
Ceklek
Asy membuka pintu kamarnya, dan terlihatlah wajah Ed yang tampak murung di luar sana.
"Masuklah, Pi." Asy membuka pintu lebih lebar dan membiarkan tubuh tegap Ed memasuki kamar tersebut dan duduk bersebelahan dengan Alam di sofa kamar.
Setelah Ed masuk, Asy mengikutinya duduk di sofa tepat di hadapannya. Membiarkan pintu kamar tetap terbuka lebar.
"Ada apa, Pi." Asy membuka percakapan saat melihat Ed hanya diam sembari menatap lantai.
"Maafkan Papi," ucap Ed lirih, namun matanya sama sekali tak berani menatap binar mata sang putri.
.
Ada gelenyar aneh di dada Asy, namun dia sendiri bingung mengartikan perasaan apa itu.
.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Asy hati hati.
Ed tampak sedikit tersentak, dia lekas mengusap matanya dan mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Ehm, maaf Papi terbawa suasana. Begini ada yang ingin Papi sampaikan pada kalian, emmm ... ini mengenai pernikahan kalian dulu."
Kening Asy tampak berkerut, sedangkan Alam hanya diam saja mendengarkan. Ingin menimpali juga takut malah salah bicara nanti.
"Memangnya kenapa dengan pernikahan kami, Pi?" Asy bertanya.
Alam ikut menatap Ed lekat, turut penasaran akan apa yang akan dia ucapkan setelahnya.
"Begini, saat itu siapa yang menikahkan kalian, Nak?" tanya Ed dengan serius.
Asy menarik nafas sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Edwin dengan jelas dan gamblang.
"Wali hakim," jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
"Sudah Papi duga," gumam Ed pelan sekali.
Hening sejenak menyapa, tak ada yang bersuara selain detak jam yang tergantung di dinding. Semua sibuk dengan isi pikirannya masing-masing.
"Bagaimana kalau kalian menikah kembali? Biar Papi yang menjadi walimu, Nak."
Mata asy membulat, demikian pula dengan Alam yang menatap tak percaya pada pria di sampingnya yang tak lain adalah mertuanya itu.
"Menikah lagi?" gumam Asy heran.
Ed mengangguk mantab. "Ya, apa kamu keberatan, Nak? Tidak kah kamu mau menikah dengan Papi sebagai walimu?"
__ADS_1
Asy membuang pandangan ke lantai, dia gugup bingung harus menjawab bagaimana pada Ed kalau sebenarnya pernikahan itu bukanlah keinginnannya. Namun di sisi lain, dia juga tak ingin menyakiti hati Alam yang sudah memperlakukannya dengan baik selama ini.
Asy melempar tatapan pada Alam, kebetulan yang di tatap pun sedang melihatnya dengan pandangan nanar, entah apa yang ada di pikiran Alam tapi sepertinya dia merasa tidak enak hati pada Asy.
"Sepertinya kamu keberatan, Nak. Maaf kalau Papi malah menambah beban pikiran kalian, kalau begitu ... Papi permisi."
Ed bangkit dari tempat duduknya dan hendak berjalan keluar kamar, saat sepasang tangan tampak melingkari perutnya dari belakang.
"Asy mau, Papi."
Senyuman Ed terkembang, dengan wajah sumringah dia memegang tangan Asy yang melingkar di perutnya dan memutar tubuh hingga mereka berhadapan.
"Benarkah?" gumam Ed dengan tatapan bersinar.
Asy mengangguk walau ragu, namun senyuman di wajah Ed sudah cukup mengusir semua gundahnya.
"Baiklah, Papi akan sampaikan kabar ini pada Mamimu. Dan kita akan membuat pesta besar untuk merayakan pernikahan kalian di sini, di rumah ini. Pesta pertama yang akan di langsungkan sekaligus pesta karna anak anak Papi sudah kembali ke rumah ini," tegas Ed tampak sangat bersemangat.
Namun berbeda dengan Asy yang tampak terkejut dan panik, Asy cepat meraih tangan Ed dan menghentikan khayalan sang ayah akan pesta besar yang ingin di langsungkannya.
"Papi, tunggu."
"Ada apa, Nak? Apa kau punya permintaan khusus untuk pestanya? Tentu semuanya akan di buat sesuai keinginanmu, sayang." Ed menjawab dengan menggebu.
