
Beberapa saat sebelumnya.
Di kediaman Sarah Axel.
"Sayang, kamu lagi apa? Kan Mas udah bilang jangan banyak gerak lagi. Perut kamu sudah besar sekali, Sayang. Kalo perlu apa apa kan bisa panggil Mas." Axel memapah tubuh besar istrinya kembali ke atas kasur.
Sarah terengah-engah, padahal dia hanya menunduk sebentar untuk mengambil air podnya yang jatuh ke lantai di bawah kasur.
Usia kandungan yang sudah mulai memasuki bulan ke sembilan membuatnya menjadi semakin di awasi oleh Axel dan semua keluarganya. Apalagi Sarah sudah sangat sulit bergerak mengingat perutnya yang sangat besar melebihi kehamilan normal.
"Sudah ya, Sayang. Tiduran aja, jangan ngapa-ngapain lagi ya, walaupun cuma mau ambil barang jatuh kamu panggil aja Mas. Jangan ambil sendiri ya," tukas Axel sambil mengelus rambut Sarah.
Sarah mengangguk dan mengambil air pod miliknya yang kini berada di tangan Axel itu.
"Makasih banyak ya, Mas. Kamu selama inilah sudah susah payah merawat aku dan calon anak-anak kita," ujar Sarah terharu.
Belakangan sejak mengandung anak kembar tiga, Sarah memang selalu mengalami perubahan mood yang bisa sangat tiba-tiba atau bahkan spontan. Hingga dia sendiri kadang tidak mengerti dengan dirinya.
"Sama sama, Sayang. Harusnya Mas yang berterima kasih sama kamu, karna kamu sudah tulus ikhlas mengandung buah hati kita, apalagi sekaligus tiga Mas tau kamu pasti kesulitan sekali kan selama ini membawa mereka kemana pun?" tanya Axel lembut.
Sarah mendesah, namun bibirnya tetap senantiasa mengulas senyum.
"Sarah ikhlas, Mas. Ini juga kan yang selama ini Sarah tunggu tunggu kehadirannya, dan sekarang mereka hadir sekaligus tiga, tentu saja Sarah sangat bahagia."
Axel mengangguk dan meminta izin Sarah untuk pergi ke kamar mandi sebentar, menuntaskan hajat yang sudah di tahannya sejak tadi.
"Mas ke kamar mandi dulu, cuma sebentar kalo butuh apa apa tunggu Mas. Jangan lakuin sendiri lagi ya, Sayang." Axel mengelus puncak kepala Sarah dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Sarah mengangguk dan kembali memakai air podnya di telinga, melanjutkan kegiatannya tadi yaitu menonton video parenting di sosmed.
"Duh, Mas Ax lama banget sih ... mana haus lagi, air di sini juga habis. Hah, coba aja si Jeni nggak kabur kemarin, pasti masih ada yang urusin hal hal kayak begini, sekarang harus nunggu Mas Ax dulu selalunya. Lagi pula dia juga kenapa sih nggak mau banget pake jasa orang lain lagi buat bantuin aku? dasar suami terlalu cinta ya begitu." Sarah terkekeh geli sambil kembali menyandarkan tubuhnya ke atas bantal yang di tumpuk tinggi di belakang punggungnya.
Satu menit,
Dua menit,
Tiga menit,
Hingga lebih dari sepuluh menit Sarah menunggu Axel tak kunjung muncul dari dalam kamar mandi, entah apa yang di lakukannya di sana mungkin saja tengah sakit perut atau terlalu menikmati membaca tulisan di botol karbol pewangi kamar mandi.
"Duh, mana Momy sama Mama juga lagi nggak ada. Mau panggil bibik kok kejauhan, nggak kuat teriak teriak akunya. Duh,hausnya ...."
Sarah beringsut perlahan, hendak menuju ke pintu kamar untuk mencoba memanggil asisten rumah tangga yang bertugas memasak dan membersihkan rumah saja, sedang untuk semua keperluan Sarah semua di atur oleh Axel sendiri.
Namun baru saja beberapa langkah berjalan, tanpa sengaja kaki Sarah selip dan dia langsung jatuh tanpa ampun.
