
"Kamu nggak papa, Mas?" tanya Elina sesampainya mereka di teras rumahnya.
Bima menggeleng karna rahangnya benar-benar masih sakit.
"Elin ambilij air minum sama obat dulu ya, tunggu sebentar." Elina beranjak meninggalkan Bima di teras, dan berlalu masuk ke dalam rumah.
Bima duduk di lantai teras yang terasa licin dan bersih, sepertinya Elina baru saja mengepelnya dan baru kering terkena sinar matahari.
"Mas Bima kok jam segini udah pulang, terus gerobaknya juga udah kosong, laris manis ya, Mas kayaknya?" celetuk Elina sambil meletakkan segelas air di samping Bima dan sebuah kotak p3k sederhana yang sudah tampak mulai lusuh.
Bima meneguk air yang di berikan Elina terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannya.
"Alhamdulillah, tadi ada orang baik yang borong dagangan Mas, El. makanya udah bisa pulang, lumayan waktunya bisa di pake buat cari kerja lain buat tambahan uang." Bima bicara pelan sambil masih memegangi rahangnya.
Elina menyingkirkan tangan Bima dan mulai mengompres rahang Bima dengan sapu tangan basah yang sudah di celup desinfektan.
"Alhamdulillah, rejeki Mas Bima. Semoga ke depannya bakalan ada terus orang baik seperti itu ya, Mas." Elina tersenyum manis, sangat manis sampai rasanya semut pun bisa salah menilai itu senyum atau gula halus.
Deg
Deg
Deg
Sejenak mereka saling diam, Bima sendiri merasa ada sesuatu yang sejuk mengalir dalam darahnya dan menyebar ke seluruh urat di tubuhnya. Rasa yang aneh, sampai membuat perutnya terasa tergelitik, apakah ini yang namanya ... mules?.
"Udah, Mas. Elina taruh ini dulu ke dalam ya. Mas Bima mau sekalian makan? Kebetulan Elina tadi masak pepes tawon laler."
Bima tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Elina yang entah sejak kapan menjadi semerdu suara biduan koplo.
"Eh, nggak usah, El. Tadi Mas juga di kasih makan sama orang baik yang nolongin Mas dan borong semua dagangan Mas. Alhamdulillah sekali pokoknya hari ini walau pun harus ketemu kejadian yang nggak enak juga tadi," sahut Bima yang merasa rahangnya sudah merasa enakan setekeh tersentuh jari jemari saleh, eh Elina maksudnya.
__ADS_1
Elina mengangguk dan kembali meninggalkan Bima sendirian di teras.
"Kira-kira gerobaknya masih bisa di perbaiki nggak ya?" gumam Bima sambil menatap sendu gerobak yang tampak sudah penyok di banyak tempat itu.
Elina kembali keluar dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan setoples roti kering.
"Mas, ayo di minum dulu. Setidaknya kalo nggak makan ya ngemil, ya di sini adanya cuma ini aja. Maklumlah Mas, Elina belum ada panggilan kerja lagi, jadi sementara pake uang tabungan dulu kalo mau apa-apa," celetuk Elina mengeluarkan unek-unek yang selama ini hanya bisa dia pendam sendiri.
Hanya pada Bima lah Elina merasa nyaman untuk mengungkapnya, walau status mereka sebenarnya kini hanya lah sebatas teman biasa.
"Sabar ya, El. Semoga setelah ini kamu bisa dapat panggilan kerja lagi, apalagi ada Mbok yang harus kamu urus." Bima berkata pelan sambil membayangkan hidupnya yang kini pun tak jauh berbeda dengan Elina, masih sama-sama susah.
"Apa mungkin ini karma buat kita ya, Mas? Karna kita udah main curang di perusahaannya Nyonya Ellen, sekarang kita di kasih cobaan dengan nggak dapat kerjaan di tempat lain. Padahal Nyonya Ellen dengan baik hati udah nggak memenjarakan kita. Elin rasa, ini kayak semacam teguran dari Allah buat kita yang langsung kita dapatkan balasannya di dunia," papar Elina masygul.
Bima menarik nafas panjang, dalam hatinya dia pun setuju dengan apa yang di katakan Elina. Hanya saja, mungkin sudah sangat terlambat untuk menyesal.
