
Sementara itu di tempat lain.
"Hah, gimana ini hape kenapa malah berenang di bak mandi sih? Kan jadi nggak bisa ngabarin dek Aish. Duh kalo dek aish sedih gimana ya?" gumam Satrio frustasi sambil sesekali mengetuk ngetuk ponselnya yang dalam kondisi mati itu di telapak tangannya, berharap adanya keajaiban agar ponsel tua itu bisa hidup kembali seperti sedia kala.
"Duhh nggak hidup juga lagi, gimana ya? Apa samperin dek Aish ke rumah Papinya? Duh tapi takut, anak buah papinya yang jaga gerbang aja gede gedee kaya mutan, takut di telen." Satrio bergidik sembari memegangi charger ponsel yang terhubung di ponselnya namun tak memberi pengaruh apapun, ponsel itu tetap dalam kondisi padam.
Setelah beberapa kali mencoba berbagai macam cara untuk menghidupkan ponselnya namun tak ada satupun yang berhasil, akhirnya Satrio menyerah. Memilih duduk di teras rumahnya sembari melamun.
Bukan dia tak punya uang untuk sekedar membeli ponsel baru, terlebih nomor ponsel yang kekasih hati yang sudah dia hapal luar kepala. Namun sejak berkomitmen dengan Aish, Satrio selalu menghemat pengeluarannya jika bukan untuk sesuatu yang sangat penting. Alasannya tentu saja karna dia ingin menabung agar kelak bisa memberikan kehidupan yang layak bagi istrinya, walau kini kondisinya sudah berubah Aish bukan lagi seorang anak yang kekurangan, baik materi maupun kasih sayang. Kini dia adalah seorang tuan putri dari salah satu pengusaha terkenal di kota tersebut, yang wajahnya sangat jarang di ketahui orang ramai. --dalam artian, Ed itu seseorang yang misterius di hadapan semua kolega bisnisnya, hanya segelintir orang yang pernah berjumpa langsung dengannya --
"Melamun aja, Mas?" celetuk Sri yang tumben tumbenan lewat di depan kontrakan Satrio.
Gaya berpakaian Sri yang terbuka sama sekali tak mengganggu Satrio, bukan karna apa apa tapi pelanggan di restoran sudah biasa berpenampilan lebih seronok ketimbang yang ada di hadapannya sekarang.
"Eh, Sri mau kemana?" Sapa Satrio ramah, seperti biasanya dia bersikap pada orang orang yang tinggal di sekitar sana.
Sri berjalan menghampiri rumah kontrakan Satrio, duduk meleseh di lantai teras dan mengipas ngipaskan tangannya.
"Pengennya sih jalan ke simpang sana, Mas mau beli nasi bungkus. Cuma kok panas banget ya, Mas?" kekeh Sri yang memang terkenal supel itu, namun sebenarnya tak pernah sekalipun Sri ini menjadi pelakor di kehidupan rumah tangga orang lain walau penampilannya seperti itu. Dia hanya akan menggoda lelaki yang sekiranya belum memiliki pasangan.
Itu juga sebabnya warga di sekitar situ tidak cemas dengan adanya Sri di sana. Selain karna perangainya yang baik dan ramah, Sri juga tidak pelit dan kerap membantu tetangganya yang kesulitan.
Terlebih Mang Midun, dialah orang yang paling banyak di bantu oleh Sri tapi sangat jarang orang yang tahu.
"Iya, panas kenapa nggak gopud aja, Sri?" tanya Satrio sambil membuang pandangan ke arah kebun pisang di sebrang rumah kontrakannya.
"Nggak enak, Mas pengennya nasi bungkus yang itu kok." Sri mengeluarkan ponselnya dan mulai menekan nekan layarnya.
Satrio hanya menyengir dan tak lagi menanggapi Sri sebab Sri terlihat baru saja menelpon seseorang.
__ADS_1
Tak berapa lama setelahnya Sri selesai menelpon, tampak wajahnya sumringah seperti baru saja mendapat transferan.
"Kok bengong saja ta, Mas? Kayak nggak semangat gitu, pacarnya yang kemarin itu pindah kemana ta, Mass? Masa baru masuk berapa hari kok langsung pergi?". tanya Sri bertubi tubi sampai Satrio bingung menjawab yang mana lebih dulu.
