MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 101.


__ADS_3

 Di kediaman kyai Hasan.


Kyai Hasan menatap Gus Musa, Gus Musa malah menatap Jeni, sedangkan Jeni melempar pandang pada Asiyah yang tampak masih syok dengan mata melotot.


 Mereka semua menatap pada satu objek di depan mereka, ya siapa lagi kalau bukan Rahman yang kini menjelma bak artis Korea setelah tadi mencuci muka.


 Tak ada yang bersuara, mereka semua sibuk memelototi Rahman yang duduk dengan gelisah dengan cengiran kudanya.


"Astaghfirullah! Kalian ini kenapa? Ada tamu malah di pelototin begitu? Bukannya di ajak ngobrol," tegur Umi Nafisah yang baru muncul dari belakang sambil menggendong baby Abbas.


 Di belakangnya seorang santriwati tampak mengikuti sambil membawa sebuah nampan yang berisi minuman dan camilan ringan.


 Mereka yang tengah memelototi Rahman itu tersentak, dan langsung membuang pandangannya pada Umi Nafisah sang sumber suara.


"Lah, malah melototin Umi sekarang? Kalian ini maunya apa sih?" dengus Umi Nafisah sambil duduk di sebelah Jeni dan memberikan Abbas pada santriwati yang sudah selesai menata gelas di hadapan masing-masing orang yang ada di sana.


 Jeni menarik nafas dalam lalu menunjuk Rahman yang duduk tepat di hadapan Gus Musa.


"Ini, Um. Kata Asiyah kemarin yang mau ikut Ngabdi di ndalem' ini orangnya sudah cukup berumur, dan dia saja memanggilnya dengan sebutan paman. Tapi ... melihat sosoknya sekarang, apa Umi masih bisa berpikiran sama?"


 Umi Nafisah lalu berpaling pada Rahman yang langsung menunduk sopan saat bersitatap dengannya.


"Harusnya modelan begini kamu panggilnya jangan Paman, Asy. Harusnya Mas atau kang, wong masih muda begini kok," ucap Umi Nafisah sambil mencolek lengan Asiyah yang tampak melamun.


"Nah, iya kan Umi? Jeni juga rasanya aneh kenapa Asiyah malah manggilnya paman. Wong kelihatannya aja sepantaran begini kok," imbuh Jeni pula.


"Tap- tapi ... tapi kemarin, paman Rahman ... tapi kemarin bentukannya nggak kayak gini, Mbak, Umi. Kemarin itu paman kayak ... ya ... itu, hehe gembel. Makanya Asy kira udah tua," kekeh Asiyah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


 "Lalu sebenarnya usiamu yang benar itu berapa, anak muda?" kini ganti Kyai Hasan yang bertanya.


 Rahman tersenyum manis, terlalu manis sampai cicak yang sedang lewat pun sampai jatuh saking melelehnya.


"Umur saya 26 tahun, Bah."


 Gus Musa tampak melotot.


"Apa? Tadi saya kira masih 17 , serunya.


 Rahman tertawa pelan.


"Nggak, Gus. Sudah tua saya," ucapnya merendah.

__ADS_1


 Jeni, Asiyah dan Umi Nafisah tampak terpana tanpa bisa mengatakan apa apa. Karna wajah Rahman yang terlalu baby face untuk di sebut berumur.


"Kamu bisa angkat berat?" tanya Gus Musa lagi, mungkin ragu kalau Rahman bisa bekerja berat melihat fisiknya yang seperti artis.


 Tapi sebaliknya, Rahman justru mengangguk dengan semangat.


"Bisa, Gus. Saya bahkan bisa angkat semen, angkat karung beras, angkat batu bata, angkat sawit juga saya bisa. Cuma satu yang saya nggak bisa saya angkat sendirian, Gus.


" Oh ya? Apa?" sambung Gus Musa.


"Derajat, Gus." sahut Rahman spontan, membuat tak hanya Jeni, Asiyah dan Umi Nafisah saja yang tertawa tapi juga kyai Hasan ikut tertawa terpingkal-pingkal.


"Subhanallah, Abah suka anak ini. Sepertinya Abah nggak akan kekurangan teman ngobrol habis ini. Kamu gimana, le? Cocok?" ucap kyai Hasan setelah tawanya reda.


