
"Aakkkhhhhhh!" pekikan tertahan terdengar dari arah belakang, Axel sontak berbalik dan mendapati anak buahnya yang memakai topi kupluk itu sudah jatuh tersungkur di atas tanah.
"Man! Kamu kenapa, Man?" serunya kaget.
Dari arah dalam rumah, juga terdengar suara langkah kaki yang tergesa menuju keluar.
"Astaghfirullah, ada apa ini?" seru seorang wanita yang tak lain adalah Lira. Sebelumnya Lira tengah memandikan si kembar berbarengan di kamar mandi, namun saat mendengar suara ribut ribut yang berasal dari depan rumahnya dia langsung berlari dan meminta si kembar menunggu lebih dulu di kamarnya.
"Aaakkkkhhhhh, Tuan cepat pergi, Tuan." Herman, anak buah Axel kembali mengerang. Dia memegangi bagian atas lengannya yang ternyata terluka pasca terkena tembakan yang entah di lakukan oleh siapa tadi.
"Tapi, saya tidak akan meninggalkan kamu, Man!" seru Axel sembari memapah tubuh Herman yang mulai limbung karna kehilangan banyak darah.
Lira masih mematung di pintu,u bingung harus melakukan apa terhadap dua pria tak di kenal yang tiba tiba muncul di depan rumahnya.
"Maaf, Mbak. Apa kami boleh menumpang istirahat lebih dulu? Keadaan sedang tidak baik, dan lagi pula ada yang perlu saya sampaikan juga pada Mbak dan keluarga," ok ta Axel sembari menatap Lira yang tampak masih kebingungan.
"Ta- tapi mau bicara apa ya, Mas? Suami saya belum pulang soalnya, saya ... nggak berani masukin tamu laki laki sembarangan. Apalagi tadi kayaknya ada yang nyerang kalian ya? Saya nggak mau ikut ikutan, saya takut." Lira menolak sembari mengayunkan tangannya.
Herman kembali mengerang, di peganginya yang terus saja mengucurkan darah tanpa henti.
"Tuan, sebaiknya cepat temui si kembar. Saya tidak yakin bisa bertahan lebih lama lagi," bisik Herman dengan suara yang mulai melemah.
"Baiklah." Axel mengangguk. "Kalau begitu kamu lebih baik tunggu di mobil saja."
Tapi Herman langsung menggeleng. "Tidak, Tuan. Tugas saya di sini adalah memastikan keadaan Tuan dan anak anak tetap aman, jadi ... uhuk uhuk saya akan tetap di sini sampai semuanya selesai."
Axel akhirnya mengalah dan membantu Herman untuk duduk bersandar di teras rumah Lira.
"Maaf, Mbak tapi kami ke sini karena mempunyai tujuan yang sangat penting, maaf jika kami mengganggu." Axel beralih pada Lira.
Lira mundur ke ambang pintu, takut kalau kalau Axel adalah salah satu dari orang jahat yang sering mengganggunya dengan dalih agar suaminya bisa bekerja dengan lebih baik, bahkan orang itu kadang tak sadar sudah menyiksanya dan anaknya hanya untuk membuat Lira membujuk Roy bekerja dengan baik dan menurut. sungguh tragis sekali.
"A- apa yang mau Mas katakan, katakan saja jangan lama lama. Saya tidak bisa mempercayai siapapun di sini," sahut Lira getir, terpancar sorot ketakutan dari matanya yang terlihat cekung.
Axel mendesah, lalu mengeluarkan sebuah foto yang sempat dia bawa dari rumah. Foto kenangan yang memuat gambar dirinya dan keluarga kecilnya lengkap di sana. Foto itu dia tunjukkan pada Lira.
"Apa ini?" desis Lira, namun tak urung tangannya meraih foto itu dan memperhatikannya.
Keningnya sontak mengernyit, dengan sorot mata yang menampakkan kekaguman atau entah apa itu namanya.