Asy menggeleng dan membuat Ed serta merta menjadi bingung karna Asy tampak tak senang.
Asy kembali menggeleng dalam pelukan Ed.
"Tidak, Papi. Hanya saja kalau boleh jangan adakan pesta pernikahan besar untuk kami, Asy hanya ... hanya merasa tidak enak merepotkan Papi, kalau boleh ijab qobul ulang saja tidak apa apa," gumam Asy yang masih terdengar cukup jelas di telinga Ed.
Ed melerai pelukannya dan menatap dalam mata sang putri yang sangat mirip dengannya itu.
"Kau yakin, Nak?"
Asy mengangguk mantab.
"Baiklah."
****
Beberapa waktu kemudian.
"Tuan, bisa kita bicara."
Alam memberanikan diri menemui Ed di saat dia sedang sendiri di dalam ruangan kantornya yang ada di rumah.
"Hei, menantu. Kenapa kau memanggilku tuan? Panggil saja Papi seperti istrimu." Ed menjawab dengan senyum manis di wajahnya.
__ADS_1
"Ah, baiklah Pa ... Papi."
Edwin tersenyum puas, dan melambaikan tangannya pada Alam.
" Masuklah, kita bicara di dalam."
Alam masuk dan membuntuti Ed duduk di sebuah sofa yang ada tak jauh dari meja kerja dimana dia duduk menghadap laptop yang menyala tadi.
"Katakan, ada apa?" tanya Ed membuka percakapan.
Alam mendesah pelan, dan membuang tatapannya pada karpet bulu tebal di bawah kakinya.
"Ini mengenai hubungan saya dan Asy," gumamnya pada akhirnya.
Kening Ed tampak membentuk kerutan kerutan dalam.
"Asy? Hubungan? Memangnya ada apa dengan hubungan kalian?"
"Asy ... tidak mencintai saya, Papi. Dia ... Menikah dengan saya karna terpaksa, dan ada lelaki yang sudah lebih dulu memiliki hatinya jauh sebelum dia bertemu dengan saya."
Mata Ed melebar mendengar pengakuan Alam.
"Benarkah begitu? Apa ini juga alasannya tidak mau merayakan pernikahan kalian?"
Alam mengangguk pelan. "Mungkin saja, karna dia belum bisa menerima saya dalam hidupnya."
"Lalu apa yang kau inginkan, Nak? Papi turut prihatin dengan kisah kalian, tapi papi tak bisa apa apa kalian sudah dewasa sudah saatnya mengambil keputusan sendiri, Papi hanya bisa memberi saran." Ed menepuk pundak Alam pelan, seolah memberinya semangat di sela pilu hatinya saat cintanya bertepuk sebelah tangan.
Alam menunduk, matanya memanas dan dadanya terasa nyeri. Air mata yang selama ini di sembunyikannya pada akhirnya luruh jua seiring sakit hatinya yang menemui puncaknya.
"Papi hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi kalian semua, katakan saja jika ada yang bisa Papi lakukan untuk membantumu, Nak." Ed kembali mengusap punggung Alam karna tak tega dengan kondisinya.
"Saya ingin melepaskan Asy, agar dia bebas memilih jalan hidup dan pasangannya. Tapi ... tapi ...."
Belum sempat Alam menyelesaikan ucapannya, dia langsung ambruk di sofa dengan tangan memegangi dadanya yang terasa sesak dan nyeri luar biasa.
"Nak! Nak! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" seru Ed terkejut dan secepatnya menepuk nepuk pipi Alam untuk menyadarkannya.
Tapi sepertinya kesadaran sudah meninggalkan Alam yang tampak pucat di sofa itu.
Dengan terburu buru Ed menelpon para anak buahnya yang selalu bersiaga di depan rumahnya, meminta mereka masuk dan menantunya membawa Alam ke rumah sakit karna tubuhnya semakin pucat dan dingin.
"Papi ada apa?" tanya Aish yang datang terburu buru karna mendengar suara ribut.
"Alam pingsan, tolong katakan pada Mami dan saudarimu Papi akan membawanya ke rumah sakit."
Tanpa menunggu jawaban Aish, gegas Ed mengikuti anak buahnya yang sudah membawa masuk tubuh lemah Alam ke dalam mobil dan melaju menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1