
Sementara itu.
"Aa ada urusan apa ke kota?" tanya Aish di sela kunyahan gorengan yang mereka pesan di pinggir jalan taman.
Hendro yang duduk di depannya tengah menikmati segelas es tebu dan menarik nafas dalam.
"Usaha orang tua Aa di kampung lagi mandek, makanya Aa ke kota buat cari kerja. Bosen di kampung terus jadi beban orang tua, Neng."
Aish manggut-manggut paham, lalu mengambil botol aie mineral di atas meja dan meminumnya hingga tandas.
"Memangnya Aa mau kerja apa?" tanyanya lagi.
"Belum tahu, mungkin nanti Aa bakalan cari cari informasi dulu di grup grup aplikasi biru semoga saja ada yang cocok dan bisa langsung kerja. Bapak Aa lagi sakit, dan butuh biaya berobat juga. Hasil panen kemarin gagal dan sebagian besar tanahnya masih terinfeksi hama. Makanya belum bisa di tanami lagi, sedangkan bapak butuh biaya cepat untuk berobat." Hendro mulai bercerita, sejak dulu dia memang sangat terbuka pada Aish, tentang apapun itu dia tak akan sungkan berbagi cerita pada Aish yang bahkan hingga kini masih menghuni relung hatinya itu.
"Juragan Baskoro sakit apa?" celetuk Aish teringat akan seorang tua yang memaksanya menikah hingga dia terpaksa harus bersembunyi ke kota karna tak Sudi menjadi istri ke-tiga juragan mesum tersebut.
"Kata dokter, sakit gejala tipes. Makanya Aa buru buru ke kota ini, manatau ada jalan rejeki Aa di sini. Biar bagaimanapun sikap dan tabiatnya beliau kan tetap bapaknya Aa, Neng. Sudah kewajiban Aa mengusahakan kesembuhannya selama Aa masih di kasih umur panjang untuk bisa berbakti padanya," papar Hendro dengan raut masam tercetak jelas di wajahnya.
"Iya, A. Aish ngerti, sekarang tujuan Aa mau kemana dulu?"
Hendro mengangkat bahu. "Entahlah, Aa juga belum tahu. Belum punya tujuan Aa mah. Modal nekat doang dari desa," kekeh Hendro yang entah kenapa malah terdengar seperti menyimpan duka yang begitu mendalam.
Aish mendesah pelan, di tatapnya sutris di kejauhan yang sedang duduk sembari menghisap rokok dan segelas kopi gelasan di sisinya. Tampak sibuk dengan ponselnya karna tak ingin mengganggu privasi majikannya.
"Bagaimana kalau Aa ikut ke rumah orang tuaku? Biar nanti Aish tanyakan sama Papi apakah ada pekerjaan yang cocok untuk Aa, bagaimana?" celetuk Aish tiba tiba.
Hendro mengangkat wajah dengan sedikit binar harapan di matanya, namun sejurus kemudian binar itu tampak meredup lagi.
"Tidak, Aa nggak enak sama suami kamu kalau tahu kamu bawa pulang laki laki, apalagi Aa orangnya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana laki laki kalau sudah cinta, susah buat nggak salah paham."
Mendengar itu, kini giliran Aish yang memasang raut wajah nelangsa. Teringat lagi di dalam benaknya saat dia dan Hendro baru saja tiba di kota, dan cara Satrio menatap Hendro bisa di tebak kalau saat dia tengah di Landa cemburu namun sekuat tenaga tak di tunjukkannya.
"Neng? Neng Aish teh nangis?" tanya Hendro ketika tidak sengaja melihat lelehan air mata di sudut pipi Aish.
Cepat aish menghapusnya dan menarik senyum agar Hendro tak menyadari tangisannya walau sebenarnya terlambat untuk itu.
"Ah, nggak kok A. Ini Aish cuma kelilipan aja kok." Aish berdalih.
