MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 166.


__ADS_3

 Setelah menjelaskan kalau Sarah salah mengenali orang, Asy dan Jeni lalu mengantarkan Sarah hingga ke teras dimana di halaman sudah tampak sebab sedan hitam yang menunggunya.


"Saya pulang ya, Jen makasih buat waktunya, besok saya datang lagi ya." Sarah melambaikan tangan dari balik jendela mobil.


"Iya, Mbak datang aja. Hati-hati di jalan ya," sahut Jeni turut melambaikan tangannya.


 Dan mobil pun melaju meninggalkan halaman pesantren.


"Neng Asy, Jen ini minum dulu. Tadi itu Mbak Sarah udah pulang?" tanya Umi Nafisah yang ternyata sejak tadi berada di dapur membuat minuman.


"Iya, Mi. Mbak Sarah pamit pulang, sudah di jemput soalnya." Jeni mengalah masuk di ikuti Asy.


 "Terima kasih banyak, Umi. Maaf kalau merepotkan," gumam Asy sembari meminum air dingin berwarna hijau itu karna tenggorokannya kebetulan sudah terasa kering.


"Ya sudah, di minum ya. Umi mau naik ke atas dulu, nemenin Abah," ujar Umi Nafisah.


 Asy dan Jeni kompak mengangguk.


"Kemana suamimu, as. Kok sendiri ke sininya? Apa belum sembuh?" tanya Jeni setelah Umi Nafisah menaiki tangga menuju lantai dua.


"Pulang ke kampungnya, Mbak. Katanya kangen bapak ibunya." Asy meletakan gelas sirup yang sudah tandas separuh itu ke atas meja.


"Kok kamu nggak ikut?" Kening Jeni berkerut heran.


 Asy menggeleng. "Orang tuaku belum boleh, Mbak katanya masih kangen sama aku makanya di suruh di sini dulu beberapa waktu ke depan."


 Jeni mengangguk paham, dan tak lagi bertanya lebih jauh akan bahasan yang sifatnya pribadi.


"Oh ya, As. Mbak sebenarnya penasaran deh orang tua kamu yang kamu bilang orang tua kandung itu ... beneran?" tanya Jeni dengan nada rendah.


 "Maaf loh ya, As. Bukannya Mbak nggak percaya, cuma ... Mbak kok cemas aja sebab semudah itu mereka mengakuinya, apalagi mereka itu kan orang kaya," imbuh Jeni lagi.


 Asy mengulas senyum lalu mendesah pelan.

__ADS_1


"Mereka ... benar orang tua kandung Asy kok, Mbak. Malam sewaktu Aish datang untuk pertama kalinya ke rumah Papi dan Mami, dan mereka mengakui kalau kamu anak anaknya, saat itu juga ada dokter yang di panggil untuk mengambil sampel darah kami guna melakukan tes DNA, dan beberapa hari kemudian hasilnya keluar dan dari situ kami yakin kalau mereka memang benar orang tua kandung kami," papar Asy gamblang.


"Oooh begitu rupanya, iya iya kalau begini rasanya Mbak juga jadi tenang karna sudah tahu kebenarannya." Jeni menyandarkan punggungnya ke belakang sembari mengelus perut buncitnya yang sudah tampak sangat besar, karna bayi di dalam sana juga ukurannya lumayan.


"Sepertinya sudah besar sekali, Mbak sudah berapa bulan?" celetuk asy sembari iseng ikut memegang perut Jeni.


.


 Terasa pergerakan di dalam sana yang sontak membuat Asy langsung menarik tangannya lagi dengan wajah kaget.


"Apa itu, Mbak?"


 Jeni terkekeh.


"Itu kamu di sapa sama bayinya, harusnya sapa balik dong. Malah kaget begitu, toh sebentar lagi juga paling kamu bakalan ngerasain yang begini."


 Asy tersenyum canggung satu tangannya tanpa sadar bergerak menyentuh perut ratanya.


"Sekarang bayinya baru umur tujuh bulan, As kan besok lusa mau ada acara selamatan tujuh bulanan nanti kamu datang ya, kalau bisa ajak juga keluarga kamu biar Mbak bisa kenalan. Pengen banget sih ketemu sama orang tua kandung kamu, pasti mereka baik banget ya?" celetuk Jeni, menarik Asy dari lamunannya.


