
Jeni meminta Nek Minah untuk masuk dan duduk di ruang tamu, tak lama Jeni kembali masuk dengan membawa Asiyah di sampingnya.
Nek Minah tampak penasaran, namun dia enggan bertanya lebih dahulu. Beliau memilih menunggu Jeni sendiri yang akan menjelaskan padanya tentang apa yang terjadi.
"Nek, perkenalkan ini Asiyah." Jeni menunjuk gadis manis berjilbab besar di sebelahnya itu.
Asiyah mengulurkan tangannya pada Nek Minah, dan menciumnya takzim.
"Nah, As. Ini Nenek Aminah, yang sudah berbaik hati menampung Mbak dan bayi Mbak selama kami nggak punya tempat tinggal sebelumnya." giliran Jeni menjelaskan siapa sebenarnya Nek Minah pada Asiyah yang di sambut anggukan pelan dari gadis itu.
Bayi Jeni merengek sambil mengulurkan tangannya pada Jeni, sepertinya bayi itu mulai haus atau mengantuk terlihat dari matanya yang sayu. Jeni mengambil bayinya dari gendongan Nek Minah dan mulai menyusuinya di tempat, dengan sebuah kain di sampirkan di dadanya agar tidak terlihat mata nakal yang mungkin saja lewat.
"Jen, tadi Nenek tanya, dan kamu belum jawab. Kamu sudah dapat pekerjaan? Dan gadis cantik ini kamu ketemu dimana? Apa dia anak dari calon bosmu?" cecar Nek Minah yang rupanya sudah tak tahan lagi untuk bertanya, karna sejak tadi Jeni memilih bungkam karena bingung bagaimana menyampaikannya.
"Ah, bukan Nek. Asiyah bukan anak bos, hehe Asiyah sama-sama pekerja juga. Di rumah kyai Hasan, di pondok pesantren itu," sela Asiyah cepat.
Jeni hanya diam sambil menatap nenek dan Asiyah bergantian, sembari menyiapkan hatinya jikalau Nenek menjadi sedih kalau tau akan di tinggalkan olehnya.
"Ooh begitu, lalu kok kalian bisa bersama? Apa Jeni juga di terima bekerja di sana?" tanyaa Nenek lebih lanjut.
Asiyah mengangguk. "Iya, Nek. Besok Mbak Jen sudah bisa mulai kerja, tadi Umi bilang begitu ke Asy."
Wajah Nek Minah tampak sumringah, sepertinya beliau senang karna akhirnya Jeni mendapat pekerjaan. Tapi Jeni sangat takut kalau setelah mendengar beritanya, Nenek akan kembali kehilangan senyumnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau begitu kamu sudah bisa bernafas lega sekarang, Jen. Karna sudah punya pekerja dan bisa menjamin masa depan anakmu. Nenek dengar di rumah keluarga kyai baik hati itu, para pekerjanya selalu diberi gaji tinggi. Bahkan pada santri yang 'ngabdi' biasanya juga di beri tanda terima kasih yang lumayan." Nek Minah menyampaikan apa yang di ketahuinya dari orang-orang yang anak-anaknys menuntut ilmu di pondok pesantren itu.
Dulu Nek Minah juga sempat ingin memasukkan Pak Ismail masuk ke sana, tapi Ismail kecil yang bandel rupanya malah lari dan sampai tak pulang berhari hari karna tak ingin masuk ke pondok pesantren.
"Tapi, Nek. Ada satu lagi yang harus Jeni sampaikan, sebenernya Jeni nggak tega, tapi ... nenek pasti bakalan paham alasannya setelah mendekat ini." Jeni mulai buka suara setelah bayinya selesai menyusu dan sudah terlelap di pangkuannya.
Dahi Nek Minah yang keriput semakin berkerut dalam, wajah sumringah nya perlahan berubah menjadi bertanya tanya.
"Ada apa, Jen? Jangan buat Nenek takut. Tapi kenapa wajah kamu sedih begitu, Nenek jadi ikut sedih ini jadinya." Nek Minah menyusut sudut matanya yang berair karena melihat Jeni yang mulai menitikkan air matanya.
