
Jeni terhenyak sesaat, lalu matanya menatap lekat Sarah.
"M- Mbak Sarah serius?" tanyanya hati hati.
Sarah mengangguk pelan. "Iya, saya serius. Sangat serius," jawabnya.
"Tentu saja, Mbak dengan senang hati. Tapi ... kalau boleh Jeni tahu apa yang buat Mbak tiba tiba ... emmm Maaf, mau belajar sholat?"
Sarah tak langsung menjawab, mendesah pelan dan memilih melempar tatapannya pada langit yang tampak mendung di luar sana.
"Orang tua saya, Jen. Mereka ... mereka lah yang meminta saya lebih mendalami ilmu agama. Mungkin selama ini mereka melimpahi saya dengan harta, tapi mereka lupa mengajari saya tentang akhirat. Dan untuk itu juga saya ingin memulainya sekarang," jawab Sarah apa adanya, sudut hatinya berdenyut nyeri kala kembali teringat akan ke dua orang tuanya yang tak akan pernah lagi dia jumpai di dunia.
Jeni mengangguk paham. "baiklah, Mbak kapanpun Mbak mau dan siap Jeni akan mengajari."
Sarah menoleh dan tersenyum tipis.
****
Sementara itu.
"Uncle kami harus pulang," pinta Rahman entah untuk yang ke berapa kalinya pada Ed, namun tak kunjung di kabulkan oleh Ed.
"Memangnya apa yang membuatmu terburu buru begitu, anak nakal? Kau tidak mencemaskan ibumu dan kalian jika keluar di saat genting seperti ini?" Ed bertanya dengan santainya, menyeruput kopi hangat di gelasnya dan matanya terfokus pada layar benda pipih di hadapannya, membaca berita terbaru yang masih hangat hangatnya.
"Genting seperti apa? Aku bahkan tidak ada apa kabar dengan dunia, aku sudah lama meninggalkannya dalam hatiku." Rahman menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa ruang kerja Ed, dan mengerucutkan bibirnya karna kesal.
Ed terkekeh, bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati Rahman.
"Ini situasinya, apa kau yakin mau keluar sekarang?". Ed mengangsurkan layar ponselnya yang menyala itu ke hadapan Rahman.
Rahman mengambilnya, memindai isinya dan mulai membaca satu persatu baris dari berita yang di tunjukkan Ed.
"Apa maksudnya ini, uncle? Meninggal? Tapi ... tapi ... bukankah ini ... orang orang yang menculik aku tempo hari? Apa yang terjadi pada mereka?" cecar Rahman dengan nada suara di buat serendah mungkin, agar tak ada seorang pun yang mencuri dengar.
"Ya, seperti yang kau lihat mereka meninggal." Ed menjawab santai.
"Maksud ku apa penyebabnya, Uncle. Bukankah ... bukankah waktu itu katamu mereka hanya pingsan?" cecar rahman gemas.
Ed mengangkat bahunya acuh. "Sepertinya ada orang lain yang juga punya dendam dengan mereka, tapi ... baguslah bukan dengan begitu kita tidak perlu bersusah payah membalas dendam lagi pada mereka. Mereka sudah akan mendapatkan balasannya sendiri di alam yang berbeda."
__ADS_1
Rahman menatap Ed tajam. "Apa Uncle tahu sesuatu?"
"Maksud mu?" Ed menggeser tempat duduknya agar lebih nyaman.
"Apa uncle ada di balik semua ini? Apa uncle otaknya?"
"Hei, kau menuduhku?" sergah Edwin tak suka.
"Tidak, tapi kelihatannya sangat jelas. Karna uncle terlihat santai saja," ketus Rahman tak peduli walau sudah membuat pamannya kesal.
"Lalu aku harus apa? Ikut panik? Kabur ke luar negri? Dan membuat mereka semua akan berpikir sama dengan pikiran picikmu itu? Huh, kenapa aku jadi menyesal sudah menyelamatkan mu saat itu ya?" geram Ed sambil melirik Rahman kesal.