"Sesuai yang terlihat di foto itu, saya ... sebagai ayah kandung dari si kembar yaitu Azkara dan Adam yang selama ini Mbak rawat seperti anak sendiri dengan penuh kasih sayang di rumah ini. Saya dengan sepenuh hati memohon sekiranya Mbak bisa memberikan anak anak saya pada saya kembali, terlepas bagaimana cara mereka bisa sampai di sini itu saya tidak mau tahu. Yang terpenting saat ini saya ingin membawa mereka kembali, istri dan anak bungsu saya terus mencari mereka." Axel berkata dengan nada memohon.
Tatapan memelas yang di tunjukkan Axel serta bukti foto yang memang sangat mirip dengan si kembar, membuat Lira tersentuh. Namun dia belum bisa sepenuhnya percaya begitu saja, takut jikalau semua ini memang sudah di rancang.
"Aaakkkhhhhh," erang Herman lagi, wajahnya tampak semakin pucat dengan bibir yang mulai membiru.
"Man, Man kamu baik baik saja? Saya akan bawa kamu ke rumah sakit ya," tukas Axel segera beranjak mendekati Herman.
Namun lagi lagi Herman menggeleng, dia memegang tangan Axel dan tatapan matanya tampak menyimpan harapan yang besar.
"Temui dulu si kembar, barulah saya akan menurut di bawa ke dokter. Saya hanya ingin melihat Tuan dan Tuan muda bersama kembali," pungkasnya lemah.
Axel tanpa sadar menjatuhkan air matanya, lalu dengan cepat dia berbalik dan menatap dalam mata Lira yang masih berdiri terpaku di ambang pintu.
"Saya tahu anak anak saya ada di sini, saya mohon biarkan saya bertemu mereka. Dan Mbak bisa lihat sendiri kebenarannya nanti setelah itu," pintanya lagi.
Melihat semua yang terjadi di depan matanya, terlebih melihat kondisi Herman yang sangat memperihatinkan dan membutuhkan pertolongan dokter segera, Lira akhirnya pasrah dan masuk ke dalam untuk menemui si kembar.
__ADS_1
"Papa!" seru si kembar berbarengan, bocah yang sangat mirip satu sama lain itu berlarian dan masuk ke dalam pelukan Axel sembari menangis haru.
Lira yang melihat pemandangan itu pun itu terharu, lalu memeluk Rio yang menatap bingung pada orang asing di rumahnya yang tiba tiba datang dan memeluk Azka dan Adam.
"Alhamdulillah, ya Allah anak anak ku kembali." Axel menjatuhkan ciuman bertubi tubi di seluruh wajah Azka dan Adam. Air mata bahagia luruh dari pelupuk matanya, tak dapat di bendung.
"Papa, Adam kangen Papa." Adam sesenggukan di dalam pelukan Axel, begitu pula Azkara namun anak tertua Axel itu tidak berkata kata, hanya sejak tadi dia terus saja mengeratkan pelukannya pada tubuh Axel.
"Papa juga kangen kalian, kita pulang ya. Kita temui Mama dan Ayuna mereka pasti senang kalau Azka dan Adam pulang," tandas axel memaksakan senyumnya.
Namun bukannya bersorak senang seperti biasanya, kali ini tampak Azka dan Adam terlihat seperti memendam keberatan di dalam hatinya, perlahan mereka melepaskan pelukannya dan menatap lurus ke arah Rio dan Lira yang masih menunggu mereka di depan pintu.
"Itu siapa, Kakak? Kenapa kakak kakak nangis? Apa om itu jahat sama kakak?" celetuk Rio dengan polosnya.
Azka dan Adam saling pandang, lalu Azka pun berjalan mendekati Rio dan Lira. Sementara Adam tetap berada di pelukan Axel seolah takut akan terpisahkan lagi.
"Itu bukan Om jahat, Rio. Itu papanya kak Azka sama kak Adam, papa mau jemput kami pulang." Azka menjelaskan.
Namun mendengar perkataan Azka, mata Rio malah mulai berkaca-kaca.
"Pulang? Pulang kemana, Kak? Kenapa Kakak nggak di sini aja main sama Rio? Rio seneng kok ada kakak kakak di rumah, Rio jadi ada temennya," pungkas Rio dengan nada sedih.
