
Suster yang tadi kembali dengan langkah tergesa, tampak kepanikan di wajahnya. Langkahnya tertahan di depan rombongan Bu Sani yang menunggu di depan pintu ruang operasi.
" Ini gawat, apa pihak keluarga sudah ada mendapatkan donor? Persediaan di rumah sakit ini habis."
Bu Sani tergugu sembari memegangi dadanya yang sesak, namun bak pahlawan Juli bangkit dari tempat duduknya dan dengan pongahnya berjalan mendekati suster tersebut.
"Saya, ambil darah saya saja. Sebanyak apapun saya ikhlas, asalkan Mas Al bisa sembuh.". Juli melirik asy yang tergugu di tempatnya.
Suster itu tampak mengernyit. "Maaf, tapi apa golongan darah Mbak?"
Juli memutar bola matanya malas. "Kalau saya menawarkan berarti golongan darah saya sama dengan pasien dong, gimana sih?"
"Ah iya baiklah, tapi kita tidak akan mengambil darah Mbak terlalu banyak kok paling banyak hanya dua kantong saja tidak akan membuat Mbak sampai kering." Suster itu sempat sempatnya bercanda.
Juli mendelik, namun karna tak ada waktu lagi akhirnya dia pasrah mengikuti langkah kaki suster itu menuju ruangan khusus untuk donor.
Kini di tempat itu hanya tinggal bu Sani dan Asy, mereka saling diam dalam hatinya tak henti mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk Alam. Sedang Aish belum juga kembali dari kantin rumah sakit.
"Bu, tolong maafkan saya." Asy mendekat pada Bu Sani.
Bu Sani menoleh, mata tuanya yang basah menatap Asy nanar.
"Maaf untuk apa, Nak? Kamu tidak salah, kalau apa yang kamu ceritakan memang jujur dan benar adanya itu artinya semua ini memang sudah menjadi takdirnya Alam. Tidak ada yang perlu di persalahkan dalam hal ini, maaf tadi ibu sudah sempat marah padamu."
"Asy bahkan baru tahu kalau mas Al punya penyakit jantung, Bu selama ini tidak pernah sekalipun Mas Al bercerita tentang itu pada Asy." Asy bergumam sembari mengusap jejak air mata di pipinya, matanya sembab karna terlalu banyak menangis.
"Iyah, ibu juga. Mungkin Alam terlalu takut kita seperti ini makanya dia menyimpan semuanya sendiri. Tapi bodohnya dia tidak tahu kalau akhirnya kita semua juga akan tahu begini, dan perasaan kita tentu lebih terpukul karena tidak tahu sejak awal, pungkas Bu Sani lirih.
"Semoga Mas Al bisa lekas membaik, Bu," tandas Asy penuh harap.
Bu Sani mengangguk, dan hening kembali meraja di tengah mereka.
__ADS_1
Detik demi detik waktu telah terlewati, suster yang tadi mengambil darah Juli sudah kembali memasuki ruang operasi dengan dua kantong darah di tangannya.
Bu Sani dan Asy masih diam ,namun jantung mereka tak bisa berhenti berdebar berharap agar apa yang di upayakan tim dokter di dalam sana akan membuahkan hasil yang memuaskan.
Setelah beberapa saat lagi berlalu, tampak Juli kembali dari ruangan donor yang hanya terpisah beberapa pintu dari ruang operasi. Jalannya tampak sempoyongan sembari memegangi kepala dan lengannya yang terasa nyeri.
Zrruukkkhhh
Juli menjatuhkan bobotnya di sebelah Bu Sani, membuat kursi tunggu berbahaya stainless itu bergerak karenanya.
"Kenapa, Jul?" tanya Bu Sani heran.
"Sakit, Mak ternyata." Juli menunjukkan bekas suntikan jarum di lengan kirinya yang di tempel plaster.
Bu Sani mengangguk, lalu mendekatkan kepalanya ke arah lengan juli. Hembusan angin dingin di rasakan Juli, rupanya dengan penuh perhatian Bu Sani meniup bekas suntikan itu.
