
"Beritahu aku, dimana mertuamu itu dulu menitipkan anakku? Aku membutuhkannya saat ini untuk bisa mengambil warisan orang tua ku!" sergah Edwin sambil menatap axel dan Tuan Bryan bergantian.
Axel terkejut. "Anak? Apa maksudnya ini, Dad? Maaf saya tidak bisa ikut campur terlalu dalam untuk hal ini."
Axel melepas cengkraman di baju Edwin, dan membiarkannya menyelesaikan urusannya dengan Tuan Bryan. Duduk bersama di kursi tunggu dengan dia sebagai penengah, agar ayah mertuanya itu tidak merasaa tertekan.
"Baik, silahkan Dady jelaskan tentang apa yang di tanyakan oleh paman Edwin tadi." Axel membuka percakapan.
Tuan Bryan menarik nafas panjang. "Hah, untuk apa lagi kau mencari anak itu? Bukankah dulu kau sendiri yang meminta aku membuangnya tanpa perasaan?"
Degh
Bergetar hati Axel mendengar semua pengakuan itu, namun dia tak berani menyela walau sepatah kata pun. Dan membiarkan kedua kakak beradik itu menyelesaikan urusannya lebih dulu.
"Apa maksudmu berkata begitu, Kak? Aku memintamu menitipkannya, bukan membuangnya!" marah Edwin.
"Kau mau berkelit?" Tuan Bryan meninggikan suaranya.
Edwin menyugar rambutnya kasar. "Ah, ya ya baiklah. Terserah! Tapi sekarang aku minta beritahu aku dimana anak itu? Aku membutuhkannya untuk mengambil warisan orang tua ku!"
"Orang tua yang mana maksud mu? Bukan kah ayah dan ibu sudah kau bunuh? Kau yang menjadi satu satunya pelaku utama saat itu, hanya saja aku tidak memperpanjang kasusnya hingga kau bisa bebas seperti sekarang. Pembunuh!" amuk Tuan Bryan semakin kesetanan.
Edwin berdecih. "Hah? Membunuh? Tidak, kakak. Aku hanya mengantarkan mereka berdua ke tempat dimana mereka bisa bersama selamanya tanpa harus memikirkan harta lagi. Masalah harta itu, cukuplah aku yang akan mengurusnya maka dengan berbaik hati aku menaruh sedikit racun di makanann mereka untuk memuluskan rencana mereka itu. Bukankah aku baik hati?"
__ADS_1
Mendidih darah Tuan Bryan mendengar ucapan adik tirinya itu, sakit sekali hatinya setiap kali dia dengan merasa tak bersalah sama sekali membahas tentang kematian orang tuanya yang dia rencanakan sendiri hanya demi harta itu.
Axel sendiri bahkan sampai mengusap dadanya sendiri mendengar pengakuan tak berotak yang di akui oleh adik mertuanya itu. Kenapa bisa ada manusia dengan watak seperti itu di dunia ini? Mereka bahkan lebih rendah ketimbang psikopat.
Tuan Bryan berdiri dengan wajah tertunduk. "Lebih baik kau enyah dari hadapanku sekarang juga, atau aku tidak bisa menjamin kelangsungan hidupmu setelah ini. Bawa istri idiot mu itu, dan tinggalkan kami!"
Edwin turut berdiri menantang, dan dengan sigap Axel pula berdiri berjaga jaga kalau kalau akan terjadi keributan.
"Jaga ucapan mu, Kak. Istri ku tidak idiot! Dia hanya terlalu sedih sebab kehilangan anak kami. Maka dari itu aku minta padamu untuk menunjukkan dimana keberadaan anak ku itu?"
"Tidak akan!"
"Tapi kenapa? Dia anakku, kak! Darah daging ku! Kau tak berhak menutupi keberadaannya dari ku!"
"Aku berhak! Karna dulu kau memasrahkan dia padaku dan istriku!"
"Kau sekarang mulai bicara hak tanya dulu pada dirimu sendiri apa sejak dulu kau pernah melakukan kewajiban mu pada anak itu hingga berani menuntut hak? Kau bahkan ingin membunuhnya saat dia baru lahir karena dia seorang perempuan!"
Edwin terhenyak, sejenak benaknya memutar kembali kenangan saat dulu dia mendapati istrinya yang kini menjadi terganggu jiwanya itu melahirkan anak perempuan.
