
Kembali ke kediaman Andrew.
"Apa, Pa? Axel?" tanya Adam sambil mengernyitkan keningnya.
Andrew tersenyum dan mengangguk. "Yes, Son. Nama kecil mu itu adalah Axel, Axel Eduardo Abbas. Nama yang unik memang, nama itu pemberian dari kakekmu Abimanyu Satya Abbas."
Sonia tersenyum dan mengelus tangan Adam lembut. "Bagaimana, Sayang? nama yang bagus bukan? apa kau mau memakai nama itu lagi seperti saat kau bayi? Mama begitu rindu memanggilmu Axel."
Adam menepuk tangan sang Mama dan membalasnya dengan senyuman yang sama tulusnya.
"Baiklah, Ma. Kalau itu bisa membuat kalian bahagia maka saya akan menggunakan nama itu mulai sekarang," tegas Adam melegakan hati kedua orang tuanya.
"Syukurlah, Papa sangat bangga sama kamu, Nak. Semoga setelah ini semua yang kamu inginkan bisa terwujudkan," doa tulus menuncur dari bibir seorang ayah yang sangat mencintai dan merindukan putranya.
Mereka serentak mengamininya dan bersama menikmati hidangan yang ada. Banyak sekali tamu dari keluarga Andrew dan Sonia yang datang mengucapkan selamat atas kembalinya putra mereka dan menjadikan Adam semakin di kenal di kalangan para pengusaha sukses kolega ayahnya.
****
Sebelumnya di hotel tempat Jeni dan Bima cek in.
"Permisi saya datang untuk mewakili bos saya untuk bertemu dengan pemilik hotel ini," ucap seorang pria bule yang tadi bertabrakan dengan Jeni.
Resepsionis yang melayaninya sempat terkesima dan ternganga sejenak karena terpana oleh ketampanan wajah si pria bule.
"Hallo?" bule itu menggoyangkan tangannya di depan wajah resepsionis perempuan dengan rambut di grlumh itu sampai membuatnya terkesiap.
"Ah, ya. Dengan Tuan siapa?" tanyanya sambil menunduk menyembunyikan semburat merah yang memanas di pipinya.
"Ah, saya Peter. Perwakilan grup X, saya datang ke sini untuk mewakili paman saya yang akan membeli hotel ini."
Resepsionis itu mengangguk dan kembali bersikap profesional setelah sebelumnya sempat terpesona oleh Peter.
"Baik, sebentar Tuan. Saya akan memberitahu bos saya dulu." Resepsionis itu mengangkat gagang telepon dan melakukan panggilan langsung pada bosnya.
__ADS_1
"Halo, Pak. Utusan dari grup X sudah ada di lobi, Pak." ucapnya.
" Baik, saya segera ke sana," sahut sang bos dan setelahnya panggilan di tutup.
Resepsionis itu kembali beralih pada Peter.
"Bos saya sedang menuju ke sini, Tuan silahkan menunggu di sana." tunjuknya pada satu set sofa yang berada tak jauh dari meja resepsionis.
Peter menoleh dan mengangguk sekilas, kemudian dengan langkah lebar dia menuju sofa itu dan menunggu.
Tapi lagi lagi si resepsionis itu datang menghampirinya.
"Ahmmm maaf, Tuan. Boleh saya minta nomor ponsel anda?" tanyanya gugup.
Peter yang sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu langsung saja memberi kartu namanya pada resepsionis itu tanpa banyak bicara.
"Ah, terima kasih Tuan. Anda sangat baik, saya harap saya bisa mendapat jodoh seperti anda," ucap resepsionis itu dengan genit.
"Selamat siang, Tuan ...." pria pemilik hotel itu menggantung kalimatnya karena belum mengenal pria bule di hadapannya itu.
" Peter, Tuan."
Pria itu tersenyum dan menjabat tangan Peter tegas. "Saya Angkasa, pemilik hotel ini. Apa benar anda utusan dari grup X yang ingin membeli hotel ini?"
Peter tersenyum dan menyerahkan sebuah map merah pada Angkasa.
