MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU

MEMBALAS GUNDIK SUAMIKU
Chapter 137.


__ADS_3

"Eh loh, ini kan cangkir aku. " Sri mengambil cangkir pink yang berada di atas meja di depan Aish dan memperhatikannya. "Nah kan bener, ini punya aku ada inisialnya. Ini siapa yang nemuin?"


 Aish tersentak, begitu juga dengan Hendro yang langsung tersedak nasi gorengnya sendiri.


"Uhuk, uhuk." Hendro batuk batuk dengan mata memerah dan berair karna menahan perih dan pedas yang memenuhi hidung dan tenggorokannya.


"Aduh, ya ampun masnya keselek ya?" ucap Sri sambil bergegas menuju ke arah dispenser air yang terpasang tak jauh dari dapur umum, mengisi penuh cangkir pink di tangannya dan memberikannya pada Hendro.


"Mas, ini di minum dulu."


 Hendro menerima cangkir itu dan menenggak isinya hingga tandas.


"Pedes pasti ya, Mas?" tanya Sri mulai sok perhatian, jujur saja di dalam hatinya Sri mulai menaruh hati pada Hendro sejak pertama kali melihatnya siang tadi saat mengantar Aish.


"Makasih," jawab Hendro singkat sambil mengusap matanya yang berair.


"Mau di ambilkan air lagi, A?" Kali ini Aish yang bertanya walau dalam hatinya dia tengah gamang luar biasa.


 Hendro menggeleng. "Nggak usah, kamu duduk saja. Habiskan makanannya."


Sri menghempaskan bobot tubuhnya di tempatnya semula dengan raut wajah kesal, bibirnya yang bergincu merah menyala itu di manyunkan hingga tampak seperti ikan louhan kelaparan.


"Mang! Itu gerbang di buka begitu kalau masuk maling gimana? Sana tutup dulu!" sentaknya pada mang Midun yang baru saja menyelesaikan makannya.


"Iya iya," desah mang midun sambil beranjak dari tempatnya dan kembali menuju pos jaganya, untungnya di sana sudah tersedia minuman kemasan hingga dia tak perlu risau karna tengah kepedasan.


Aish melanjutkan makannya dalam diam sedangkan Hendro yang sudah tak lagi bernafsu memilih meletakkan piringnya begitu saja.


"Loh, kok nggak di makan lagi sih, Mas?" celetuk Sri dengan lagak sok kemayunya.


 Hendro mendengus saja tanpa berniat menjawab, entahlah bawaannya kesal saja jika di tanyai oleh Sri yang menurutnya persis wanita penghibur itu.


"Iya, A. Kenapa nggak di habiskan makanannya?" kali ini aish turut bertanya.


"Udah kenyang," sahut Hendro memilih menjawab pertanyaan Aish.

__ADS_1


 Aish mengangguk dan tak lagi bertanya, namun dalam hatinya dia masih sangat penasaran tentang Sri yang mengaku kalau cangkir pink tersebut miliknya namun tentu saja Aish tak berani untuk bertanya.


"Oh iya, tadi aku nanya belum di jawab." Sri kembali menyeletuk, sama sekali tak mempermasalahkan saat tadi di cuekin oleh Hendro yang bagi Sri tampangnya memaafkan semua sikap cuek dan dinginnya.


"Nanya apa ya, Mbak?" tanya Aish pelan walau tak di pungkirinya jantungnya kini bergemuruh hebat.


"Ini." mengambil cangkir. "Cangkir ini kalian dapat di mana? Sudah lama aku cariin tapi nggak ketemu juga, ini berharga sekali buat aku soalnya."


"Berharga?" kening Aish berkerut, Hendro yang diam diam mencuri dengar pun ikut terheran-heran.


Sri mengangguk sembari menelan nasi goreng di mulutnya sebelum menjawab.


"Iya, itu aku beli sama pacarku dulu waktu kami masih sama sama baru datang ke kota ini sebagai perantau," sahutnya santai.


Degh


 Nyeri hati Aish mendengar jawaban Sri, entak kenapa pikirannya langsung tertuju pada Satrio yang merupakan pacarnya Sri. Tanpa sadar air matanya mulai menggenang di pelupuk mata tapi sekuatnya dia tahan agar tak jatuh, walau hatinya sudah terlalu sakit menerima semua kenyataan yang ada.


"Siapa nama pacar kamu?" celetuk Hendro saat tahu Aish tak mungkin berani bertanya.


 Sri tersenyum simpul, terlihat senang sekali walau hanya satu kali di tanya lebih dulu oleh Hendro.


"Saya cuma tanya nama pacar kamu siapa, kenapa jadi merembet kemana-mana sih?" ketus Hendro.