"Jangan bohong, Aa kenal kamu bukan baru kemarin sore. Tapi sudah sejak lama, jujur saja ... apa ada yang kamu sembunyikan? Apa yang terjadi? Suamimu baik kan sama kamu?" cecar Hendro bertubi tubi, hingga membuat air mata Aish kini benar benar tumpah ruah hingga tak bisa di bendung lagi.
Hendro mengangkat tangannya dan menggeser posisi duduknya untuk merangkul Aish dan menenangkannya, namun sejurus kemudian ketika tangannya sudah menggantung di udara tepat di sisi pundak Aish, dia teringat kenyataan kalau wanita di sisinya itu kini bukan lagi wanita lajang yang bisa semudah itu menerima sentuhan dari pria lain, sedekat apapun mereka dulunya.
Hendro menelan kenyataan pahit itu bulat bulat, dan perlahan walau hatinya memberontak perih dia kembali menarik tangannya menjauh, dan memilih menekan semua rasa yang tak kunjung hilang dari hatinya itu. Rasa yang semakin berussaha dia lupakan malah semakin meluap luap.
"Sudahlah, jika kamu belum siap bercerita tidak apa. Aa memang tidak tahu apa yang sebelum ini kamu hadapi, tapi Aa akan mendoakan semoga kamu selalu di lindungi dan kebahagiaan akan selalu menyertai kamu. Asal kamu tahu, nama kamu bahkan masih Aa sebut dalam doa meminta agar kamu terus bahagia, tapi apa ini? Apa doa Aa tidak terkabul?"
Aish menarik nafas panjang, berusaha meredam tangis yang seolah tak ingin berhenti di hadapan Hendro. Bukan inginnya mencari perhatian, namun bercerita dengan orang yang tepat akan selalu membuat kita lebih lepas dalam berekspresi dan lebih lega setelahnya. Dan itu, Aish temukan di dalam diri Hendro dan juga pada almarhum suaminya. Yang mungkin kini juga tengah cemburu melihatnya kembali duduk berdua dengan Hendro.
"A, suamiku ... suamiku sangat baik sekali, dia penyayang, dia penyabar, dia juga romantis. Bahkan Aish tidak pernah menyangka dia akan bersikap demikian setelah kami resmi menikah. Rasanya seperti mimpi ... hingga ... hiks, hingga ...."
Aish tergugu lagi bayangan ketika Satrio di temukan dalam kondisi sekarat, kembali berputar di benaknya. Membuat air mata yang tadinya baru saja surut kembali tumpah bak mata air yang pasang.
__ADS_1
Kali ini Hendro tak tahan lagi, tangannya secara spontan bergerak mengusap punggung Aish yang berguncang karna tangisan hebatnya. Beberapa orang yang berlalu lalang juga memperhatikan mereka seolah sedang terjadi sesuatu hal yang menarik untuk di perhatikan.
"Menangis lah, tumpahkan semuanya hingga kamu tenang. Aa di sini, akan mendengarkan kamu bahkan walaupun sampai subuh nanti," seloroh hendro mencoba berkelakar.
Baju yang di kenakan Aish mulai basah bagian depannya, karna tak ada tisu Aish menggunakan bajunya sendiri untuk mengusap air matanya. Setelah beberapa saat, dan tangisnya mulai reda Aish meneruskan ceritanya.
"Mas Satrio begitu baik dan selalu mengusahakan yang terbaik untuk Aish," gumamnya menyeka sisa air mata.
Hendro tersenyum kecut. "Bukankah itu bagus? Sejak tadi Aish terus memujinya bukankah itu artinya dia benar benar baik? Tapi kenapa Neng Aish malah menangis?"
"Iya, A. Mas Satrio memang sebaik dan sesempurna itu, dan Aish begitu mencintainya. Tapi ... tapi ... itu juga yang membuat Aish begitu kehilangan'sekarang."
"Kehilangan? Kenapa?" tanya Hendro bingung.
Aish memutar kepalanya, menatap lekat ke arah Hendro dengan matanya yang basah.
"Mas Satrio sudah berpulang ke Rahmatullah, A. Dia meninggalkan Aish bahkan tanpa pamit," Isak Aish lirih.
