MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 121.


__ADS_3

"Bagaimana, Sat? Kamu mau kan?" tanya Axel sambil memegang sebuah map berusia surat kepemilikan atas salah satu restoran miliknya.


 Satrio tampak menegang jari jarinya terlihat saling meremas.


"Tapi ... tapi, saya merasa nggak pantas , bos."


 Axel tergelak.


"Nggak pantas bagaimana? Justru karna kamu itu pantas makanya saya berniat memberikan satu resto saya ini untuk kamu kelola, nanti pembagiannya itu 70% keuntungan untuk kamu, dan 30% untuk saya," tegas Axel sambil menyorongkan map itu ke hadapan Satrio, sang karyawan kepercayaannya sejak dulu.


 Dengan tangan bergetar, Satrio mengambil map itu dan membaca isi di dalamnya. Matanya melebar seiring jatuhnya buliran bening itu dari sana.


"Eh, kok malah nangis sih?" kekeh Axel sambil menepuk pelan pundak Satrio.


"Bos, ini ... ini serius?" tanya Satrio lagi dengan tatapan tak percaya.


 Axel mengangguk mantab sembari mengulas senyum selebar senyuman joker, eh.


"Ya iyalah, serius. Ngapain juga hal kayak gini saya jadiin bercandaan? Lucu kamu itu, sat."


 Satrio masih tampak tak percaya, berkali kali dia menatap ke arah Axel lalu kembali menatap map di tangannya. Mulutnya tak berhenti merapal ucapan hamdalah.


"Sudah, terima saja. Kamu hanya perlu tanda tangan di sini, setelah itu kamu resmi jadi pemilik 70% dari restoran ini." Axel berkata kembali, mencoba meyakinkan Satrio untuk menerima hadiah darinya.


"Tapi, tapi ...."


"Halah, udahlah. Nggak usah sok nolak kamu, kamu butuh modal buat nikahin di Aisyah kan?" sela Axel menggoda Satrio.


 Mata Satrio mendadak melebar, mulutnya bahkan sampai ternganga saat melihat Axel.


" Darimana bos tahu?" desisnya masih mencoba mencerna situasi yang ada.


 Axel tergelak, mengatasi keriuhan suasana restoran yang selalu penuh sesak dengan pelanggan itu, terlebih saat jam jam makan tiba. Bahkan akan sampai terjadi antrian yang mengular saking ramainya.


"Sudah, kamu nggak usah banyak tanya. Buruan tanda tangan, saya mau pergi lagi ini. Mau daftarin triplets ke TK." Axel kembali mendesak.

__ADS_1


 Akhirnya karna tak di beri pilihan lain, Satrio yang masih mengenakan seragam ala karyawan resto itu mengambil bolpoin yang ada di kantung bajunya sendiri karna terbiasa untuk mencatat pesanan pelanggan dan membubuhkan tanda tangannya di atas materai tempat di kertas putih berisi surat kuasa di dalam map itu.


"Ini, bos. Sekali lagi, terima kasih banyak atas kepercayaannya, bos." Satrio sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati Axel yang sudah di anggapnya saudara sendiri itu..


 Axel menerima map itu dan melihat tanda tangan Satrio di sana dengan perasaan lega.


"Baiklah, mulai sekarang kamulah manajer restoran ini. Besok kita akan langsung umumkan sama tim yang lain tentang pengangkatan kamu sebagai manajer baru," pungkasnya tegas.


 Satrio mengangguk, dan mengantarkan Axel yang harus langsung kembali ke rumahnya. Setelah itu tak hentinya Satrio mengucap syukur dalam hatinya, tak sabar nantikan untuk menyampaikan kabar itu pada keluarga dan juga pada kekasih hatinya Aisyah yang jauh di sana.


"Mas akan segera melamar kamu setelah tabungan Mas cukup, Aish. Alhamdulillah, Gusti Allah beri jalan semoga ini jawaban kalau kamu adalah jodoh Mas. Semoga saja jalan kita di permudah," gumam Satrio di sela kesibukannya di restoran sembari mengecup ringan sebuah foto kecil yang selalu ada di dalam dompetnya. Foto gadis manis berlesung pipi dan berambut panjang yang tak lain adalah Aisyah.


****


"Kamu kenapa, Mom?" tanya Tuan Bryan pada nyonya Ellen yang tampak gelisah, sejak tadi Nyonya besar itu berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sejak usai menerima sebuah panggilan telepon.