"Terima kasih banyak, Mak. Padahal kan tidak perlu," gumamnya terharu.
"Sudah seharusnya, Mak yang harusnya terima kasih sama kamu. Terima kasih ya, sudah menolong Alam."
Juli mengangguk. "Sudah seharusnya, Mak."
Asy yang mendengar percakapan Mereka berdua hanya bisa diam, di sini dia merasa terasing padahal merekalah yang memintanya datang. Ingin pergi tapi rasa sungkan mendominasi.
Di dalam ruang operasi, semua tim berpacu dengan waktu. Berbagi tugas agar pasien bisa selamat, sampai akhirnya sebuah suara hamdalah keluar dari mulut pemimpin tim dan membuat mereka semua bisa bernafas lega.
"Alhamdulillah," sahut tim yang lain menyamai ketuanya.
"Tolong di bereskan, saya mau beritahu keluarganya dulu."
Ketua tim dokter itu keluar, dan memberi kabar baik itu pada pihak keluarga.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Alhamdulillah terima kasih, dokter terima kasih. Ya Allah terima kasih." Bu Sani sangat bersyukur hingga berkali kali dia menciumi tangan sang dokter pria tersebut sembari mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.
"Semua ini berkat usaha dan doa ibu dan keluarga juga pastinya, jadi jangan berterima kasih pada saya. Semua ini asbab Gusti Allah SWT." Dokter itu menjawab dengan bijaknya.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Bu Sani kembali menggumam, air mata bahagia sama sekali tak bisa dia tahan hingga membanjiri wajah tuanya.
"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, lalu setelah itu baru bisa di jenguk." Dokter itu berlalu meninggalkan Bu Sani dan Juli yang saling berpelukan di depan pintu ruang operasi, menantinya dengan haru saat Alam akan di bawa ke ruang rawat nanti.
****
Di tempat lain.
"Jadi bagaimana hasil interogasi nya, Pak?". tanya Andrew pada petugas polisi yang menangani kasus penculikan Sarah, menantunya.
Polisi itu tampak menghela nafas berat. "Interogasinya berjalan alot, Pak. Pelaku masih tidak mau mengaku apa motifnya menculik dan menyiksa korban."
"Lalu bagaimana pihak kepolisian akan mengatasinya?" tanya Andrew lagi, tak ingin kehilangan satu kesempatan pun.
"Kemungkinan kami akan melakukan interogasi lanjutan dengan metode yang lebih berat untuk memaksanya buka mulut, Pak. Bapak bisa mempercayakan semua pada pihak kepolisian. Kami akan melakukan yang terbaik," tandas petugas itu penuh percaya diri.
Andrew menatapnya heran, namun sejurus kemudian bisa dia tangkap gelagat aneh dari petugas itu.
"Bisa saya bertemu dengan pelaku?" pintanya lagi, karna merasa tak akan ada gunanya bicara dengan petugas itu. Andrew tahu, ada yang bermain di belakang semua ini dan tak akan mudah mengetahuinya. Jadi dia harus bergerak cepat dengan langsung menyerang intinya.
Tanpa rasa curiga petugas itu memberi izin, bahkan meminta temannya mengantarkan Andrew ke ruang khusus untuk menjenguk para pelaku.
Sementara petugas tadi menjemput Peter di selnya, Andrew meminta anak buahnya yang lain untuk menelusuri jejak apapun di tempat Sarah di sekap sebelumnya. Tempat yang bahkan dia dan keluarganya pun tidak pernah mengetahui kalau tempat itu ada.
"Ada apa Uncle ke sini?" ketus Peter saat petugas polisi yang menjemputnya baru saja mendudukkannya di hadapan Andrew.
"Darimana kau tahu letak ruangan itu?" tanya Andrew tegas dengan tatapan mata yang dia tahu sejak kecil Peter akan takut kala melihatnya.
__ADS_1