
"Ya ampun, kalian masih berantem di sini?" hardik Nyonya Ellen saat mencari pasangan Sarah dan Axel yang ternyata masih belum selesai dengan urusannya di kursi tunggu.
Bahkan kini Axel harus berlutut di bawah kaki Sarah dan memijitnya.
"Ya ampun, Sarah. Itu kenapa suamimu malah kamu suruh mijit sih?" cecar Nyonya Ellen lagi sambil duduk di sebelah putrinya yang masih manyun itu.
"Biarin! Salah sendiri nakal. Siapa suruh megang-megang perempuan lain, padahal istrinya lagi hamil. Biarin aja dia begitu, biar tau rasa," oceh Sarah geram.
Axel tertunduk diam dan hanya geleng-geleng kepala saja, ingin menjawab pun ujungnya bakalan makin banyak hukuman yang di berikan Sarah padanya nanti.
"Hah? Megang perempuan gimana maksud kamu, honey?" tanya Nyonya Ellen heran, karna dia sangat tau karakter menantunya itu. Tak mungkin Axel berani macam-macam di belakang putrinya itu.
Bibir tipis Sarah semakin mengerucut. "Ya itu si Jeni, tadi kan Mas Axel yang gendong dia, Mom. Sarah cemburu loh!".
Nyonya Ellen mendesah, rupanya sifatnya saat dulu mengandung Sarah menurun ke putrinya itu.
"Ya ampun, kan tadi kamu juga yang nyuruh Axel angkat Jeni. Masa kamu lupa?"
Sarah mencebik. "Ya tapi kan ...."
"Axel!" panggil Tuan Bryan memutus ucapan Sarah.
"Ya, Dad?" Axel menoleh di ikuti Nyonya Ellen dan Sarah.
"Dady mau minta tolong," pungkasnya dan langsung berlalu begitu saja.
Axel menatap Sarah sebelum beranjak. "Sayang?"
"Ya udah sana pergi!" sentak Sarah kesal.
Nyonya mengusap punggung Sarah, mencoba mengerti kekesalan putrinya itu.
Namun bukannya berhenti Sarah malah menangis kembali, moodnya benar-benar berubah-ubah kali ini. Layaknya bunglon yang sedang melewati jembatan pelangi.
"Ya ampun anak ini, apa gara-gara bayinya kembar tiga ya jadinya melow gini?"
****
"Dad, mau minta tolong apa?" tanya Axel setelah Tuan Bryan berhenti di depan sebuah ruangan yang penuh berisi bayi.
Axel sejenak melempar pandangan pada bayi-bayi mungil yang tengah menggeliat di boxnya itu, hatinya menghangat membayangkan sebentar lagi dirinya akan mempunyai tiga yang sama seperti itu.
__ADS_1
"Nak, dengarkan Dady. Sebenarnya permintaan ini mungkin harusnya bukan Dady yang minta, tapi berhubung mantan istrimu itu tidak lagi memiliki keluarga. Maka biarlah ini menjadi seperti perhatian kecil untuknya."
"Apa itu, Dad?" tanya Axel penasaran.
Tuan Bryan membuang pandangannya ke arah dalam, tepatnya ke sebuah box berisi bayi mungil yang tampak tertidur lelap. Pipi gembulnya bergerak-gerak sepertinya dia mulai lapar atau ingin menyusu.
"Itu, bayi yang baru saja di lahirkan Jeni. Tolong, kamu adzani dia." Tuan Bryan menunjuk bayi itu, bayi yang sejak tadi membuat axel gemas ingin memegangnya.
Axel terperanjat." A- apa? Mengadzani? Apa tidak ada yang lain yang bisa melakukan itu, Dad?"
Bukannya Axel tidak mau, namun mengingat kondisi istrinya yang masih labil membuat Axel tak berani ambil resiko sama sekali. Pukulan Sarah saja rasanya masih berdenyut di tubuhnya saat ini.
"Sayangnya, tidak ada ... makanya Dady minta tolong padamu tanpa memberitahu Sarah. Dady paham ke khawatiran mu, maka dari itu Dady membawamu langsung ke sini."
Axel menghela nafas. "Lalu kenapa tidak Dady sendiri yang melakukannya?"
Kini ganti Tuan Bryan yang mendesah. "Kalau saja Dady mu ini masih ingat nadanya, tentu Dady tidak akan meminta bantuan mu bukan?"