Lira meraih Rio dalam dekapannya ,sejujurnya dia pun berat jika harus berpisah dari Azka dan Adam. Dua anak yang sudah memberi warna lebih pada hari harinya belakangan ini. Namun apa mau di kata, dia tak mungkin juga mengambil Azka dan Adam dari ke dua orang tuanya. Terlibat Axel sudah menjemputnya jauh jauh ke tempat itu, jika dia menahan apa bedanya dia dengan para penculik tak punya hati itu?
"Rio, kan papanya Kak Azka sama Kaka Adam sudah datang. Makanya mereka harus pulang, Rio nggak boleh gitu. Kan kakaknya juga punya rumah sendiri," bujuk Lira mencoba memberi pengertian pada putranya, namun sebagai anak kecil yang belum banyak tahu apa apa Rio malah menangis di dalam pelukannya.
Azka berbalik, tampak Axel sudah merentangkan tangan memintanya untuk pergi bersamanya.
"Mbak, kami pamit ya. Terima kasih selama ini sudah membantu menjaga anak saya," ucap Axel sebelum pergi.
Azka dan Adam juga tampak menangis tanpa suara, namun bagaimana lagi mereka memang harus pulang bersama sang papa sekarang.
Setelah minta diri, Axel berjalan menghampiri Herman yang sejak tadi tak lagi terdengar suaranya. Axel pikir karna dia terlalu sibuk dengan anak anaknya maka sejenak lupa pada Herman, namun kenyataannya Herman memang hanya diam tak bergerak. Bahkan saat Axel mengguncang tubuhnya Herman malah jatuh ke sisi samping dengan wajah pucat pasi seperti mayat.
****
Duka masih berlanjut, di lain pihak kala itu pihak keluarga besar Ed pun tengah di rundung duka yang begitu mendalam. Akhirnya setelah berjuang di detik detik terakhirnya, Satrio menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan sang istri tercinta.
Ikrar suci yang bahkan baru saja terwujud harus kandas dalam kurun waktu beberapa hari saja. Aish sendiri bagai tak lagi berpijak pada bumi, senyumnya hilang, tawanya sirna berganti tangis yang entah kapan akan berakhirnya.
Aish mengerjab, membuka mata yang terasa basah dan berat. Pandangannya berpendar mengitari ruangan tempat dia berada sekarang, dan dia mengenalinya sebagai kamarnya.
"Mas, bangun sudah sore." Aish menepuk kasur di sisinya, kosong. Aish bangkit dan menatap sisi tempat tidurnya yang biasanya di isi oleh sang suami yang walau sejak keluar rumah sakit belum bicara banyak padanya namun selalu menyambutnya dengan senyuman setiap dia membuka mata.
"Mas! Mas Satrio! Kamu dimana, Mas?" seru Aish beranjak turun dari tempat tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi, mengira Satryo mungkin ada di sana.
Ceklek
Lagi lagi kosong, hanya kehampaan yang di dapati Aish. Bahkan hatinya masih belum bisa menerima jikalau sang suami sudah berpulang lebih dulu meninggalkannya karena racun di dalam tubuhnya tak dapat lagi di cegah.
Tok
Tok
Tok
"Ai? Kamu sudah bangun?"
__ADS_1
Rupanya Asy yang masuk, membawa sebuah nampan berisi susu coklat hangat untuk Aish.
Aish mengangguk, menghampiri Asy yang kini memilih duduk di sofa dalam kamarnya.
"Di minum dulu, kamu pasti lapar sejak kemarin belum makan." Asy menyodorkan gelas susu itu ke tangan Aish, dan dia menerimanya dengan hati masygul.
"Dimana Mas Satrio, Asy? Apa kamu lihat? Biasanya kalau tidur dia pasti nungguin aku buat bangun. Tumben ini tadi nggak ada," celetuk Aish membuat Asy gelagapan untuk menjawabnya.
"Ah, itu ... hmmm ...."
