MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 150.


__ADS_3

"Dia kenapa, Asy?" tanya Rahman dengan hati berdebar tak karuan, bukan karena tengah berdekatan dengan Asy. Rahman sangat bisa mengkondisikan hatinya harus bagaimana jika dalam situasi seperti sekarang ini.


"Asy dengar usianya  sudah tak lama lagi, Kak. Apa artinya itu ... apa itu ...," lirih asy sambil menempelkan tangan di kaca tembus pandang yang memperlihatkan kondisi di bagian dalam ruangan itu, dimana Alam tampak terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan wajah yang seputih kapas.


Rahman menarik nafas dalam, tak tega rasanya melihat wanita yang dia cinta menangis seperti sekarang. Tapi tak di pungkiri ada sudut hatinya yang ikut menangis menyaksikan betapa khawatir nya Asy pada lelaki yang berstatus suaminya itu, Rahman sadar dia tak berhak tapi salahkan ia jika ada sekelumit rasa cemburu di hatinya saat ini.


"Harusnya rasa itu untuk kakak, Asy." Rahman bergumam lirih sambil menundukkan kepalanya dan memejamkan mata menahan lelehan air bening yang memaksa hendak keluar.


"Apa, Kak? Kakak bilang apa tadi?" tanya Asy yang sepertinya mendengar gumaman Rahman tadi.


Rahman lekas mendongak, menatap wajah cemas Asy dengan ekspresi seolah tidak terjadi apa apa. Toh dia sudah tak terkejut lagi mendengar kondisi Alam karna beberapa waktu lalu Alam sempat mengatakan hal ini padanya, salahkah Rahman jika saat ini dia sedikit bahagia di atas sakitnya Alam?


"Tidak, kakak tidak bicara apa apa. Tadi kamu meminta kakak ke sini untuk minta bantuan kakak kan? Lalu sekarang apa yang bisa kakak bantu untuk kamu, Ssy?" tanya Rahman mencoba meredam getaran di nada suaranya.


Asy kembali melempar tatapan pada si sakit di dalam ruangan sana, entah apa yang dia inginkan kenapa malah berada di luar dan bukannya masuk ke dalam untuk melihat kondisi suaminya lebih dekat.


Air mata Asy kembali jatuh, membuat hati Rahman bergetar karna tak rela. Tapi di sisi lain dia juga tak bisa berbuat apa apa untuk saat ini, hanya diam dan menikmati rasa sakitnya seorang diri.


"Asy tidak tahu, Kak. Tapi ... mendengar apa yang di katakan Mas Al pada Papi tadi, bisakah kakak memenuhi permintaan terakhir Mas Al?" gumam Asy bertanya namun lebih serupa bisikan, mungkin saja dia merasa canggung menanyakannya pada Rahman.


Jlegarr


Bak di sambar petir di siang bolong, Rahman bahkan sampai tersurut mundur selangkah. Memegangi dadanya yang terasa nyeri akibat mendengar permintaan Asy tadi. Bukan dia tak tahu isi permintaan itu, dia tahu bahkan sangat tahu karna Alam sudah lebih dulu memberitahu hal itu padanya.


Jangan di tanya bagaimana sakitnya, air mata yang sejak tadi di tahan oleh Rahman bahkan tumpah dengan sendirinya. Mengalir deras di kedua pipinya hingga membentuk jejak yang akan selalu terpatri dalam ingatannya, entah kapan luka itu akan sembuh.


"Kak, kakak menangis?" tanya Asy dengan suara serak sembari melangkah mendekat ke kursi di mana Rahman menjatuhkan bobot tubuhnya karna tak sanggup lagi berdiri menahan sakitnya hati yang di tinggalkan itu.


Asy duduk satu bangku lebih jauh dari Rahman, saling menjaga agar tak timbul fitnah nantinya.

__ADS_1


Tapi Rahman justru bergeser semakin menjauh, sembari membuang muka agar Asy tak bisa melihat air matanya


"Kak, apa Asy salah bicara?" tanya Asy lagi, kali ini suaranya sudah lebih normal karena tangisnya yang sudah berhenti dan beralih pada Rahman.


Rahman masih enggan berpaling, dia mengusap air matanya kasar berharap lelehannya mau berhenti. Namun bukannya berhenti seperti inginnya, air matanya malah mengalir semakin deras menyerupai air bah.