Hendro terkejut bukan main, jadi inilah alasan sejak tadi wanita yang begitu dia sayangi itu menangis tanpa henti. Aish benar, kehilangan yang dalam tentu sangat menyakitkan. Ketika kematian menjadi pemisah maka tak ada yang akan bisa mengobati kerinduan akan sebuah pertemuan.
Hendro masih termasuk beruntung, karna dia terpisah dengan cintanya bukan oleh sang maut, melainkan karna wanita yang dia cintai memilih pria lain untuk mendampinginya. Dan rasa sakit itu, masih bisa teredam dengan melihat senyumannya kala bersanding dengan sang pujaan. Dan Hendro merasa akan bisa menerima itu seiring waktu, namun yang terjadi sekarang berbeda. Akankah masih ada harapan untuknya mendapatkan hati wanita di sampingnya itu di tengah kesedihannya? Atau melepas kesempatan itu karena tak ingin di katakan mengambil kesempatan di dalam kesempitan?
****.
Di tempat lain.
Sarah tengah tergugu di tepi ranjang suaminya, Axel masih belum sadarkan diri. Sedangkan kabar duka lain baru saja sampai kembali ke telinga Sarah.
"Mas, bangunlah. Apa kamu tahu? Satrio, karyawan kesayanganmu itu ... dia ... dia meninggal, Mas. Bangunlah, Mas ayo kita ziarah ke makamnya, jangan tidur terus, Mas. Kau membuatku takut, aku takut Mas takut sekali ... jangan sampai kamu bernasib sama seperti Satrio," gumam Sarah putus asa..
Sarah bergetar hebat, dia takut sangat takut. Jika dulu dia masih mempunyai ke dua orang tuanya yang akan senantiasa melindunginya, kini dia sendiri. Hanya ada suaminya yang bisa dia harapkan akan bisa mendukungnya dan berdiri mendampinginya menghadapi orang tersebut.
"Mas, bangunlah. Apa kamu tidak kasihan padaku, Mas? Dia kembali, Mas dia datang untuk menuntut balas, aku harus apa, Mas? Kita semua dalam bahaya'." Sarah memegangi jemari Axel dan sesekali menciuminya dengan harapan Axel akan merasakannya dan akan bangun dari tidur lelapnya pasca penyerangan yang terjadi padanya itu.
Sarah mengangkat wajahnya, memindai setiap inci dari wajah sang suami yang tampak sangat lelap dalam tidurnya. Sarah menjatuhkan lagi kepalanya di dada Axel, harapannya seolah pupus tapi semua bahaya yang dia tak ketahui masih menghadang di depan sana. Tak mendapati tanda tanda akan bangun dari suaminya, membuat Sarah lelah sa akhirnya tertidur dalam posisi kepalanya bertumpu pada telapak tangan Axel.
Tok
Tok
Tok
Pintu ruang rawat Axel di ketuk dari luar, suasana di luar sudah gelap entah berapa lama Sarah tertidur yang jelas saat ini dia merasakan tengkuknya sangat sakit dan tubuhnya pegal pegal.
Tok
Tok
Tok
Ketukan di pintu kembali terdengar, tepat saat Sarah membuka mata dan meregangkan tubuhnya yang terasa sakit semua.
__ADS_1
"Sarah! Ini Papa."
Ah, Andrew rupanya. Gegas Sarah bangkit dari kursinya dan membukakan pintu untuk ayah mertuanya itu.
"Papa, maaf Sarah tadi ketiduran."
Andrew mengulas senyum kecil dan melangkah masuk, di tangannya terdapat sebuah kantong yang berlogo sebuah resto ayam ternama.
"Tidak apa, Papa paham kamu pasti lelah menjaga Axel seorang diri. Ini, makanlah dulu. Kamu juga butuh asupan agar tidak ikut sakit." Andrew menyodorkan kantong plastik yang di bawanya ke pada Sarah.
