MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 212.


__ADS_3

"Kau pikir urusannya akan segampang itu?" sinis Bima kala Sarah menemuinya di sebuah cafe siang itu, dengan membawa beberapa orang anak buah kepercayaan Andrew yang menyamar di sekitarnya.


Sara berdecak. "Toh apa gunanya juga rumah itu untukmu, Mas? Itu rumah yang bersejarah bagi ku, di sana aku di besarkan dan di sana juga aku mengukir banyak kenangan dengan almarhum orang tuaku, tolonglah jangan egois.".


"Apa?" Bima terkekeh kecil. "Egois kau bilang? Bukankah itu sama saja dengan kau tengah mengatai dirimu sendiri, Sarah? Rumah itu bukan hanya menyimpan kenangan tentang ke dua orang tuamu yang sudah bersatu dengan tanah itu. Tapi juga aku! Karna dulunya itu adalah rumahku! Kau pasti mengerti bukan kenapa aku bisa sampai mengetahui denah ruang bawah Tanah yang saling berhubungan di rumah lamamu itu?"


Sarah tercekat, ucapan Bima seolah membuatnya tak berkutik.


"Apa lagi maksudnya ini, Mas?"


"Ya, semua denah rumah itu termasuk ruang bawah tanahnya dan kemana arah setiap lorong dan pintu rahasianya aku tahu. Bahkan kamu mungkin tidak tahu kalau di sana juga memuat ruang penyiksaann dimana dulu orang tuamu dengan kejinya membantai orang tuaku," geram Bima tertahan, matanya menatap nyalang pada Sarah.


"Tunggu, sungguh aku tidak mengerti. Coba jelaskan secara sederhana saja ,jangan berbelit-belit sungguh aku bingung." Sarah mencoba bernegosiasi.


Bima mendengus keras. Di minumnya lebih dulu jus jeruk nipis yang tadi di pesannya hingga tandas, lalu kembali dalam mode serius.


"Rumah itu, rumah yang kau maksud sebagai rumah peninggalan ke dua orang tuamu. Itu ... sebenarnya adalah rumah ku dan ke dua orang tua ku dulu, sebelum orang tuamu datang dengan bermanis muka dan membuat kami sekeluarga terperdaya hingga dengan mudah mereka mengambil alih semua harta dan membuat orang tuaku menjadi mainannya hingga di ujung hayat mereka. Dan rumah yang di hadiahkan ayahmu padamu itu, yang dulu sempat kau tinggali bersama keluarga kecilmu itu. Itu sebenarnya adalah rumah yang sudah di bangunkan almarhum orang tuaku untuk ku karna aku anak tunggal. Mereka begitu menyayangiku hingga rela berkorban nyawa asalkan aku di biarkan hidup oleh ke dua orang tuamu. Apa kau tahu itu? Betapa kejinya mereka berdua. Dan setelah itu, kau pasti masih ingat kisahnya kan? Mereka malah membuang ku ke panti asuhan dan menikmati semua harta kekayaan orang tua ku yang sudah mereka rebut, mengambil alih semuanya dan mengatas namakan nama mereka dan dirimu di sana. Apa semua yang ku katakan sudah cukup jelas?"


Lagi lagi Sarah tercekat, dia tak mampu bicara apapun mendengar kesaksian Bima yang sepertinya tidak mungkin mengada ada.


"Aku sudah tahu kau pasti tak akan percaya, yah tapi memang demikianlah kenyataan yang ada. Harusnya orang tuamu juga membuatkan surat wasiat agar kau tahu yang sebenarnya. Tapi semua sudah terjadi, di sini aku tidak mau ikut campur dan hanya menuntut semua yang merupakan milik orang tuaku dan hak ku di kembalikan tanpa terkecuali ." Bima menambahi.


"Tapi ... tapi ...."


Sarah tak sanggup melanjutkan kata katanya, semua kenyataan yang tiba tiba datang menghempas semua rasa di dadanya. Benarkah ke dua orang tuanya dulu memang seperti yang di katakan Bima? Lalu kenapa terhadap Sarah mereka selalu bersikap baik dan seolah teladan yang luar biasa terlebih sang ayah yang selalu mengajarkan nilai nilai kehidupan padanya? Apa semua itu hanya topeng belaka untuk menutupi kebohongan mereka?.