"Jika kakak keberatan, maka ...."


"Lakukan apapun yang kamu mau, Asy. Kakak sama sekali tidak berhak atas kamu, jadi ... kamu bahkan tidak perlu meminta izin apapun dari kakak." Rahman bangkit berdiri dengan posisi masih membelakangi Asy.


Di usapnya air mata yang masih setia berjatuhan itu sebelum akhirnya melangkah pergi tanpa berpamitan. Meninggalkan Asy yang masih terduduk di tempatnya dengan wajah kebingungan.


Rahman berjalan keluar dari rumah sakit itu, melangkah menyusuri trotoar jalan tanpa arah dan tujuan. Matanya menatap kosong arah jalan yang di laluinya, sesekali wajah basahnya tersorot lampu kendaraan yang lewat di jalan raya tepat di sebelahnya.


Sampai di suatu jembatan gantung besar, Rahman berhenti. Entah sudah berapa lama dia berjalan hingga bisa sampai di sana, dia pun tak ingat.


"Kenapa kita harus saling berjumpa jika pada akhirnya akan saling meninggalkan? Kenapa kita harus saling tertawa jika pada akhirnya saling membuat luka, dulu tersirat janji untuk selalu menjaga rasa ini namun kini semua berakhir seperti ini. Tapi kenapa? Kenapa sakitnya hanya aku yang rasa?" isak Rahman di tepi jembatan gantung yang terasa bergoyang itu.


"Hei, Robin apa yang kau lakukan di sini?" sapa seseorang yang sejak lama selalu ingin di hindari Rahman.


Rahman tersurut mundur saat langkah tegas itu mendekatinya, tatapan lapar seorang pemangsa yang bersiap menerkam mangsanya.


"Sepertinya malam ini malam terakhir mu mengingat sejak lama kau kabur dariku dan mengacaukan semua rencanaku."


Seringai itu membentuk di wajah tegas yang menakutkan, wajah terakhir yang di lihat Rahman sebelum akhirnya semua berubah menjadi kegelapan yang pekat.


****


Kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


"Honey, kamu di sini? Bukankah katamu tadi hendak pulang untuk mengambil pakaian ganti suamimu?" tanya Ed saat hendak kembali ke dalam kamar Alam setelah berdebat sulit dengan seseorang tadi.


Asy yang masih melamun menatap arah perginya Rahman tersentak dan langsung bangkit berdiri di hadapan Ed.


"Ah, Pap. Iya tadinya Asy ingin mengambil pakaian ganti Mas Al, tapi ... tidak jadi karna  ...  karna ...."


Asy meremas jemarinya karna kebingungan harus memberi jawaban seperti apa pada sang ayah.


.


Edwin yang mengerti kegelisahan sang anak langsung merangkulnya dan membenamkan wajah Asy di dada bidangnya yang hangat.


Irama detak jantung Edwin menjadi nada tersendiri yang membuat Asy menjadi lebih tenang.


"Sudahlah, nanti pakaiannya kita beli saja. Kamu tidak usah terlalu lelah, Papi tidak akan biarkan itu." Ed mengecup kening sang putri sekilas lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam ruangan dimana Alam berada.


"Pap, Asy kalian sudah datang. Kenapa lama sekali?" sambut Alam yang ternyata sudah bangun dan tengah duduk bersandar di ranjang pasien nya.


Ed menatap senyum menantunya itu yang tampak bahagia dan getir dalam waktu bersamaan.


"Iya, perdebatan nya lumayan alot tadi. Apa kamu butuh sesuatu?" sahut Ed sembari mendekat ke arah ranjang Alam.


Alam menggeleng dan menoleh pada Asy yang tampak murung.


"Asy, bagaimana? Apa yang tadi Mas bilang sudah kamu sampaikan pada Rahman?" tanya Alam dengan senyum lembut di wajahnya.


Asy mendongak menatap mata teduh pria yang berstatus suaminya itu, lalu dengan ekspresi sedih dia menggelengkan kepalanya lemah.


"Belum, Mas sepertinya kak Rahman salah paham dan langsung pergi begitu saja sebelum Asy sempat mengatakan permintaan Mas."

__ADS_1


Alam menghela nafas panjang. "Sayang sekali, dia melewatkan kesempatan untuk berita bahagia yang dia nantikan itu."


__ADS_2