Sarah menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
"Apa Axel masih belum sadar juga?" tanya Andrew sembari mengambil tempat di sisi ranjang Axel.
Sarah yang baru saja membuka bungkusan makanan berupa ayam goreng, nasi saos dan lengkap dengan minumnya itu menggeleng pelan.
"Belum, Pa. Entahlah kenapa Mas Ax belum mau bangun juga, mungkin dia terlalu lelah hingga masih ingin tidur."
Andrew mengangguk dan membiarkan anak menantunya itu makan lebih dulu, ada beberapa hal yang akan dia sampaikan pada Sarah nanti. Dan Sarah harus siapa lahir dan batin untuk mendengarnya.
*
"Apa anak-anak mencari ku, Pa?" tanya Sarah setelah mencuci tangannya di kamar mandi dan meneguk sebotol air mineral kemasan yang ada di atas meja.
Andrew berpindah tempat duduk ke sebrang Sarah. "Mereka baik baik saja, kamu tidak usah khawatir. Papa juga sudah menambah orang untuk berjaga di sekitar rumah kita. Semoga saja kejadian seperti yang lalu tidak akan terjadi kembali."
Sarah mengangguk pelan, lalu membuang pandangannya ke arah Axel. Masih belum ada pergerakan di sana, deru nafas yang teratur menandakan si empunya tubuh masih betah dengan tidur nya. Sarah mendesah pelan, berharap mata yang selalu menatapnya penuh cinta itu akan kembali terbuka.
"Sarah," kata Andrew. "Papa ... perlu bicara beberapa hal sama kamu."
Sarah menoleh dan terdiam sejenak. "Bicara apa, Pa?" Ucapnya setelah beberapa helaaan nafas.
"Apa kamu tahu? Siapa saja yang ... mungkin mempunyai dendam terhadap kamu dan keluarga kamu?" tanya Andrew hati hati, karna tak ingin sampai melukai hati menantunya itu.
Sarah menunduk, bukan mencoba mengingat tapi mencoba mengusir bayangan buruk dan menakutkan dari pria yang menjadi momok bagi keluarga kecilnya saat ini. Entah kapan masanya Sarah yakin dia akan kembali menebar teror lagi padanya dan keluarganya, dan tak menutup kemungkinan Andrew dan Sonia bisa saja menjadi korbannya jika ada kesempatan.
"Sarah? Kamu dengar Papa?" ucap Andrew setelah beberapa saat tak mendapati suara Sarah.
"Ah, I- iya Pa. Sarah dengar," pungkas Sarah.
"Bagaimana? Apa kau ... tahu sesuatu? Jika kamu tahu, itu bisa jadi senjata untuk kita berlindung dan mungkin saja membalasnya," tandas Andrew yakin.
Sarah ingin sekali menyebutkan nama yang rasanya sudah ada di ujung lidahnya itu. Namun entah kenapa rasanya berat sekali hingga dia tak kuasa bicara apa apa.
Setelah lagi lagi tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Andrew mengalah mungkin saja menantunya itu membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir dan akan bicara nanti di waktu yang tepat.
"Kalau kamu belum mau bicara tidak apa, kita akan bahas hal ini lain kali. Oh ya, Papa mau sampaikan kalau polisi mendapatkan informasi tentang pelaku yang sudah membuat Axel begini."
"Informasi apa itu, Pa?" Sarah mengangkat wajahnya dengan tak sabar menanti jawaban Andrew.
"Polisi bilang kalau dari rekaman cctv yang terlihat, orang yang dengan sengaja menyerang Axel ... dia ... tidak mempunyai rambut alias berkepala botak."
__ADS_1
Sarah terkejut bukan main, menutup mulutnya dengan tangan hingga tanpa sadar tubuhnya mundur mendorong kursi yang tengah di dudukinya. Matanya melotot, dan bayangan itu ... bayangan itu muncul lagi di dalam benaknya.
"Kalau begitu, berarti dia tidak bohong. Dia orang yang sama .... Dia ... dia datang untuk membalaskan dendamnya ...."