"Ngomongin keluarga Nyonya Ellen, elin jadi penasaran kira-kira sekarang mereka udah bahagia nggak ya, Mas? Soalnya kan biasanya kalau orang yang di zolimi itu hidupnya bakalan bahagia setelahnya." Elina menambahkan sambil mencelupkan roti ke dalam cangkir tehnya, dan memakannya perlahan merasakan roti itu meluber di mulutnya.
"Tunggu sebentar," tukas Bima sambil berjalan cepat menuju gerobaknya, dan menbuka laci untuk mengambil undangan yang tadi dia letakkan di sana.
"Ini, coba kamu lihat." Bima menyodorkan kartu undangan itu pada Elina dan Elina menerimanya dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ini apa, Mas?" tanya Elina dengan raut wajah berubah cemas, karna mengira kartu itu adalah milik Bima.
"Coba di baca dulu," sahut Bima kembal duduk di tempatnya semula dan menyesap pelan teh di cangkirnya.
"Loh, ini kan nama Ibu Sarah, Mas? Bu Sarah mau menikah lagi?" cecar Elina antara kaget dan lega.
Kaget karena tidak menyangka Sarah akan kembali menikah secepat ini, dan lega karna ternyata tidak ada nama Bima sebagai mempelai di sana.Tenyata Elina masih saja menyimpan rasa tulusnya untuk Bima, bahkan rasa itu tidak pernah berubah walau kondisi Bima kini sudah berbeda dengan yang dulu.
"Iya, itu Sarah." Bima menjawab enteng, walau hatinya kembali berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Tapi ini siapa mempelai laki-lakinya? Namanya kayak asing banget ya, Mas?" celetuk Elina lagi sambil membaca berulang kali nama yang terasa sangat asing di telinganya itu.
Bima mengangguk. "Iya, tapi sepertinya dia pria yang sangat beruntung karna bisa mendapatkan bidadari sebaik Sarah. Ah, andai saja ...."
"Mas Bima masih cemburu?" sela Elina dengan mata menatap Bima tak suka.
****
Axel pulang ke rumah dengan wajah gembira, di tanganya penuh tertenteng aneka ragam sayuran segar hasil borongannya dari Bima.
"Ya ampun, Axel. Kamu ternyata selain usaha nasi goreng sekarang jadi pengusaha sayur mayur juga?" tanya Sonia kaget begitu melihat putranya yang seperti berada di antara kebun sayur itu.
Axel tergelak dan meletakkan semua sayuran itu ke atas meja dapur di mana Sonia juga tengah memasak.
"Nggak, Ma. Tadi saya borong dagangan tukang sayur, kasihan dia di palak preman," sahut Axel sembari mendekati mamanya untuk melihat apa yang di masaknya.
"Ooh begitu, ya udah cocoklah. Bisa buat temen makan siang kita, ini Mama cuma masak ayam bakar taliwang aja, kayaknya bakalan kurang kalo nggak ada sayur tadi pikir Mama, tapi mau belanja kok males keluar. Eh kebetulan banget ya kamu pulang bawa sayuran, bisa sekalian buat stok deh." Sonia tersenyum sambil bercerita panjang lebar.
Dia memang sangat senang menceritakan apapun pada anaknya itu, karena Axel adalah seorang pendengar dan sekaligus teman yang baik membuat siapapun betah untuk bercerita ataupun curhat dengannya.
"Ya udah, kalau gitu Axel ke kamar dulu ya, Ma. Udah mau Zuhur, mau siap-siap ke masjid. Mama juga jangan lupa sholat ya," pesan Axel sambil mengelus pundak mamanya dan berlalu.
"Iya, Pak ustadz. Nanti mama sholat setelah masak ya," kekeh Sonia sembari kembali fokus dengan masakannya.
Axel beranjak hendak menuju kamarnya di lantai atas tanpa
sengaja telinganya mendengar jeritan seorang wanita yang sangat familiar.
"Bang Adam! Tolong aku, Bang!"
Nb: ( nggak komen nggak mau lanjut. Di bilang author ngambekan ya biarin, saya cuma pengen denger aspirasi kalian kok)
__ADS_1