"Kok kamu gugup begitu sih? Kenapa?" tanya Aish sembari menyeruput susu coklat hangat yang merupakan kesukaannya itu.
Asy diam, di tatapnya lekat saudari kembarnya yang seperti lupa akan kejadian kala dia jatuh pingsan di area pemakaman saat tubuh suaminya di baringkan ke dalam liang lahat. Ed langsung membawanya pulang dengan di temani Asy. Bahkan saat ini Amelie dan yang lain belum juga pulang dari pemakaman karna akan sekaligus mengurus untuk acara tahlilan nanti malam.
"Aku coba telpon saja," pungkas Aish sembari bangkit dari sofa, mengambil ponselnya di atas nakas dan menekan nomor telepon suaminya.
Naas, nada dering ponsel tersebut malah terdengar dari dalam laci nakas. Aish membukanya dan mendapati ponsel itu di sana. Terpampang jelas fotonya dan Satrio saat resepsi pernikahan mereka kemarin menjadi walpaper utama ponsel Satrio.
Aish tercenung, di raihnya ponsel itu dengan air mata yang kembali luruh di pipinya.
"Asy," panggilnya kemudian.
"Ya?"
"Semua ini cuma mimpi kan?"
"Ya? Kamu bicara apa, Ai?" Asy mendekat karna ingin mendengar lebih jelas ucapan Aish.
"Semua ini ... hanya mimpi kan? Iya kan, Asy? Mas Satrio masih ada kan? Dia cuma sedang keluar saja sebentar kan?" isak Aish pilu, sepertinya dia mulai mengingat semua yang terjadi sebelumnya. Kilasan balik ingatan yang berputar bak pita kaset di benaknya, kembali memukul telak mentalnya.
Asy cepat meraih tubuh Aish yang limbung, di peluknya dan di tuntunnya Aish untuk duduk di atas kasurnya.
"Sudahlah, Aish. Ikhlaskan, doakan saja supaya Mas Satrio tenang di sana," nasihat AS menbelai pipi mulus saudarinya yang kini sudah sangat basah oleh air mata kembali.
Aish menggeleng. "Tidak, Asy. Mas Satrio masih hidup, dia hanya sedang pergi keluar, dia akan kembali sebentar lagi. Jangan bicara begitu, Asy."
Asy ikut menangis, di peluknya tubuh saudarinya itu erat sembari mengelus lembut punggungnya.
"Istighfar, aish. Jangan begini, kasihan Mas Satrio kalau kamu begini, nanti dia jadi berat untuk ke alam sana. Kamu yang ikhlas ya, lepaskan."
Aish semakin tergugu, guncangan di pundaknya semakin hebat. Entah berapa lama dia menangis hingga kantung matanya menjadi bengkak dan akhirnya kembali tertidur karna kelelahan menangis.
Ceklek
Pintu kamar Aish sedikit terbuka, Amelie mengintip dari sudut celah yang terbuka untuk melihat kondisi di dalam.
Saat mendapati Aish sudah kembali tertidur dengan asy di sisinya, dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
"Nak," sapanya lirih, takut membangunkan Aish yang pasti akan kembali histeris jika terbangun nanti.
Asy berbalik, air mata bersimbah membasahi wajahnya. Dia beranjak cepat, menarik pergelangan tangan Amelie dan mengajaknya keluar dari kamar itu.
"Hei, ada apa? Kamu menangis terlalu banyak, sudahlah jangan membuat Mami terus menerus ikut sedih. Kita semua kehilangan, bukan hanya Aish. Mami tahu itu, Nak tapi menunjukkan pada Aish seperti ini juga bukan tindakan yang benar," nasihat Amelie menghapus air mata di wajah Asy.
Asy masih sesenggukan, di sekanya air mata yang tak henti meleleh dari pelupuk matanya. Lalu dia mengangkat wajahnya menatap mata amelie lekat.
"Tapi, asy merasa bersalah. Semua ini terjadi karena keteledoran Asy waktu itu, Mi. Ini semua salah Asy, asy tidak pantas di maafkan, huhuhu ."
__ADS_1