"Hah, baiklah jika memang semua masih terasa berat bagimu. Bagaimana kalau ku berikan satu penawaran untukmu'?" ucap Bima lagi .


Sarah menolehnya dengan tatapan penuh tanya. "Apa itu?" tanyanya nyaris tak terdengar.


Bima menyunggingkan senyum puas. " Aku akan memberikan rumah yang selama ini kalian tempati bersama. Rumah yang merupakan hadiah dari orang tuamu itu yang sebenarnya adalah milikku. Tapi tak apa, anggap saja itu adalah hadiah dari ku untuk anak anakmu. Bagaimana? Kau setuju? Dan setelah itu tolong balik nama semua harta benda termasuk perusahaan yang saat ini masih menjadi milik ayahmu itu. Yang harus kau ingat perusaahan itu di bangun atas keringat dan kerja keras orang tuaku sendiri."


Sarah berpikiran sejenak, sebenarnya apa yang di tawarkan Bima lumayan menarik. Tapi tetap saja , sebuah rumah yang penuh dengan kenangan dengan almarhum orang tuanya, rumah itu harus dia relakan di ambil oleh Bima.


"Harta itu bukan termasuk harta yang kita miliki bersama dan kita sepakati sesuai perjanjian pranikah kita dulu, Sarah. Yang termasuk di sana adalah rumah dan kendaraan yang kita pakai bersama dulu sewaktu masih bersama. Aku akan ikhlaskan semua itu untukmu karna memang aku akui akulah yang berbuat curang di dalam pernikahan kita dulu. Jadi ... bagaimana? Semuanya sudah jelas dan adil bukan?" ujar bima lagi, mencoba meluruskan semuanya.

__ADS_1


Sarah merasa tak punya pilihan lain lagi, selain dia ingin semua masalah ini segera usai. Dia juga sudah enggan berurusan dengan mantan suaminya tersebut. Akhirnya dengan berat hati, Sarah mengeluarkan semua surat surat penting mengenai harta dan aset milik keluarganya dan di serahkannya pada Bima.


Bima tersenyum lebar. "Pada akhirnya kau tahu mana yang benar untuk kau lakukan, karna jika tidak memakai jalan damai ini mungkin saja semua keluargamu akan aku habisi dengan tanganku sendiri. Kau tahu bukan? Dengan diriku yang sekarang, polisi dan pejabat hukum lainnya pun tak akan bisa menawanku. Karna sebenarnya akulah pewaris darah mafia yang di turunkan dari kakekmu itu."


Kening Sarah membentuk kerutan dalam , dia semakin tak mengerti dengan apa yang di bahas oleh mantan suaminya itu.


"Sudahlah, kau tak akan paham. Baiklah, ini surat rumah yang kemarin kalian tempati, katakan pada suami dan anak anakmu yang lucu lucu itu ini hadiah dari ku. Hahaha ,dan untuk surat rumah yang dulu kita tempati juga surat surat kendaraan itu semua ada padamu bukan? Aku lepaskan semua itu untukmu, selamat menikmatinya. Karna yang ada di sini akan lebih berharga ketimbang apa yang ku serahkan padamu itu, hahahahah." Bima tergelak sembari mengambil semua surat surat penting yang tadi di serahkan Sarah padanya, lalu tanpa kata apapun lagi dia langsung berdiri dan beranjak meninggalkan Sarah seorang diri di sana.


"Fiuuhhh, semoga ini pilihan dan jalan yang terbaik ya Allah. Ikhlaskan hambamu ini , dan bantulah hamba menjadi lebih kuat lagi, Ya Allah. Demi anak anak," gumam Sarah pelan.


Di tutupnya wajah dengan bahu merosot ke bawah, merasa plong setelah semua masalah kini terjawab dan tak ada lagi yang dia khawatirkan. Mungkin.


****


Tanpa terasa, dua bulan berlalu setelah semua kejadian itu. Kehidupan berjalan sebagai mana mestinya dengan baik dan ramah. Meski, terkadang tak semuanya merasakan hal yang sama dalam kehidupan mereka.


