MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 58.


__ADS_3

Jeni berlari membawa bayinya menuju ke rumah belakang, air matanya tumpah, sepanjang dia ikut dengan keluarga Sarah baru kali ini hatinya terasa bagai di hujam belati oleh perkataan Sarah yang datar namun menusuk.


Sesakit itu kah? Harusnya Jeni sudah tau, tapi kenapa begitu dia merasakan secara langsung rasanya dirinya sendiri tidak kuat.


Braaakkkk


Jeni menutup pintu rumah dengan kasar, sampai bayi mungil di gendongannya terjingkat kaget dan menangis.


"Oowaaaa ... Oowaaaa!"


"Diaammmm! Berhentilah terus mencari perhatian orang lain, Nak! Tidak ada yang menginginkan kita di dunia ini! Tidak ada! Harusnya kamu pun sadar diri kalau kita hanya sebatang kara di dunia ini. Jangan teruss menerus mencari perhatian dari milik orang lain!" jerit Jeni frustasi, tangisnya pecah seiring tangisan bayinya yang tak kunjung berhenti malah semakin kuat.


Tak ada yang mendengar mereka, karna suasana acara saat ini tengah ramai dengan alunan musik penghibur.


Semua tengah bergembira untuk menyambut calon bayi kembar tiga Sarah.


"Sstttt, diamlah, Nak. Maafin Mama ya, Mama nggak sengaja marahin kamu. Maafin Mama ya," ucap Jeni sambil menimang dan memeluk bayinya.


Bayi itu masih merengek, sembari mengucek matanya. Sepertinya dia pun mulai mengantuk. Jeni masuk ke kamar dan membaringkan bayinya ke atas kasur, di ikuti dirinya sendiri. Jeni mulai menyusui bayinya, benaknya bekerja memikirkan cara untuk bisa keluar dari sana.


"Semua orang bahagia, kecuali kita. Kita tersisih di sini, bahkan ayah kamu pun mungkin saja tak tahu kalau kamu ada di dunia ini. Maafkan Mama ya, Nak. Ini semua terjadi karena Mama, kamu harus menderita karna Mama. Maafin Mama," lirih Jeni sambil menciumi kening bayinya yang sudah terlelap itu.


Bayinya menggeliat, dan sesaat kemudian melepaskan ****** susu ibunya dari mulutnya dan tertidur dengan tenang.


Jeni beranjak duduk dan menatap sekelilingnya.


"Sudah saatnya untuk pergi dari semua ini, terlalu sakit hati ini jika memaksa terus bertahan."


Jeni beringsut menuju lemari plastik sederhana yang ada di kamar sempit tersebut. Di keluarkannya dompet lusuh miliknya yang hanya satu-satunya dia miliki, tampak lembaran merah di dalam sana sisa tabungan yang dia punya selama bekerja di rumah Sarah.


"Sepertinya ini akan cukup, semoga setelah ini hidup kami bisa lebih baik. Semoga di luaran sana akan ada malaikat baik hati yang bisa menerima kami," desis Jeni sambil menatap bayinya yang masih terlelap.

__ADS_1


Memanfaatkan waktu, Jeni mengambil sebuah travel bag lusuh yang adalah milik orang tuanya. Jeni memasukkan semua pakaiannya dan pakaian bayinya ke sana, sembari menunggu bayinya bangun Jeni menyempatkan memasak mie instan terlebih dulu untuk mengganjal perutnya yang sejak pagi belum terisi makanan karena sibuk mengurus ini dan itu untuk acara Sarah.


Selang satu jam kemudian, bayi Jeni mulai merengek karna baru saja terbangun. Bayi yang sudah bisa tengkurap itu langsung menangis karena haus, cepat-cepat Jeni menyusui kembali bayinya hingga cukup kenyang dan mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman.


"Adek yang anteng ya, Nak. Kita bakalan pergi dari sini, semoga di luar sana hidup kita bisa lebih baik ya." Jeni mencium kening bayinya, dan seolah mengerti bayi itu memegang wajah Jeni sembari tersenyum riang.


Sambil mengendap, Jeni menuju ke pintu kecil di bagian belakang pagar rumah yang menjulang tinggi itu. Membukanya menggunakan jepit rambut yang sudah dia bentuk sedemikian rupa seperti maling membobol rumah mangsanya.


Klekk


Gembok itu terbuka, cepat-cepat Jeni membukanya dan keluar dari pintu itu sebelum akhirnya menutupnya kembali.


