
Semalam suntuk sudah Juli menangis di dalam bilik yang serupa penjara itu, namun tak ada satu orang pun yang peduli. Apalagi terlalu perhatian dengan menanyakan keadaannya.
"Mas Al kamu tega, masa aku benar-benar kamu tinggal di sini sih, Mas? Apa kamu nggak inget sama anak kamu yang sekarang masih ada di perut aku?" lirih juli sembari menatap keluar, dimana suasana sekitar sudah mulai tampak lengang, mungkin sebagian besar penghuni rumah sakit jiwa tersebut sudah terlelap dan tidur nyenyaknya.
Berbanding terbalik dengan dirinya yang harus menahan kantuk demi menunggu suaminya datang kembali menjemput. Setidaknya dia masih punya keyakinan kalau Alam tak akan Setega itu meninggalkan istri dan anaknya di rumah sakit jiwa. Apa kata orang nanti kalau kelakuannya ini ketahuan.
"Apa pasien baru ini sudah makan?" terdengar suara langkah kaki di sertai percakapan dua orang yang suaranya terdengar familiar di telinga Juli.
Juli bangkit dari posisi duduknya, dan berdiri sembari berpegangan pada jeruji pintu bilik. Menatap dengan wajah memelas ke arah luar agar di kasihani.
"Sepertinya sudah, dok tadi semua pasien sini sudah pada makan bersama kok," sahut seseorang yang sepertinya menjadi lawan bicara dokter itu.
Langkah mereka semakin mendekat, dan tak akan mereka berdua akhirnya sampai di depan pintu ruangan bilik dimana juli berada.
"Pak dokter, tolong lepaskan saya. Saya tidak gila, Pak kalian salah tangkap," gumam Juli menghiba sembari mengusap usap perut nya yang membuncit itu.
Dokter yang kira kira sudah berusia kepala empat itu menatapnya dengan seksama, seolah tengah memindai apakah Juli berbohong atau tidak.
"Tolonglah, Dok. Saya mau pulang, kasihan bayi di perut saya kalau saya terlalu lama di sini, dok. Di sini dingin sekali, saya tidak tahan." Juli menggigil sembari memeluk tubuhnya sendiri seolah sangat kedinginan, padahal itu hanya sandiwaranya agar dokter itu mau mendengarnya.
Dokter itu sejenak mengernyit, entah belum percaya atau tidak mendengar apa yang sejak tadi di katakan oleh Juli selain wajahnya yang tampak memelas.
"Buka pintunya," titah dokter itu pada sang perawat yang berdiri di sebelahnya.
Perawat pria itu mengangguk, lalu mengeluarkan serenteng kunci dari balik bajunya dan memasukkan salah satunya ke dalam gembok yang terpasang di pintu bilik pasien dimana Juli berada.
__ADS_1
"Silahkan ,dok." Perawat itu menyingkir memberi jalan pada sang dokter untuk masuk.
Melihat kesempatan, Juli tak menyia-nyiakannya bahkan dengan cepat dia langsung menjatuhkan diri di hadapan dokter itu dengan tampang memohon dengan sangat.
"Dok, tolonglah saya hanya ingin kembali pada suami saya. Saya sedang hamil, dok dan saya takut di sini saya stress. Dan itu bisa mempengaruhi bayi yang ada di kandungan saya bukan? Untuk itu tolonglah percaya pada saya, dok saya tidak gila."
Dokter itu tampak saling pandang dengan sang perawat beberapa saat, dari bibir keduanya terdengar ******* panjang yang menunjukkan keprihatinan.
"Kamu yakin? Tidak gila?" tanya sang dokter sembari berjongkok dan mendekatkan dirinya pada Juli.
Juli mengangguk cepat dengan tatapan penuh harap, besar harapannya untuk bisa segera keluar dari sana dan mencari suaminya yang entah pergi kemana hingga tak lagi kembali untuk menjemputnya. Mungkinkah jika Alam memang benar-benar membuangnya? Betapa malang nasib Juli jika benar itu yang terjadi.
"Saya yakin saya tidak gila, Dok. Saya mohon keluarkan saya, saya cuma mau pulang," rintih Juli mencoba kembali membujuk sang dokter.