Tuan Bryan menatap Axel lekat, seakan menekannya untuk bisa memikirkan semuanya secara cepat.
"Dady akan mencegah Sarah ke sini jika itu yang kau takutkan."
Seolah tau kecemasan Axel, Tuan Bryan kembali menawarkan pilihan.
"Baiklah, Dad. Saya akan lakukan," pungkasnya pelan.
Tuan Bryan tersenyum dan mengangguk senang.
"Masuklah, Dady akan berjaga di sini. Jangan terlalu lama jika tidak ingin istrimu yang mulai bar-bar itu mencari suami tercintanya ini," kekeh Tuan Bryan.
Axel mengangguk dan perlahan melangkahkan kakinya ke dalam ruang bayi setelah mendapat izin dari suster yang berjaga untuk mengadzani bayi Jeni.
"Silahkan masuk, Pak. Kiblatnya sebelah sana ya," tunjuk suster itu.
Axel hanya mengangguk dan meneruskan langkahnya menuju box bayi yang ada nama Jeni di sana.
Axel belum pernah menggendong bayi sebelumnya, makhluk mungil yang tampak tak berdaya itu terbaring damai di sana. Sesekali pipinya tertarik dengan senyum kecil polosnya.
"Apa Bapak butuh bantuan?" tanya sang suster yang tak sengaja melihat Axel yang tengah kebingungan untuk menggendong bayi merah itu.
"Ah, apa bisa kalau di letakkan di sana saja? Saya masih takut, bagaimana kalau box nya di hadapkan ke kiblat?" tawar Axel memberi pilihan agar dia tak perlu menggendong bayi itu.
__ADS_1
Bukan apa-apa dia hanya takut malah menciderai makhluk mungil itu jika salah tekniknya.
Suster tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kalau begitu. Sebentar saya geserkan ya, Pak."
Dreeekkk
Box sudah bergeser mengikuti arah kiblat, suster itu pun berlalu setelah mempersilahkan Axel melakukan tugasnya.
"Sudah, Pak. Silahkan di adzani dedek bayinya. Saya tinggal dulu ya," pamit sang suster.
Axel mengangguk dan kemudian menatap Tuan Bryan yang masih memerhatikan mereka dari balik jendela kaca besar di seberangnya.
Tuan Bryan mengangguk dengan mengacungkan jempolnya, Axel mengerti dan langsung membungkuk sedikit agar suaranya bisa jelas di telinga si bayi nanti.
"Bismillahirrahmanirrahim, Allahuakbar ... Allahuakbar."
Axel melantunkan adzan dengan begitu merdunya, semua bayi sampai terdiam seolah mendengarkan seruan umat Islam yang tengah di kumandangkan oleh Axel. Ruangan yang semula penuh suara rengekan bayi yang lapar, kini berganti hening seakan bayi-bayi itu pun begitu menikmati suara Axel.
"Lailahaillallah ...."
Axel mengakhiri lantunan adzannya dan setelahnya entah dorongan dari mana Axel mendaratkan sebuah kecupan ringan di kening bayi Jeni.
Bayi itu tersenyum sekilas dan kembali melanjutkan tidurnya, Axel mengucap hamdalah dan bangkit dari posisi membungkuknya.
Axel mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, dan menatap ke arah jendela kaca besar dimana tadi Tuan Bryan menunggunya.
Namun bukan main terkejutnya Axel saat mendapati pelototan dari mata indah istrinya di sana.
"Ya Allah, selamatkan hamba," lirihnya dengan lutut bergetar.
Kini Axel tau kenapa para suami di luaran sana lebih memilih menghadapi ular berbisa ketimbang menghadapi istri yang sedang hamil.
Tangan Sarah menunjuk Axel dengan nafas naik turun, Nyonya Ellen yang tampak membujuknya dari belakang pun tampak sama sekali tak di hiraukan oleh Sarah, fokusnya tetap pada suaminya.
Sarah menunjuk ke arah pintu, dan Axel paham maksudnya meminta axel untuk segera keluar.
"Semoga beruntung, Pak." Suster tadi berbisik sambil melipir masuk ke ruangan dengan membawa botol susu untuk para bayi.
Sepertinya suster itu sudah tau kalau Sarah adalah istri Axel.
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Axel sebelum kakinya melangkah ke luar ruangan.
__ADS_1
"Mas Ax!" hardik Sarah sambil berjalan cepat menuju suaminya.
*Nb: yang setuju author garap genre horor minta komennye dong.*