"Bedeb*h! Kenapa anak perempuan? Kau memang istri yang tidak berguna, kenapa kau hanya bisa melahirkan anak perempuan hah?" bentak Edwin muda pada istrinya yang baru saja melahirkan dan kondisinya masih sangat lemah itu.
"Apa maksud mu, Mas? Bukankah lelaki ataupun perempuan sama saja? Bahkan kakak mu pun anaknya perempuan bukan?" tanya istrinya lemah.
__ADS_1
Edwin muda menyugar rambutnya kasar, dan dengan tatapan tajam mengumpat istrinya yang selama ini selalu setia mendampinginya walau dia kerap berlaku kasar padanya.
"Lalu? Jika anak mereka perempuan maka kita juga boleh punya anak perempuan? Tidak! Kita harus punya anak laki laki agar warisan orang tua kami bisa jatuh ke tangan kita!"
Wanita malang itu menangis lirih, tak berani mengeluarkan suaranya walau sedikit karena takut Edwin akan menyakitinya lagi seperti sebelumnya.
Bayi perempuan yang masih mengenakan bedong itu mulai menangis, sepertinya dia mulai merasa lapar. Tapi dengan tak berperasaan Edwin malah mengendong bayi itu keluar dari ruangan dan tak mengindahkan teriakan istrinya yang memohon agar bayinya di serahkan kembali padanya.
Dan sudah bisa di tebak apa yang terjadi, Edwin dengan bejatnya malah meninggalkan bayi itu di depan sebuah halte terbengkalai dalam kondisi menangis keras. Untung saja saat itu Tuan Bryan yang baru pulang dari membawa Sarah kecil bermain ke taman melewati tempat itu dan melihat semua kejadian itu. Hingga terjadilah peristiwa penyerahan bayi itu pada Tuan Bryan untuk di bawa pergi sejauh mungkin.
~flashback off
"Kau sudah ingat sekarang, Ed. Maka jangan pernah bermimpi aku akan memberi tahumu dimana anak itu aku titipkan. Tidak akan pernah, seumur hidup kau takkan pernah bisa lagi melihat anakmu!" sergah Tuan Bryan.
Edwin terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di kursi sambil memegangi dadanya yang entah kenapa terasa sangat sesak.
Tiba tiba tanpa aba aba, istri Edwin yang sejak tadi hanya diam mematung tiba-tiba histeris dan mulai berlari ke sana ke mari.
"Bayiku! Bayiku! Kemana bayiku? Dimana dia? Tolong temukan dia! Tolong bayiku! Dia kedinginan, tolong selamatkan dia. Dia butuh aku, dia butuh air susuku! Tolong, kembalikan dia padaku!" jerit perempuan malang itu sambil berlarian ke sana ke mari dengan menarik narik rambutnya hingga beberapa helai rambut itu tersangkut di jari jemari tangannya.
Edwin hanya termangu melihat kelakuan istrinya yang sejak peristiwa kehilangan bayinya itu sering kali bertingkah seperti itu. Namun dia enggan membawa istrinya ke rumah sakit jiwa untuk menyembuhkannya karna tak ingin kehilangan hartanya untuk kesembuhan sang istri yang padahal di sebabkan oleh dirinya sendiri juga.
"Lihat dia, Ed. Dia juga merupakan korban dari keserakahan mu." Tuan Bryan menunjuk istri Edwin yang masih bergulingan histeris di lantai koridor rumah sakit. Untungnya saat ini rumah sakit sedang sepi, jadi tak ada orang lain yang akan merasa terganggu.
__ADS_1
Edwin menatap kosong ke arah istrinya. "Maka dari itu ... beri tahu aku dimana anak kami, Kak. Jika bukan demi aku, lakukanlah demi istriku. Kasihan dia."
"Tidak, kau lah yang harus bertanggung jawab akan kondisi istrimu. Ini semua kau yang memulainya, dan untuk urusan anakmu jangan pernah kau berpikir untuk mencarinya, karna aku tau persis bagaimana watak mu. Kau akan menggunakan semua sandiwara yang ada untuk mendapatkan apa yang kau tuju. Untuk itu, aku memutuskan untuk tidak akan pernah memberi tahumu dimana keberadaan putrimu. Yang harus kau tau, dia saat ini sudah bahagia dengan kehidupannya yang sederhana."