Mata Sarah melebar ketika menyadari air bening itu semakin lama semakin banyak dan segera membanjir membasahi lantai kamar.
"Maassss! Tolong, Mas!" seru Sarah sambil memegangi perutnya yang terasa mulai nyeri.
Air ketuban itu semakin banyak keluar, Sarah merasakannya, dan dia panik karenanya.
Brakkk
Axel membuka pintu kamar mandi dengan kasar, wajahnya tampak pias melihat Sarah sudah terkapar di lantai, dengan di kelilingi air ketubannya sendiri.
__ADS_1
"Massss ... tolong, sakit ...." Sarah mendesis sambil memegangi perutnya.
Axel gegas menelpon ambulan sambil memangku istrinya yang tampak sangat lemas dan kesakitan itu. Setelah menelpon ambulan, Axel berteriak memanggil Lasmi yang selalu bersiaga di dekat kamar Sarah sebagai asisten pribadinya.
"Lasmi! Lasmi ke sini!" panggil Axel dengan kepanikan tampak tertahan di wajahnya.
Sarah tampak pucat, berkali kali dia meremas lengan Axel yang di pegangnya untuk sekedar bisa mengalihkan rasa sakit yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya.
" Masssss ...." Sarah menarik nafas panjang, mencoba mempraktekkan apa yang selama ini dia lihat di reel tentang bagaimana cara mengurangi mulas saat akan bersalin.
Namun rupanya metode tiup tiup itu sama sekali tidak membantu, dan malah membuat Sarah seakan kehabisan nafas. Mungkin saja tekniknya yang salah karna tidak ada yang membimbingnya.
"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita ke rumah sakit." Axel mengelus rambut Sarah dan berusaha menenangkannya walau sepertinya tidak berpengaruh untuk meringankan rasa sakit yang di rasakan istrinya itu sedikit pun.
"Tuan muda, mobil ambulannya sudah datang ," lapor Lasmi yang selalu cekatan dan bisa di andalkan.
Tanpa di perintah, Lasmi gegas memgambil sebuah travel bag yang ada di balik pintu dan memakainya di bahu, kemudian perlahan dia membantu Axel untuk memapah Sarah menuju mobil ambulan yang sudah di arahkan Lasmi untuk parkir tepat di depan pintu rumah, atau tepatnya sejajar dengan pintu utama agar lebih mudah memasukkan Sarah nantinya.
Di sepanjang jalan yang mereka lewati hampir semuanya terkena tetesan air ketuban Sarah, mereka semua sudah sangat khawatir namun sengaja Axel tidak menampakkannya karna tidak ingin membuat istrinya menjadi drop karna cemas berlebihan.
Setelah masuk ke dalam ambulan dan menutup pintu belakangnya, mobil berwarna putih tersebut langsung melaju membelah jalan raya. Sirenenya berbunyi nyaring meminta para pengendara lainnya untuk memberikan jalan agar mereka bisa lekas sampai di rumah sakit tujuan.
"Mas, kenapa rasanya sakit sekali?" bisik Sarah di sela sela kesakitannya.
Wajah cantiknya tampak memucat menahan sakit, hingga tanpa sadar dia menggigit bibirnya sendiri untuk mengalihkan rasa sakitnya yang benar-benar luar biasa. Rasa sakit yang paling sakit ketimbang semua rasa sakit yang pernah dia rasakan.
Axel mengecup kening Sarah lembut, air matanya tanpa sengaja meleleh di atas kening Sarah. Lasmi yang turut ikut dengan mereka tanpa sadar juga menetes kan air matanya menyaksikan itu semua. Kasih sayang Axel yang luar biasa pada Sarah membuat siapa saja yang melihat pasti turut merasakannya juga.
__ADS_1
"Sabar ya, Sayang. Kamu pasti kuat, kamu wanita kuat, demi anak anak kita. Kuat ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan ketemu mereka, tiga anak yang sudah lama kita nantikan."
Sarah mengangguk lemah, pandangannya perlahan buram dan dia memilih untuk memejamkan matanya.