"Ah, eh ... emmmm, ya bagaimana ya. Kasih tahu nggak ya?". kekeh Sri malah semakin menggoda karna tahu Hendro penasaran padanya.


 Kesal dengan tingkah Sri Hendro memilih membuang muka dan tak lagi bertanya apa apa, baginya memang lebih baik bertanya langsung pada Satrio untuk menjelaskan semuanya ketimbang bertanya pada Sri yang tingkahnya persis tukang jualan.


"Eh eh, kok ngambek sih, Mas ganteng?" keluh Sri sambil memanyunkan bibirnya hingga seperti pantat ayam namun warnanya merah merona.


 Hendro diam, tak lagi menjawab dan bersikap seolah tak mendengar.


 Sri menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan


"Ya sudah saya kasih tahu, nama mantan pacar saya itu Sutrisno."

__ADS_1


 Aish sontak mengangkat wajahnya, menyusut sudut mata yang sempat berair dan menatap wajah menor sri lekat.


"Bukan Satrio?" ucapnya.


 Sri mengalihkan pandangannya pada Aish dan menutup mulutnya menahan tawa.


"Jangan bilang kalian nemuin cangkir ini di kontrakannya dia ya?" kekeh Sri membuat aish semakin tak mengerti.


"Iya, memangnya kenapa? Dan kenapa juga bisa ada di sana?" Hendro menjawab ketus.


"Ya bisalah, kan dulu kontrakan yang dia tempati itu kontrakan ku sebelum aku di minta jadi pengurus kos kosan ini. Jadi wajar kalau ada barangku yang tertinggal di sana soalnya waktu pindahan banyak yang aku tinggal karna kebanyakan, pas mau ku ambil lagi udah ada yang nempatin jadi nggak enak mau minta sisa barang barangku. Ya sudah, ku ikhlaskan saja lah di pake orang yang nempatin rumah itu sekarang. Jadi yang nempatin si Satrio?" papar Sri panjang lebar, menepis semua kegamangan dan keresahan di hati Aish sejak tadi.


"Jadi ... ini juga punya Mbaknya ya?" tanya Aish mulai berani bertanya setelah semua resah mendapat jawabannya, dia menyodorkan selembar kecil foto yang mirip Sri itu dari dalam kantong celananya.


 Sri menerimanya dan memperhatikan detail wajah perempuan di foto itu, dan serta merta dia tertawa kembali.


"Iya ini aku pas baru tamat sekolah, ya ampun lucunya ya nggak dandan jadinya kelihatan bener dari kampungnya. Ini aku punya banyak dulu mungkin sebagian ketinggalan di rumah kontrakan itu, dulu aku pake buat ngelamar kerja ke sana-sini sebelum ngurus ini kos kosan," jelas Sri lagi, benar benar menghempas semua praduga di hati Aish akan kekasih hatinya.


 Hendro tanpa sadar menatap Sri dengan mata berbinar, mungkin karna jawaban Sri semuanya membuat pertanyaan dan kegelisahan di hati Aish luntur berganti rasa syukur yang amat karna mengetahui sang kekasih masih setia padanya seorang.


"Jadi nama pacar kamu bukan Satrio?" imbuh Hendro yang masih ingin meyakinkan lagi.


 Sri mengulum senyum dan menggeleng.


"Bukan, Mas Satrio itu juga saya cuma sekedar tahu saja sebagai orang yang nempatin kontrakan saya dulu itu. Kami juga jarang bertegur sapa kalau bukan hal penting yang biasanya jarang banget terjadi sih, haha. Soalnya dia pendiem banget, bukan tipe aku. Tipe aku ya ... yang macho yang kekar kayak Masnya ini," kikik Sri sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah saat membayangkan berada di dalam pelukannya Hendro.


. Sedangkan Hendro hanya mendesah berat dan memilih tak lagi menatapnya apalagi bertanya pada Sri sebelum dia muntah karenanya.


"Aish," panggil Satrio yang sejak tadi menjadi bahan perbincangan mereka.


 Aish cepat menoleh, matanya menghangat saat melihat sang pujaan hati berdiri di hadapannya. Senyuman Satrio yang tulus, pada akhirnya dia tahu jika hanya untuknya dan tak pernah terbagi.


 Aish berlari, menubruk tubuh bidang Satrio dan menyurukkan kepalanya di ceruk dada sang kekasih.


"Aku mencintaimu, Mas."

__ADS_1


"Mas juga, sayang. Sekarang, dan selalu akan mencintai kamu. Hanya kamu," balas Satrio berbisik di dekat telinga Aish.


 Tanpa mereka sadari, dua tetes air mata jatuh dari sepasang mata yang tak henti memindai mereka. Dengan menahan hati yang remuk redam karna cinta yang tak terbalaskan.


__ADS_2