"Aku hanya takut kalau apa yang kita lakukan selama ini sia-sia, Dad. Bagaimana kalau pada akhirnya Ed menemukan mereka?" sahut Nyonya Ellen dengan wajah tak tenang.


"Kenapa kau bisa berkata begitu, Mom? Bukankah kau sudah mengirim mereka jauh dari kota ini, bahkan kita pun tidak tahu mereka semua pindah kemana bukan?" Tuan Bryan berjalan mendekati sang istri dan membawanya duduk di tepi ranjang mereka.


"Iya, yang kau bilang memang benar, Dad. Tapi apa kau lupa berapa usia mereka saat ini?"


Degh.


 Tuan Bryan tertegun, perlahan bayangan mengerikan seperti pembunuhan brutal yang menimpa kedua orang tuanya berputar di benaknya.


****


 Di kampung Aisyah.


 Nek Janah tampak tengah duduk di saung belakang rumahnya, saung kecil yang berada di tengah kebun tebu yang sangat luas yang di miliki nek Janah sendiri. Hasil dari uang pemberian nyonya Ellen saat dulu memintanya membawa Asiyah pergi jauh.


 Sebenarnya untuk masalah ekonomi, Nek Janah sama sekali tidak kesulitan. Dan alasan kenapa dia ingin menikahkan Aisyah secepatnya, karna dia sendiri punya tujuan yang lain. Dan sebelum itu dia harus membuat Aisyah pergi dari kehidupannya lebih dulu.


"Nek," panggil Aish pelan, entah sejak kapan gadis manis itu sudah ada di belakang nek Janah.

__ADS_1


"Apa?" sahut Nek Janah ketus, geram karena hayalan indahnya di buyarkan oleh gadis itu.


 Anak yang terpaksa di rawatnya hanya karna tergiur iming-iming uang yang banyak, yang sedikit pun tak ia ikhlaskan turut di nikmati Aisyah. Padahal berkat Aish jugalah dia bisa menikmati semua uang itu. Namun sejak remaja bahkan Aish tidak lagi di sekolahkan dan malah di suruh bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri dan bahkan tak jarang hasil usaha Aisyah dialah yang meminta.


"Kamu mau apa? Kalau cuma mau ganggu waktu ku lebih baik masuk ke rumah dan masak saja sana!" hardik nek Janah karena Aish tak kunjung mengatakan apa tujuannya.


 Aisyah terjingkat kaget, karna suasana yang sepi membuat ucapan Nek Janah terdengar begitu keras di telinga.


"Ah, itu ... itu Aish, mau tanya sesuatu, Nek.".


 Nek Janah mendengus.


"Tanya apa? Awas saja kalau tidak penting," gumamnya kesal.


 Aisyah mengigit bibir bawahnya, berusaha menetralkan degup jantungnya yang tak karuan. Lalu berjalan pelan untuk lebih mendekat pada sang nenek.


"Emmm, Aish mau tanya ... sebenarnya siapa orang tua kandung Aish, Nek?" tanya Aisyah pelan sekali, namun untungnya jarak yang tak terlalu jauh dari Nek Janah membuat nenek nenek itu masih bisa mendengar ucapan Aisyah.


 Nek Janah berbalik, raut wajahnya tampak tak senang.


"Mau apa kau tiba tiba mengatakan itu hah? Apa kau lupa orang tuamu itu sudah membuang mu! Kalau tidak, gak akan mungkin kamu ada bersamaku selama ini!" tekan nek Janah sambil menatap tajam mata Aisyah yang terlihat ketakutan.


 Nek Janah bangkit dan semakin mendekatkan wajahnya pada Aisyah yang kini memilih menunduk dengan bahu tampak bergetar.


"Katakan! Untuk apa kau bertanya tentang orang tuamu? Pasti ada sesuatu yang mendorongmu melakukannya bukan? Katakan apa itu?" desak Nek Janah mulai mengintimidasi Aisyah.


 Aisyah membulatkan tekad, membuang jauh sejenak ketakutannya pada Nek Janah dan membersihkan diri menatap mata neneknya.


"Aisyah mau meminta restu mereka untuk menikah dengan Mas Satrio, Nek!" jawab Aisyah tegas, walau kini air mata sudah memenuhi wajahnya.


 Mata Nek Janah seketika mendelik, rahang tua yang tak lagi memiliki gigi lengkap itu tampak bergemeletuk.


"Apa kau bilang?"


"Aisyah mohon, Nek. Kali ini saja beri tahu Aisyah, maka setelah ini Aisyah janji akan pergi dari hidup nenek, seperti sebelumnya."

__ADS_1


__ADS_2