 Refleks dia menjauhkan tangannya dari perut dan menggeleng cepat mengusir bayangan di dalam benaknya.


"Nah loh melamunin apa hayo?" Goda Jeni terkekeh.


 Asy menunduk malu. "Nggak apa apa, Mbak Jen mah."


"Oh ya, Mbak. Mbak Sarah itu tadi ... kok tumben ada di sini?" tambah Asy sebelum Jeni sempat menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.


"Ohhh itu, Mbak Sarah mulai belajar sholat di sini. Katanya dia belum lancar dan mau memperdalam lagi supaya bisa ngirim doa buat almarhum orang tuanya," jawab Jeni dengan suara pelan.


 Asy tampak terkejut. "Hah, apa Mbak? Ngirim doa? Buat almarhum ...."


"Iya, almarhum orang tuanya Mbak Sarah. Mereka baru meninggal beberapa Minggu lalu, dan semenjak itu Mbak Sarah rutin ke sini buat belajar agama."

__ADS_1


 Asy tampak terbengong, bingung harus bersikap bagaimana.


 Jeni pun mengibaskan tangannya di depan wajah Asy.


"Hei, kok malah melamun, ngucap innalilahi dulu kek."


 "Innalilahi wa innailaihi rojiuun," gumam Asy pelan.


"Padahal rasanya baru kemarin Asy ketemu loh, Mbak. Orang tua Mbak Sarah itu padahal orang baik, iya kan?" imbuh Asy lagi, dengan wajah sedih kala teringat pertemuannya dengan almarhum Nyonya Ellen di rumah sakit saat menjenguk Sarah.


 Betapa wanita cantik walau sudah berumur itu sudah menorehkan kenangan yang tak terlupakan baginya. Apa itu, hanya Asy yang tahu.


"Iya, yah namanya ajal kita semua nggak ada yang tahu, As. Ya sudah ya, jangan di bahas terus lebih baik kita kirimkan doa saja semoga almarhum dan almarhumah di terima di sisi- Nya." Jeni menengahi.


 Asy akhirnya mengangguk dan menuruti perkataan Jeni. Menundukkan kepalanya guna mengirim doa bagi dua orang yang tidak begitu di kenalnya tapi terasa dekat di hatinya.


****


 Di tempat lain.


"Shodaqallahuladziim ...."


 Rahman mencium surat Yasin yang baru di bacanya di depan pusara yang terlihat masih baru, pusara bertabur bunga segar yang baru saja di letakkannya itu tampak segar dan wangi.


"Kita pulang, Nak?" tanya Bu Hannah yang sejak tadi setia menemani putranya.


 Rahman menoleh sekilas lalu mengulas senyum tipis. "Sebentar lagi ya, Bu. Rahman masih mau ngobrol sama ayah, ibu kalau capek tunggu di mobil saja ya Rahman cuma sebentar kok."


 Bu Hannah mengangguk pelan. "Baiklah, ya sudah ibu tunggu di sana ya."


 Bu Hannah beranjak menuju ke arah parkiran, dimana mobil sang paman, Ed beserta supirnya menunggu di sana.


 Rahman kembali memalingkan wajahnya pada pusara ayahnya, pusara yang baru saja di pindahkan karna tempat sebelumnya lumayan jauh dari rumah Ed. Dulu hal itu di lakukan karna menghindari mayat dari almarhum ayah Rahman di curi oleh saingan bisnisnya. Namun sekarang orang itu telah berpulang pula, dan waktu yang sudah bergulir lama membuat mereka semua sepakat untuk memindahkan makam ke daerah yang lebih dekat dan terjangkau.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Yah. Setelah bertahun tahun, akhirnya kita bertemu lagi ya. Ayah tahu? Rahman rindu sekali sama ayah, ayah ... pasti sudah bahagia di surga sana ya? Oh ya, Yah pada akhirnya sekarang Rahman sudah tahu semua cerita lengkapnya tentang saat itu, bahkan Rahman sudah tahu siapa pelaku pembunuh ayah yang sebenarnya. Sekarang ... Rahman rasanya dilema, Yah. Haruskah Rahman balaskan dendam lama itu? Atau membiarkan semuanya tetap seperti ini saja?"


__ADS_2