"Mas, perut aku tiba tiba sakit ya?" ucap Jeni sembari meringis menahan nyeri yang menyerang hebat secara tiba-tiba.


Gus Musa yang baru saja keluar dari kamar mandi gegas menghampirinya dengan raut wajah cemas.


"Kenapa, dek? Mana yang sakitnya? Apa mungkin kamu sudah mau lahiran ya?" cecar Gus Musa terburu buru.


"Sepertinya begitu, tolong siapkan barang barang yang sudah kita pak kemarin, Mas. Rasanya seperti kuat sekali, sepertinya bayinya akan lahir tidak lama lagi," gumam Jeni mengerang kesakitan.


"Iya iya, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mas mau siapkan mobil dan panggil Umi dulu," tandas Gus Musa, lalu dengan cepat Gus Musa keluar dari kamar tersebut tanpa menunggu jawaban Jeni.


Dengan tergesa, di ketuknya pintu kamar Umi Nafisah dan Abah Hasan dengan irama cepat dan tak sabar.


Tok


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Umi! Abah! Buka pintunya!" seru Gus Musa tak sabaran.


Terdengar suara langkah kaki dari dalam kamar, Gus Musa menghentikan ketukannya dan menunggu dengan was was untuk di bukakan pintu.


Ceklek


Akhirnya pintu berbahan kayu jati berpelitur itu terbuka jua, wajah lelah Umi Nafisah tampak dari sana. Sepertinya istri dari pengurus pondok pesantren besar tersebut tak bisa tidur dengan nyenyak sehingga tubuhnya menjadi tidak fit. Ingin rasa Gus Musa menanyakan hal itu pada Umi Nafisah, namun dia tersadar ada hak yang lain yang lebih butuh perhatiannya segera ketimbang itu.


"Ada apa, le? Kok gedor gedor pintu kayak orang bangunin sahur aja," celetuk Umi Nafisah sembari membenahi letak jilbabnya yang miring.


Gus Musa menunjuk ke arah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.


"Dek Jen, Umi dek Jen ..." ucap Gus Musa terbata, air mata lolos satu persatu dari pelupuk matanya.


Wajah Umi Nafisah seketika pias, sebagia seorang ibu mertua yang banyak di sebut sebagai ibu mertua idaman, Umi Nafisah langsung merasa cemas ketika mendengar kata Jeni dan raut wajah Gus Musa yang tidak menggambarkan kondisi yang baik baik saja.


"Jeni kenapa? Istrimu kenapa, le? Apa sudah mau melahirkan?" tanya Umi Nafisah tepat sasaran.


Gus Musa mengangguk dengan cepat.


"Ya sudah , cepat kamu siapkan mobil. bawa semua barang yang sudah Jeni dan Umi persiapkan kemarin. Jangan lupa titipan  dulu Abbas sama ustad yang lain supaya di jaga. Umi mau melihat Jeni dulu," pungkas Umi Nafisah cepat.


Gus Musa yang sudah kehilangan kata kata hanya bisa mengangguk saja dan bergegas menuruni tangga menuju ke mobil sembari menenteng sebuah koper yang isinya adalah perlengkapan untuk ibu dan bayi yang memang sengaja di persiapan sejak jauh jauh hari. Jadi ketika Jeni akan melahirkan di waktu waktu seperti ini dan tiba tiba, mereka tak perlu lagi bingung dengan barang apa saja yang harus di bawa.


"Le," panggil Umi Nafisah lagi, menghentikan gerakan Gus Musa yang tengah berlari di tangga  dan membuatnya mendongak ke atas dengan segera.


"Kenapa,, Um?"


"Tidak papa, setelah ini tolong minta salah satu santri untuk menemani abahmu di rumah. Kita tidak mungkin membawanya ke rumah sakit, dalam kondisi panik seperti ini," ucap Umi Nafisah dengan jelas.

__ADS_1


Gus Musa kembali mengangguk, setelahnya langsung melesat lari meninggalkan tempat itu dengan tak sabar.


*Masih belum selesai, bab ini akan di tambah lagi besok ya. Authornya wes kudu pingsan ini. Wes pokoknya nanti tak tambah isi bab nya ya, wes Monggo di tunggu.


__ADS_2