"Ah, hmmm ... itu anu, dia udah pulang ke rumah orang tuanya, Sri."
Sri tampak mengangguk angguk , dan tak lagi melanjutkan bertanya. Namun kembali fokus pada layar ponselnya.
Lalu entah keberanian darimana Satrio meminjam ponsel Sri untuk mengabari Aish kalau ponselnya nyemplung di bak kamar mandi.
"Apa, Mas? Kok bisa nyemplung gimana ceritanya?" tanya Sri sebelum meminjamkan ponselnya.
Satrio menggaruk kepalanya sungkan, namun jika tidak pada Sri dia bingung hendak meminjam ponsel siapa saat ini. Ponsel Mang Midun lebih sering nggak ada pulsanya karna hapenya hanya hape jadul yang masih pake tombol.
"Ya ... namanya nyemplung ya nyemplung Sri, udah nasibnya."
Sri tergelak mendengar jawaban Satrio yang ambigu.
Satrio membuang wajahnya yang tampak memerah malu. "Ah, jangan sok tahu kamu Sri."
Sri mengulum senyum. "Ah, bilang aja kecemplung pas lagi ce bok pas buang hajat, iya kan?"
Sri tertawa lepas, sedangkan Satrio buru buru membuang muka ke arah lain. Bisa pingsan dia saking malunya saat ini.
"Udah, sini Sri boleh nggak pinjem hapenya?" ketus Satrio menghentikan tawa Sri yang masih berderai.
"Ahahah, iya deh iya nih Sri pinjemin. Nanti nomornya sekalian di simpen aja di hape Sri, Mas. Biar Sri bisa temenan sama pacarnya Mas."
"Iya, iya." Satrio menjawab seikhlasnya dan mengambil ponsel tersebut dari tangan sri.
__ADS_1
Sementara satrio memakai ponselnya, tampak Sri justru sibuk menatap ke arah jalan yang mengarah ke gang depan sana seperti tengah menunggu seseorang.
Setelah menekan sederet angka yang sudah di hapalnya luar kepala itu, Satrio meletakkan ponsel Sri di telinganya. Menunggu nada sambung itu menyambungkan panggilannya.
Tepat di dering ke empat sambungan telepon di angkat oleh seseorang di sebrang sana, dengan jantung berdebar Satrio menyapa lembut kekasih hati yang begitu di rindukannya itu.
"Assalamualaikum," sapa Satrio setengah gugup.
"Wa'alaikumsalam, maaf dengan siapa ya?"
Suara yang begitu di rindukan Satrio terdengar mengalun merdu di sebrang telepon, Satrio terpaku membayangkan bagaimana wajah cantik kekasih hatinya itu saat ini.
"Dek Aish, ini Mas."
.Hanya itu yang mampu terucap dari mulut Satrio, karna terlalu bergetar saking senangnya bisa mendengar suara kekasihnya lagi.
Hening, di sebrang sana tak terdengar sahutan ataupun respon apapun.
"Dek, kamu masih di sana? Maaf nomor telepon Mas nggak aktif, hape Mas kecemplung bak mandi. Nggak mau hidup lagi, ini aja Mas pinjem hape temen buat ngasih tahu kamu, takutnya kamu cemas," jelas Satrio memaparkan apa yang terjadi dengan gamblang dan apa adanya agar Aish tak salah paham.
"Benar begitu, Mas? Padahal aish kira Mas sudah lupa sama Aish." Suara Aish kembali terdengar lagi.
.Satrio tersenyum lega, tak mampu menutupi betapa bahagianya dia bisa mendengar dan mengetahui kabar sang kekasih lagi setelah semalaman hapenya berenang di kamar mandi.
Saat itulah, saat tengah asik bercengkrama dengan Aish seseorang dengan motor datang mendekat ke halaman rumah kontrakan Satrio. Dan di sambut Sri dengan penuh suka cita.
"Ya ampun, Mas! Aku kangen banget loh? Kamu kemana aja? Kenapa dari kemarin nggak ada kabarnya?" cecar Sri sambil berlari ke dalam pelukannya pria itu.
Satrio yang awalnya merasa biasa saja, langsung terbengong saat Aish melayangkan protes.
__ADS_1
"Mas! Suara siapa itu? Kamu lagi sama perempuan ya?"