhumah," sahut Axel setelah mendapat persetujuan dari sang istri, Sarah.
"Baiklah, anak anak kalian biar tinggal di sini dulu. Akan ada pengurus yang mengawasi mereka semua nanti, ya sudah mari kita berangkat," timpal kyai Hasan bijak.
Lalu sesuai kesepakatan mereka pun berangkat bersama, setelah Sarah dan Axel berpamitan pada ketiga anak kembarnya tentu saja. Dan untungnya ketiga anak itu tak ada yang menyusahkan, semua setuju untuk menunggu di sana sembari mengaji.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah yang membawa kenangan indah bagi Jeni di masa sulitnya itu, gegas Jeni turun dengan tak sabar dan memburu masuk ke dalam rumah Nek Minah di ikuti yang lainnya.
"Nek! Nenek! Nenek, ini Jeni, nek!" seru Jeni memanggil manggil nek Minah sambil berharap akan ada sahutan darinya, dalam hatinya jeni sama sekali belum bisa menerima akan berita berpulangnya sang nenek yang sudah di anggapnya neneknya sendiri itu.
Tak ada yang mencegah saat Jeni mulai memasuki semua ruangan satu persatu, mereka mengerti kalau Jeni masih belum bisa menerima kenyataan itu.
"Nenek! Hei, siapa kamu!" hardik Jeni saat dia masuk ke ruangan yang merupakan kamar Nek Minah dan mendapati seseorang di sana tengah berjongkok di sisi jenazah yang masih berbalut mukena itu.
"Mas, ada orang lain di sini." Jeni berseru memanggil suaminya antara sadar dan tidak, karna seharusnya sudah sewajarnya ada orang lain di rumah duka karena bisa saja pak Ismail sempat mengabarkan berita ini pada tetangga yang tinggal di pinggir jalan hingga mengundang mereka ke rumah.
Mereka semua berlari menuju Jeni, entah kenapa walau dengan kemungkinan yang ada tadi perasaan Pak Ismail malah semakin tidak tenang, karna dia ingat sekali kalau belum memberi tahukan siapapun di sekitar sana tentang meninggalnya ibunya, jadi siapa yang bertandang ke rumahnya saat ini?
Saat sampai di depan pintu kamar Nek Minah, pak Ismail bahkan sampai mundur saking terkejutnya melihat siapa gerangan yang berada di dekat jenazah sang ibu.
"La- Lasmi!" serunya tertahan.
__ADS_1