 Selama ini, kyai Hasan memang sangat jarang bersantai atau duduk lama dengan Gus Musa atau Umi Nafisah. Karna semenjak kyai Hasan sakit keduanya lah yang bertanggung jawab untuk mengurus pesantren hingga membuat waktu untuk bersama kyai Hasan menjadi terbatas.


 Gus Musa tampak mengangguk setuju dengan sang Abah.


" Iya, saya juga cocok sepertinya dengan Rahman. Jadi ... semua setuju kan? Kalau Rahman mulai hari ini resmi kita terima di sini? Sebagai abdi juga sebagai santri di pondok?" tanya Gus Musa sambil menatap mereka semua satu persatu.


 "Iya, Umi juga setuju. Kebetulan jadi bisa ada yang bantu angkat beras kalau kamu lagi nggak bisa, Le." Umi Nafisah menyahut.


"Jen juga setuju, Mas." Jeni ikut menimpali.


****


"Biar paman aja, Neng." Rahman mencegah Asiyah yang hendak mengankat sebuah bak besar berisi pakaian yang sudah di cuci dan hendak di bawa keluar untuk di jemur.


"Eh, nggak usah Kak, eh paman, eh." Asiyah tampak salah tingkah saat tak lagi menemukan panggilan yang tepat untuk Rahman.


 Ingin tetap memanggilnya paman, tapi wajahnya tidak cocok. Ingin panggil kak, tapi wajah baby facenya itu malah lebih cocok di panggil adek. Tapi kan umurnya sudah lebih tua ketimbang Asiyah, membuatnya jadi bingung sendiri.


"Haha, udah panggil nama aja kalau bingung mau panggil apa," tukas Rahman sambil mengambil alih bak besar itu dan membawanya keluar dapur.


 Asiyah masih terpana, hingga suara Rahman kembali mengagetkannya.


"Neng As, ini mau di taruh dimana?" serunya karna tak melihat Asiyah menyusulnya keluar ke halaman belakang.


 Asiyah terkesiap lalu langsung berlari menuju halaman belakang.


"Di situ aja, Kak." Asiyah menunjuk kebagian sudut halaman yang terdapat sebuah tempat khusus menjemur.

__ADS_1


 Rahman tersenyum dan dengan senang hati mengangkat bak itu dengan santainya menuju tempat yang di tunjuk Asiyah.


"Kakak ke asrama dulu ya, mau bersih bersih," ucap Rahman mengikuti panggilan Asiyah untuknya yaitu kakak'.


.


Asiyah mengangguk malu dengan kepala tertunduk. Namun sebelum Rahman bergerak semakin menjauh dia kembali bersuara.


"Kak Rahman terima kasih ya."


 Rahman berbalik dan mengacungkan dua jempolnya lalu melambai sebelum benar benar pergi.


****


"Kamu sudah berhasil masuk?" ucap seseorang yang hanya tampak bagian belakangnya saja itu di telepon.


"Iya," sahut lawan bicaranya di telpon.


 Suasana remang membuat wajah si penelpon tidak terlihat, namun seringai licik di bibir tipisnya lumayan bisa membuat bulu kuduk berdiri.-- ini kayaknya pembaca juga bisa nebak, ups--


"Bagus!" sambungnya. "Cari tanda itu, dan segera laporkan padaku. Pastikan anak itu tetap baik baik saja, sampai nanti aku akan menjemputnya. Dan ingat, cari jalan rahasia masuk ke tempat itu, aku tidak mau kalau sampai identitasku di ketahui."


 Hening, tak terdengar jawaban dari lawan bicara sang penelepon misterius.


" Apa kau mendengarku? Atau ...."


"Ya aku dengar! Aku akan lakukan sesuai perintah tapi pegang janjimu untuk tidak menyakiti ibuku! Dia tidak bersalah, brengs*k." lawan bicaranya mengumpat dengan nada di tekan.


 Sang penelepon misterius hanya berdecak.


"Itu urusanku, kau cukup urus saja urusanmu."


"Kau ...."


Tut


Tut


Tut


 Telepon di matikan sepihak oleh sang penelepon misterius, lalu senyumannya yang sedingin es kembali di tarik.

__ADS_1


"Hanya sebentar lagi, jika nanti kalian mengetahui siapa aku akan aku pastikan kalian lah yang akan mengemis untuk kebaikan hatiku," desisnya dingin.


__ADS_2