Dokter itu tampak manggut-manggut, lalu meminta sang perawat untuk memindahkan Juli ke atas pembaringan m karna dia hendak melakukan pemeriksaan secara langsung.
"Bagaimana, dok? Saya tidak gila kan? Saya baik baik saja, dok kalian yang salah paham." Juli bangkit dari posisi berbaring dan duduk menghadap dokter dan perawat pria itu.
"Siapa bilang?" ucap dokter itu yang membuat Juli seketika merinding, apalagi saat dokter itu mulai mengeluarkan sebuah suntikan besar dari balik baju yang di kenakannya.
Juli beringsut mundur, takut sekali dengan suntikan yang di bawa pria berbaju putih itu. Berusaha menghindar kalau kalau dokter itu ingin melakukan hal yang tak di inginkan saat ini.
"Ap- apa yang mau dokter lakukan?" cecar Juli dengan perasan takut setengah mati.
Dokter itu menyeringai, berjalan semakin dekat dengan sang perawat terus saja membuntutinya dan memasang wajah seram yang sama. Menatap Juli lekat seakan ingin memakannya bulat-bulat.
__ADS_1
"Kamu itu gila, sangat gila hingga sudah parah."
. Juli seketika tercekat mendengar perkataan dokter itu, yang kini pun masih mengacungkan jarum suntikan besarnya ke hadapan Juli yang sudah pucat pasi karenanya.
"Ap- apa maksud, dokter?" tanya Juli gugup, sembari terus beringsut mundur agar tubuhnya tak tergapai oleh dokter berumur itu. Tapi pergerakan Juli menjadi terbatas terlebih karna perutnya yang sudah membuncit mempersulit gerakannya.
Dokter itu tampak gusar, dia memberi kode pada sang perawat di belakangnya untuk memegangi Juli. Dengan sigap perawat pria yang bertubuh kurus dan tinggi dengan potongan rambut gondrong tertutup ikat kepala itu melakukan perintahnya.
Dia mendekat, hendak meraih Juli namun cepat ditepis oleh Juli. Hingga tubuh kurus perawat itu bisa tersurut mundur menjauh.
"Pegangi dia, bo doh! Dia harus mendapatkan suntikan sebelum virusnya menyebar?" bentak dokter itu lagi, kini Juli mulai panik, apalagi saat dia melihat perawat itu mulai bangkit dan menatapnya seperti singa yang lapar dan siap menerkam mangsanya.
Juli gemetaran di atas kasur dan ranjang yang terus saja berderit nyaring setiap kali dia bergerak. Seakan jika dia salah bergerak sedikit saja maka dia akan jatuh ke bawah, dan itu akan sangat membahayakan bagi bayi yang di kandungnya.
Grab.
Tanpa sadar tangan Juli kini sudah ada di dalam cengkraman pria gondrong itu, yang kini malah membuat Juli sanksi kalau mereka berdua adalah dokter dan perawat di rumah sakit jiwa tersebut. .
Mana ada dokter yang asal diagnosis dan memaksa pasiennya menerima suntikan tanpa alasan yang jelas.
"Nah, akhirnya ketangkap juga kamu ya. Dasar orang gila nakal." Dokter itu menyeringai sesekali bahkan lidahnya tampak menyapu bibir yang kering kehitaman itu.
Dokter yang di rasa gadungan itu kini mengangkat tinggi suntikannya sedang Juli hanya bisa pasrah karena kini tubuhnya sebagian besar di pegangin oleh sang perawat gondrong. Kaki dan tangannya terutama, membuat dia sangat sulit untuk bergerak.
Juli menutup mata, dia pasrah jika malam ini tuhan akan mengambil nyawanya, terlebih dia tidak tahu apa isi cairan yang ada di dalam suntikan itu. Bisa jadi benar obat, namun entah obat apa dan bisa jadi juga racun yang sayangnya Juli pun tidak tahu racun apa.
__ADS_1
"Ahahhahah, ini sangat menyenangkan!" seru sang dokter sembari melangkah cepat menuju tubuh Juli yang diam dalam cengkraman temannya.
"Hei kalian! Berhenti membuat masalah!" seru seseorang yang membuat sang dokter langsung tersurut mundur dengan tangan menggaruk garuk kepalanya sendiri dengan wajah tau berdosa.