Berinisiatif, Asiyah berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Nek Minah, dia tau Jeni membutuhkan seseorang untuk menenangkan Nek Minah nantinya saat dia mulai bercerita.
Asiyah memegangi bahu Nek Minah, dan siap mendengarkan pernyataan Jeni.
Jeni mengangguk. "Terima kasih, Nek. Tapi ... hal ini mungkin bisa membuat Nenek menangis, makanya Jeni nggak tega buat bilangnya."
Nek Minah mengelus lengan Jeni, kemudian berlanjut ke kepalanya bayinya yang tertidur.
"Bicaralah, nenek bakalan dengarkan."
Jeni meneguk ludahnya susah payah, seakan ada batu besar yang mengganjal di tenggorokannya.
"Jeni ... mau bawa bayi Jeni untuk menginap di sana, Nek. Supaya nggak perlu bolak balik dan nggak ngerepotin Nenek juga jagain dia tiap hari, maafin Jeni, Nek. Kalau menurut Nenek keputusan Jeni ini salah, tapi Jeni pikir ini yang terbaik. Kami janji bakalan sering-sering jenguk Nenek kok kalau ada jatah waktu libur," papar Jeni dengan wajah basah bersimbah air mata.
__ADS_1
Nek Minah tampak terkesiap, namun secepatnya dia bisa menguasai keadaan. Asiyah yang sejak tadi mengusap punggungnya membuatnya merasa lebih tenang walau kesedihan sudah pasti menghampiri batinnya. Karena jujur di akui Nek Minah kalau hadirnya Jeni dan bayinya di rumahnya membuat beliau lebih merasa memiliki keluarga.
"Maafin Jeni harus ambil keputusan ini, Nek. Jeni tau ini pasti bakalan bikin nenek sedih. Tapi Jeni nggak punya pilihan lain, hanya ini satu-satunya cara supaya masa depan bayi ini bisa terjamin. Apalagi tinggal di kawasan pesantren, Jeni berharap kelak bayi ini akan menjadi orang-orang Sholeh Sholehah seperti mereka yang ada di sana," doa Jeni sembari memindai wajah mungil anaknya.
Setelah diam beberapa tarikan nafas, Nek Minah mulai bicara. Walau suaranya terdengar serak seperti menahan tangis.
"Ya sudah, kalau itu keputusan kamu Nenek juga tidak berhak melarang. Hanya satu pesan nenek, sering seringlah kemari menjenguk Nenek. Nenek sudah anggap kalian keluarga, jadi kalian juga harus anggap nenek keluarga, pulanglah saat kalian lelah. Pintu rumah nenek akan selalu terbuka untuk kalian. Doa nenek selalu menyertai kalian ya," sahut Nek Minah sambil mengelus dan mengecup kening bayi kecil Jeni.
Sekilas pandang, Jeni bisa melihat kalau nek Minah sempat mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Dan tak lama, Nek Minah pamit untuk masuk ke dalam kamarnya ingin beristirahat dalihnya. Padahal Jeni yakin, kalau Nek Minah sedang berusaha menghindari kepergiannya yang pasti akan membuatnya kembali menangis.
Seusai membereskan pakaiannya dan barang-barang bayinya, gegas Jeni membawanya keluar dan di bantu Asiyah meletakkan semuanya di bagasi depan motor.
Jeni kembali sebentar ke dalam seraya membenahi kain gendongan bayinya.
Tok
Tok
Tok
Jeni mengetuk pintu kamar Nek Minah, namun sepi ... tak ada jawaban, Nek Minah sepertinya tertidur atau sengaja tidak menjawabnya agar di kira tidur. Padahal saat ini dia tengah menangis sendirian di kamarnya.
"Nek, Jeni sama dedek berangkat dulu ya. Doain Jeni bisa segera mengumpulkan uang yang banyak supaya bisa beli rumah untuk kita bertiga supaya kita bisa tinggal bareng. Jaga diri baik-baik ya, nek. Makasih selama ini sudah mau nampung Jeni dan dede bayi, insyaallah nanti Jeni sama Dede bayi bakalan sering main ke sini ya, Nek. Jeni pamit, assalamualaikum."
__ADS_1