"Kenapa kau serius sekali, Uncle? Aku kan hanya bercanda. Aku hanya ingin pulang, uncle di sini tidak enak.". Rahman menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa yang empuk itu, menatap langit langit yang berwarna putih bersih.
"Bercanda mu tidak lucu, jangan harap kau dan ibumu akan bisa pergi dari sini." Ed mendengkus.
"Tapi, uncle ...."
"Kalau kau rindu bertausiyah lagi, cepatlah pergi ke sana dan ceramahi aku. Aku ingin menjadi seperti mu," gumam Ed sambil menunjuk sudut ruangan yang lebih lega.
Rahman tercenung, memang salah satu alasannya ingin kembali ke pondok adalah karna dia rindu bertausiyah, rindu dengan suasana di pondok dan terlebih rindu dengan kenangannya yang tertinggal di sana. Walau kini pujaannya ada di tempat lain, dan sudah membuat luka hatinya tapi kenangan manis itu akan selalu di bawa Rahman hingga kapan pun.
"Uncle," panggil rahman tiba tiba.
Ed mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan bertanya. "Apa?"
" Bagaimana kabar Asy?" akhirnya pertanyaan yang sejak lama di tahan Rahman lolos juga dari mulutnya, jangan di tanya bagaimana malunya bahkan kini debaran jantungnya seolah ingin membawa dia terbang ke alam lain.
Rahman menunduk menyembunyikan wajah merahnya di antara kedua tangannya.
Terdengar di ujung sana Ed seperti menahan tawa, namun tak tega untuk melepaskan.
"Sudahlah, tak usah di jawab. Aku pergi saja," tukas Rahman yang tak mampu menahan malu sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Hei, kenapa kau kesal? Ah seperti anak kecil saja," kekeh Ed sambil menggapai tangan Rahman.
Rahman berbalik dan menepis tangan pamannya dengan lirikan mautnya.
"Geli ah," ketusnya.
__ADS_1
Ed masih terkekeh. "Kau ingin tahu kabar putriku, Asy?".
Dengan terpaksa Rahman akhirnya mengangguk, walau sebenarnya hatinya benar benar sudah penasaran bagaimana tanggapan Asy saat tahu dirinya di culik tempo hari. Dan kini di culik lagi oleh pamannya dan tak boleh kembali.
"Kenapa tak kau tanyakan sendiri pada orangnya?" sambung Ed tersenyum penuh arti.
Mata Rahman membola, mencoba mengartikan maksud perkataan Ed tadi.
Ed melirik pintu masuk ruangannya dengan ekor matanya, Rahman mengikuti dan langsung terjingkat kaget melihat wajah Asy sudah ada di sana.
"N- neng Asy ...."
Rahman termegap, matanya melotot menatap Asy yang tersenyum di muka pintu .
"Hai, Kak. Dari mana saja? Kenapa pergi?" gumamnya dengan kaca kaca di matanya.
Rahman menelan ludah kasar, sadar kalau ada yang salah di sini saat ini.
Dia menoleh menatap Ed dengan wajah penuh tanya, tapi Ed malah menggedikkan bahunya dan kembali memfokuskan perhatian pada ponselnya.
"Kak, kenapa pergi? Apa Kakak sudah melupakan aku?" tanya Asy lagi, sembari melangkah mendekat pada Rahman.
Rahman mundur selangkah. "T- tidak ... hanya saja, hanya saja."
"Ah, ya aku membawa kabar baik untukmu, Kak," ujar asy tersenyum manis.
"Apa ... itu?" tanya Rahman terbata.
Asy sejenak menatap sang ayah, Ed mengangguk dan Asy kembali mengalihkan pandangannya pada Rahman.
"Ada seseorang yang ingin bicara kan hal ini langsung padamu, Kak. Apa kau berkenan menemuinya sebentar saja?"
Rahman menatap bingung. " Siapa?"
"Ikutlah denganku maka kau akan tahu," gumam Asy sambil berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Rahman menoleh pada Ed, dan lagi lagi Ed hanya mengangguk saja tanpa kata.
Setelah Rahman berhasil menyusul langkah Asy, Asy berbisik lirih tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Aku masih ingin menghabiskan sisa umurku denganmu, Kak."