Bayi Jeni melonjak senang, sepertinya dia bahagia bisa melihat dunia luar selain suasana di rumah Sarah karena selama ini Jeni memang tak pernah di izinkan keluar oleh Tuan Bryan.


"Kamu senang ya, Nak? Kita berjuang sama-sama sekarang ya. Jangan rewel ya, Nak."


Jeni berjalan menuju jalan setapak yang ternyata ada di luar pagar rumah itu, sekitarnya tampak seperti kebun kecil yang di tumbuhi tanaman pisang.


Jeni berjalan sambil tersenyum, menatap semua pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Bayinya pun tampak sama senangnya, bahkan berkali-kali hendak meraih buah pisang yang tampak matang di pohon itu.


Bayi itu menatap Jeni lekat, mungkin tidak mengerti apa yang di katakan sang Mama.


"Berikan saja kalo bayimu mau, Nduk." seorang wanita tua yang sudah beruban tiba-tiba datang menemui Jeni, di punggungnya tampak setandan pisang kepok yang sepertinya baru saja di ambil.


"Ah, jangan, Nek. Nanti yang punya kebun nggak ikhlas sakit perut anak saya," kekeh Jeni teringat akan kenangannya bersama Bima dulu.


Dia pun mengambil Bima tanpa seizin Sarah, dan lihatlah semua kemalangan yang kini menimpanya.


Nenek itu mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah, cuma pisang ini. Lagi pula kebun ini punya Nenek, kamu jangan takut Nenek nggak ikhlas. Sudah ini ambil anak pinter."


Sebuah pisang matang pohon yang tadi di pegang anaknya di ambil oleh nenek, dan di berikan ke tangan mungil bayi Jeni. Bayi itu berjingkrak senang dan hendak langsung memasukkan buah pisang itu ke mulutnya.

__ADS_1


"Eit, dibuka dulu kulitnya, Sayang." Nenek itu berucap lembut sambil menurunkan tandan pisang dari punggungnya dan mengambil pisang dari tangan bayi.


"Nah, ini baru boleh di makan." Nenek kembali memberikan pisang yang sudah di kupas pada bayi Jeni, dan dengan senang bayi itu mengemut pisang di tangannya.


"Terima kasih ya, Nek," ucap Jeni sopan.


Nenek tersenyum. "Kalian dari mana? Kenapa kok bisa ada di kebun begini?"


Jeni menunduk diam, dia sendiri bingung harus menjelaskan dari mana.


Nenek yang paham akan kegundahan Jeni akhirnya berinisiatif untuk membawa mereka ke rumahnya.


"Ayo, kita ke rumah Nenek dulu. Kalian sepertinya belum punya tujuan ya? Kebetulan rumah Nenek nggak jauh, Nenek juga tinggal sendirian."


Nenek berjalan lebih dulu, dan Jeni mengikutinya. Cukup lama memang karna mereka berjalan perlahan, nenek sudah tidak sanggup berjalan cepat apalagi dengan kondisinya yang sambil memanggul tandan pisang.


"Nah, itu rumah Nenek," tunjuk Nenek pada sebuah bangunan semi permanen yang berada di tengah-tengah perkebunan pisang dan kelapa.


Jeni mengembuskan napas lega, karna kakinya jujur saja sudah terasa linu berjalan sejak tadi. Di tambah si kecil juga tampak ke gerahan berada di gendongannya.


Kriiieeetttttt


Nenek membuka pintu, dan mempersilahkan Jeni masuk ke dalam rumah yang rapi dan bersih juga berhawa sejuk itu.


"Sebentar ya, nenek ambilkan tikar untuk alas bayimu." Nenek berlalu masuk ke dalam rumah dan kembali lagi dengan sebuah tikar pandan dan juga kasur lantai kecil.


Setelah tikar dan kasurnya di bentangkan, Jeni meletakkan bayinya dan bayi aktif itu langsung tengkurap sambil memperhatikan sekitarnya.


"Terima kasih ya, Nek." Jeni tersenyum kecil.


Nenek mengangguk. "Nenek tinggal sebentar bikin minum ya."

__ADS_1


  Nenek berlalu ke dalam, kesempatan itu di pergunakan Jeni untuk memindai sekitar rumah Nenek. Tampak beberapa bingkai foto terpajang di sana, namun mata Jeni langsung tertuju pada seseorang di foto yang berpose bersama nenek.


"Pak Ismail," desisnya tak percaya.


__ADS_2