"Benar, Tuan. Dan ini adalah harga yang di tawarkan paman saya untuk hotel ini."
Angkasa menerima map tersebut dan mulai membaca isinya, dia tersenyum dan mengangguk anggukan kepalanya.
"Yah, harga yang sesuai. Katakan pada paman anda kalau saya menyetujui semua yang ada di sertifikat jual beli ini. Dan kalau bisa semua prosedurnya di lakukan secepatnya karna saya dan keluarga sudah akan pindah ke luar negeri setelah menyelesaikan semua urusan hotel ini," tukas Angkasa menyerahkan kembali map merah itu ke tangan Peter.
"Baiklah, Tuan Angkasa. Saya akan sampaikan pada paman saya perihal ini, semoga silahturahmi ini tidak akan berhenti sampai di sini. Kalau begitu ... saya permisi dulu, untuk perkembangannya akan di kabari paman saya nanti," tukas Peter sembari berdiri dan menjabat tangan Tuan Angkasa.
__ADS_1
"Baik, saya tunggu kabar baiknya." Tuan Angkasa mengaantar Peter hingga ke ambang pintu lobi hotel dan setelahnya kembali lagi menaiki lift untuk menuju kantornya sendiri.
Peter berjalan tergesa menuju mobilnya sembari terus melihat jam tangan yang melingkar di tangan kanannya.
"Ah, sudah jam segini apa masih sempat ke pesta paman ya? aku penasaran sekali sama sepupuku yang katanya baru di temukan itu," desis Peter sambil menghidupkan mesin mobilnya dan melaju membelah jalanan untuk sampai ke rumah sang paman, Andrew.
Peter memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, sempat menjadi anak berandal di negaranya yang hobinya kebut kebutan di jalanan ternyata ada gunanya saat dia sedang buru-buru begini.
"Haish, aku lupa membeli buah tangan untuk sepupu ku. Apa yang akan aku katakan ya? Ah, apa nanti aku ajak saja dia keluar untuk menonton film? supaya kami juga bisa lebih dekat, bukankah kata paman kalau dia seumuran ku?" gumam Peter masih betah bicara sendiri.
Gerbang besar rumah pribadi Andrew sudah tampak, satpam yang berjaga sudah mengenali mobil Peter dan langsung membuka gerbangnya begitu dia membunyikan klakson.
Tin
" Silahkan, Tuan muda. Tuan besar sudah menunggu!" seru satpam berkumis itu sambil menunjuk ke arah rumah utama Andrew yang letaknya sekitar seratus meter dari gerbang.
Peter membuka kaca mobilnya dan memberikan selembar uang merah pada satpam yang sudah bekerja pada Andrew sejak dia masih balita itu.
"Jangan beli rokok ya, Pak." Peter terkekeh dan melajukan mobilnya kembali menuju rumah Andrew yang masih tampak ramai dengan mobil mobil tamu yang terparkir dari berbagai jenis dan merek.
Peter melangkah lebar memasuki rumah dan segera mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang paman dan keluarganya di antar sekian banyak tamu undangan pesta.
"Peter!" sebuah suara memanggilnya dan Peter melihat sang paman ternyata tengah melambai padanya, gegas dia menghampirinya dan bersalaman dengan Andrew.
"Bagaimana dengan Tuan Angkasa?" tanya Andrew.
Peter mengacungkan dua jempolnya dan memperlihatkan sertifikat yang sudah di tanda tangani oleh Angkasa.
"Luar biasa, tidak salah Paman memintamu menghandle ini. Ah ya, ini Axel, putra Paman. Setelah ini dialah yang akan menggantikan posisi paman di perusahaan, dan paman akan memerlukan bantuan mu untuk membimbingnya." Andrew menepuk punggung Peter pelan penuh rasa bangga.
Peter menjabat tangan Adam dan berkenalan, sejurus kemudian dia baru ingat kalau wajah Adam rupanya begitu familiar.
"Kamu ... bukankah kita sudah bertemu sebelumnya?"
__ADS_1